
Wilona terbangun saat tengah malam, ia melihat sekelilingnya ternyata ia tidur di kamar, orang tuanya akan tetapi. Ia sama sekali tidak melihat keberadaan kedua orang tuanya.
"Kemana, mereka?" tanya Wilona, pada dirinya sendiri kemudian ia bangun dan berjalan keluar.
Wilona merasa sangat harus sehingga ia pergi ke dapur terlebih dahulu, untuk mengambil air dingin dari dalam kulkas.
Saat ia meminum air dingin, ia melihat ada sosok yang lewat dari balik jendela sehingga ia ketakutan.
"Siapa, itu?"
Wilona langsung bergegas pergi dari dapur menuju kamarnya, ia langsung naik ke atas tempat tidurnya kemudian ia masuk kedalam selimut.
"Jika itu maling, bagaimana?"
Wilona merasa sangat takut, ia berfikir jika itu adalah maling maka rumahnya akan dalam bahaya. Terutama pada penghuni rumahnya juga akan dalam bahaya.
Wilona membulat 'kan matanya, saat ia mendengar suara jendela kamarnya dibuka oleh seseorang.
"Ya Tuhan, lindungilah aku," ucap Wilona, yang merasa sangat takut sehingga tubuhnya bergetar hebat.
"Wilona," panggil Wiliam, dengan sangat pelan kemudian ia mendekati Wilona dan memegang tubuh gadis itu.
Wilona langsung membuka selimutnya, ia langsung bernafas lega saat melihat bukan maling yang masuk kedalam kamarnya.
"Om, ada di sini?" tanya Wilona, sambil bergegas bangun kemudian ia menyalakan AC kamarnya.
"Sebenarnya, ada yang ingin, Om sampai 'kan," jawab Wiliam sambil menatap kearah Wilona.
Wilona membawa Wiliam duduk di sofa, kemudian mereka saling menatap satu sama lainnya.
"Apa, Om sudah menemukan jalan, keluar?" tanya Wilona dengan harapan yang besar.
Wiliam menggelengkan kepalanya, kemudian ia mulai menarik nafasnya dalam-dalam karena ia akan berkata jujur.
"Sebenarnya, Om ingin mengata 'kan jika ... malam itu, Om tidak memakai pengaman jadi. Kamu sudah pasti delapan puluh persen, akan hamil." Wiliam menu dudukkan wajahnya, entah mengapa ia sangat malu saat ini pada Wilona.
"Iya, Wilona sudah tahu ... sekarang bagaimana caranya, agar kita bisa menutupi scandal ini?" tanya Wilona.
Wiliam terkejut, saat mendengar jika Wilona sudah tahu apa yang akan ia bicara 'kan tadi.
"Entahlah, maaf ... ini semuanya adalah salah, Om," ucap Wiliam lirih, karena semua yang terjadi adalah salahnya.
"Iya, Om ... sekarang yang harus kita lakukan adalah cara agar, Wilona tidak hamil. Setelah itu kita cari cara gar, Igun tidak mengetahui semuanya yang terjadi," ucap Wilona dengan sangat serius.
Walaupun ia merasa bersedih dan hancur, ia harus membuat dirinya kuat karena ia tidak mau terus-menerus berada didalam keterpuru 'kan.
__ADS_1
"Wilona, sudah merela 'kan semuanya ... karena bagaimanapun caranya, Wilona tetap tidak akan bisa menikah dengan, Igun." Wilona menahan air matanya agar tidak jatuh.
Wiliam kian merasa sangat bersalah, karena ia sudah membuat Wilona tidak bisa menikah dengan anaknya.
"Maaf, ini semua adalah salah, Om." Wiliam menundukkan kepalanya kemudian, ia langsung bangun saat mendengar suara orang yang berjalan.
"Wilona, Kamu sudah tidur?" tanya Yudha yang berjalan masuk kedalam kamar, Wilona.
"Om, sembunyi didalam kamar mandi," ucap Wilona dengan sangat cemas, kemudian Wiliam berlari masuk kedalam kamar mandi.
Yudha membuka pintu kamar, Wilona kemudian ia masuk kedalam terlihat anaknya tidur dengan pulas.
"Eh, kenapa dia tidur? Tadi aku dengar jelas suara seseorang tengah berbicara," ucap Yudha yang bergegas pergi dari kamar anaknya.
Wilona bernafas lega, karena Papinya sama sekali tidak tahu jika dirinya berdua dengan Wiliam.
"Untungnya, papi tidak tahu sama sekali," ucap Wilona dengan sangat tenang, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk memanggil Wiliam.
"Om, sebaiknya pergi saja dari sini ... karena kita akan ketahuan," ucap Wilona sambil memasuki kamar mandi.
"Baiklah, papi mu sudah, pergi?" tanya Wiliam sambil berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
"Sudah," jawab Wilona.
*
*
Yudha kembali kedalam kamarnya, karena ia tadi ingin melihat putrinya saja. Sabab, anaknya pergi dari kamarnya tanpa sepengetahuan darinya.
"Aneh, sepertinya ini hanya ilusi ku saja," ucap Yudha, yang bergegas masuk kedalam kamarnya.
*
*
Keesokan harinya ...
Pagi ini Wilona akan pergi ke Kampus, karena sudah beberapa hari ia bolos karena ia merasa tidak bersemangat hidup lagi.
Wilona menyisir rambutnya kemudian ia mengingatnya, setelah itu ia bergegas pergi dari kamarnya sambil membawa tas miliknya.
"Kepalaku, sakit sekali lagi ini," gumam Wilona dalam hatinya.
Wilona berjalan menuju meja makan, kemudian ia duduk di samping Mami nya.
__ADS_1
"Mi, kenapa kepala, Wilona sakit?" tanya Wilona dengan sangat manja, kemudian ia mencium pipi Maminya.
"Masa hal seperti itu, Mami tahu," sahut Yulia dengan tawanya mendengar ucapan anaknya itu.
"Mami ini, anak kita ini pusing karena tugas Kuliahnya sangat menumpuk," sambung Yudha, yang disusul gelak tawanya.
"Mami, Papi ... sebel," ucap Wilona dengan sangat manja, kemudian ia langsung menghabis 'kan sarapannya.
Setelah selesai sarapan, ia langsung bergegas pergi dari sana menuju Kampus dengan diantara oleh Supir.
Setelah sampai di Kampus, ia langsung berjalan masuk kedalam kelasnya dan ia melihat adanya sahabat baiknya.
"Kiranti ... "
Wilona langsung memeluk Kiranti dengan sangat manja, dan rindu yang mendalam karena ia sudah beberapa hari ini tidak bertemu.
"Kemana aja, Elo?" tanya Kiranti dengan sangat ketus.
Wilona menendang kaki Kiranti, kemudian ia duduk di bangkunya.
"Dasar, anak durhaka!" seru Kiranti sambil tertawa-tawa lepas.
"Kapan elo ngelahirin, gue?" tanya Wilona dengan sangat ketus.
Kiranti tertawa-tawa lepas bersama dengan Wilona, mereka sudah sangat lama bersahabat sejak mereka masih SMA.
Sewaktu Sekolah, mereka berempat akan tetapi. Kini mereka hanya bertiga saja karena, Shanas pergi entah kemana.
"Elo, kenapa gak ada pas gua, tunangan?" tanya Wilona dengan sangat lembut, kemudian ia menatap wajah Kiranti dengan sangat dalam.
"Elo, apa gak tahu kalau gue lagi ada masalah ... sebarnya itu gua lagi bermasalah sama keluarga gue," ungkap Kiranti dengan sangat sedih.
Wilona hanya bisa diam saja, karena ia bingung harus berkata apa dan menjawab apa.
"Elo tahu, kakak gue minta gua dan ibu pergi dari rumah. Karena itu adalah harta peninggalan ayah," tambah Kiranti, karena Wilona hanya diam saja.
"Kalau, rumah itu diambil, terus elo mau tinggal dimana?" tanya Winona, dengan sangat sedih karena ia merasa 'kan apa yang di rasa 'kan oleh Kiranti.
"Entahlah, gue juga gak tau ... kenapa mereka itu tega sama gue sama ibu, yang jelas-jelas keluarga mereka," jawab Kiranti.
Wilona terdiam, karena ia sedang merencanakan sesuatu agar ia bisa menolong sahabatnya itu.
"Aku akan membantunya, dengan cara membeli rumah yang sedikit jauh dari sini. Karena aku juga ingin menjauh, dari Igun," gumam Wilona dalam hatinya.
Bersambung.
__ADS_1