
Wilona membuka kedua matanya, kemudian ia memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Setelah itu ia melihat ada kedua orang tuanya sedang duduk di sofa.
"Aku ingat, ternyata aku kecelakaan ... tapi, siapa orang yang sudah menabrak ku," gumam Wilona dalam hatinya.
Wilona terdiam sambil memikirkan tentang kejadian tadi, yang sepenuhnya adalah salah dirinya. Karena ia tadi menyebrang tidak melihat kiri kanan terlebih dahulu.
"Mami, Papi," panggil Wilona dengan sangat lembut, dan lemas karena ia masih merasakan sakit di bagian kepalanya.
Yulia dan Yudha langsung menoleh kemudian mereka langsung menghampiri Wilona. Yulia dan Yudha mencium seluruh wajah Wilona sehingga ia langsung menjauh.
"Papi, anak ini sudah dewasa," ucap Wilona, sambil menghapus bekas kecupan dari kedua orang tuanya.
Yulia dan Yudha tersenyum melihat anaknya, sudah mulai membaik. Mereka merawat Wilona dengan sangat baik dan cekatan.
*
*
Igun baru sampai rumah, ia melihat jika mobil Papanya sudah terparkir di garasi mobil kemudian. Ia bergegas pergi menuju kamar Papanya untuk menceritakan semuanya tentang hubungannya dan Wilona.
"Sepertinya, papa sudah pulang," gumam Igun dalam hatinya.
Igun mengetuk-ngetuk pintu kamar Papanya, tak berselang lama akhirnya pintu terbuka.
"Igun, kamu menangis?" tanya Wiliam, karena ia melihat mata Igun yang memerah dan juga membengkak. Terlihat jelas jika Igun habis menangis.
Igun menganggukkan kepalanya, kemudian ia masuk kedalam di ikuti oleh Wiliam dari belakang. Mereka duduk di sofa saling berhadapan.
"Katakan?" tanya Wiliam, ia sangat penasaran mengapa anaknya itu menangis.
"Sebenarnya ... "
Igun menceritakan semuanya, dari awal Wilona berubah padanya sampai Wilona mengatakan dirinya mengkhianati Igun.
Wiliam memeluk anaknya, kemudian ia meneteskan air matanya karena ia adalah sumber masalah. Yang tengah dihadapi oleh anaknya saat ini.
"Igun, ini semuanya adalah kesalahan, Papa kamu jadi seperti ini ... kamu sangat mencintai, Wilona akan tetapi. Papa ini merusak segalanya," gumam Wiliam dalam hatinya.
Igun melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap wajah Papanya yang terlihat begitu bersedih.
"Papa, aku tidak mau sampai kami berpisah ... bagaimanapun caranya kita harus mencari cara," ucap Igun, dengan sangat yakin pada keyakinannya.
__ADS_1
"Wilona, dia kecelakaan ... sekarang dia ada di rumah sakit," ungkap Wiliam, karena ia bingung harus menjawab apa keinginan anaknya tadi.
"Apa, bagaimana keadaannya saat ini, Pa?" tanya Igun, dengan sangat cemas akan keadaan wanita yang sangat ia cintai.
"Sudah, lumayan ... sebaiknya kamu lihat saja dia, di rumah sakit," jawab Wiliam, karena ia memang tidak tahu lagi tentang keadaan Wilona. Karena ia pulang Wilona masih belum sadarkan diri.
"Iya, kalau begitu, Igun pergi dulu." Igun beranjak dari duduknya, kemudian ia bergegas pergi menuju rumah sakit.
Igun mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, dengan perlahan selama di perjalanan ia terus-menerus memikirkan tentang keadaan Wilona. Ia sangat mencintai Wilona sehingga ia tidak bisa mendengar atau melihat Wilona sakit.
Setelah sampai ia langsung mencari kamar inap Wilona yang diberikan oleh. Papanya tadi sebelum ia pergi dari kamar Papanya.
Igun sudah menemukan kamar inap Wilona, ia melihat lagi nomor karena ia takut salah masuk kamar.
"Ini, benar kamarnya." Igun bergegas masuk kedalam, sambil mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Permisi, semuanya." Igun langsung berjalan mendekati kedua orang tua Wilona.
Wilona sangat terkejut saat melihat Igun datang membesuknya.
Igun mencium tangan Yulia dan Yudha, kemudian ia duduk di tengah-tengah antara Yulia dan Yudha.
"Kamu, tahu kami ada di sini ... pasti karena papamu," ucap Yudha, dengan sangat lembut sambil menatap wajah Igun yang terlihat jelas habis menangis.
Wilona terdiam saat mendengar jika Wiliam jiga tahu, dirinya dirawat di rumah sakit. Ia berfikir mungkin saja Papinya yang memberitahu Wiliam.
Igun beranjak bangun kemudian ia mendekati Wilona, ia duduk di samping tempat tidur Winona dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku, sangat mengkhawatirkan keadaan mu," ucap Igun, dengan sangat lembut.
Wilona hanya mengangguk kepalanya dengan pelan, karena rasa sakit selepas Operasi tadi masih terasa.
"Aku harap, kamu cepat sembuh." Igun beranjak bangun kemudian ia bergegas pergi dari sana.
Karena hatinya terasa sangat sakit, saat melihat wajah Wilona yang sudah tidak lagi menjadi miliknya.
Yulia dan Yudha sudah tahu apa alasannya, calon menantunya pergi dengan cepat karena mereka menyadari. Bahwa anak mereka sudah menyakiti perasaan Igun.
Wilona hanya bisa diam sambil menahan air matanya agar tidak tumpah, ia ingin sekali memeluk Igun karena. Ia butuh perhatian lebih saat sakit seperti saat ini.
"Aku juga, sangat mencintaimu ... akan tetapi. Kita tidak akan bisa bersama lagi sampai kapanpun," gumam Wilona dalam hatinya.
__ADS_1
Yulia dapat jelas melihat wajah anaknya bersedih, akan tetapi. Ia tidak ingin bertanya karena itu adalah waktu untuk anaknya memikirkan masalahnya.
"Kita biarkan saja, jangan tanya apa-apa dulu ... sampai dia pulih betul," bisik Yudha di telinga istrinya.
Yulia menganggukkan kepalanya, kemudian ia menatap wajah putrinya yang terlihat sangat bersih.
"Sebenarnya, ada masalah apa. Antara mereka berdua ... semoga saja mereka bisa bersama lagi," gumam Yulia dalam hatinya.
Hati orang tua mana, yang tidak sakit melihat anaknya sakit dan memiliki masalah yang sama sekali tidak mereka tahu.
*
*
Satu Minggu kemudian ...
Wilona sudah pulang dari rumah sakit, ia memilih istirahat di rumah saja daripada di rumah sakit.
Wilona masih saja merasa pusing, bahkan. Ia seringkali muntah karena sakit kepala yang ia rasakan.
"Ya Tuhan, kenapa sakit kepala ini tidak hilang? Apa karena kecelakaan itu ... semoga saja aku tidak sakit keras," ucap Wilona.
Ia menidurkan tubuhnya ditempat tidur, kemudian ia mengoleskan minyak kayu putih ke perutnya. Saat sakit kepala terasa ia juga akan merasakan mula.
*
*
Sudah satu Minggu lamanya. Igun tidak menemui Wilona lagi karena ia ingin Wilona menekankan diri, ia juga berfikir mungkin saja setelah Wilona sembuh mereka bisa bersama lagi.
Kini Igun bersama dengan Shanas, mereka mengerjakan pekerjaannya yang akan mereka buat untuk besok. Igun memperkerjakan Shanas sebagai Sekertaris nya karena ia tahu jika Shanas sangat pandai.
"Gun, apa ini benar?" tanya Shanas, sambil memberikan pekerjaan yang sudah ia kerjakan.
Igun melihat kemuliaan ia tersenyum kepada Shanas, karena pekerjaan Shanas sangat bagus dan benar.
"Ini bukan benar, akan tetapi. Sangat sempurna," jawab Igun, dengan sangat bergembira.
Shanas tersenyum bahagia, saat Igun memuji pekerjaan yang sangat bagus. Sudah satu Minggu ia bekerjasama dengan Igun selama itu juga ia sangat dekat dengan Igun.
Shanas juga membuat Igun bisa menerima kenyataan, jika Wilona ingin membatalkan rencana pernikahannya.
__ADS_1
Bersambung.