
Setelah sampai di rumahnya, ia melihat ada mobil Igun di halaman rumahnya kemudian ia turun dari Taksi. Ia langsung bergegas masuk kedalam.
Saat ia ada didalam ia melihat jika Igun, dan Maminya sedang duduk dan bercerita di ruang tamu.
"Mami, Igun." Wilona berjalan mendekati Mami dan Igun, kemudian ia duduk di samping Maminya.
"Sayang, kamu pulang juga kasihan, Igun nyariin kamu tau," ucap Yulia dengan tawanya.
Igun tersenyum manis kepada Wilona, rasa rindu yang mendalam membuatnya tidak sabar untuk memeluk Wilona.
"Maaf, aku tidak tahu kamu sudah pulang," ucap Wilona dengan sangat lembut.
"Tidak apa-apa, kamu tenang saja. Bisakah kita bicara berdua saja?" tanya Igun.
Wilona menatap wajah Maminya, kemudian Maminya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Ayo." Wilona beranjak bangun kemudian ia bergegas pergi dari sana.
"Tante, saya pergi dulu." Igun beranjak bangun, kemudian ia mencium tangan Yulia dengan sangat sopan.
Setelah itu ia langsung berlari mengejar Wilona, sesampainya ia di luar ternyata Wilona sudah masuk kedalam mobilnya.
Igun bergegas masuk kedalam mobilnya, kemudian ia duduk dan menatap wajah Wilona.
"Sayang, aku sangat rindu kamu," ucap Igun, dengan sangat lembut dan senyuman manisnya.
"Uuummm, iya," sahut Wilona dengan cuek.
Sebenarnya ia sangat merindukan Igun, akan tetapi. Rasa itu ia buang jauh-jauh saat ia mengingat kembali malam kelam itu.
"Eh, ada apa? Kenapa kamu cuek?" tanya Igun.
Wilona tidak jawab apa-apa, sehingga Igun melajukan mobilnya menuju taman agar mereka bisa bicara di sana.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku ucapkan ... aku rindu kamu," gumam Wilona dalam hatinya.
Igun terus-menerus memikirkan kenapa Wilona berubah padanya, ia juga tidak tahu apa yang terjadi pada Wilona.
Sesampainya di taman, mereka berjalan dengan jarak yang sedikit jauh kemudian mereka duduk di bangku.
"Gun, aku ingin mengatakan ... aku ingin memutuskan hubungan kita," ucap Wilona.
Bak di sambar petir di siang bolong, ia tidak menyangka akan mendengar ucapan Wilona seperti itu.
Igun terdiam sambil menatap wajah Wilona, kemudian ia memegang tangan Wilona dengan air mata yang sudah berjatuhan.
"Apa, salah ku? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Igun.
Wilona tidak bisa menjawab pertanyaan dari Igun, ia hanya menangis tersedu-sedu kemudian ia masuk kedalam pelukan Igun.
__ADS_1
"Gun, maafkan aku ... banyak kesalahan yang aku lakukan sehingga kamu tidak akan bisa memaafkan aku," ucap Wilona.
Tangisan Wilona membuat hati Igun sakit, karena ia tidak bisa melihat wanita menangis di hadapannya.
"Wilona, aku selalu memaafkan kesalahan mu," ucap Igun.
Ia mengelus-elus rambut Wilona dengan sangat lembut, agar Wilona berhenti menangis.
Wilona melepaskan pelukannya, kemudian ia menghapus air matanya.
"Kali ini, aku mengkhianati mu," ungkap Wilona.
Igun terdiam, seperti ada pisau tajam yang menghantamnya saat Wilona mengatakan pengkhianatan.
"Apa, itu?" tanya Igun, yang mencoba untuk menenangkan dirinya.
Ia berniat akan memaafkan apa saja kesalahan Wilona, karena ia sudah sangat mencintai Wilona melebihi dirinya sendiri.
Wilona bingung harus bicara apa, ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mengungkapkan semuanya. Tanpa adanya kesalah pahaman.
"Aku ... aku ... aku ... aku." Wilona beranjak bangun kemudian ia berlari sekuat tenaganya.
"Wilona!" Igun berlari mengejar Wilona.
Akan tetapi, ia sama sekali tidak berhasil karena ia kehilangan jejak Wilona.
Igun berjalan menuju mobilnya, rasa sakit didalam hatinya terasa sangat dalam. Bukan karena Wilona mengkhianatinya, ia bersedih karena Wilona akan meninggalkan dirinya.
Ia tidak bisa menerimanya, karena tinggal menghitung hari saja ia akan menikah dengan Wilona. Hari-hari yang sudah ia tunggu akan musnah begitu saja.
"Wilona, aku sangat mencintaimu ... tiga tahun sudah kita bersama. Dengan mudahnya kamu pergi!" Igun berlari sekuat tenaganya, ia mencoba mencari keberadaan Wilona.
Akan tetapi ia sama sekali tidak melihat adanya Wilona, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke rumah Wilona.
*
*
Wilona menangis tersedu-sedu sambil terus berlari, ia tidak memiliki tujuan sehingga ia hanya berlari menyusuri jalanan saja.
"Apa yang harus akau katakan, apa harus berkata juju seperti apa yang di ucapkan, Kiranti padaku? Atau aku diam saja dan berkata bohong saja," gumam Wilona dalam hatinya.
Wilona sangat bersedih sehingga air matanya mengalir deras membasahi seluruh wajahnya, ia tidak melihat keberadaan mobil di hadapannya. Sehingga mobil itu menabrak dirinya.
"Aaahhhkkk!" teriak Wilona.
Wilona terpental jauh sehingga ia terjatuh dan ia terluka para, akibat kepalanya terbentur aspal.
"Astaga, aku menabrak seseorang." Pria bertubuh kekar tinggi itu, langsung bergegas keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Kemudian ia membawa tubuh Wilona yang berlumuran darah, masuk kedalam mobilnya sebelum ada warga yang melihatnya.
*
*
Igun menceritakan semuanya pada Yulia, karena ia tidak ingin berpisah dengan Wilona wanita yang sangat ia cintai.
Yulia sama sekali tidak menyangka jika anaknya seperti itu, sehingga ia langsung terduduk lemas. Bukan karena ia mendengar anaknya memutuskan hubungan.
Tapi, ia lemas karena ia tahu jika Wilona sudah tahu virgin lagi dan hal itu tidak dilakukan anaknya bersama Igun.
Karena Igun juga mengatakan jika Winona mengkhianati Igun, semua itu membuatnya sangat terpukul.
"Apa semua ini, kenapa aku diberikan ujian sebesar ini ... aku tidak sanggup lagi jika anakku masuk kedalam jalan yang salah, aku tahu dia sudah tidak suci lagi, dan dengan siapa dia melakukannya itu," gumam Yulia dalam hatinya.
Igun tidak ingin berlama-lama di rumah calon mertuanya itu, ia bergegas pergi karena ia ingin bercerita tentang ini kepada Papanya.
Mungkin saja Papanya bisa membantu dirinya, karena ia benar-benar tidak bisa hidup tanpa adanya Wilona didalam hidupnya.
Jika itu sampai terjadi, maka ia akan mati seketika begitu pemikirannya.
"Sayang, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu," ucap Igun.
Igun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa segera sampai di rumah, ia sudah tidak sabar untuk meminta bantuan pada Papanya.
Setelah sampai ia langsung masuk kedalam, ia mencari keberadaan Papanya akan tetapi. Ia sama sekali tidak menemukan kebenaran Papanya.
"Kemana, Papa?" tanya Igun, pada pembantu yang ada di rumahnya.
"Belum, pulang," jawab Bik Ijah.
"Papa, belum pulang?" Igun bergegas pergi dari sana, untuk mencari keberadaan Papanya.
*
*
Wilona berada didalam UGD bersama seorang Dokter yang menanganinya, karena luka di bagian kepalanya lumayan parah.
Wilona mengalami pendarahan di bagian kepalanya, yang mengharuskan Dokter untuk melakukan Operasi.
"Sebaiknya, kita cepat lakukan operasi," ucap Dokter tersebut.
"Baik, Dok. Saya akan menghubungi orang tuanya dulu." Pria itu langsung bergegas pergi untuk mengabari, orang tua Wilona jika Wilona harus segera di operasi.
Siapakah pria itu?
Bersambung.
__ADS_1