Scandal Bersama Calon Mertua

Scandal Bersama Calon Mertua
19 Mengetahui Wilona hamil


__ADS_3

Yudha mengetahui jika anaknya sudah pulang, ia sengaja agar Wilona tidak mengetahui apa rencananya bersama dengan Yulia.


"Kita jalankan, sekarang." Yulia langsung bergegas pergi menuju kamar anaknya.


Sedangkan Yudha menunggu di samping kamar Wilona, karena ia akan masuk kedalam saat Yulia dan Wilona keluar dari kamar.


Yulia bergegas masuk kedalam, ia melihat Wilona ada di atas tempat tidur dan ia langsung menghampirinya.


"Sayang, ayo temani Mami sebentar saja," ucap Yulia dengan sangat lembut.


Wilona langsung bangun, kemudian ia tersenyum dan memeluk Maminya dengan sangat erat. Ingin rasanya ia menangis saat ini juga akan tetapi, itu tidak akan ia lakukan.


"Kemana, Mi?" tanya Wilona sambil menatap wajah Maminya.


"Ada, deh." Yulia langsung menarik tangan Wilona keluar dari kamar agar Yudha bisa memeriksa barang-barang Wilona.


Saat ia keluar ia melambaikan tangannya kearah suaminya, kemudian Yudha langsung masuk kedalam kamar Wilona.


"Semoga saja, aku mendapatkan petunjuk dari semua permasalahan ini." Yudha bergegas mencari-cari barang bukti.


Matanya melirik kearah tas Wilona, ia tak menyia-nyiakan kesempatan ia langsung membuka tas tersebut. Kemudian alat tes kehamilan milik Wilona terjatuh.


Yudha tidak bisa berkata-kata, ia langsung mengambil alat tes kehamilan itu dengan tangan yang bergetar hebat.


"Du-a, garis merah," ucap Yudha dengan terbata-bata, karena ia tidak menyangka jika dugaannya selama ini benar adanya.


Yudha meneteskan air matanya, kemudian ia berjalan sambil membawa alat tes kehamilan milik Wilona.


"Wilona!" teriak Yudha.


Wilona sedang membuat jus, ia langsung berlari menghampiri Papinya karena Papinya berteriak-teriak.


"Ada, apa?" tanya Wilona dengan sangat ngos-ngosan akibat berlari tadi.


Yulia menghampiri suami dan anaknya, karena ia tadi habis dari kamar mandi.


"Wilona!" teriak Yudha.


Wilona terkejut saat Papinya melemparkan alat tes kehamilan miliknya, yang ia lupa untuk membuangnya tadi. Yulia tak kala terkejut dari Wilona sehingga ia langsung pingsan.


"Mami!"


Yudha langsung menggendong tubuh Yulia masuk kedalam kamarnya, bersama dengan Wilona yang merasa sangat ketakutan.


"Ambilkan, air," pinta Yudha pada Wilona, karena pembantu mereka sedang cuti untuk beberapa hari kedepannya.


Wilona berjalan dengan hati yang berdebar-debar, karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Ia sangat tidak menyangka jika Papinya sudah mengetahui dirinya tengah mengandung.


"Semoga saja, papi dan mami mau memaafkan aku ... kenapa juga aku lupa membuang benda itu," gumam Wilona dalam hatinya.

__ADS_1


Setelah mengambil air ia langsung bergegas pergi menuju kamar Maminya, karena ia sangat khawatir akan keadaan Maminya yang pingsan akibat dirinya.


Setelah ia memberikan air putih kepada Papinya, ia duduk di samping tubuh Maminya dengan air mata yang mengalir deras.


"Wilona, sekarang tidak ada pilihan ... ceritakan sekarang atau?" tanya Yudha dengan sangat tajam.


Wilona menelan ludahnya dalam-dalam, karena ini kali pertama Papinya sangat marah padanya.


"Papi, semuanya bukan kemauan Wilona ... semua ini karena jebakan," ucap Wilona dengan lirih.


"Katakan, siap laki-laki itu!" sentak Yudha membuat Wilona terkejut.


"Sebenarnya ... " Wilona tidak berani berbohong, sehingga ia menceritakan semuanya pada Papinya.


Yudha memukul meja sehingga maja itu pecah, kemudian ia bergegas pergi dari sana entah mau kemana ia. Karena Wilona tidak berani bertanya-tanya lagi.


"Bagaimana ini, papi sudah tahu yang sebenarnya terjadi padaku dan, om Wiliam?" tanya Wilona pada dirinya sendiri.


*


*


Yudha mengemudikan mobilnya menuju rumah Wiliam, karena ia sangat kesal dan marah pada sahabatnya yang sudah merusak masa depan anaknya.


"Kurang ajar, dia menipu ku mentah-mentah!" teriak Yudha.


Setelah sampai ia langsung turun dan mengetuk-ngetuk pintu rumah Wiliam, dengan sangat kuat seperti seorang sedang menagih hutang.


Tak berselang lama akhirnya pintu terbuka ternyata Wiliam sendiri yang membukanya.


Bung!


"Ini pukulan, untuk kebohongan mu!"


Bung!


"Ini pukulan, karena kau sudah merusak masa depan putriku!"


Bung!


"Ini balasan untuk mu!"


Wiliam sama sekali tidak membalas pukulan dari Yudha, karena ia tahu apa maksud dari pukulan Yudha padanya.


Yudha tak hentinya memukuli Wiliam sehingga sahabatnya itu babak belur, setelah itu barulah ia berhenti walaupun para penjaga melihat dirinya dan Wiliam.


"Kau, pembohong!" teriak Yudha dengan sangat kecewa pada sahabatnya itu.


"Yud, aku bisa menjelaskan semuanya," sahut Wiliam dengan sangat lemas.

__ADS_1


Wiliam bangun dengan perlahan, kemudian ia duduk di sofa di ikuti oleh Yudha karena ia merasa jika urusannya belum selesai.


"Katakan?"


"Sebenarnya ... " Wiliam menceritakan semuanya pada Yudha.


Bahkan, ia juga menceritakan jika Wilona tidak mau ia nikahi karena ia ingin bertanggung jawab.


"Malam ini juga, aku akan menikahi mu dan anakku ... enak saja mau lepas dari tanggung jawab!" sentak Yudha.


Wiliam hanya bisa menuruti keinginan dari sahabatnya itu. Karena ia tahu jika dirinya sudah membuat kecewa.


"Yud, jangan sampai putra ku tahu ini," pinta Wiliam, karena ia masih belum sanggup jika anaknya mengetahui semuanya.


"Kau tahu, anakku hamil anak mu!" teriak Yudha, membuat Wiliam terdiam ia sama sekali tidak menyangka. Jika dirinya akan memiliki anak lagi.


"Baik, aku akan bertanggung jawab ... aku akan menuruti keinginan mu," ucap Wiliam dengan sangat pelan.


"Baik," jawab Yudha dengan sangat singkat.


*


*


Igun dan Kiranti baru saja sampai di rumah baru Kiranti, yang sangat mewah dan megah. Membuat Igun tidak percaya jika itu adalah rumah Kiranti.


"Masuk dulu, ada ibu gue." Kiranti bergegas Masi kedalam, bersama dengan Igun karena ia ingin memberikan air untuk Igun.


Igun duduk di sofa bersama dengan Kiranti, kemudian ibunya Kiranti datang menghampiri mereka berdua.


"Malam, Bu." Igun bergegas bangun, kemudian ia mencium tangan Bu Elma dengan sangat lembut.


"Malam, kamu temannya, Kiranti?" tanya Bu Elma sambil menatap wajah putrinya yang ada di hadapannya.


Igun menatap wajah Kiranti yang sedang memberikannya kode, kemudian ia menatap wajah Bu Elma.


"Saya, pacarnya Kiranti. Bu," jawab Igun dengan sangat lembut.


Kiranti merasa sangat terkejut, ia langsung menatap tajam kearah Igun sedangkan ibunya Kiranti terlihat sangat bahagia.


"Wah, akhirnya anak ibu ini dapat pacar juga," ucap Bu Elma dengan sangat bergembira.


Kiranti hanya bisa tersenyum saja saat ini, karena ia ada bersama dengan ibunya jika tidak ada ibunya. Sudah dipastikan jika Igun akan habis.


"Anak ini gila, apa yang akan aku jelaskan pada ibu nantinya ... saat ibu mulia mendesak agar aku cepat nikah," gumam Kiranti dalam hatinya.


Kiranti tersenyum kepada Ibunya dan juga Igun, sampai ia terbesit dalam pikirannya untuk mengerjai Igun balik.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2