
Kiranti membisikan apa yang ia pikirkan tadi, sehingga Wilona membuka mulutnya lebar-lebar karena mereka satu pemikiran.
"Kiranti, gimana ini?" bisik Wilona ditelinga Kiranti.
"Elo, ikuti saran gue," bisik Kiranti juga ditelinga Wilona.
Wilona menganggukkan kepalanya kemudian ia dan Kiranti bergegas pergi dari sana. Kiranti membawa Wilona ke sebuah apotek.
Wilona sudah tahu apa yang akan di lakukan oleh sahabatnya, ia hanya menunggu saja karena ia malu jika harus membeli alat tes kehamilan.
Kiranti masuk kedalam dan ia melihat-lihat sekelilingnya, setelah tidak ada orang lagi mulailah ia bertanya.
"Mbak, saya mau satu alat tes kehamilan yang akurat," ucap Kiranti dengan sangat pelan.
"Pergaulan jaman sekarang," cibir penjaga apotek itu membuat Kiranti tidak terima.
"Eh, jangan sembarang kalau ngomong. Mbak itu alat untuk kakak saya," sahut Kiranti dengan sangat ketus.
"Maaf, saya kira untuk kamu." Mbak Kasir tersebut langsung memberikan apa yang di cari oleh Kiranti.
"Lain kali, jangan ngomong sembarangan ya, Mbak." Kiranti membayar kemudian ia langsung cepat-cepat pergi dari sana.
"Dia gak salah ngomong, cuma aku aja yang tidak mau di salahkan," gumam Kiranti dalam hatinya.
Kiranti tertawa-tawa keluar dari dalam apotek, sehingga Wilona heran melihat temanya yang sedikit kurang itu.
"Elo, sehat?" tanya Wilona dengan sangat serius.
Kiranti tertawa lepas kemudian ia mengambil ahli kemudi, ia langsung melajukan motornya menuju ke suatu tempat.
"Kiranti, elo mau bawa gue kemana?" tanya Wilona dari belakang tubuh Kiranti, karena Kiranti yang membawa motornya.
"Diam aja, entar elo juga tahu," jawab Kiranti dengan sangat ketus.
Wilona hanya bisa diam saja karena protes akan percuma saja baginya, setelah perjalanan kurang lebih lima menit mereka sampai di toilet umum.
Kiranti turun kemudian ia membawa Wilona masuk kedalam, karena ia ingin melakukan tes kehamilan Wilona didalam toilet umum.
"Sekarang." Kiranti memberikan gelas plastik kecil kepada Wilona, membuat Wilona terkejut karena ia tidak mau pipis di hadapan Kiranti. Walaupun mereka sama-sama wanita.
"Mala diam, sekarang elo pipis," ucap Kiranti dengan sangat pelan agar orang yang ada di luar, tidak mendengarkan ucapannya dan Wilona.
"Elo, udah gila," bisik Wilona dengan sangat pelan.
__ADS_1
"Gue, juga punya jadi gak usah malu."
Kiranti memaksa agar Wilona mengikuti langkahnya, dengan sangat keterpaksaan Wilona menuruti keinginan Kiranti. Kini mereka tengah melakukan tes kehamilan yang mereka lihat dari internet.
"Lihat, apa itu dua?" tanya Kiranti, yang melihat dua garis merah samar-samar.
Wilona meneteskan air matanya, kemudian ia terduduk lemas di toilet karena benar adanya saat ini ia tengah mengandung.
"Elo, tolong bawa gue pergi," ucap Wilona dengan tangisannya yang sudah pecah.
Kiranti merasa bersedih karena ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, untuk membantu sahabatnya itu. Ia langsung membawa Wilona keluar dari dalam toilet umum.
Wilona tak hentinya menangis, karena ia masih tidak percaya jika ia hamil anak calon mertuanya. Ia juga tidak bisa berfikir jernih saat ini.
Kiranti membawa Wilona duduk di bangku dekat halte bus, yang tidak jauh dari toilet umum tadi.
"Elo, minum dulu." Kiranti memberikan air mineral kepada Wilona.
Wilona tidak mengatakan apapun ia langsung meminum air dari Kiranti, kemudian ia menghapus air matanya yang mengalir deras.
"Kiranti, gue minta jangan sampai rahasia ini bocor. Gue tau kalau elo bakalan bocor," ucap Wilona, karena ia tahu jika Kiranti seringkali keceplosan.
Kiranti tertawa-tawa, karena sahabatnya itu masi saja tidak mempercayainya. Kemudian ia memegang tangan Wilona dengan sangat lembut.
*
*
Igun dan Shanas sedang meeting di sebuah Cafe, setelah selesai mereka tidak langsung pergi karena. Mereka makan siang berdua di Cafe itu.
Shanas sangat bahagia bisa bersama dengan Igun setiap harinya, bahkan. Ia juga sudah sangat dekat dengan Igun.
"Semoga, dia menembak ku ... dan aku akan menikah dengan laki-laki pujaan ku," gumam Shanas dalam hatinya.
Igun tidak dekat dengan Shanas, karena didalam hatinya masih ada Wilona seorang hanya ada Wilona.
"Gun, sepertinya aku akan pulang ... Minggu ini," ucap Shanas dengan sangat lembut.
Igun langsung menoleh kemudian ia menyudahi memakan makanannya.
"Kenapa?" tanya Igun, karena ia tahu jika Shanas sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di sana lalu. Untuk apa Shanas pulang.
"Ada, maslah yang harus aku urus," jawab Shanas dengan senyuman manisnya, karena ia mengira Igun akan merindukannya jika ia pergi jauh.
__ADS_1
"Oh, baiklah ... jaga dirimu baik-baik," sahut Igun dengan sangat cuek.
"Aku yakin, jika aku pergi maka dia akan merindukan aku ... ini adalah cara yang tepat agar kami bisa segera meresmikan hubungan kami," gumam Shanas dalam hatinya.
Setelah mereka selesai makan mereka langsung keluar dari Cafe, kemudian mata Igun melirik kearah sebrang jalan terlihat Wilona dan Kiranti tengah duduk di halte bus.
"Wilona, mau kemana dia?" tanya Igun, kemudian ia berjalan menuju seberang.
Shanas hanya bisa melihat saja karena ia juga tidak mau menghentikan langkah Igun, ia ingin terlihat seperti wanita yang tidak akan mengekang pasangannya.
Igun menyebrangi jalan kemudian ia menghampiri Wilona dan Kiranti, terlihat Wilona sedang menangis tersedu-sedu didalam pelukan Kirainti.
"Wilona," panggil Igun.
Sontak membuat Wilona dan Kiranti langsung menoleh, mereka sangat terkejut melihat Igun ada di hadapan mereka.
"Sejak kapan, kau ada di sini?" tanya Kiranti dengan sangat ketus, karena ia takut jika Igun mendengar ucapannya dan Wilona tadi.
"Baru saja, apa ada masalah?" tanya Igun, kepada Wilona yg terlihat sangat sedih saat ini.
Wilona menghapus air matanya, kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya, kau pergi saja ... karena kami akan pergi dari sini," ucap Kiranti dengan sangat ketus, membuat Igun kesal karena ia ingin berbicara dengan Wilona.
"Sebaiknya kau diam, karena aku ingin bicara dengan Wilona. Bukan kau!" seru Igun.
Wilona pusing akan berdebat diantara Igun dan Kiranti yang tidak ada henti-hentinya, sehingga ia bangun dan meninggalkan mereka berdua.
"Wilona, elo mau kemana! Gue pulang sama siapa!" teriak Kiranti.
Wilona tidak memperdulikan ucapan Kiranti, sehingga ia langsung mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Kau, ini semuanya adalah ulah mu ... lihat dia sudah pergi dan aku mau pulang dengan siapa?" tanya Kiranti dengan sangat kesal.
Pasalnya Motor miliknya ia tinggal di Kampus, karena Wilona juga membawa motor.
"Kau berisik sekali, ikut aku." Igun langsung menarik tangan Kiranti ikut dengannya.
"Igun, kau bisa pelan-pelan tidak!" teriak Kiranti.
Kiranti merasa sesulit mengikuti langkah Igun, karena tangannya di tarik oleh Igun menyebrangi jalanan yang ramai orang berlalu lalang.
Bersambung.
__ADS_1