
Setelah satu Minggu berlalu, kini Wilona sudah menjalani hidupnya seperti biasa. Dengan Kuliah dan menjalankan bisnisnya yang di kelola oleh Kiranti.
Wilona membuka tokoh bunga dan buket bunga, yang ia buat tepat di depan rumah yang ia beli. Tanpa sepengetahuan dari Mami dan Papinya karena itu sudah manjadi keputusannya.
Wilona sedang menyusun buku, kedalam tasnya kemudian ia melihat kedua orang tuanya datang menghampirinya.
"Anak rajin, sudah mau Kuliah." Yudha langsung berlari memeluk anaknya itu, walaupun Wilona sudah dewasa ia tetap saja memanjakan Wilona.
"Papi!" teriak Wilona, karena ia tidak mau di peluk oleh Papinya.
"Tangkap, dia!" teriak Yulia, yang membantu agar suaminya berhasil menangkap Wilona.
"Jangan!" jerit Wilona.
Ia terus-menerus berlari dari kejaran kedua orang tuanya, sehingga ia lelah dan menyerahkan dirinya.
Yudha langsung memeluk Wilona begitu juga dengan Yulia, saat mereka tengah tertawa bersama tiba-tiba Wilona mual.
"Wilona, mau muntah!" Wilona bergegas pergi menuju kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya.
Yudha dan Yulia langsung menghampiri anak gadisnya, kemudian mereka membantu Wilona dengan banyak sekali pertanyaan didalam benak mereka.
"Kenapa Wilona, muntah-muntah," gumam Yudha dalam hatinya.
"Wilona, kenapa sayang?" tanya Yulia dengan sangat lembut.
Wilona tidak menjawab karena ia juga tidak tahu, ia merasa mual saat mencium asap rokok Papinya tadi.
Mereka bertiga keluar dari kamar mandi, kemudian mereka duduk di sofa dengan saling menatap satu sama lainnya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Yudha dengan sangat cemas.
"Wilona ... mual, karena asap rokok, Papi." Wilona langsung bergegas bangun, kemudian ia mengambil tasnya.
"Eh, biasanya kamu tidak apa-apa?" tanya Yudha.
Ia merasa heran karena Wilona tidak pernah mual atau muntah, saat ia merokok di samping Wilona sebelumnya.
"Benar, kenapa sekarang kamu tidak bisa?" tanya Yulia, karena ia satu pemikiran dengan suaminya.
Wilona bingung harus menjawab apa, karena dirinya sendiri juga tidak tahu mengapa itu terjadi pada dirinya.
"Sebenarnya, aku juga tidak tahu ... kenapa aku jadi seperti ini. Sebaiknya aku pergi saja sebelum aku kehabisan alasan," gumam Wilona dalam hatinya.
"Mami, Papi. Wilona pergi dulu." Wilona bergegas mencium tangan kedua orang tuanya, kemudian ia cepat-cepat pergi sebelum mereka bertanya-tanya lagi.
"Sayang, tunggu!" teriak Yulia.
Wilona tidak mendengar jeritan Maminya, sehingga ia cepat-cepat pergi dari rumah menuju Kampus. Karena setelah selesai ia Kuliah ia langsung pergi melihat bisnis barunya.
__ADS_1
Yudha terdiam sambil memikirkan kembali tentang anaknya, yang menurutnya seperti seorang wanita yang tengah mengandung. Karena saat Istrinya mengandung sama seperti Wilona tadi.
"Tidak, semua itu tidak mungkin," ucap Yudha, membuat Yulia heran pasalnya mereka sedang tidak membicarakan apapun.
"Papi, apa yang tidak?" tanya Yulia, sambil menatap wajah suaminya yang terlihat sedang melamun.
Yudha langsung menatap wajah Yulia, kemudian ia membisikan apa yang ada didalam pikirannya tadi. Sehingga Yulia membuka mulutnya lebar-lebar.
"Tidak, jangan sampai itu terjadi." Yulia bergegas bangun kemudian ia pergi dari kamar Wilona.
Yudha hanya bisa diam saja, karena ia sedang bersedih menghadapi masalahnya saat ini. Sehingga ia ingin curhat kepada Wiliam seperti biasanya.
📥
(Temui aku, di Cafe biasa.)
Yudha mengirimkan pesan kepada Wiliam melalui WhatsApp messenger.
*
*
Wilona baru saja sampai Kampus dan ia bertemu dengan Kiranti, ia langsung menghampiri sahabatnya itu.
"Kiranti, entar kita pulang bareng aja," ucap Wilona dengan sangat lembut.
"Elo, lagi sakit?" tanya Kiranti dengan sangat serius.
Wilona mengerutkan keningnya karena ia sama sekali tidak merasa sakit, hanya saja ia merasa mual karena tadi ia menghirup asap rokok Papinya.
"Enggak, gue sehat," jawab Wilona dengan menggelengkan kepalanya.
"Yakin, karena wajah elo pucat?" tanya Kiranti yang tidak percaya akan jawaban dari Wilona.
"Terserah." Wilona langsung bergegas pergi dari sana, dan Kiranti mengikutinya dari belakang dengan sangat cepat.
*
*
Wiliam baru saja ingin pergi ke Kantor kemudian ia menerima pesan dari Yudha, sehingga ia akan pergi menemui sahabatnya dulu setelah itu barulah ia ke Kantor.
"Apa, mereka memiliki masalah lagi?" tanya Wiliam, karena ia tahu jika sahabatnya ingin bertemu dengan tiba-tiba.
Itu artinya sahabatnya sedang menghadapi masalah besar, karena mereka sudah bertahun-tahun bersahabat dengan baik.
Setelah sampai ia langsung turun dan masuk kedalam, ia melihat jika Yudha sudah ada sehingga ia langsung menghampiri sahabatnya itu.
"Yud, sudah lama menunggu?" tanya Wiliam.
__ADS_1
Kemudian ia mendudukkan bokongnya di bangku samping Yudha.
"Tidak, tenang saja," jawab Yudha dengan senyuman manisnya, walaupun saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Cerita saja, aku akan mendengarnya," ucap Wiliam, ia tahu jika sahabatnya itu terlihat sangat sedih saat ini.
"Sebenarnya ... "
Yudha menceritakan semuanya yang ada didalam hatinya, ia juga menceritakan jika ia sampai menemukan siapa laki-laki itu. Ia akan menghabisi nyawa laki-laki yang sudah membuat anaknya hamil, jika dugaannya benar.
"Kamu, sudah yakin?" tanya Wiliam, sambil menatap wajah Yudha yang terlihat sangat marah.
"Tentu saja, kau ini tahu aku. Jika aku berniat maka aku akan melakukannya," jawab Yudha dengan sangat pelan.
Wiliam menelan ludahnya dalam-dalam, karena jika Wilona benar hamil ia orang yang menghamili Wilona.
"Bagaimana jika dia tahu, sebenarnya aku orangnya yang sudah membuat Wilona berubah," gumam Wiliam dalam hatinya.
"Sudah, lupakan saja ... karena aku sudah lega, menceritakan semuanya pada mu." Yudha bergegas bangun, kemudian ia pergi dari sana.
Wiliam hanya menatap kepergian Yudha saja, karena saat ini ia sedang bimbang. Ia ingin berkata jujur akan tetapi, ia masih ragu karena permintaan dari Wilona.
"Om, jangan beritahu siapapun tentan. Scandal kita ini."
Kata-kata Wilona terus masuk kedalam pikirannya, saat ia ingin mengungkapkan semuanya pada Yudha atau Yulia.
*
*
Wilona menyadari jika dirinya mengalami perubahan, bahkan. Ia juga tahu kalau saat ini ia sudah terlambat datang bulan.
"Bagaimana ini, jika aku hamil?" pikir Wilona dalam hatinya.
Wilona tidak fokus dengan pelajaran yang sedang ia kerjakan, sehingga Kiranti menendang kaki Wilona.
Wilona langsung menatap kearah Kiranti yang ada di sampingnya.
"Lihat, depan," bisik Kiranti, karena ia tidak ingin sampai Dosen mereka mendengar ucapannya.
Wilona menganggukkan kepalanya, kemudian ia menyimak apa saja yang sedang Dosen jelaskan.
"Pasti, aku yakin dia sedang memikirkan tentang itu," gumam Kiranti dalam hatinya.
Setelah jam pelajaran berakhir, ia dan Wilona bergegas pergi menuju Kantin untuk makan terlihat dahulu sebelum mereka pulang.
Kiranti merasa heran karena Wilona tidak mau makan apapun, sehingga ia memikirkan tentang Wilona hamil karena itu bisa saja terjadi bukan.
Bersambung.
__ADS_1