Scandal Bersama Calon Mertua

Scandal Bersama Calon Mertua
12 Rindu Wiliam


__ADS_3

Selama satu Minggu ini. Wiliam terus-menerus memikirkan tentang Wilona karena ia sama sekali tidak melihat keadaan Wilona lagi.


Karena ia merasa sangat bersalah, akan kehancurannya hubungan Igun dan Wilona. Itu terjadi karena dirinya yang terlalu bodoh.


"Bagaimana ini, apa aku sebaiknya datang saja ... entah mengapa aku ingin melihatnya," gumam Wiliam.


Wiliam bergegas pergi dari Kantor menuju rumah Yudha, untuk melihat keadaan Wilona yang sudah satu Minggu ini tidak ia temui.


Selama di perjalanan ia terus-menerus memikirkan bagaimana cara, agar ia bisa beralasan untuk melihat keadaan Wilona. Karena ia tidak ingin sahabatnya itu tahu jika ia dan Wilona sudah bermalam bersama.


Setelah sampai ia langsung turun dari mobilnya, kemudian ia berjalan menuju rumah Yudha. Ia mengetuk-ngetuk pintu rumah Yudha tak berselang lama akhirnya pintu terbuka.


"Mas, masuk." Yulia bergegas masuk kedalam, di ikuti oleh Wiliam.


"Duduk, Mas ... saya buatkan minum dulu?" tanya Yulia, karena ia bingung harus berbuat apa. Sebab, suaminya tidak ada di rumah.


"Tidak, aku hanya ingin melihat putrimu ... apa dia sudah membaik?" tanya Wiliam balik.


Yulia tersenyum, kemudian ia duduk di sofa berhadapan dengan Wiliam.


"Sudah, Mas ... dia ada didalam kamar. Apa saya panggilkan dia?" tanya Yulia.


Wiliam berfikir sejenak, karena ia juga ingin bertemu dengan Wilona sekaligus ia ingin melihat wajah wanita yang sudah ia rindukan.


"Boleh, apa tidak menggangunya?" tanya Wiliam balik.


Yulia menggelengkan kepalanya, kemudian ia bergegas pergi menuju kamar Wilona yang berada di lantai atas.


Perlahan ia memasuki kamar Wilona, ia melihat jika Wilona masih berada di atas tempat tidur. Ia tersenyum dan menghampiri anaknya tersebut.


"Sayang, ada om Wiliam didepan," ucap Yulia dengan sangat lembut.


Wilona terkejut saat mendengar jika Wiliam ada di rumahnya, dan ingin menemuinya.


"Untuk apa, om Wiliam menemui ku. Apa ada masalah tentang, Igun," gumam Wilona dalam hatinya.


"Iya, ayo kita turun," jawab Wilona dengan senyuman manisnya.


"Mami, bantu ya." Yulia membantu Wilona bangun, kemudian mereka berjalan dengan perlahan menuju ruang tamu.


Setelah sampai mereka duduk di hadapan Wiliam.


"Wilona wajahmu pucat sekali, apa dia masi sakit," gumam Wiliam dalam hatinya.

__ADS_1


"Mas, aku tinggal buat air dulu. Ya," ucap Yulia.


Wiliam menganggukkan kepalanya, kemudian Yulia bergegas pergi dari sana menuju dapur untuk membuat minum.


Wilona hanya diam saja, karena ia merasa sangat canggung berdua bersama dengan Wiliam saat ini.


"Wilona, apa keadaan mu sudah membaik?" tanya Wiliam.


"Sudah, Om ... saya sudah membaik," jawab Wilona sambil menganggukkan kepalanya.


"Minggu depan, Igun dan Om akan datang. Untuk memutuskan hubungan kalian secara resmi," ucap Wiliam dengan berat hati.


Wilona hancur mendengar perkataan Wiliam, akan tetapi. Ia juga tidak bisa mencegah semuanya karena ia dan Igun tidak akan bisa bersama lagi.


"Baik, Om ... saya harap, Om bisa merahasiakan masalah kita," ucap Wilona, dengan mengecilkan suaranya saat menyebutkan masalah kita.


"Baik, saya harap kedepannya kamu bisa mengambil tindakan," sahut Wiliam, dengan menggunakan kepalanya.


"Terimakasih, saya akan memikirkan lagi," sambung Wilona.


Yulia datang membawakan segelas jus untuk Wiliam, kemudian ia duduk di samping anaknya lagi.


"Yulia, aku, Igun akan datang Minggu depan untuk memutuskan hubungan mereka," ucap Wiliam.


Yulia langsung menatap wajah putrinya yang terlihat menahan rasa sedih, kemudian ia menatap kearah Wiliam yang terlihat sangat terpuruk.


"Mami, semuanya sudah menjadi keputusan, Wilona ... kita tunggu saja kedatangan keluarga, Om Wiliam." Wilona beranjak bangun, kemudian ia bergegas pergi menuju kamarnya.


Wiliam menatap kepergian Wilona sampai ia tidak melihat Wilona lagi, kemudian ia menatap wajah Yulia yang terlihat sangat bersedih.


"Mas, apa permasalahan diantara mereka. Jujur sampai saat ini saya tidak tahu," ucap Yulia dengan pelan.


Wiliam bingung harus menjawab apa, karena ia lah biang masalah diantara Wilona dan Igun.


"Saya, permisi dulu." Wiliam bergegas bangun, kemudian ia berjalan dengan sangat cepat keluar dari rumah Yulia.


"Loh, apa ada yang salah? Dari ucapan ku tadi?" tanya Yulia, yang menatap kepergian Wiliam.


Yulia bergegas pergi menuju kamar Wilona, karena ia ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Sampai-sampai mereka berdua memutuskan hubungan yang sebentar lagi akan bersatu.


Yulia masuk dengan perlahan, ia melihat Wilona menangis tersedu-sedu didalam selimut. Membuat hatinya sakit melihat anak satu-satunya bersedih sampai seperti itu.


"Wilona," panggil Yulia.

__ADS_1


Wilona langsung keluar dari dalam selimut, kemudian ia menghapus air matanya yang mengalir deras.


"Mami," ucap Wilona, ia sangat terkejut melihat kedatangan Maminya kedalam kamarnya.


Yulia menghampiri anaknya, kemudian ia memeluk Wilona dengan sangat lembut sambil mengelus rambut Wilona.


"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Yulia dengan sangat lembut.


Wilona terdiam, karena ia tidak mungkin menceritakan semuanya kepada Maminya. Jika ia sudah bermalam bersama calon mertuanya itu.


"Semuanya, salah Wilona," ungkap Wilona.


Yulia tidak menyangka jika semuanya adalah kesalahan dari anaknya, karena ia tahu betul jika Wilona sangat mencintai Igun sejak tiga tahun terakhir ini.


"Iya, apa yang kamu lakukan?" tanya Yulia, ia penasaran sebenarnya apa yang sudah dilakukan oleh Wilona.


"Itu, adalah rahasia antara kami ... dan kami juga sudah putus dengan baik-baik. Mungkin dia bukan jodoh, Wilona ... " jawab Wilona dengan lirih.


Yulia tidak bisa memaksa agar Wilona menceritakan semuanya padanya, karena ia tidak ingin sampai Wilona sakit lagi sehingga ia hanya diam saja.


"Sebaiknya, aku diam saja karena anakku juga butuh waktu untuk menceraikan semuanya," gumam Yulia dalam hatinya.


*


*


Wiliam kembali mengemudikan mobilnya menuju Kantor, dengan hati yang sangat gelisah. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi saat ini.


"Semoga saja, setelah semuanya selesai. Wilona bisa menerima pertanggungjawaban dariku ... bagaimanapun aku sudah merusak masa depannya," ucap Wiliam.


Setelah ia sampai ia langsung turun dari mobilnya, saat ia masuk kedalam matanya melirik kearah Igun dan Shanas yang terlihat sedang tertawa bersama.


"Muda sekali, dia melupakan cintanya ... sudahlah bukankah itu jauh lebih baik lagi." Wiliam melanjutkan kembali perjalanannya menuju ruangan kerjanya.


*


*


Igun dan Shanas sama-sama bercanda tawa bersama, saat mereka tengah mengerjakan pekerjaannya mereka untuk meeting besok.


"Gun, apa sebaiknya kita melihat keadaan, Wilona?" tanya Shanas, yang merindukan temannya itu.


"Iya, besok saja kita datang ... hari ini banyak sekali pekerjaan," jawab Igun, dengan sangat santai.

__ADS_1


"Mungkin saja, dia sudah melupakan, Wilona atau dia pura-pura sudah melupakan, Wilona?" pikir Shanas dalam hatinya.


Bersambung.


__ADS_2