
Shanas terkejut melihat Igun membawa Kiranti dengan cara bergandengan tangan.
"Lepaskan!" sentak Kiranti.
Igun langsung melepaskan tangannya, kemudian ia menatap wajah Shanas yang terlihat sangat terkejut.
"Ada, apa?" tanya Igun, pada Shanas yang terus-menerus menatap wajah Kiranti.
"Gak usah dia tanya, gue udah nebak," sahut Kiranti dengan cepat.
Shanas tidak menjawab ucapan Igun atau Kiranti, ia bergegas masuk kedalam mobil akan tetapi. Langkahnya terhenti saat ia masuk.
"Shanas, kamu duduk di belakang saja ... aku mau mengantarkan Kiranti pulang," ucap Igun.
Shanas langsung membuka mulutnya lebar-lebar, kemudian ia turun dan berpindah duduk ke bangku belakang.
"Wanita itu, dari dulu sampai saat ini ... masih saja ingin mengambil Igun," gumam Kiranti dalam hatinya.
"Mala diam, masuk sekarang aku akan mengantarmu pulang." Igun bergegas masuk kedalam mobilnya.
Yang di ikuti oleh Kiranti, ia duduk di samping Igun kemudian ia melihat Shanas dari spion mobil Igun.
"Kabar, elo baik?" tanya Kiranti, karena ia merasa ingin meledek sahabat lamanya itu.
"Baik," jawab Shanas singkat.
Igun tidak tahu apa permasalahan di antara mereka berdua sehingga ia langsung mengemudikan mobilnya, ia mengemudikan mobilnya menuju rumah kontrakan Shanas karena ia ingin berbicara dengan Kiranti.
Igun sengaja membawa Kiranti dan mengantarkan Kiranti, karena ia ingin bertanya-tanya kepada Wilona tadi menangis.
Setelah sampai di rumah kontrakan Shanas, ia menghentikan mobilnya setelah Shanas turun. Ia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Kiranti.
"Gun, gue udah pindah," ucap Kiranti, karena Igun akan melajukan mobil menuju rumah lamanya.
Igun menghentikan mobilnya kemudian ia menatap wajah Kiranti.
"Pindah?" tanya Igun, karena ia tidak tahu sama sekali jika Kiranti sudah pindah.
"Iya, elo anterin aja gue ke Kampus ... motor gue ada di sana," jawab Kiranti.
Igun menganggukkan kepalanya kemudian ia melanjutkan kembali perjalanannya, selama di perjalanan ia sengaja untuk memperlambat laju mobilnya.
"Ranti, elo tahu semua tentang. Wilona?" tanya Igun sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Iya," jawab Kiranti dengan jujur.
Igun tersenyum karena ia tahu jika kiranti akan keceplosan kali ini.
__ADS_1
"Terus, kenapa tadi dia nangis?" tanya Igun lagi.
Kali ini Igun salah, jika mengira Kiranti akan keceplosan saat ini ia langsung teringat akan ucapan Wilona padanya.
"Jangan sampai elo, keceplosan."
"Ranti, gue tanya sama elo," panggil Igun, karena Kiranti hanya diam saja saat ia bertanya.
"Eh, itu gue gak tau," jawab Kiranti dengan cepat, karena ia tidak ingin sampai keceplosan kali ini.
Igun tersenyum licik, karena ia tahu apa yang akan membuat Kiranti mau membuka mulutnya.
"Baiklah, jika kau tidak bisa berkata jujur ... aku akan memaksamu."
Kiranti membuka mulutnya lebar-lebar, saat Igun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Gun, gue gak mau mati!" teriak Kiranti sambil memegang tangan Igun, karena ia merasa sangat takut.
Igun tersenyum licik, karena idenya kali ini akan berhasil.
"Katakan, semuanya!" teriak Igun.
Kiranti merasa bimbang karena ia tidak bisa buka mulut, akan tetapi. Saat ini adalah keadaan yang darurat.
"Gue masih muda, gue gak mau mati dulu," gumam Kiranti dalam hatinya.
Igun langsung menghentikan mobilnya di tepi jalan, bak di sambar petir di siang bolong mendengar ucapan Kiranti. Jika Wilona hamil.
"Hamil?"
Kiranti menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, kemudian ia menatap wajah Igun yang terlihat sangat terkejut akan apa yang ia ucapkan tadi.
"Katakan, dia hamil?" tanya Igun sekali lagi.
Kiranti hanya mengangguk kepalanya saja, karena ia takut sudah membongkar rahasia kehamilan Wilona.
"Siapa, laki-laki itu?" tanya Igun, dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Kiranti ingin tertawa lepas karena melihat Igun menangis, akan tetapi. Ia tidak berani karena saat ini situasinya berbada.
"Gue gak tau, karena dia gak cerita siapa laki-laki itu ... karena dia kejebak bukan dia yang mau ini semuanya," ungkap Kiranti, karena ia tidak mungkin mengatakan jika Papanya Igun perlakuannya.
"Kenapa, dia gak mau cerita sama gue ... udah pasti gue tetap akan nikahin dia," ucap Igun, dengan tangisannya yang sudah pecah.
"Gun, jangan bilang sama dia ... kalau elo tahu dari gue. Karena dia bakalan marah banget sama gue," pinta Kiranti, karena ia takut Wilona akan marah padanya.
"Iya, elo harus kasi tahu semua tentang dia. Sama gue ... karena gue gak akan lepasin elo," jawab Igun.
__ADS_1
Kiranti takut akan tatapan tajam dari Igun, sehingga ia mengangguk kepalanya saja tanpa berfikir panjang.
*
*
Wilona mengemudikan motornya menuju taman yang tidak jauh dari rumahnya, kemudian ia turun dan berlari masuk kedalam.
Wilona duduk di pinggir danau sambil menatap kearah langit-langit, ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk dirinya.
"Tuhan, bagaimana caranya agar aku kuat ... bagaimana caranya agar aku bisa menjalani semuanya?" tanya Wilona pada Tahun.
Wilona tidak bisa memikirkan tentang dirinya kedepannya, ia juga bingung apa yang harus ia katakan pada kedua orang tuanya jika saat ini ia hamil.
"Tidak mungkin, aku menceritakan kepada kedua orang tua ku ... kalau saat ini aku tengah hamil," ucap Wilona dengan lirih.
Wilona baru ingat jika tadi ia meninggalkan Kiranti bersama dengan Igun, sehingga ia langsung cepat-cepat menelfon Kiranti karena ia takut sahabatnya itu akan keceplosan.
Berulangkali ia menelfon Kiranti akan tetapi, tidak ada jawaban sama sekali sehingga ia memutuskan untuk pulang.
"Besok, aku akan bertanya. Apa dia keceplosan." Wilona bergegas pergi dari taman, karena hari sudah semakin sore.
Wilona mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang, karena rumahnya sudah tidak jauh lagi setelah sampai ia langsung memarkirkan motornya di garasi.
Kemudian ia masuk kedalam, terlihat jika kedua orang tuanya tidak ada sehingga ia aman kali ini. Karena ia belum siap untuk menemui kedua orang tuanya.
Wilona bergegas masuk kedalam kamarnya, kemudian ia menidurkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Semoga aku cepat mendapatkan jalan keluarnya, apa aku meminta pertanggung jawaban dari, om Wiliam ... sepertinya itu tidak mungkin karena aku tidak ingin melukai hati, Igun."
*
*
Kiranti tidak bisa menolak keinginan Igun, yang ingin mengantarkannya pulang karena hari sudah semakin sore.
Tanpa Kiranti sadari ternyata itu hanya siasat Igun saja, agar ia bisa tahu dimana Kiranti tinggal.
"Kamu cantik, tapi sayang. Sedikit bodoh juga," gumam Igun dalam hatinya.
Igun tersenyum licik kepada Kiranti, ia tidak menyangka jika membodohi Kiranti mudah sekali seperti saat ini.
Kiranti sama sekali tidak tahu apa maksud Igun, ia berfikir jika benar Igun mengantarkannya karena hari sudah semakin sore.
"Ternyata, dia baik jiga aku hanya salah mengiranya aku kira dia jahat," gumam Kiranti dalam hatinya.
Bersambung.
__ADS_1