
Yudha tidak mengetuk pintu ruangan Wiliam terlihat dahulu, ia langsung masuk kedalam dan Wiliam terkejut pasalnya ia baru saja berbicara pada Wilona lewat ponselnya.
"Yudha, kenapa tidak mengetuk, pintu?" tanya Wiliam sambil meletakan ponselnya, yang masih terhubung dengan Wilona.
"Tidak, memangnya ada masalah? Bukankah selama ini tidak apa?" tanya Yudha sambil mendekati Wiliam.
"Tidak," jawab Wiliam dengan kikuk, karena ia lupa untuk mematikan ponselnya yang masih terhubung dengan Wilona.
"Oh, aku hanya ingin bicara soal semalam." Yudha duduk di sofa sambil menatap kearah Wiliam.
"Semalam?" tanya Wiliam, karena ia mengira jika Yudha akan bertanya padanya tentang Wilona.
"Iya, saat kau pulang itu," jawab Yudha dengan sangat santai.
Wiliam bernafas lega, karena ia sudah salah duga tadi.
"Oh," jawab Wiliam singkat.
Wilona dengan jelas mendengar ucapan antara Papinya dan Wiliam, kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya.
"Kenapa, papi datang disaat yang tidak tepat," ucap Wilona sambil menidurkan tubuhnya di atas kasur miliknya.
Entah mengapa sejak kejadian itu, ia sama sekali tidak bersemangat untuk hidup dan menjalani hidup.
Saat ia asik dalam pikirannya, ponselnya berdering ternyata Igun yang menelponnya melalui panggil video.
📱Igun.
[Halo, maaf aku tidak bisa memberikan mu kabar. Untuk beberapa hari kedepannya, karena aku sedang di proyek.] Igun tersenyum manis kepada Wilona.
Kemudian ia juga tersenyum walaupun saat ini banyak beban pikiran, yang mengganjal didalam pikirannya dan juga hatinya.
[Tidak, apa-apa jangan cemas ... aku bisa mengerti semuanya.] Wilona tersenyum manis kepada Igun.
Igun mencium Wilona melalui ponselnya, sehingga Wilona menahan rasa sakit yang ia rasa 'kan.
"Bagaimana, jadinya saat aku berkata yang sejujurnya pada, Igun?" pikir Wilona dalam hatinya.
[Jangan lupa bahagia, walaupun tidak aku di saja ... aku sangat mencintaimu dan aku tidak sabar untuk segera menikahi mu.]
Wilona langsung menatap wajah Igun yang terlihat sangat bahagia, ia juga melihat cinta yang sangat besar pada Igun untuk dirinya.
__ADS_1
[Iya, aku tutup dulu, telfonnya.]
Wilona langsung memutuskan sambungan teleponnya, kemudian ia menangis tersedu-sedu didalam selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku juga sangat mencintaimu, tiga tahun itu bukan waktu yang singkat untuk kita menjalin kasih." Wilona menangisi yang terjadi padanya saat ini.
Pernikahan yang sangat ia impikan dan ia tunggu-tunggu kini semuanya musnah, seketika saat dirinya terjebak scandal bersama calon mertuanya.
Hati Wilona terasa sangat nyeri, saat ia membayang 'kan jika dirinya hamil dan ia menikahi calon mertua itu.
Satu Minggu kemudian ...
Wilona sedang dimanjakan oleh kedua orang tuanya, mereka tertawa-tawa didalam kamar orang tuanya.
"Papi, jangan lagi. Itu sangat geli," ucap Wilona yang menjauh dari Papinya, karena Papinya menggelitik perutnya.
"Lema, masa segitu saja sudah kala," ucap Yudha sambil menghisap rokoknya, kemudian ia melanjutkan kembali ceritanya.
"Papi, ini suka sekali merokok untungnya kami berdua tahan akan asap itu," ucap Yulia sambil memeluk Wilona dengan sangat lembut.
"Benar, itu," tambah Wilona, karena ia sama sekali tidak terpengaruh akan asap rokok Papinya yang ia hirup.
"Lupa 'kan, hanya Papi saja yang salah di sini. Kalian selalu benar," cetus Yudha, yang bergegas pergi dari sana agar ia bisa leluasa menghisap rokoknya.
Wilona terdiam saat ia memikirkan tentang dirinya, yang sudah pasti tidak akan bisa menikah dengan Igun karena ia sudah bermalam bersama Papanya Igun.
"Sakit hati ini, dan aku juga belum mendapatkan jalan keluarnya dari, om Wiliam," gumam Wilona dalam hatinya.
Wilona kembali bercerita bersama dengan Maminya, mereka banyak sekali bercerita sehingga Wilona ketiduran didalam kamar Maminya.
*
*
Yulia menghampiri suaminya yang ada di balkon, ia duduk di samping suaminya kemudian ia memeluk suaminya.
"Papi, apa ini hanya perasaanku saja? Kenapa aku selalu melihat jika anak kita jalan tertatih. Sudah satu Minggu ini," ucap Yulia dengan pelan, karena sudah satu Minggu ia perhati 'kan anaknya jalan tertatih.
"Entah, apa mungkin anak kita sudah melaku 'kannya?" tanya Yudha, yang sempat berfikir jika Wilona dan Igun sudah bercinta.
"Jika itu benar, sudahlah kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena mereka juga akan segera menikah." Yulia memeluk suaminya dengan erat, karena ia bersedih jika benar anaknya sudah melewati batas dalam berpacaran.
__ADS_1
Yudha, sudah curiga saja Wilona pulang terlambat hari itu, akan tetapi. Ia juga tidak bisa menuduh Wilona tanpa bukti yang kuat, sehingga ia hanya diam saja.
Begitu juga dengan Yulia, karena ia selalu melihat Wilona jalan tertatih walaupun tidak terlihat jelas. Ia tetap pasti melihat Wilona jalan tertatih karena ia juga seperti itu saat malam pertama dengan Yudha dulu.
*
*
Igun sangat sibuk di proyek, karena semua tuas dibeban 'kan padanya sehingga ia tidak memiliki waktu. Untuk mengabari Wilona.
Pada malam ini, ia harus memantau perkembangan proyek karena tugasnya semakin bertambah.
"Aku heran, biasanya papa tidak pernah memberi 'kan aku tugas sebanyak ini dan selama ini," ucap Igun, sambil melihat-lihat proyek dimalam hati.
"Sepi?"
Igun langsung menoleh ternyata Shanas yang menghampirinya di malam hari seperti ini.
"Shanas, untuk apa kamu malam-malam seperti ini ada di sini?" tanya Igun sambil berjalan mendekati Shanas.
"Tidak ada, aku tadi tidak sengaja pulang lewat sini," jawab Shanas, karena memang benar jika ia baru pulang dan ia melihat Igun.
"Mari, aku akan mengantarmu pulang." Igun berjalan bersama dengan Shanas, karena ia khawatir jika wanita malam-malam berjalan sendirian.
"Kamu kerja, apa?" tanya Igun, sambil terus berjalan di samping Sahnas.
"Tokoh, kue ... hanya itu pekerjaan yang mau menerima ku yang lulusan SMA," jawab Shanas dengan senyuman manisnya.
"Aku bisa memperkerja 'kan, mu." Igun menghentikan langkahnya, kemudian ia menatap wajah Shanas.
"Benarkah?" tanya Shanas dengan sangat bergembira.
Bukan mendapat pekerjaan yang membuatnya bergembira, akan tetapi. Bertemu dengan Igun yang membuatnya bergembira.
"Iya, bulan depan aku akan kembali ... kamu bisa langsung ikut denganku," jawab Igun, kemudian ia melanjutkan kembali perjalanannya.
"Baiklah, lagipula aku di sini hanya tinggal seorang diri," ucap Shanas lirih, karena ia mengingat kembali kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu.
"Anggap aku ini, keluarga mu," sahut Igun.
Shanas tertawa-tawa karena Igun membuatnya bahagia, ia juga bercerita tentang masa-masa SMA dulu saat mereka bersama-sama.
__ADS_1
"Aku akan bekerja lebih keras, agar aku bisa terus bersama dengan Igun walaupun kami tidak bisa menjalin kasih," gumam Shanas dalam hatinya.
Bersambung.