
Setelah pulang dari Kampus, mereka berdua pergi ke suatu tempat yang sebelumnya tidak pernah mereka datangi. Karena Wilona yang memintanya.
"Wilona, ini rumah siapa?" tanya Kiranti, yang melihat rumah mewah di hadapannya.
"Ini adalah, rumah kita," jawab Wilona dengan sangat bergembira.
Kiranti membuka mulutnya lebar-lebar, ia tidak menyangka jika rumah mewah yang ada di hadapannya, rumah untuknya.
"Elo, jangan bercanda dong. Sejak kapan elo beli rumah ini?" tanya Kiranti, ia tidak mempercayai ucap Wilona tadi. Karena ia dan Wilona sejak tadi selalu bersama.
"Serius, tunggu sebentar lagi ... karena pemilik rumah ini akan datang, dia akan menjelaskan semuanya padamu," jawab Wilona dengan sangat santai.
Kiranti hanya tertawa garing saja, karena ia sama sekali tidak mempercayai ucapnya sahabatnya itu.
Wilona membeli rumah itu, saat mereka makan siang di Kantin melalui aplikasi online yang menjual rumah. Ia tidak pikir panjang dan langsung membelinya, karena ia juga akan segera pergi dari kehidupan, Igun.
"Mungkin, dengan aku pergi ... dengan mudah aku bisa melupakannya," gumam Wilona dalam hatinya.
Tiga puluh menit kemudian ...
Seorang laki-laki paru baya datang, menghampiri mereka sontak membuat Kiranti membulatkan matanya.
"Permisi, saya pemilik rumah ini ... saya akan merubah nama pemilik rumah ini," ucap laki-laki tersebut.
Wilona tersenyum kemudian ia menatap wajah Kiranti, yang sejak tadi hanya diam saja.
"Terimakasih, saya akan mengurusnya," jawab Wilona dengan senyuman manisnya.
"Baik, ini kunci rumahnya ... semoga kalian betah," ucap laki-laki tersebut, sambil memberikan kunci rumah.
Setelah kepergian sang pemilik rumah, mereka berdua langsung masuk kedalam. Kemudian mereka duduk di sofa.
"Wilona, jelasin sama gue. Kenapa elo beli rumah ini?" tanya Kiranti, karena ia sangat terkejut saat Wilona membeli rumah mewah ini. Dan jarak rumah ini dari rumah mereka sangatlah jauh.
"Kiranti, sebenarnya ... "
Wilona menceritakan semuanya kepada Kiranti, karena ia sangat mempercayai sahabatnya itu akan menjaga rahasianya.
__ADS_1
Kiranti sangat terkejut akan apa yang di ucapkan oleh Wilona, ia langsung memeluk Wilona yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Wilona, elo tenang aja karena gue akan ada untuk, Elo." Kiranti mengelus punggung Wilona, dengan perlahan kemudian ia melepaskan pelukannya.
"Sebaiknya, elo ngomong Juju saja sama, Igun karena ... jujur walaupun menyakitkan itu lebih baik, daripada bohong membuat dia bahagia," usul Kiranti pada sahabatnya itu.
"Gue, gak bisa ... karena kami sama-sama saling cinta. Apa jadinya kalau dia tahu bahwa gue udah tidur sama, papanya." Wilona menangis tersedu-sedu, saat ia mengingat kembali kejadian kelam satu malamnya.
Kiranti merasa sangat sedih, saat sahabatnya tersebut mendapat masalah akan tetapi. Ia sama sekali tidak bisa membantu apa-apa.
"Sebaiknya, gue ikuti aja maunya dia kayak mana ... dan gue juga akan bicara pelan-pelan sama dia," gumam Kiranti dalam hatinya.
Kiranti mencoba untuk menenangkan Wilona, sehingga sahabatnya itu bisa tenang kemudian mereka bergegas pergi dari sana. Karena hari sudah semakin sore.
*
*
Igun sudah berulangkali mencoba untuk menghubungi, Wilona akan tetapi. Ia sama sekali tidak bisa entah mengapa ia juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Wilona berubah padanya.
"Kenapa, Wilona seperti ini ... apa dia marah padaku karena aku lama sekali di sini?" tanya Igun, pada dirinya sendiri karena ia sudah bingung.
Padahal sebelumnya ia selalu mendapatkan, pesan singkat dari Wilona dan juga telfon dari Wilona walaupun ia tidak menjawabnya.
"Aku akan pulang, Minggu depan karena aku sudah tidak tahan jika, Wilona bersikap seperti ini padaku," gumam Igun, dalam hatinya.
Igun tidak memberitahu Papanya, jika dirinya akan pulang karena Papanya selalu melarangnya jika ia ingin pulang. Ia sangat heran dan curiga akan sikap Papanya dan juga Wilona.
Sempat terbesit didalam pikirannya, jika Papanya dan pacarnya menjalin hubungan kerena ia sangat cemburu saat, Papanya dan pacarnya tertawa bersama.
*
*
Setelah Wilona sampai di rumah, ia langsung masuk kedalam kamarnya karena ia ingin segera mandi. Setelah ia didalam kamar ia menidurkan tubuhnya ditempat tidur sebelum ia mandi.
"Bagaimana ini, aku harus mencari alasan agar pernikahan ku dan, Igun di batalkan ... tidak mungkin aku tetap menikah dengannya," ucap Wilona, sambil mencari cara agar dirinya bisa memutuskan hubungannya.
__ADS_1
Walaupun ia tidak hamil, sama saja ia tetap tidak bisa menikah dengan Igun karena ia sudah bermalam bersama Wiliam.
"Aku, tidak memiliki cara dan aku juga tidak siap ... apa yang harus katakan pada, mami, papi jika aku tidak mau menikah dengan, Igun?" tanya Wilona pada dirinya sendiri.
Wilona sangat bingung, karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak mungkin meminta Wiliam menikahinya, karena ia tidak bisa menyakiti hati Igun jika ia menjadi ibu sambung Igun.
Saat ia tengah memikirkan cara, pintu kamarnya di ketuk oleh Maminya.
"Sayang, kamu belum tidur!" teriak Yulia dari luar.
Wilona langsung bangun kemudian ia berjalan dan membukakan pintu kamarnya.
"Belum, bukankah Wilona baru saja pulang," jawab Wilona dengan senyuman manisnya.
Yulia mencubit pipi Wilona, kemudian ia masuk kedalam kamar anaknya.
"Ada, apa Mi?" tanya Wilona, sambil mendirikan kepalanya di pangkuan Maminya.
Yulia mengelus-elus rambut Wilona dengan sangat lembut, kemudian ia menatap wajah anaknya dengan sangat dalam.
"Sayang, apa Mami bisa bertanya?" tanya Yulia, dengan sangat hati-hati karena ia juga ragu akan pertanyaannya.
"Tentu saja, emangnya ada apa?" tanya Wilona balik, karena ia sedikit penasaran akan apa yang akan di tanyakan oleh Maminya.
"Sebenarnya, ada apa dengan kamu? Karena, Igun menceritakan semuanya pada kami," ucap Yulia, dengan sangat ragu-ragu ia takut membuat anaknya tidak nyaman akan pertanyaannya.
"Tidak ada, karena dia juga ... yang mengatakan jika dia akan sibuk di sana. Dan dia tidak bisa mengabari, Wilona." Wilona langsung bagun, kemudian ia menatap wajah Maminya.
Yulia merasa curiga akan jawaban dari anaknya, karena cerita Wilona dan Igun jauh berbeda saat bercerita padanya.
"Apa, yang sebenarnya di sembunyikan oleh, Wilona ... apa mereka memiliki masalah, tapi dari cerita, Igun mereka sama sekali tidak mempunyai masalah," gumam Yulia dalam hatinya.
"Ya sudah, kalau begitu, Mami pergi dulu ... kamu jangan lupa makan," ucap Yulia, yang bergegas pergi dari kamar putrinya.
Wilona bernafas lega saat. Maminya pergi dari kamarnya kemudian ia membuka ponselnya, ternya banyak sekali panggilan dari, Igun dan juga pesan singkat darinya.
"Ini masalahnya, kenapa dia sampai seperti ini ... mungkin saja dia sudah tahu apa yang terjadi padaku," gumam Wilona.
__ADS_1
Bersambung.