
Keesokan harinya ...
Igun dan Shanas pergi menuju rumah Wilona, karena mereka berdua ingin membesuk Wilona yang tengah sakit.
Karena Shanas juga sangat merindukan teman SMA nya dulu, ia juga yang meminta agar Igun mengantarkan dirinya siang ini.
Kini mereka berdua sudah sampai di rumah Wilona, dan mereka tengah duduk besama dengan Maminya Wilona.
"Oh, jadi kamu temanya, Wilona?" tanya Yulia yang mendengar cerita dari Shanas.
"Iya, Tante ... saya temannya, Wilona dan Igun," jawab Shanas dengan sangat rama.
"Tante kira, temanya dia hanya, Kiranti saja," ucap Yulia yang disusul gelak tawanya.
Igun dan Shanas tertawa-tawa lepas bersama, pada saat itu juga Wilona baru sampai dengan hati yang begitu sakit.
Bagaimana tidak sakit, jika ia melihat orang yang ia cintai bersama dengan sahabatnya yang menyukai orang yang ia cintai.
"Sakit, apa ini balasannya. Bahkan, aku tidak menginginkan malam kelam itu ... kenapa aku yang mendapatkan karma seperti ini," gumam Wilona dalam hatinya.
Wilona tersenyum kemudian ia duduk di samping Maminya. Shanas tersenyum manis kepada Wilona begitu juga dengan Igun.
"Apa, kabar?" tanya Shanas dengan sangat ramah dan lembut.
"Baik," jawab Wilona singkat.
"Wilona, kamu yakin sudah sembuh? Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Igun, yang merasa sangat khawatir akan keadaan Wilona saat ini.
Yulia langsung menatap wajah Wilona yang terlihat sangat pucat, kemudian ia memegang dahi Wilona yang hangat.
"Tidak, ini hanya karena aku belum pulih ... karena operasi yang aku jalani," sahut Wilona, dengan senyuman manisnya.
"Sayang, apa itu benar? Karena kamu sudah hampir satu bulan ini pucat?" tanya Yulia.
Yulia sangat menghawatirkan keadaan anaknya, yang sudah hampir satu bulan ini pucat bukan karena anaknya habis operasi.
"Tante ... sebaiknya bawa saja, Wilona ke rumah sakit," sambung Igun, karena ia benar-benar sangat menghawatirkan keadaan Wilona.
Walaupun ia berkata sudah melupakan Wilona, hatinya berkata masih sangat mencintai Wilona hanya Wilona seorang saja.
"Benar, sebaiknya kita ke rumah sakit saja. Ya?" tanya Shanas, karena ia juga khawatir akan keadaan Wilona saat ini.
"Tidak, aku baik-baik saja ... karena aku tidak merasakan sakit atau apapun itu," sahut Wilona, karena memang benar adanya ia sama sekali tidak merasakan sakit apapun.
"Ha?"
Igun merasa sangat heran akan sikap Wilona yang menolak permintaan dari mereka semua, sehingga ia berfikir ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Wilona.
__ADS_1
"Ada yang tidak beres, apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Wilona dari kami semua," gumam Igun dalam hatinya.
"Sayang, kamu yakin?" tanya Yulia.
Wilona menganggukkan kepalanya, kemudian Yulia diam karena ia tahu betul jika Wilona sakit maka. Anaknya itu tidak akan menolaknya seperti saat ini.
"Wilona, kalau kami ada apa-apa. Beritahu aku atau, Shanas saja," ucap Igun sambil tersenyum manis.
"Terimakasih, kalian sudah mau menjenguk aku ... dan aku baik-baik saja jangan khawatir," sahut Wilona dengan sangat lembut.
Walaupun didalam hatinya terasa sangat nyeri saat melihat Igun bersama dengan wanita lain.
"Wilona, kita sudah lama bersahabat ... aku akan menganggap mu sebagai saudara ku," ucap Shanas, yang mencari muka di hadapan Igun.
Wilona hanya tersenyum saja, karena ia tahu betul apa maksud dari perkataan Shanas tadi. Mereka berdua sempat berselisih paham karena Igun memilih Wilona.
Flashback on.
Saat kelulusan SMA Wilona ia mendapatkan hadiah bertubi-tubi, karena ia mendapatkan nilai bagus dan juga ia baru saja di tembak cinta oleh Igun.
Wilona tersenyum bahagia sambil membawa bunga mawar merah dari Igun tadi, saat ia berjalan langkahnya terhenti.
"Kelihatannya, kamu sangat bahagia?" tanya Shanas yang menghalangi jalannya.
"Maksudnya?" tanya Wilona balik, karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Shanas.
Wilona semakin tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Shanas, karena ia merasa tidak membuat kesalahan apapun.
"Aku menyukainya, dan kamu berpacaran dengannya!" Shanas bergegas pergi dari sana, dengan berlari sekuat tenaganya.
"Shanas!" teriak Wilona, akan tetapi Shanas sama sekali tidak mendengarkannya.
"Apa semua ini, saat aku dan Igun bersama kenapa ada saja yang tidak menyukainya?" tanya Wilona pada dirinya sendiri.
Flashback off.
Seketika sakit yang ia rasakan bertambah, saat ia melihat sahabatnya yang menyukai pacarnya bisa bersama saat ini.
"Kami, permisi dulu Tante." Igun bergegas mencium tangan Yulia, begitu juga dengan Shanas kemudian mereka bergegas pergi dari sana.
Setelah kepergian mereka mulailah Wilona berjalan menuju kamarnya, untuk memenangkan pikiran dan perasaannya saat ini.
Wilona duduk di sofa sambil memeluk bantal, kemudian air matanya mengalir deras membasahi seluruh wajahnya.
"Sakit, kenapa harus aku yang mengalami semua ini?" tanya Wilona dengan tangisannya, ia memukul bantal dengan sangat kuat.
Rasa sakit yang ia rasakan seakan bertambah, karena ia mengingat jika semua masalahnya bermula dari calon mertuanya.
__ADS_1
"Aku, tidak akan memaafkan dia," ucap Wilona dengan sangat sedih, saat ia tengah menangis tersedu-sedu ponselnya berdering.
Ternyata Kiranti yang menelponnya, dengan sangat cepat ia menjawab panggilan dari Kiranti.
📱Kiranti.
[Halo, kemana aja kamu, sayang?]
Suara Kiranti yang sangat kuat, membuat Wilona berhenti menangis, kemudian ia menghela nafasnya dalam-dalam.
[Elo tau, gue lagi banyak banget musibah. Yang pertama elo udah tahu. Yang kedua gue kecelakaan, dan yang ketiga hati gue saki.]
Wilona menjelaskan dengan air mata yang mengalir deras, sampai Kiranti dapat mendengar suara Wilona menangis.
[Gue, datang aja ya. Karena kalau dari telfon gak akan jelas.]
Kiranti langsung menutup sambungan teleponnya, kemudian ia bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah Wilona.
Yang jaraknya lumayan jauh sekitar dua jam perjalanan dengan mengendarai motor, jika mengendari mobil akan lebih lama lagi sehingga ia memilih naik motor.
Selama diperjalanan ia terus-menerus memikirkan tentang Wilona, ia sangat khawatir akan keadaan sahabatnya itu. Karena ia tahu jika Wilona sudah menangis artinya sahabatnya tidak baik-baik saja.
"Wilona, buat gue khawatir aja ... mana rumah yang dia beli jauh banget dari rumahnya," ucap Kiranti, yang tengah fokus mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang.
Setelah sampai ia langsung cepat-cepat berjalan masuk kedalam rumah Wilona, sebelum ia masuk ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok.
Tok.
"Sebentar!" teriak Yulia dari dalam.
Kemudian ia membuka pintu dan ia tersenyum saat melihat Kiranti yang datang.
"Tante." Kiranti langsung mencium tangan Yulia dengan sangat sopan.
"Kamu, udah lama banget kamu gak datang," ucap Yulia dengan sangat lembut.
Kiranti tertawa kecil kemudian ia dan Yulia masuk kedalam, mereka langsung berjalan menuju kamar Wilona.
"Kamu masuk aja, karena Tente ada sedikit pekerjaan," ucap Yulia.
"Iya, Tente ... "
Yulia langsung bergegas meninggalkan Kiranti, tepat didepan pintu kamar Wilona kemudian Kiranti masuk kedalam kamar Wilona.
Bersambung.
__ADS_1