
Setelah selesai bersiap-siap, kini Wilona berjalan keluar bersama dengan Wiliam.
"Om, saya bisa jalan sendiri," ucap Wilona, karena diri berada digendongan Wiliam.
Wilona takut, jika tiba-tiba Igun datang dan melihatnya ada bersama calon mertuanya, maka itu akan menimbulkan maslah.
Wiliam tidak memperdulikan ucapan Wilona, karena ia tahu semua orang yang ada di Mansion nya tidak ada.
Setelah sampai di luar, ia memasukan tubuh Wilona kedalam mobilnya kemudian ia juga masuk dalam, dengan perlahan ia melajukan mobilnya menuju rumah calon besannya.
"Wilo, jika papimu bertanya, katakan saja kamu pergi menemui teman. Atau apapun itu ... katakan padanya juga ponsel mu tertinggal di Mansion, Om." Wiliam mencoba untuk membujuk Wilona, agar tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua.
Wilona hanya mengangguk kepalanya saja, karena ia juga bingung harus mengatakan apa pada papinya, sewaktu-waktu papinya bertanya kemana ia pergi dan bersama siapa.
"Semoga saja, aku dan calon mertua ku mendapatkan jalan keluarnya," gumam Wilona dalam hatinya.
Wiliam mengingat kembali jika dirinya tadi sama sekali, tidak menggunakan pengaman sehingga ia menaburkan benih kepemilikannya didalam rahim Wilona.
"Oh, tidak. Apa yang harus aku katakan padanya jika kemungkinan besar dia akan hami, karena aku tidak memakai pengaman tadi," gumam Wiliam dalam hatinya.
Wiliam tidak berani berkata jujur untuk kali ini, karena ia harus mencari jalan keluar untuknya dan juga Wilona.
Setelah mereka sampai di rumah Yudha, mereka berdua turun karena Wilona meminta agar Wiliam membantunya bicara.
"Jangan berjalan tertatih, jalan pelan saja agar mereka tidak curiga," bisik Wiliam ditelinga Wilona.
Wilona menganggukkan kepalanya, kemudian ia berjalan dengan sangat lambat seperti seekor siput. Sedangkan Wiliam sudah berjalan masuk kedalam rumah.
"Yudha!" teriak Wiliam, dengan sangat keras sehingga Yudha dan istrinya langsung menghampirinya.
"Ada, apa?" tanya Yudha, yang merasa cemas karena sejak tadi ia terus-menerus gelisah. Entah mengapa ia juga tidak tahu sebabnya.
"Wiliam, apa ada maslah?" tanya Yulia, karena ia juga merasa cemas, khawatir, gelisah menjadi satu sejak anaknya pergi dan tidak kembali.
"Oh, tidak ada. Hanya saja aku menemukan anak mu itu," rujuk Wiliam, pada Wilona yang berjalan dengan perlahan memasuki rumahnya.
Yudha dan Yulia langsung berlari memeluk anaknya, kemudian mereka mencium seluruh wajah Wilona secara bersamaan. Sehingga mereka tidak sengaja berciuman karena bibir Yudha, menabrak bibir Yulia yang hendak mencium pipi Wilona.
Mereka saling menatap satu sama lainnya, sedangkan Wilona langsung bergegas pergi dari sana. Sebelum ia melihat pemandangan yang selanjutnya akan terjadi.
"Ehem." Wiliam mencoba untuk menyadarkan kedua calon besannya tersebut, kemudian kedua pasangan itu tersadar.
"Kemana saja kamu, Nak?" tanya Yulia, yang mulia menghampiri anak satu-satunya itu.
__ADS_1
Wilona memeluk Maminya, kemudian meraka berdua duduk di sofa dengan perlahan, refleks Wilona menjerit karena bagian sensitifnya terasa sakit lagi.
"Aaahhhkkk!" jerit Wilona.
Membuat Yudha langsung menghampiri anaknya tersebut.
"Ada, apa?" tanya Yudha dengan sangat cemas.
"Apa ada, yang sakit?" tanya Yulia, sambil menatap wajah anaknya yang terlihat pucat.
Wilona menelan ludahnya dalam-dalam, karena ia bingung harus menjawab apa pada kedua orang tuanya.
"Yud, katanya dia lagi datang bulan," sambung Wiliam dengan asal.
"Ha?"
Wilona langsung menatap kearah Wiliam, karena ia merasa malu pada Papinya.
"Oh, tidak apa-apa ... sebaiknya kamu masuk saja kedalam dan memakai pembalut," ucap Yudha, membuat Wilona seakan ingin menenggelamkan diri kedalam lautan.
"Iya, jika pembalut mu habis, pakai saja milik, Mami." Yulia membantu anaknya bangun, karena ia melihat jika Wilona kesulitan bangun.
Ia mengira jika Wilona sedang tidak memakai pembalut, sehingga anaknya tersebut malu-malu untuk bangun.
Setelah kepergian Wilona, mulailah Wiliam duduk di sofa bersebelahan dengan Yudha.
"Oh, aku menemukannya dijalan. Saat aku ingin mengembalikan ponselnya yang tertinggal tadi pagi," jawab Wiliam dengan cepat.
Agar calon besannya tidak mencurigai dirinya, yang sudah terjebak scandal bersama dengan calon menantunya.
"Uuummm, sebaiknya kau pulang saja ... ini sudah malam," sahut Yudha dengan ketus.
Membuat Wiliam langsung memukul lengan Yudha, kemudian ia beranjak dari duduknya.
"Aku pulang dulu, jika kau datang ke Mansion ku. Jangan harap aku akan menerima mu," ucap Wiliam dengan ketus, kemudian ia bergegas pergi dari sana.
Yudha tersenyum dan tertawa kecil kemudian ia berlari mengejar Wiliam.
"Hei, tunggu aku hanya bercanda, saja!" teriak Yudha yang di susul gelak tawanya, saat melihat mobil Wiliam melaju dengan sangat kencang.
*
*
__ADS_1
Wilona merenungkan nasibnya, ia juga membayangkan jika Igun tahu yang sebenarnya terjadi padanya.
Khayalan Wilona ...
Wilona menangis tersedu-sedu sambil memeluk kaki Igun.
"Tolong, jangan tinggalkan aku! Kita sudah bersama sejak tiga tahun lalu!" teriak Wilona, dengan sangat histeris.
Igun tidak menjawab ucapan Wilona, karena ia sangat sakit melihat perut wanita yang ia cintai membuncit.
"Jangan seperti ini, aku sangat mencintaimu ... " ucap Wilona lirih.
Igun membantu Wilona bagun, karena perut Wilona sudah sangat besar membuatnya kesulitan untuk bangun.
"Pergilah, aku tidak bisa menerima semuanya, karena aku ingin wanitaku sempurna," ucap Igun yang bergegas pergi, bersama dengan seorang wanita cantik di hadapannya.
Wilona tersadar, kemudian ia meraba-raba perutnya yang masih rata.
"Bagaimana jika aku, hamil?" tanyanya pada dirinya sendiri, ia teringat jika Wiliam menanamkan benih-benih kepemilikan kedalam rahimnya.
"Aku tidak bisa seperti ini, aku harus mencari cara agar aku tidak hamil ... setidaknya jika aku tidak jadi menikah dengan, Igun. Jagan sampai aku hamil tanpa adanya seorang suami." Wilona mengambil ponselnya, kemudian ia mencari tahu apa yang membuat wanita keguguran.
Wilona melihat banyak sekali cara agar wanita mengalami keguguran, kemudian matanya melirik buah nanas yang akan menyebabkan keguguran. Jika wanita hamil mengonsumsinya.
"Besok, aku akan memakan buah ini dengan banyak. Agar aku tidak bisa hamil," ucap Wilona dengan senyuman liciknya.
*
*
Wiliam duduk di balkon kamarnya, sambil menghisap rokok miliknya kemudian ia menatap langit malam.
"Apa, yang harus aku katakan, pada anakku jika aku sudah merusak kebahagiaannya, yang jelas-jelas aku ketahui jika dia sangat mencintai wanita itu," ucap Wiliam dengan sangat bingung.
"Aku tidak akan sanggup, jika anakku terluka karena kesalahan ku ini." Wiliam langsung mencari cara, agar ia bisa menyelesaikan permasalahannya saat ini.
Ponselnya berdering ada notifikasi Chating WhatsApp masuk.
📥
[Maaf, wanita yang anda pesan sedang sakit. Apa bisa kita tunda saja?]
"Aaahhhkkk!"
__ADS_1
Wiliam langsung melemparkan ponselnya, sehingga ponselnya pecah seribu tak bersisa lagi.
Bersambung.