Scandal Bersama Calon Mertua

Scandal Bersama Calon Mertua
15 Paman Igun


__ADS_3

Perlahan Igun membuka kedua matanya, ia melihat jika dirinya ada di sebuah ruangan yang tidak pernah ia lihat. Ia langsung cepat-cepat bangun kemudian ia duduk.


"Ada, dimana aku?" tanya Igun, kemudian ada seorang laki-laki menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Ini tempat rahasia, aku menemukan mu tadi ... terlihat kau seperti pecundang!" seru laki-laki tersebut.


Igun tidak terima jika dirinya di hina, ia langsung bangun dan menatap tajam kearah laki-laki yang sudah membawanya.


"Enak saja, kau tahu tidak? Apa sebenarnya masalahku!" teriak Igun.


Laki-laki bertubuh kekar tinggi itu langsung bangun, dan ia menatap tajam kearah Igun.


"Aku tahu, bahkan. Semuanya aku tahu," sahut Berlan.


Igun membuka mulutnya lebar-lebar, saat ia melihat jelas wajah laki-laki yang sudah membawanya tadi.


"Paman, apa kau ini. Paman Berlan?" tanya Igun dengan sangat tidak percaya, jika Paman angkatnya itu ada di hadapannya saat ini.


"Lalu, kau kira aku ini, siapa?" tanyanya balik.


Igun langsung memeluk Berlan dengan sangat dalam, karena ia sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Paman angkatnya itu.


"Kau sudah melupakan aku, di sini." Berlan melepaskan pelukannya kemudian ia berjalan keluar.


Igun mengikuti langkahnya, kemudian mereka duduk di sebuah jembatan teman tersebut.


"Kau tahu, semua orang yang berkunjung. Di taman ku ini sampai kabur ... karena mengira kau adalah. OGDJ," ucap Berlan dengan ketus.


Igun hanya bisa tersenyum saja, karena ia juga tahu semua orang pergi karena dirinya menangis histeris tadi.


"Maafkan aku, Paham." Igun langsung memeluk Berlan dengan sangat lembut, karena ia sangat merindukan Berlan.


"Kemana saja, kau ... sudah dua tahun ini kau tidak pernah datang atau memberikan kabar?" tanya Berlan sambil menatap wajah Igun.


"Paman, aku banyak sekali mendapatkan masalah ... bukan aku tidak ingat pada dirimu. Maafkan aku," ucap Igun lirih.


Berlan langsung memeluk Igun, karena ia juga sangat merindukan Igun yang sangat ia sayangi.


Igun dan Berlan berkenalan di taman milik Berlan dan mereka setiap hari bertemu, sehingga mereka menjadi Paman dan keponakan angkat.

__ADS_1


*


*


Setelah kepergian keluarga Wiliam, mulailah Wilona berjalan menuju kolam renang karena ia ingin menenangkan pikirannya.


Wilona duduk di bibir kolam, kemudian ia menatap langit dengan tatapan lirih.


"Tuhan, apa aku harus merima semuanya ini ... walaupun aku tidak melakukannya dengan sengaja," gumam Wilona dalam hatinya.


Wilona memegang jahitan bekas operasinya, ia merasa jahitan itu sudah sembuh dan membaik. Akan tetapi, mengapa ia masih saja merasa pusing dan mual yang berkepanjangan sampai saat ini.


Yudha dan Yulia menatap kearah Wilona yang terlihat sangat sedih, mereka juga ikut bersedih akan tetapi. Mereka berdua sama sekali tidak tahu apa yang di sembunyikan oleh Wilona.


"Kita, tinggalkan saja dia ... kita bicara didalam saja," bisik Yudha.


Yulia menganggukkan kepalanya kemudian ia mengikuti langkah suaminya masuk kedalam, mereka duduk di ruang tamu dengan bertatapan.


"Sebenarnya, apa yang disembunyikan oleh, Wilona?" tanya Yudha pada Yulia yang sama sekali tidak tau apa-apa.


"Papi, jika Mami tahu tidak mungkin. Mami tidak menceritakan semuanya pada Papi," jawab Yulia.


Karena memang benar jika dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa, ia sudah seringkali mencoba untuk bertanya kepada Wilona. Dan jawabannya sama saja Wilona tidak mau bercerita padanya.


Yulia seketika ingat, kemudian ia menangis tersedu-sedu didalam pelukan suaminya. Ia merasa sudah gagal mendidik anaknya selama ini.


*


*


Kiranti sedang mengendarai motor miliknya, menuju rumah Wilona karena ia tahu jika sahabatnya membutuhkan dirinya saat ini.


Saat di tengah perjalanan matanya tak sengaja melirik kearah. Igun yang sedang duduk bersama dengan laki-laki tua. Ia langsung menghentikan motornya kemudian ia mencoba untuk mendengar ucapan mereka.


"Siapa, laki-laki itu?" tanya Kiranti, pada dirinya sambil terus menatap kearah Igun.


Terlihat Igun dan laki-laki tua itu tertawa bersama dan berpelukan, tak menyia-nyiakan kesempatan ia langsung memotret Igun.


"Wilona, dia tidak bersedih seperti elo... seharusnya elo sama dong kaya dia," ucap Kiranti, sambil menyimpan ponselnya kedalam tasnya.

__ADS_1


Sesudah puas mengintai ia melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah Wilona, karena ia ingin cepat-cepat memperlihatkan apa yang ia dapatkan.


Setelah sampai ia langsung berjalan masuk, sebelum masuk ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Walaupun pintu terbuka lebar dan ia langsung masuk kedalam.


"Permisi ... " Kiranti berjalan masuk kedalam ruang tamu, dan ia melihat jika Yudha dan Yulia tengah menangis.


Ia tidak mau menganggu momen itu, sehingga ia berjalan mencari keberadaan Wilona. Ia berjalan menuju taman belakang dan benar saja dugaannya.


Sahabatnya itu ada di sana, ia langsung menghampiri Wilona dan duduk di samping Wilona.


"Elo, tu kalau datang jangan kayak jelangkung deh," ucap Wilona dengan sangat kesal, karena ia terkejut akan kedatangan Kiranti yang tiba-tiba.


Kiranti tertawa-tawa kemudian ia memperlihatkan apa yang ia dapatkan tadi.


"Elo, tadi liat ini?" tanya Wilona dengan sangat santai.


Kiranti mengerutkan keningnya karena ia merasa jika Wilona sama sekali tidak terkejut, satu kesal pada Igun yang sekarang sudah sangat bahagia.


"Elo, gak terkejut?" tanya Kiranti, sambil memegang dahi Wilona.


"Enggak, karena gue tahu itu siapa ... dia itu paman angkatnya, Igun." Wilona bergegas bangun, kemudian ia duduk di bangku pajangan.


Kiranti mengikuti langkah Wilona, ia duduk bersebelahan dengan Wilona.


"Oh, jadi karena itu elo gak kesal ... sama dia?" tanya Kiranti lagi, karena ia berharap jika Wilona kesal pada Igun.


Entah mengapa ia juga tidak tahu, karena ia tidak menyukai Igun yang terlihat sangat bahagia sedangkan Wilona. Selalu bersedia di setiap harinya.


"Lupain aja, gue mau membuka lembaran baru ... elo udah tahu kan? Kalau gue ini udah gak sempurna," ucap Wilona dengan sangat pelan, agar tidak ada yang mendengar ucapannya.


Kiranti menganggukkan kepalanya, kemudian mereka menyusun rencana agar Wilona bisa pergi jauh dari Kota. Ia ingin cepat melupakan Igun walaupun itu akan sulit baginya.


*


*


Wiliam semakin merasa bersalah karena ia, anaknya menjadi seperti saat ini bersedih, hancur, kecewa, menjadi satu.


Di tambah lagi ia sekarang tidak tahu dimana keberadaan anaknya itu, kini ia mencoba untuk menelfon Igun akan tetapi. Sama sekali tidak mendapatkan jawaban.

__ADS_1


"Gun, ini semuanya adalah kesalahan Papa ... kalau saja malam itu tidak terjadi, kalian akan menikah. Papa tahu jika kalian berdua masih saling mencintai," ucap Wiliam dengan lirih.


Bersambung.


__ADS_2