Scandal Bersama Calon Mertua

Scandal Bersama Calon Mertua
04 Nanas Wilona


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Wilona sudah terbangun, karena ia ingin memesan buah nanas pada pembantunya. Kini ia berjalan menuju dapur dengan perlahan karena rasa sakitnya masih ia rasakan.


Wilona melihat pembantu sedang memasak, kemudian ia langsung menghampirinya dengan perlahan.


"Mbok," panggil Wilona, kemudian Mbok Mala langsung menoleh.


"Eh, ada Non." Mbok Mala, langsung mematikan api kopernya karena ia sudah selesai masak.


"Mbok, apa? Nanti pergi ke pasar?" tanya Wilona dengan sedikit berbisik, agar tidak ada yang mendengar ucapannya.


"Iya, apa Non mau titip, sesuatu?" tanya Mbok Mala sambil meletakan masakannya, di meja makan.


"Iya, tolong belikan buah nanas dua," jawab Wilona.


Mbok Mala langsung menghampiri Wilona, karena ia terkejut untuk apa Wilona buah Nanas sebanyak itu.


"Kenapa, banyak sekali, Non?" tanya Mbok Mala, dengan sangat serius.


Wilona terdiam karena ia mencari jawaban yang akan ia berikan kepada Mbok, ia bingung harus menjawab apa.


"Non, nanti Mbok belikan ... jangan khawatir," tambah Mbok Mala, karena Wilona hanya diam saja sejak tadi.


"Terimakasih, Mbok." Wilona berjalan menuju luar, akan tetapi ia teringat akan pesanannya tadi sehingga ia kembali.


"Mbok, jangan sampai ada yang tahu jika. Wilona pesan buah Nanas," pesan Wilona, dan Mbok menganggukkan kepalanya karena ia tidak akan menentang keinginan Wilona.


Wilona bergegas pergi dari sana, karena ia ingin kembali tidur lagi. Ia bingung harus berbuat apa dan melakukan apa saat ini, sehingga ia memilih untuk tidur lagi.


*


*


Igun masih berada di luar Kota, karena masih banyak pekerjaan yang harus ia urus karena semuanya, adalah perintah dari Papanya.


Hari ini ia akan melihat proyek lagi, kini ia sedang berjalan menuju proyek karena jaraknya tidak jauh.


Saat ia berjalan sambil memainkan ponselnya, ia menabrak seseorang dihadapannya.


"Aw!" jerit wanita yang ia tabrak tadi.


"Maaf, saya tidak sengaja." Igun bergegas membantu wanita itu bangun, kemudian ia menatap wajah wanita itu.


"Shanas!"


"Igun!"

__ADS_1


Shanas dan Igun tertawa-tawa, karena mereka adalah teman di jaman SMA dulu begitu juga dengan Wilona.


"Kamu, ada di sini?" tanya Shanas pada Igun, karena ia tahu jika Igun masih tinggal di Kota.


"Di sana itu, adalah proyek ku," jawab Igun, sambil menunjuk kearah proyek yang sedang berjalan di depan mereka.


"Wah, ternyata kamu sudah menjadi, Sukses?" tanya Shanas pada Igun, karena yang ia ketahui dulu Igun adalah murid yang paling malas belajar.


Igun tertawa-tawa kemudian ia memberikan ponselnya, agar Shanas memberikannya nomor ponsel.


"Sudah, jangan lupa menelfon. Jangan sampai Wilona cemburu padaku," ucap Shanas yang disusul gelak tawanya.


"Dia, tidak pernah cemburu mala sebaliknya ... aku yang selalu cemburu, bahkan. Cemburu ku ini pada papaku sendiri," ungkap Igun.


Shanas tertawa mendengar ucapan Igun, ia memang sudah sangat lama tidak bertemu dengan Igun. Sejak tiga tahun yang lalu dimana ia merasakan sakit hati.


"Aku, akan menelfon mu ... dan aku pamit dulu mau melihat proyek," ucap Igun, yang bergegas pergi sambil melambaikan tangannya.


Shanas hanya membalas lambaian tangan Igun, kemudian ia kembali berjalan menuju tempat kerjaannya yang dekat.


"Igun, andai saja kamu tahu jika aku ini. Masih sangat mencintaimu," gumam Shanas dalam hatinya.


*


*


Kemudian ia membawakannya, menuju kamar Wilona karena Nona muda itu belum juga bagun.


Tok.


Tok.


"Masuk!"


Mbok Mala masuk kedalam, ia melihat jika Wilona masih berada didalam selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Non, ini bauhnya. Mbok tinggal dulu karena masih banyak pekerjaan," ucap Mbok Mala, yang meletakan buah Nana di meja.


"Terimakasih, Mbok."


Setelah kepergian Mbok Mala, ia mulai bangun bergegas masuk kedalam kamar mandi. Ia mencuci wajahnya kemudian ia tak sengaja melirik kearah lehernya, terlihat ada jejak kepemilikan Wiliam di sana.


"Bagaimana ini, aku tidak tahu caranya agar tanda ini hilang," ucap Wilona, yang mencoba untuk menggosok tanda merah itu menggunakan sabun.


Sudah sangat lama ia melakukannya, ia sama sekali tidak bisa menghilangkannya sehingga ia putus asa. Ia bergegas keluar dari kamar mandi kemudian ia berjalan menuju meja dan mengambil buah Nanas.

__ADS_1


Sebenarnya ia sama sekali tidak suka buah itu, karena ia ingin menjalan 'kan rencananya mau tidak mau. Ia harus memakan habis buah Nana itu.


"Pasti ini, sangat asam." Wilona mulai memakan satu potong buah Nanas, matanya melebar sempurna saat buah Nana masuk kedalam mulutnya.


"Asam, sekali!" jerit Wilona dengan sangat kuat, kemudian ia terus memakan buah Nanas itu sampai habis tak bersisa.


Wilona menjatuhkan tubuhnya di atas kasur miliknya, kemudian ia meraba perutnya yang membuncit akibat ia menghabis 'kan buah Nanas itu.


"Pasti setelah ini, akan kena diare," ucap Wilona dengan sangat lemas, karena rasa asam yang ia tahan membuatnya mual.


*


*


Wiliam mengerjakan pekerjaannya di Kantor, ia sengaja meminta Igun agar lebih lama lagi di sana. Sampai ia mendapat 'kan jalan keluarnya untuk masalahnya.


"Semoga saja, dia tidak curiga," ucap Wiliam, sambil mengingat-ingat kembali kejadian scandal dirinya, bersama dengan calon menantunya.


Wiliam tidak dapat menemukan jalan keluar untuknya, ia sama sekali tidak bisa berfikir jernih saat ia terjebak scandal itu.


Wiliam mengirim 'kan pesan kepada anak buahnya, agar menahan Igun dari proyek selama satu bukan. Agar Igun tidak bertemu dengan Wilona untuk satu bulan ini.


Sampai ia mendapat 'kan jalan keluarnya, ia sudah berusaha agar ia bisa menyelesaikan, masalahnya bersama dengan Wilona. Sebenarnya ia sudah mendapatkan jalan.


Akan tetapi, jalannya dengan ia menikahi Wilona dan sepertinya itu tidak akan bisa. Mana mungkin ia menikahi calon menantunya, yang jelas-jelas sangat dicintai oleh anak satu-satunya.


*


*


Yudha sedang meeting bersama dengan rekan bisnisnya, setelah selesai ia berniat akan menemui calon besannya. Karena semalam ia sudah membuat calon besannya itu marah padanya.


"Terimakasih, atas kerjasamanya, saya rasa meeting kita cukup di sini saja ... sampai berjumpa lagi pada meeting kita selanjutnya," ucap Yudha dengan sangat tegas.


"Sama-sama, sampai jumpa lagi," ucap ucap rekan bisnisnya, yang bergegas pergi dari ruangan meeting.


"Sebaiknya, aku pergi sekarang saja ... mumpung ini jam makan siang," ucap Yudha, yang mulai berjalan menuju luar.


Sesampainya ia di luar, ia langsung masuk kedalam mobilnya kemudian ia melajukan mobilnya menuju Kantor Wiliam.


Yang jaraknya tidak terlalu jauh hanya membutuh 'kan waktu lima belas menit saja, agar sampai di Kantor Wiliam.


Setelah sampai ia langsung masuk kedalam, terlihat semua Karyawan takut padanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2