
Aleta di bawa ke rumahnya, David memeluk Kakaknya di jok belakang, sementara Gani mengemudikan mobil. Aleta pingsan, tetapi David tidak ingin membawa Kakaknya ke rumah sakit, akan ada dokter keluarga yang bersiap menangani Aleta di rumahnya. Dia tahu, ini akan menjadi kasus skandal yang menyorot keluarganya esok hari.
"Apakah kita harus membungkam semua media itu, Tuan?" tanya Gani ke David.
"Biarkan saja, ada masyarakat setempat, tentu malah akan jadi viral, kita cari solusi saja, nanti kita bahas setelah sampai di rumah," sahut David.
Gani melirik ke kaca spion tengah, dia ingin memberitahu David kondisi kehamilan Aleta, tetapi dia tidak yakin David menerimanya.
"Apa yang Kak Aleta katakan kepadamu sewaktu di atas?" tanya David yang malah ikut menebak.
Karena tidak inginingin berbohong, Gani menceritakan kesepakatannya dengan Aleta, mengatakan pula tentang penyebab Aleta ingin bunuh diri karena anak yang dikandungnya, sementara Erick tidak mengakui itu.
"Erick memang pria brengsek! Sekalipun dia berubah pada pikiran untuk bertanggungjawab kepada kakakku, aku tidak akan menerimanya, kami pantang menerima dia lagi!" David sungguh tersulut emosi.
Gani tidak ingin memaksakan David tentang kesepakatannya dengan Aleta, dia juga sadar diri jika dia hanya seorang asisten pribadi, tidak mungkin diterima oleh David untuk menikahi Aleta walaupun hanya sementara waktu.
"Jadi kau ingin menikahi Kakakku? Apakah itu benat?" Lagi-lagi David malah menanyakannya.
Gani gelagapan, bukan tidak berniat membantu, hanya saja dia merasa tidak pantas untuk itu, Aleta keluarga yang sangat kaya raya dan terhormat, dibanding dirinya hanya anak dari pemilik toko kelontong.
"Jika kamu tidak keberatan, bantulah Kakakku, aku akan memberikan mu imbalan, seperti pernikahanku dengan Sarah," Pinta David.
Gani terdiam sejenak, di jok belakang David menunggu jawabannya.
"Aku tidak keberatan untuk itu, tapi bagaimana dengan orangtua Tuan? Nyonya dan Tuan mungkin tidak akan setuju."
__ADS_1
"Aku yang akan mengurus mereka, ini sudah genting, yang penting kamu siap untuk itu, kau percayakan kakakku sementara waktu di kamu, tapi jika kamu sampai berbuat sesuatu yang melukainya, kau tahu 'kan akibatnya?"
Gani bersedia untuk itu, meskipun menikahi Aleta skandal luar biasa dihidupnya, tak mengapa, Gani merasa kasihan dengan bayi yang di kandungan Aleta.
Setiba di rumah, di depan pintu sudah ada Mami Greta dan Pak Salim menunggu anak-anaknya dengan perasaan cemas, mereka juga sudah melihat berita yang simpang siur di sosial media.
"Aleta, anakku, bangun Nak," Mami Greta menghampiri Aleta yang digendong oleh David.
Dibantu oleh Gani, David membawa Kakaknya naik ke kamar Aleta, wajahnya sudah pucat karena shock. Mami Greta hanya bisa menangis, sesekali di mulutnya keluar kalimat meminta kepada Tuhan agar anaknya dikuatkan, Pak Salim terpukul dengan keadaan putrinya, belum usia masalah David, kini Aleta juga tertimpa masalah moral.
"Ini bagaimana David? Mami mu pasti drop setelah ini, Papi juga tidak sanggup berpikir jernih lagi," Kata Pak Salim sambil memijit-mijit kepalanya sendiri.
"Tenang saja, Pi. Aku dan Kak Aleta sudah menemukan solusinya, setidaknya ini akan menjadi penutup yang baik," Uang David. Dia menjelaskan perihal rencananya yang akan menikah Aleta dengan Gani.
"Apa?! Kamu serius? Tapi Gani itu..." Pak Salim lagi-lagi terkejut, bukan memandang rendah Gani, hanya saja pandangan orang-orang disekitarnya yang ia jaga.
Pak Salim mengusap wajahnya dengan kasar, baginya kehamilan Aleta adalah bencana besar jika putrinya tidak sampai menikah.
"Jelaskan ini kepada Mami mu, Papi angkat tangan, Papi cukup menerima hasilnya, inilah jika kalian tidak mau mendengarkan kata orang tua, Papi mau ke kamar dulu, dada Papi sakit," Ujar Pak Salim. Sembari memegang dadanya, Pak Salim menuju ke kamarnya, meninggalkan David yang sedang mempersiapkan diri memberitahu Mami Greta.
"Gani, lebih baik kamu menunggu dibawah dulu, nanti aku akan beri kabar," Kata David.
Setelah Gani keluar dari kamar Aleta, barulah David mengatakan itu kepada Maminya.
"Jangan bercanda deh David, Kakak kamu sedang ada masalah," Ketus Mami Greta, menganggap saat itu David sedang bercanda.
__ADS_1
"Tidak Mami, ini beneran, kita harus lakuin ini, lagipula Kak Aleta udah setuju, Mami juga harus setuju, kasihan Kak Aleta, di mana-mana dia udah jadi pemberitaan," David tetap bersikukuh untuk menikahkan Aleta dengan Gani.
Mami Greta memegang dadanya, dia menarik nafas panjang, David mengambil air putih umur Maminya. Wanita paruh baya itu memandangi Aleta yang belum sadarkan diri. Mami Greta merasa karena ulahnya yang mengenalkan Aleta dengan keponakan temannya berbuntut sial, demi membayar kesalahannya kepada Aleta, Mami Greta pun menyetujui usul David.
"Mami setuju, tapi hanya sementara waktu 'kan?"
"Kita lihat saja nanti, Kak Aleta yang jalani itu, tapi David yakin, Gani akan memperlakukan Kak Aleta dengan baik," sahut David.
David pun turun ke bawah, dia berpapasan dengan dokter keluarga di tangga, sedikit berbincang, David pun melanjutkan perjalanannya menuju keluar, dia menghampiri Gani yang saat itu duduk di teras.
"Semua sudah menyetujui, persiapkan dirimu minggu depan, kau akan menggantikan pria brengsek itu," kata David.
Gani pun hanya mengangguk, David pun pamit pulang lebih dulu, dia ingin tinggal bersama Sarah di kontrakannya, ada banyak yang ingin ia ceritakan kepada Sarah.
Ketika mobil David keluar dari halaman rumahnya, dia melihat satu mobil inhin masuk ek rumahnya, David tidak dapat melihat dengan jelas sosok yang mengendarai mobil itu, David beranggapan itu mungkin teman Aleta yang datang menjenguk kondisi Kakaknya.
Sepanjang perjalanan, David tiada henti memikirkan nasib Kakaknya, dia merasa itulah karena dia juga melakukan hal serupa terhadap perempuan, masa depan Sarah hancur karenanya. David sungguh terpukul dengan kondisi Aleta.
Setiba di rumah, dia di sambut oleh bodyguardnya, David menitipkan kunci mobil untuk memarkirkan di garasi, David langsung me nyelonong ke kamar menemui Sarah. Saat itu Sarah telah tertidur pulas, dia terkejut karena tiba-tiba ada David yang memeluknya dari belakang sambil menangis, pria itu menenggelamkan wajahnya di punggung Sarah.
"Tuan, ada apa?" tanya Sarah berusaha menoleh, namun tubuhnya di dekap erat oleh David.
"Aku minta maaf, Sar.. Aku sudah kena karma, keluargaku merasakan ulahku," Sahut David. Sangat jelas terdengar bahwa pria bertubuh kekar itu menangis.
"Maksud Tuan? Aku tidak mengerti, Non Aleta baik-baik saja 'kan?"
__ADS_1
"Maafkan aku Sarah, aku akan membayar kesalahan ku, aku berjanji kita akan bahagia, tolong maafkanlah aku, aku takut jika karma itu berurutan menerpa keluarga ku," Ucapnya terus-menerus.