SCANDAL MAJIKAN

SCANDAL MAJIKAN
Bab 34


__ADS_3

"Aku minta maaf karena selalu membuatmu susah," ucap Sarah bersuara lirih.


"Jangan bahas itu lagi, kita suami istri, bukan orang lain," kata David.


David menyeka rambut Sarah lalu mencium keningnya. Dia semakin yakin bahwa Sarah juga ingin hidup bersamanya, membesarkan buah hati mereka tanpa memperdulikan perjanjian nikah kontrak.


Sarah baru menyadari bahwa mereka sedang berada di ambulans yang berjalan.


"Kita mau kemana?" tanyanya.


"Kembali ke rumah kita, kamu akan aku rawat disana."


HP David berdering, berkali-kali ia mengabaikan panggilan dari Papinya, namun Pak Salim tak menyerah, karena tidak ingin Sarah kerasa terganggu, David menjawab panggilan itu.


"David Eyang meninggal dunia.." ucap Pak Sambil terisak tangis.


David terkejut, namun dia berusaha tidak menampakkan kesedihannya didepan Sarah.Padahal tangannya gemetaran memegang ponsel, David mencoba mengukir senyuman diwajahnya agar Sarah tidak curiga dengan berita buruk yang ia dapatkan dari keluarganya.


"Saya tutup dulu, terimakasih.." Ucap David seolah-olah.


David akan tetap bersandiwara seolah keadaan keluarganya baik-baik saja walaupun sudah mengetahui pernikahannya dengan Sarah.


"Ada apa? Eyang kamu bagaimana?" tanya Sarah.


"Syukurlah, Eyang baik-baik saja, tadi Papi yang memberitahukan," sahutnya. Kebohongan yang terpaksa David lakukan demi kebaikan Sarah dan bayinya.


Setiba di rumah kontrakan mereka, Sarah didorong menuju ke kamar, selang infus bertengger diujung ranjangnya. David menguatkan dirinya sendiri, tatapan matanya menyendu melihat Sarah dipindahkan ke atas ranjang, selain mengasihani Sarah, dia juga teringat Eyangnya yang telah pergi untuk selama-lamanya.


"Sudah, Pak. Bu. Kalau ada apa-apa panggil kami, kami. berjaga diluar," ucap salah satu perawat yang ditugaskan mengontrol Sarah.


Kedua perawat itu keluar dari kamar pribadi pasangan suami-istri itu. David duduk berjaga disamping Sarah, wajahnya juga lesu, sangat jelas dia amat kelelahan.

__ADS_1


"Aku memang belum pernah menjaga orang sakit, tapi kamu benar-benar mengajarkan aku bahwa menjaga kesehatan itu penting," ucap David.


Sarah tersipu malu, kalimat itu terdengar romantis karena David mengerjakan hal-hal pertama kalinya dengan Sarah seorang. Dia tahu, David sedang mari-matian menyesuaikan dirinya sebagai suami.


"Kamu mau tidur disamping kamu, boleh?"


Sarah menepuk-nepuk kasur disampingnya, isyarat mengizinkan David berbaring. Pria itu melonggarkan kemejanya, melepas dasi yang melilit di lehernya lalu perlahan menghempaskan tubuhnya disamping Sarah.


"Aku ingin tidur memelukmu Sarah," bisiknya.


Sarah yang lemas hanya bisa menganggukkan kepalanya, David menutupi wajahnya yang sedang menahan tangis karena kematian Eyangnya. David menyadari dibalik kebahagiaannya menerima Sarah dan bayinya, ada kesedihan yang harus ia rasakan, yaitu kehilangan sosok Eyang yang sasangat ia sayangi.


"Kamu sedang bersedih?" tanya Sarah menebak.


"Aku bersedih karena kamu sakit, jangan sakit-sakit, kasihan tubuh kamu," sahutnya berkelit.


Sarah meraba-raba wajah David, ada genangan air di kelopak mata suaminya, sontak Sarah menoleh ke David. Dianyanya melihat, namun tidak ingin memaksa David agar bercerita. Sarah membiarkan David larut dalam perasaannya sendiri, dia tahu, terkadang memaksa seseorang untuk jujur sesuatu perbuatan yang menghilangkan empati.


"Sarah, setelah kamu sembuh, mari kita pindah dari sini, aku akan membawa kamu ke rumah pribadiku, yang lebih layak, kita akan menlanjutkan hidup disana, kamu mau?" tanya David.


"Aku minta maaf," ucap Sarah.


"Minta maaf apa? apakah kau membuat kesalahan?" tanya David terheran.


"Aku tadi meninggikan suara ketika di taman, aku mengeluarkan kata kasar, dan membentak-bentakmu."


Kesedihan David diobati oleh ucapan maaf dari istrinya, dia tersenyum lalu bertanya,


"Itu hal wajar jika sudah marah, itu sifat perempuan, aku tahu dari kawanku yang seorang psikolog. Aku juga pria yang suka membentak dulu, tapi itu tidak akan lagi."


"Tidak wajar, yang aku tahu, seorang istri tidak boleh meninggikan suara ketika berbicara dengan suaminya, walaupun dia dalam keadaan marah," jelas Sarah.

__ADS_1


David terdiam sesaat, dia memang pernah mendengar kalimat-kalkmat itu, tetapi karena seringkali melihat Maminya bersikap lebih frontal ketika berdebat dengan Papinya, maka David menganggap dunia pernikahan itu mengerikan dan terlihat sama seperti pacaran.


"Jadi kau tidak ingin lagi meninggikan suaramu? aku akan berusaha untuk tidak membentak ku?" tanyanya.


Sarah berpikir sejenak, memang sulit mengontrol emosi, tetapi jika benar-benar ingin menjadi istri sesunguhnya, maka tindakan yang hebat adalah mengatur diri sendiri terlebih dulu, dengan cara ia mengontrol emosinya, sebagian cara memperbaiki rumah tangganya yang berawal dari persetujuan kontrak.


"Aku akan berusaha untuk itu," jawabnya.


David mengusap-usap pipi Sarah, begitu tenang dan damai bila dia berbicara mendalam dengan Sarah.


"Baiklah, mari sepakat, kau berjanji untuk tidak meninggikan suaramu, dan aku akan berjanji untuk tidak memancing amarah, atau yang membuatnu, sulit, ini akan jadi pelajaran hebat setiap hari-hari kita," ujar David, dia menghembuskan nafas lega karena bisa membuat Sarah kembali berpikir normal.


Ketika mereka sedang asyik mengobrol tentang perkembangan bayinya, salah satu pengawal mengetuk pintu kamarnya. David beranjak membuka pintu, pengawal itu memberitahu ada Gani menunggu di ruang tamu. David kembali sejenak ke Sarah untuk meminta pamit menemui Gani.


"Sebentar ya, mungkin Gani ingin membahas pekerjaan, perawat akan menemanimu disini," ucapnya.


David keluar dari kamar, meminta pengawalnya untuk mengawasi Sarah agar istrinya tidak mendengar percakapannya dengan Gani. Di tahu, Gani datang menyampaikan kabar duka secara khusus kepadanya.


"David, Eyang.." Belum sempat Gani melengkapi kalimatnya, David sudah memberikan aba-aba agar berhenti.


"Aku sudah tahu, besok pagi aku akan kesana, rahasiakan ini dari Sarah, aku tidak ingin membuat dia merasakan bersalah," ucap David bersuara pelan.


"Saya datang untuk menyampaikan pesan Mami, dia meminta kamu untuk kembali, tapi menurutku jangan, ini akan menyulitkanmu berat Sarah, David.. caramu saya ini sudah benar." Gani tetap mendukung David. Meskipun keputusan itu menentang Ibu mertuanya.


"Ada satu lagi, surat perjanjian antara aky da Sarahyang kau pegang, bakar saja, itu tidak berguna, dan kami tidak menginginkan itu lagi," pintanya.


Gani terhenyak, dia mengira bahwa David akan mengakhiri pernikahannya dengan Sarah.


"Ah, maksudku, kami akan menjalani pernikahan sesungguhnya, bukan sebatas kontrak karena anak."


Gani bernafas lega mendengar penjelasan adik iparnya, ternyata David sufah menujukkan kewibawaannya sebagai opimpinan perusahaan, selain mampu memimpin ribuan karyawan dan saham-saham, dia juga terlihat bijaksana memimpin rumah tangganya.

__ADS_1


"Baik, akan saya lakukan, tapi datanglah di pemakaman Eyang, Aleta sudah berbicara dengan keluarga bahwa tidak akan ada kekacauan diacara penghormatan Eyang," kata Gani.


David tetap akan hadir di tengah-tengah keluarganya, menyeimbangkan dirinya sebagai seorang anak, dan suami. Itulah cara adil yang ia lakukan untuk membayar kesalahannya, baik terhadap Satah dan juga terhadap Maminya.


__ADS_2