
Sontak David terperanjat, Sarah mengungkap keinginannya dengan suara yang lantang. Amarahnya terpancar dari kedua bola matanya yang mengeluarkan air mata, pemberontakan itulah yang tepat disematkan kepada Sarah. Gadis berambut panjang itu menunjukkan sisi ketegasannua yang selama ini disembunyikan dari David.
"Sarah, dengarkan aku, kau tetap perempuan terhormat dimataku," ucap David.
"Tidak Tuan, aku bukan wanita terhormat, semua orang pasti menganggapku wanita simpanan, hanya saja mereka takut untuk mencelaku karena Tuan," balas Sarah.
David ternganga, dia sungguh terheran-heran dengan pola pikir Sarah yang merasa sangat direndahkan karena pernikahan mereka.
"Aku menjadi wanita yang tidak memiliki harga diri, aku merasa diriku hina," kata Sarah.
Kini giliran Dabid lagi yang tertawa masam, dia nyaris gila karena mendapatkan tekanan dari berbagai arah, baik dari pihak keluarganya juga dari Sarah, istrinya sendiri.
"Aku menghormatimu Sarah, aku tidak menganggapmu seperti gadis-gadis lain yang sudah aku kencani."
"Tidak Tuan, kau hanya sedang membayar kesalahanmu," kata Sarah.
"Tidak, tidak, aku menghormatimu." David tetap meyakinkan Sarah.
"Buktinya?!"
David mendekap baju Sarah, menatap istrinya dengan amarah campur sedih.
"Aku menikahimu! Aku menikahimu karena aku tahu kamu perempuan baik-baik, Kau masih merasa seperti direndahkan? setelah belakangan ini kita bahagia, tertawa bersama bercanda bersama, di rumah kita?"
Sarah terdiam, di tengah-tengah David meluapkan syara hatinya, penglihatan Sarah buram, dia kehilangan keseimbangan hingga tak sadarkan diri. Sarah terjatuh dipelukanmu David.
"Sarah, bangun Sarah, kamu sakit?"
David yang panik berteriak memanggil kedua pengawalnya yang sedang menunggu di luar taman. Tak ada pilihan lain lagi, David menggendong Sarah ke rumah sakit tempat Emangnya di rawat. Hanya ruang sakit itu yang jaraknya lebih dekat dengan taman Jenderal.
"Bangun Sarah, kamu harus baik-baik saja, aku janji akan meresmikan pernikahan kita, aku akan. membuat resepsi dan menikahimu secara sah didepan keluargamu," uaco David. Wajah Sarah semakin pucat, dan tangannya sudah sangat dingin.
__ADS_1
Setiba di rumah sakit, David memboyong Sarah ke ruangan darurat yang bersebelahan dengan Eyangnya. Kehadiran David membawa Sarah mengejutkan pihak keluarganya. Mami Greta bahkan menghardik Sarah yang tidak sadarkan diri.
"Pembantu murahan! Dia kenapa lagi itu?! Aku tidak ingin melihat dia disini!"
"Mi, jangan begitu, bagaimanapun dia istri David, dia sedang hamil juga," ucap Aleta yang tetap menahan Maminya agar tidak menghampiri David dan Sarah.
David mengabaikan kemarahan Maminya, di tetap berfokus pada Sarah yang di tangani oleh dokter. Pak Salim menenangkan keluarganya yang sedang riuh berbisik-bisik, mereka mengomentari Sarah yang tidak pantas menjadi istri David.
 Mendengar komplen dari keluarga suaminya, Mami Greta serasa dipermalukan secara halus.Putra yang kerapkali ia bangga-banggakan, telah menodai kepercayaannya, David yang selalu menolak dijodoh-jodohkan malah memilih anak pembantu yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya.
"Pulang yuk Mi, biar Papi dan keluarga lain menunggu Eyang," ajak Aleta.
"Iya, Mi. Pulanglah, bair Papi yang disini menjaga Ibu, kamu tenangkan dirimu, kita selesaikan perihal ini setelah keadaan membaik," Pak Salim menambahkan.
Mami Greta sedikit meredam amarahnya, walaupun saat itu dia ingin mencaci maki Sarah, tetapi di sisi lain ia menjaga harkat martabat keluarga besarnya.
"Ayo, Mi.." Ajak Aleta.
"Salim, kok kamu santai saja liat David berkelakuan kayak gitu?" tanya Tante Hera, Kakak dari Pak Salim.
"Mau bagaimana Mbak? Itu pilihan David, jodoh David, kalau jodoh mana bisa dicegah?" ketua Pak Salim. Dia memahami keluarganya cukup idealisme dalam memilihkan pasangan untuk keturunannya.
Adik Pak Salim ikut nimbrung, "Di kasih tahu Mas, bahwa kita ini keluarga yang harus tertata, dari keturunan, hingga memilih calon pasangan, ini menjaga nama baik keluarga besar kita."
Pa Salim menghela nafas, dia tak memberikan pembelaan lagi terhadap David. Bukan ikut menghakimi putranya, namun Pak Salim tidak ingin memperpanjang perdebatan diantara mereka.
David tidak peduli dengan anggapan keluarganya. Baginya, Sarah adalah wanita pilihan Tuhan yang ditakdirkan untuknya, tak peduli lagi tanggapan orang-orang disekitarnya tentang latar belakang mereka yang berbeda.
"Sarah kenapa David?" tanya Pak Salim menghampiri anaknya.
"Sama seperti Mami, dia shock, Pi. Sarah merasa bersalah pada kalian semua."
__ADS_1
Pak Salim menepuk-nepuk pundak putranya, "Kalian memang harus lebih kuat lagi menghadapi semuanya, terlebih lagi kamu David, tanggungjawabmu berkali-kali lipat, menjaga Sarah, dan mendapatkan maaf dari Mamimu."
Dokter yang memeriksa Sarah keluar dari ruang darurat, serays mengantkngi kaleidoskopnya, dokter itu menghampiri David dan Pak Salim.
"Kesehatan Ibunya melemah, untung saja kandungannya kuat. Dia banyak pikiran, mending dirawat di rumah, bisa sediakan alat medis dan tenaga medis," Kata dokter itu. Dia cukup mengenali keluarga Pak Salim.
"Iya, itu lebih baik, jika itu memungkinkan dokter. Lagipula aku tidak ingin istriku tambah stress karena keadaan disekitarnya."
"Tapi, kamu harus menjaga mental dia. Pola pikir Ibu hamil memang sensitif, jadi pandailah bercengkrama dengannya," ujar dokter berwajah oriental itu.
"Baik dokter, saya akan berusaha untuk melakukan hal-hal baik."
Setelah menandatangani persetujuan perawatan Sarah dilakukan di rumah, ambulans bersiap-siap membawa Sarah dan David ke rumah kontrakan mereka.
"Jaga baik-bakk istrimu, jangan pikirkan kami, fokus ke Sarah dulu," Ucap Pak Salim yang mengantar David hingga diluar rumah sakit.
"Terimakasih, Pi. Aku titip Eyang."
David kini lebih mengutamakan Sarah. Walaupun ia harus terjerembab oleh berbagai problematika keluarganya, David tidak peduli, Sarah dan bayinya adalah tanggung jawabnya yang harus dibahagiakan. Ambulans itu membawa mereka kembali ke rumah. Diperjalanan, David tak mengajak Sarah berbicara, sesuai saran dokter agar merangsang alam bawah sabar Sarah.
"Sarah, aku selalu ada disini.."
David teringat ketika pertama kali melihat Sarah masuk ke kamarnya, membawa secangkir kopi hitam tetapi kopi itu malah tumpah di ponselnya, waktu itu wajah Sarah tampak segar, pipi agak berisi, dan tampak ceria. Namun setelah kejadian kesalahan Inseminasi itu, kesehatan Sarah menurun, rona ceria gadis desa lenyap seiring masalah yang berdatangan menyapa hidupnya.
"Sarah, aku mohon sembuh lah.. Mari kita kuat bersama, mari hidup bersama, bersungguh-sungguh menjadi suami istri, semua orang sudah tahu liat suami istri, mari kuat bersama Sarah.."
David menyandarkan kepalanya disamping Sarah, tangannya tetap menggenggam tangan istrinya. Hanya beberapa menit berselang, Sarah sadar dari pingsannya, mengeluarkan suara terbatuk-batuk. David membangunkan diri, memeriksa keadaan Sarah yang memang sudah membuka mata kembali.
"Tuan.." lirih Sarah.
"David.. aku bukan. majikanmu, aku suamimu," sergah David.
__ADS_1