
"Aku hanya seorang istri yang harus menurut, Tuan.."
"Indahnya mendengar kalimat itu, Sarah, Sarah," ujar David.
Pria itu tak hentinya tersenyum, dia melihat di sekitarnya, memastikan tak ada bodyguardnya saat itu memantau. Setelah merasa aman, tanpa aba-aba kepada Sarah, ia mengecup bibir ranum istrinya, berkali-kali.
"Tuan, kamu mengambil kesempatan," Keluh Sarah yang bahkan sulit menarik nafas.
David melakukan adegan itu berkali-kali, tak peduli dengan Sarah yang mengeluh. David ingin mengerjai Sarah di pagi hari, ia bukan pria yang pandai menujukkan hal-hal romantis kepada pasangan, alhasil jalan ninja David membuat pasangannya kesal dengan sengaja, suatu bentuk bahasa cinta darinya.
"Kau harus terbiasa dengan ini, aku tidak akan melakukan kebiasaan bahagia, tapi akan membuatmu kesal, itu cara aku, Sarah.."
David mengeluarkan Blackcardnya. Menyodorkan Sarah tanpa ragu. Sarah yang polos hanya memandangi kartu hitam itu, dia juga tidak memahami kegunaan kartu yang diberikan oleh David.
"Ambillah, aku memberikannya untukmu, gunakan kartu ini Semaumu," Ucap David dengan nada memaksa.
Sarah metaih kartu ini dengan raut wajah kebingungan, membolak-balik kartu hitam David, membacanya karena tulisan yang tertera semua berbahasa Inggris.
"Apa ini ATM?" Tanya Sarah.
__ADS_1
David tertawa sumbang, bukan menertawakan kebodohan Sarah, tetapi kepolosan bak karakter gadis di dalam novel.
"Iya Sarah, ini seperti ATM, tapi kamu tidak perlu mengeluarkan uang dari sini, kamu hanya perlu belanja di tempat yang tertentu lalu membayarnya menggunakan ini," Jawab David yang masih berusaha menahan gelak tawanya.
"Berarti jika ke toko kelontong sebelah, membeli bahan dapur, aku bisa memakainya?" yang dimaksud oleh Sarah islah toko sembako kecil yang dimiliki Koko-koko langganannya.
"Di toko tertentu Sarah, nanti sepulang kerja, aku akan mengajarkanmu, tapi jika kamu ingin pergi sekarang juga, anak buahku akan mengajarimu, belanjalah sepuasmu, biar aku yang bekerja keras," Kata David.
Sarah membaca nama David di kartu itu, menerima pemberian David hal yang terberat baginya. Sarah tak ingin terlalu banyak berutang budi pada Ayah dari calon bayinya.
"Kau tidak senang aku memberikan service seperti ini?" David melihat menelisik di mimik wajah Sarah.
David terenyuh, baru kali ini ada yang mengatakan kepadanya dia terlalu baik, ada banyak orang-orang yang memujinya tapi tidak menembus ke hati David, tapi kali ini Sarah sungguh menyentuh hatinya, mungkin yang membedakannya dagi mereka dengan Sarah ialah ucapan yang benar-benar tulus dari hati.
"Baiklah, aku akan berangkat, kamu disini hati-hati, jangan terlalu banyak bergerak, kata dokter yang teman aku, wanita hamil muda harus banyak istirahat," David mewanti-wanti.
"Baik, Tuan. Saya akan dengarkan," Sahut Sarah lagi.
Ketika David hendak keluar dari pintu, Sarah sigap mencegat David. Pria blasteran Indo-Thailand itu tersentak, Sarah meraih tangan kanan David untuk di salamin. David menarik nafas, dia sungguh di perlakukan secara hormat oleh Sarah.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih, ini akan lebih membuatku semangat bekerja," Kata David yang mengusap kepala Sarah.
David masuk ke mobilnya, dia membuka kaca jendela lalu melambaikan tangan ke Sarah. Karena malu-malu Sarah hanya tersenyum tipis, ada debaran yang sulit ia kontrol jika melihat senyuman David.
"Ini sangat membahagiakan ternyata, dibalik aku menolak Sarah habis-habisan, ada bahagia yang tersembunyi setelahnya," ucap David.
Gani dan sopirnya saling melemparkan senyuman mendengar penuturan David. Mereka berdua juga menjadi saksi bagaimana sakitnya David ketika mengetahui pengkhianatan Fanny, belum lagi rentetan masalah pribadi lainnya yang menyebabkan David mabuk-mabukan setiap malam.
"Oh ya, Gani. Tadi Mami nelpon, katanya ada gangguan ingin dia bicarakan, ada apa ya? apa ada sesuatu yang terjadi di rumah?" tanya David.
Gani teringat dengan tingkah Mami Greta, namun ia tak ingin secepat itu menarik kesimpulan.
"Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin saja dia merindukan Tuan," sahut Gani. Walaupun sudah menjadi kakak ipar David, Gani tetap memposisikan dirinya sebab manager pribadi.
David juga merasa bersalah jika terus mengabaikan Maminya. Dia juga teringat dengan perkataan Sarah bahwa Maminya juga pasti merindukannya.
"Baiklah, makan siang nanti kita ke rumah, atur jadwal agar makan siang kosong dari rapat," titha David.
Hanya itu yang dapat ia lakukan kepada Mami Greta hari itu, ada banyak rapat penting yang harus ia hadiri sebelum memberikan waktu luangnya kepada Sarah.
__ADS_1
"Baik, Tuan."