
Seminggu berlalu..
Pernikahan Aleta dan Gani telah usai dilangsungkan, namun saat itu Aleta meminta Gani agar tetap tinggal bersama orangtuanya, sebagai pria Gani tidak ingin bergantung terhadap perusahaan mertuanya, Pak Salim. Gani tetap memilih bekerja profesional sebagai manager dan tangan kanan David.
Pagi itu Gani hendaklah ke kantor, sarapan telah Aleta siapkan dimeja, Pak Salim turut serta menemani anak dan menantunya itu, namun Mami Greta tak kunjung menampakkan diri, dia lebih banyak berinteraksi di vaviliun.
"Mami kemana, Pi? Gak ikut sarapan lagi?" tanya Aleta.
"Tahu tiga Mami kamu, dia sibuk bersihin Vaviliun," jawab Pak Salim sembari menyantap menu sarapannya.
Aleta melirik Gani, suaminya itu tersenyum karena Aleta setiap cantik di matanya, sangat berbeda dari Aleta sebelum mereka menikah, wajah istrinya dulu selalu cuek dan jarang tersenyum.
"Sedang tidak ada Mami disini, Aleta bisakah aku menemui Sarah? kalian sudah jadi kakak ipar, coba akrab dengannya," ujar Pak Salim.
Gani melayangkan anggukan kepada Aleta, dia berharap hal yang sama dengan Ayah mertuanya.
"Aku coba, Pi.. Tapi sampai kapan kita rahasiakan ini dari Mami?"
"Ya, sampai David sendiri yang mengakui, itu tanggung jawab dia, tapi kalau ketahuan sendiri, yang sudah imkita jelaskan juga," sahut Pak Salim yang tidak mah ribet. Sebagai kepala rumah tangga dia sudah memberikan anak-anaknya untuk memilih kehidupan mereka masing-masing.
"Gani, kalau kamu masih mau bekerja dengan David, silahkan, tapi jika dia marah kamu harap maklumi dia, kamu pasti sudah tahu sifat buruknya," Pak Salim mewanti-wanti. Dia tidak ingin ada bentrok antara David dengan Gani hanya persoalan pekerjaan karena Gani bawahan David.
Gani tertawa, "Saya paham Papi, saya ingin mendampingi David, dan tetap menjadi bagian dari perusahaannya," sahutnya.
Aleta tak dapat memaksa Gani lagi, sebenarnya istrinya itu menginginkan David sebagai manager di perusahaan Pak Salim, tetapi David tidak ingin melonjak karirnya hanya karena dia sudah menjadi menantu Pak Salim.
Gani menyelesaikan sarapannya, dia lebih dulu harus menjemput David sebelum ke kantor. Aleta mengantar suaminya sampai di depan pintu, sesaat mereka mengobrol, Gani ingin mencoba kening Aleta namun dia masih malu-malh menujukkan rasa cintanya kepada mantan majikannya itu.
"Mami.." Ucap Aleta yang memandang ke arah Vaviliun.
Gani ikut menoleh ke arah pandangan Aleta, terlihat Mami Greta baru saja keluar dari Vaviliun membawa nampang kosong, dan beberapa piring kotor lainnya. Aleta hang terheran menyeru ke maminya.
"Mami sarapan di Vaviliun?" tanyanya.
__ADS_1
Mai Greta terhenyak, gelagatnya mencurigakan Gani.
"Mami lagi seneng aja di Vaviliun, lagipula Mami juga membersihkan, kamu udah mah berangkat Gan?"
"Iya Mami, saya pamit dulu," ucap Gani.
Manager pribadi David itu masuk ke dalam mobil, namun mata sesekali melirik ke Mami Greta, akhir-akhir ini Mami Greta menampakkan gerak-gerik yang berbeda. Gani melakukan mobilnya keluar dari halaman rumah, sebelum melanjutkan perjalanannya, ia menyempatkan diri melambaikan tangan ke Aleta, wajah istrinya itu berbinar, sangat jelas cinta setelah pernikahan mengiring keduanya untuk saling mengasihi.
"Udah ah, masuk," ketus Mami Greta kepada putrinya.
Aleta diajak Mami nya bersama masuk ke rumah, Pak Salim juga sudah bersiap-siap menuju ke kantor, hanya mencium kening Mami Greta dan putrinya, Pak Salim menuju ke mobil yang terdapat beberapa pengawal pribadinya menunggu.
Mami Greta sarapan di meja makan, Aleta ikut duduk bersama Mami nya, memperhatikan raut wajah Mami nya.
"Kenapa melihat Mami seperti itu?"
"Mami terlalu sibuk akhir-akhir ini, ada apa sih, Mi?" tanyan Aleta.
"Nanti juga kamu bakalan tahu Let, udah ikutin aja alur Mami, ini juga agak ada hubungannya dengan kami, kok."
Aleta makin dibubuhi rasa penasaran, tapi tidak ingin terlalu jauh mencampuri yang bukan urusannya, Aleta selalu mengingat pesan Gani bahwa ia harus fokus pada kehamilannya, menjag bayi di dalam kandungannya agar tetap sehat.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu, Mi.." Pamit Aleta meninggalkan Maminya seorang diri di meja makan.
Mami Greta mengambil ponselnya, memanggil nama David, dia tahu anaknya sudah bersiap-siap menuju ke kantor, tapi ia ingin meminta David untuk bertemu dengannya sore hari nanti.
***
David sedang mengenakan sepatu, di depannya ada Sarah yang berdiri mematung, semenjak mendapatkan pesan dari mantan kekasih David, Sarah mulai kembali kaku dihadapan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Berkali-kali David menanyakan perubahan sikap Sarah, namun tetap saja Sarah tidak mau menjelaskannya.
"Ada telepon masuk di HP Tuan," kata Sarah yang mendengar dering ponsel David di kantong jasnya.
"Iya aku tahu, tapi aku yakin itu Mami, gak ada orang yang berani nelpon aku sepagi ini kalau bukan dia," sahutnya.
__ADS_1
David berdiri memandangi Sarah, dia menelisik keresahan dimata istrinya itu. David juga tidak tahu haruskah ia mengungkapkan kepada Sarah keinginannya agar pernikahan mereka ingin tetap bertahan, selamanya. Walaupun setelah anak mereka lahir ke dunia.
"Angkat telepon Mami Tuan, tidak baik mengabaikan panggilan orang tua," ucap Sarah lagi.
David mengalah, dia mengambil jasnya yang ada di atas sofa. Benar, panggilan itu dari Mami nya.
"Iya, Mi. Ada apa Mi?"
"Boleh gak, David? sebentar sore kita ketemu? mau bicara banyak," ucap Mami Greta lewat telepon.
David mengingat bahwa jadwalnya akan padat hari ini, belum lagi dia ingin mengajak Sarah makan malam di luar, David ingin lebih dekat dengan Sarah, memulai melakukan pendekatan selayaknya suami istri sesungguhnya, tidak ingin berdasarkan kontrak, berharap Sarah berubah pikiran lalu tetap mempertahankan pernikahan mereka.
"Aku kayaknya gak bisa, Mi. Biacar aja ditelepon, kalau aku udah punya waktu luang, aku akan ke rumah mengunjungi Papi dan Mami," ucap David.
David tahu Maminya akan mengajaknya mengobrol yang ujung-ujungnya pasti membahas soal jodoh. David akan memberitahu Maminya tentang pernikahannya dengan Sarah jika istrinya itu menyetujui kontrak pernikahan diubah sebagai nikah sah secara hukum negara.
"Udah ya, Mi." David memutuskan panggilan maminya secara sepihak.
"Kenapa di tolak? Itu Nyonya menelpon pasti karena rindu, Tuan" ujar Sarah.
David tersenyum miring, dia lebih mendekati Sarah dengan tatapan menggoda.
"Kau sudah tahu arti rindu? lalu kamu, apakah kamu merindukan aku jika aku sedang di kantor, hm?"
Sarah senyum-senyum tipis, lakinya sulit bertatapan dengan David yang memiliki mata indah. Debaran jagungnya mencuatkan grogi.
"Malam nanti aku akan mengajakmu ke suatu tempat, ingat ya, kamu harus bersiap-siap, skuat akan menjemputmu," kata David.
Perlahan dia meraih dagu Sarah, menegakkan kepala istrinya yang menunduk.
"Aku mungkin mencium bibir ini, sekarang, boleh?" tanyanya.
Sarah pasrah, dia melayangkan anggukan menyetujui permintaan David.
__ADS_1