
David usai membersihkan diri, dia menuju ke dapur, mengecek asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makanan untuk Sarah. Untung saja Gani begitu gesit mencarikan pembantu khusus untuk Sarah, David tidak ingin jika istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang sejak kecil Sarah lakoni.
"Bi, nanti saya buatkan teh hangat untuk Sarah," ucap David.
Malam itu amat melelahkan, tapi tidak mengurungkan niat David untuk memperlakukan Sarah semestinya dilakukan oleh suami. Di ruang TV, berita-berita tentang skandal istri pejabat terkuak kembali. Suara Fanny dan Mami Greta terdengar oleh David yang sedang di dapur.
"Astaga," David bergegas ke depan TV untuk memastikan kecurigaannya.
Wajah David merah padam, dia berdecak kesal melihat keberadaan Mami nya di publik mendampingi Fanny, istri lawannya sendiri.
"Mami," lirih David seraya mengepalkan kedua tangannya.
David yang tidak ingin Sarah melihat berita-berita itu, dia mencabut saluran TV sehingga tak ada lagi akses Sarah untuk menontonnya. Sarah mendapati David tengah memutus kabel-kabel saluran Televisi, menyadari kehadiran istrinya, David berhenti melakukan aksinya itu.
,
"Sarah, aku hanya ingin kamu tidak.."
David yang tidak tahu cara berbohong tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Wibawanya memang runtuh bila dihadapan wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
"Aku mengerti, tidak apa, aku juga tidak akan menonton apapun," sahut Sarah.
Tanpa David menjelaskan secara detail, sebagai istri ia tahu kegelisahan David untuk memperbaiki hubungan antara keluarganya.
"Terimakasih Sarah, kamu memudahkan aku dalam hal ini," ucap David.
David kagum, Sarah bahkan tidak mengedepankan egonya sebagai perempuan, padahal Sarah tahu di publik namanya akan kerapkali diperbincangkan.
"Aku lapar, aku akan siapkan makanan," ujar Sarah yang berlalu ke ruang dapur.
Dia tersentak melihat keberadaan wanita paruh baya yang sedang menyiapkan makanan di meja. Sarah berpaling sejenak ke David, menanyakan sosok wanita itu dengan lirikan matanya.
"Dia Bi Imah, Gani yang membawanya kemari untuk menemanimu," ucap David yang memang belum sempat memberitahu Sarah.
__ADS_1
Sarah melayangkan senyuman ke Bi Imah, wanita yang seusia Emaknya itu hanya menyapa dengan ucapan salam. David menarik Satah untuk segera duduk, dia ingin banyak bercerita sambil makan dengan Sarah. David ingin tahu letak kampung Sarah, adik-adiknya, dan seluruh keluarga Sarah. Rasa ingin tahu begitu saja mencuat setelah ia memperkenalkan Sarah di publik.
"Aku yakin keluargamu sudah menonton berita kemarin," ujar David.
"Mungkinkah mereka mengenalku? penampilanku kemarin sangat jauh berbeda dengan Sarah yang mereka kenal," Sarah tak berpikiran sampai kesitu.
"Tidak ada bedanya, hanya saja polesan yang ditambahkan diwajahmu, tentu mereka mengenalimu."
Sarah hanya mengangguk-angguk, dia asyik mengunyah sambil memikirkan keadaan Emaknya.
"Seandainya aku bisa bertemu Bi Ningsih secara langsung," ucap David.
Seketika Sarah tersedak, tatapannya menjurus tajam ke David. Memperhatikan mimik wajah David yang sungguh serius berucap.
"Emakku juga bakalan segan, dia tetap akan menganggap kamu sebagai majikannya," ujar Sarah.
Dia masih ingat jelas hari-hari bersamanya Ibunya, selalu saja Bi Ningsih menceritakan keluarga Pak Salim yang sangat baik. Kedermawanan Pak Salim, cara Mami Greta memperlakukan pembantu rumah tangganya, kesopanan Aleta, dan David yang bersikap dingin tapi tetap menghargai Bi Ningsih karena lebih tua darinya.
"Sejak kecil, kalau pulang sekolah, Mami tidak ada dirumah, Bi Ningsih yang temani aku dan Kak Aleta, berarti saat itu kau masih bayi?"
"Kamu tidak rindu dengan Ibu dan adik-adikmu?" tante David.
"Rindu, tapi.."
"Tapi apa? aku bisa mengantarmu ke Desamu," ujar David.
Sarah tertegun, kali ini David benar-benar antusias ingin ke Desa Sarah, bukan hanya sekedar menawarkan, tapi memang ingin berkunjung ke ruang keluarga istrinya.
"Masalah keluarga kamu bbelum selesai, tidak baik meninggalkan Mami dengan keadaan marah," kata Sarah.
Walaupun Mami Greta membencinya, tapi Sarah tidak akan membalas kebencian vitu dengan kebencian pula. David merasa ditegur halus, namun dia sudah lelah meyakinkan Maminya.
"Jangan lelah untuk meminta maaf, Mami akan luluh jika kamu berusaha untuk mengobati kecewanya," lanjut Sarah.
__ADS_1
"Kamu tidak kenal Mami bagaimana, Mamiku orangnya sangat keras, sifat kerasku terbentuk darinya, jadi aku mohon kamu perlu ekstra sabar, kita juga akan menjalani kehidupan pernikahan kita berdua saja, lagipula Papi dan Kak Aleta juga sayang kepada kamu."
Sarah tahu keriuhan hati David, merasa sudah berhak memperlakukan David sebagai Raja, Sarah berani lebih dulu menggenggam tangan suaminya, memberikan kekuatan agar David tidak merasa sendirian.
"Jika kamu mendengar kabar buruk tentang pernikahan kita, atau tentang aku, jangan percaya," ucap David mewanti-wanti Sarah.
Hati seorang istri saat itu berusaha tenang-tenang saja, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Sarah terkejut karena mengetahui Fanny kakak kelasnya dulu adalah mantan kekasih suaminya. Fanny yang kerapkali menghinanya lebih membencinya lagi karena Sarah menjadi istri David.
"Ada yang ingin aku tanyakan, bolehkah?" tanya Sarah. Dia hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya.
"Tanyakan saja, jika kau bisa menjawabnya, aku akan menjawab," sahut David. Padahal saat itu dia deg-degan menanti pertanyaan Sarah.
Sarah terdiam sesaat, ia pikir tak ada gunanya menanyakan deretan rasa penasarannya, hal itu malah akan menjadi pemicu untuk beban pikiran selanjutnya. Sarah mengurungkan niatnya untuk bertanya, ia mengalihkan pembicaraan agar David tidak curiga.
"Aku boleh memeriksa kandungan besok bersamamu? sebelum kita ke kampung halamanku," tanyanya.
David tertawa kecil, ia merasa Sarah terlalu lucu sebab hanya meminta seperti itu dia perlu waktu untuk berpikir.
"Tentu, itu hal yang aku suka, jika aku menemanimu esok, aku yakin Ibu-ibu hamil yang sedang antri ingin anaknya setampan seperti ku," ujar David membanggakan dirinya.
Sarah menggelengkan kepala, dia gengsi mengakui ketampanan suaminya, cukup baginya sifat dan sikap David yang dia puji, selebihnya Sarah tidak ingin terlalu menujukkan bahwa dia telah jatuh hati pada pria yang menikahinya secara siri itu.
Usai makan malam, Sarah menyempatkan diri mengobrol dengan Bi Imah. Dia teringat dengan momen ketika dia masih menjadi pembantu rumah tangga David. Malam harinya dia selalu membersihkan dapur hingga tangannya pucat dan keriput.
David yang mengambil waktu senggang keluar menyapa para pengawalnya di teras. Berbagai macam makanan dan cemilan disediakan untuk orang-orang kepercayaannya itu.
"Tuan, sedari tadi kami ingin memberitahu Tuan David, tapi kami takut jika Non Sarah melihat," ucap salah satu dari mereka.
David melihat ke dalam rumah, tampaknya Sarah masih asyik mengobrol dengan Bi Imah.
"Katakan sekarang, istriku sedang di dapur."
Salah seorang mengambil kertas yang terlilit bbatu di kertas itu tertulis kalimat,
__ADS_1
Mari bermain adu mental, jangan libatkan instansi hukum. Kau sudah mengganggu rumah tanggaku, jika aku mau, aku bisa menganggu istrimu