
David meremas kertas itu lalu membuangnya, dia menarik nafas panjang untuk mengendalikan emosinya. Dia yakin, Samuele akan tetap mengganggu hidupnya, ditambah lagi kehadiran Fanny di keluarganya, tentu semakin memicu kemarahan Samuele.
"Biarkan saja, cukup kita membentengi diri, liat jangan buang-buang energi melawan psikopat itu," ucap David kepada semua bodyguardnya.
"Baik, Tuan. Lebih baik Tuan lebih fokus ke Non Sarah," sahut salah satu dari mereka.
David kembali masuk ke rumah, dia mengajak Sarah beristirahat bersama di kamar.
"Ayo cepetan," serunya.
Sarah yang tadinya asyik mengobrol dengan Bi Imah terhenti, dia menghampiri David dengan senyuman merona.
"Kenapa kau selalu tersenyum?" tanya David.
"Karena senyum adalah ibadah, apa salah?" Sarah balik bertanya.
Dipikirannya, sikap perempuan adalah hal tersulit dipahami, mudah marah dan selalu saja membuat isyarat jika ingin sesuatu, seperti sikap Fanny yang membuatnya lelah ketika dulu mereka berdua berpacaran, namun nyatanya Sarah jauh berbeda, perempuan anggun sana sekali tak bersikap layaknya perempuan umum. Sarah memiliki kepribadian yang tenang dan sikap yang tertata.
"Begitu? aku tidak pernah melihat Ratu-ratu kerajaan bersikap, tapi aku tahu, kau adalah simbol dari sikap mereka," puji David yang bersungguh-sungguh mengagumi sifat Sarah.
"Bukan Ratu, lebih tepatnya wanita -wanita terdahulu," Sarah merangkul tangan David, mengajak suaminya itu berjalan ke kamar.
Sembari berjalan, Sarah kembali melanjutkan kalimatnya, "Aku banyak membaca buku-buku tentang wanita -wanita Solehah di jaman Nabi, aku sedang menerapkan sifat-sifat mulia mereka, tolong bantu aku ya," ucapnya.
David terhenyak, sebagai minim ilmu pengetahuan agama, dia tak tahu harus menjawab apa lagi. Dibalik pekerjaan Sarah sebagai pembantu, dia sudah mempersiapkan ilmu-ilmu untuk masa depannya.
"Aku tidak boleh lagi meragukan kamu, aku yakin kamu memiliki banyak ilmu, ini pasti sangat menyenangkan, beruntung sekali anakku bisa memiliki Ibu seperti kamu," David tak henti memuji istrinya. Suami mana yang tidak terkagum-kagum menemukan sifat-sifat terpuji dari istrinya yang selama ini tersembunyi.
__ADS_1
Di ujung keheningan malam, kelima bodyguardnya duduk di teras, sembari bercerita bercerita tentang tabiat Samuele yang sangat mengesalkan bagi mereka.
"Untung saja tuan David sedikit berubah setelah menikah, jika tidak, habis Samuele itu."
"Tapi kita tunggu saja, tuan David pasti akan bertindak jika sudah lelah, kita harus lebih ekstra bantu beliau," salah satu dari mereka menambahkan.
Di tengah-tengah mereka asyik bercerita, dari luar pintu pagar, ada deru mobil yang tiba-tiba berbunyi, mereka sejak tadi memang mencurigai mobil Jeep terparkir di depan rumah kontrakan David. Mobil itu berjalan semakin menjauh hingga kenapa ditelan kegelapan malam, pada malam itu lampu jalan sedang ada perbaikan hingga di kompleks kontrakan agak gelap.
"Apa aku bilang, kayaknya mereka sedang memantau kita," ujar pria bertubuh kekar itu.
"Kita terkecoh, andaikan sadari tadi kita beritahu tuan David."
"Sebaiknya di hari esok saja, tuan David juga akan berencana pindah dari sini," kata pria berambut gondrong itu.
Sedangkan tawa luar biasa meramaikan didalam mobil Jeep itu. Ditumpangi oleh beberapa pria berwajah sangar yang tidak hentinya tertawa.
Pria lain ikut tertawa, tugas yang diberikan kepada mereka berjalan lancar, sembari menuju kembali ke markas, dia menelpon ke bosnya. Dibalik telepon terdengar suara wanita yang menanyakan keberadaan mereka.
"Kalian sudah dimana? bagaimana pekerjaan kalian?" tanya wanita itu.
"Beres bos, tenang saja, kami sudah berpengalaman dalam hal ini," sahutnya.
Mereka semua tertawa jika bos baru mereka mengkhawatirkan pekerjaannya, seloan menjalani tugas, pria yang menelepon itu juga memiliki dendam khusus terhadap keluarga Pak Salim. David lah yang menjadi sasaran utama untuk menuntaskan dendam itu.
"Matikan teleponnya, kami akan pulang istirahat, Bos." Pamitnya.
Malah banyak yang ingin diwanti-wantikan ke anak buahnya, namun pria berwajah sangar itu malah memutuskan telepon sepihak, membuat Fanny berdecak kesal. Baru kali ini dia bekerjasama dengan preman yang semau-maunya.
__ADS_1
"Sial nih kingkong, matiin telepon tanpa mendengarkan dulu aba-aba gue!"
Fanny yang sendirian di Vaviliun diam-diam merencanakan teror ke David dan Sarah. Tanpa sepengetahuan Mami Greta, Fanny membayar kepala preman untuk membututi David sehingga mereka tahu letak tempat tinggal putra Pak Salim itu. Sebelum perceraiannya ketik palu dengan Samuele, Fanny akan tetap memakain Samuele sebagai kambing hitam.
"Aku tidak bisa menerima begitu saja, Sarah gadis kampung itu, mana mungkin bisa mengalahkan aku, sejak aku yang menjadi primadona sekolah, dengan dia menjadi istri David, ini penghinaan bagiku!"
Sebagai wanita yang berambisi, Fanny tidak ingin kalah oleh Sarah yang notabene hanya gadis kampung tamatan SMP saja. Dia jauh lebih unggul daripada Sarah, dia mati-matian membayar ijazah gelar sarjana dan master demi masuk ke kalangan atas. Fanny bahkan ia rela menjual kehormatannya demi mengumpulkan, menjadikan dirinya pengusaha salon.
Terdengar suara deru mobil yang melewati Vaviliun, kedua mobil itu terhenti di depan rumah Mami Greta. Rupanya Gani dan Aleta baru saja tiba dirumah bersama Pak Salim. Aleta dan Pak Salim lebih dulu masuk ke rumah, sedangkan Gani berdiri menghadap ke Vaviliun, dari arah jauh matanya menelisik ke Vaviliun. Fanny yang melihat pergerakan Gani dari balik gorden terkesiap. Dia tahu Gani menyadari persembunyiannya dirumah kecil Pak Salim itu.
"****, pembokat itu tahu aku ada disini," gumamnya.
Gani hanya berdiam diri di tempat, namun matanya tetap berfokus ke Vaviliun. Suami Aleta itu sengaja ingin membuat Fanny ketakutan, perlahan-lahan dia akan melawan Fanny tanpa terlihat ikut campur dari penglihatan Mami Greta.
'Tunggu, kamu akan rasakan bagaimana resiko menjadi wanita jahat,' ucap Gani dalam hati.
Gani bergegas masuk ke rumah, seketika debaran jantung Fanny kembali normal. Dia mengusap dada sembari duduk mengatur nafasnya, dari dulu dia sangat tidak menyukai Gani.
"Kayaknya aku tidak bisa lama-lama tinggal disini," gumam Fanny.
Gani berlalu menyusuri tangga, ia hendak berjalan ke kamarnya, namun tiba-tiba di halau oleh Mami Greta. Tatapan Ibu mertuanya menyimpan isyarat sedang marah.
"Mami, ada apa?" tanyanya.
"Sekali lagi jangan ikut campur, urus saja rumah tanggamu, jika tidak, kau hanya akan menambah masalah juga," ujar Mami Greta sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Sayang, udah pulang!" Seru Aleta yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Aleta menghampiri Gani tanpa mencurigai sikap Maminya yang sedang menahan amarah. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Mami Greta pergi meninggalkan anak dan menantunya. Gani juga bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, dia tidak ingin istrinya terbebani oleh tingkah laku Mami Greta yang di luar batas kemanusiaan.