
Minggu pagi, ada banyak orang-orang yang tinggal di komplek perumahan itu lalu-lalang. Mereka menikmati pagi sambil berolahraga di taman. Sarah yang sejak tadi berdiri didepan jendela hanya bisa menonton orang-orang yang melewati rumah kontrakannya. Dia merasa bosan dengan keadaan tanpa menggunakan HP dan menonton televisi. Dua hari berada di rumah, tak ada aktivitas yang menyenangkan, hormon kehamilan mempengaruhi pikirannya untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Sedangkan saat itu David masih meringkuk dibalik selimut, dia membayar tuntas kelelahan nya setelah beberapa hari tak dapat tidur.
"Aku akan keluar bersama pengawalnya saja, sekalian olahraga, kata Bi Imah aku harus sering jalan pagi," gumamnya.
Sarah mengganti pakaiannya dengan kaos panjang biasa, ia juga memakai topi David yang sering dipakai suaminya untuk main golf.
"Aku keluar dulu, kamu istirahat ya," bisik Sarah ditelinga David, padahal suaminya tertidur lelap.
Usia kandungannya mulai masuk trimester kedua, rasa ngidamnya pun perlahan sirna. Sarah amat gesit menghampiri ketiga bodyguard David.
"Mau kemana Nyonya Sarah?" tanya salah satu dari mereka.
"Jangan panggil Nyonya, panggil Sarah saja, aku ingin keluar jalan-jalan, boleh 'kan?"
Ketiga pengawal bertubuh kekar itu saling bertatapan sesaat, mereka tahu David tidak akan mengizinkan Sarah keluar tanpa pendampingan.
"Aku mohon ikutlah denganku," lanjut Sarah.
Sebagai bawahan yang baik, mereka pun mengindahkan permintaan istri bosnya. Sarah tersenyum sumringah, dia berjanji akan mentraktir ketiga pengawal itu sesuka hati.
"Kita berjalan ke sekitar taman saja," ucap Sarah.
Mereka menyusuri jalan setapak yang ada di taman, Sarah berjalan normal seperti wanita lainnya. Sarah senantiasa mengajak ketiga bodyguard itu mengobrol santai.
"Aku tahu kalian saat-saat takut dimarahi David. Tapi aku akan berusaha membujuknya agar tidak marah."
"Iya, Nyonya. Tuan seperti itu karena ingin melindung Nyonya. Tuan itu baik," sahutnya.
Sarah tersenyum, malu-malu menerpanya seketika, bagaimana bisa ia menyembunyikan salah tingkahnya bila bawahan David menceritakan tentang perasaan David terhadapnya. Sarah tetap berjalan, dia mulai akrab dengan satu-persatu pengawal David. Pria berbadan kekar itu tak henti mengucap maaf sebab dulu mereka membiarkan Sarah dehidrasi hingga dirawat di ruang sakit.
"Ah lupakan, lagipula aku yang tidak ingin makan, kalian sudah menyiapkannya, berarti itu kesalahanku," sergah Sarah.
Ahk Mas!
Suara wanita terdengar dari jauh, Sarah terhenti mengamati seorang wanita yang sedang berlari mengejar mobil hitam. Wanita itu sedang menggendong anak usia sekitar satu tahun. Wanita berhijab itu tak henti berteriak memanggil -manggil ke arah mobil yang sudah melaju kencang meninggalkannya.
__ADS_1
"Kita tolong dia," kata Sarah.
"Jangan ikut campur, Nyonya."
"Bukan ikut campur, tapi saya ingin menolong."
Sarah tetap berjalan cepat ke arah wanita berhijab itu. Anak kecil digendongnya juga ikut menangis. Sarah yang tidak ingin membuat wanita itu tersinggung sengaja duduk terdiam di dekatnya. Wanita itu melirik ke Sarah, dia mengusap air matanya karena malu.
"Hai anak cakep," sapa Sarah kepada anak wanita itu.
Anak laki-laki itu kembali tersenyum, seolah tahu ketulusan wanita hamil didepannya.
"Maaf, tadi saya sedikit mengusik pengunjung taman ini," ucap wanita itu.
"Ini taman umum, apapun bisa terjadi, jangan merasa bersalah, Bu." Sarah berkata lebih sopan karena wanita itu memang usianya jauh lebih tua darinya.
Wanita itu menundukkan kepalanya, dia menguatkan dirinya agar tidak bersedih dihadapan Sarah.
"Ibu kenapa?" tanya Sarah.
"Aku diturunkan oleh suamiku disini, dia marah karena aku membantah perkataannya."
Sarah menarik nafas, mengisi rongga dadanya yang agak sesak mendengar jawaban wanita itu.
"Lalu suami Ibu kemana? Ibu tidak menyusulnya?"
"Tas ku ketinggalan di mobil, Hpku juga, aku sama sekali tak punya uang saat ini, anakku yang perempuan juga ikut ke rumah mertuaku, aku ingin menyusul tapi l, mungkin lebih baik aku kembali saja ke rumah," jelasnya lagi.
Sarah merogoh kantong celananya, dia hanya membawa kartu kredit yang diberikan David untuknya, kartu itu ia akan gunakan Jika belanja dimini market, membelikan minuman untuk para pengawal David.
"Aku punya uang di rumah, saat ini aku juga tidak bawa uang, rumahku tidak jauh dari sini, lebih baik Ibu ikut saja denganku," usul Sarah.
Rasa iba yang membuat Sarah ingin menolong wanita itu. Dia sedang memposisikan dirinya bila mendapat kemalangan tetapi tak ada satupun orang yang menolong.
"Tidak usah, saya bisa menunggu suamiku, mungkin saja dia akan kembali menjemput," kata wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau tidak? Sampai saat ini suami Ibu belum kembali, ayo ikut ke rumah ku saja, Bu. Kasihan anak Ibu, kepanasan disini," Sarah berharap dapat membantu wanita yang berwajah teduh itu.
Sesaat wanita itu melihat ke anaknya, wajah anaknya mulai berkeringat, matahari mulai nampak. Tak ada pilihan lain selain berteduh di rumah Sarah.
"Baiklah, tapi apa tidak merepotkan?"
"Tidak, aku yang menawarkan, ayo Bu.. mereka disana itu penjagaku, jangan takut."
Sarah menenteng tangan wanita itu, seolah mereka sudah sangat akrab, Sarah melakukan itu agar wanita itu tidak canggung terhadapnya.
"Ayo kita pulang," ajak Sarah kepada para pengawalnya.
Ketiga pengawal itu hanya menurut saja, entah apa yang akan dikatakan tuannya setelah melihat Sarah membawa wanita asing ke rumah mereka.
"Sepertinya dia wanita baik-baik, bukan orang jahat," mereka saling berbisik -bisik.
***
Samuele melemparkan remote televisinya, dia sungguh murka dengan kemunculan Fanny di publik bersama Mami Greta. Samuele merasa dikhianati, dibohongi, dibodohi oleh Fanny dan keluarga David. Api dendamnya kian membara sebab kalimat-kalimat pernyataan Fanny yang semakin membuatnya sakit hati.
"Dasar wanita ******! Aku tidak peduli kalau kamu pergi dari hidupku, tapi kau telah membuat namaku busuk, sialan!" umpatnya.
Samuele berbalik ke anak buahnya yang sudah berjejer menunggu perintah. Mata sipitnya menatap tajam.
"Hanya ada satu yang buat Fanny tersiksa, yaitu buat dia celaka tanpa sengaja, setelah itu mari kita urus David dan keluarganya," ucap Samuele kepada anak buahnya.
Tanpa berpikir lama, semua anak buahnya bergegas mengatur rencana untuk memberikan Fanny pelajaran setimpal atas fitnah yang dilakukannya.
"Kalian pasti tahu 'kan mau aku seperti apa?" tanya Samuele.
"Tentu, bos."
"Kalau begitu, lakukan sekarang juga ,lakukan dengan cara rapi dan rahasia ."
Anak buah Samuele akan melakukan pengintaian terlebih dulu, mereka menuju ke kompleks rumah Pak Salim. Sebagian anak buah Samuele telah mengintai Fanny dari kejauhan, wanita yang masih sah sebagai istri Samuele itu akan menerima peringatan terlebih dulu.
__ADS_1