
"Kenapa gelisah? jangan terlalu banyak gerak, kandunganmu masih trimester kedua," Gani berupaya agar istrinya tidak terlalu larut dalam. masalah pelik keluarganya.
"Mami kok gak datang ya? ini gimana kalau orang-orang nanya, kasihan Papi, Sayang.."
Gani melirik sejenak ke Ayah mertuanya, Pak Salim hanya duduk berdoa terus-menerus, dia juga tak ambil pusing dengan ketidakhadiran istrinya.
"Papi orang baik dan bijak, dia tentu lebih paham sikap Mami ketimbang kita, sudah, kamu temani saja Papi duduk, berhenti memegang HP, dari tadi kamu diliat lara tamu," ujar Gani dengan suara pelan.
Aleta yang memang anak penurut sangat gampang diatur oleh suaminya, apapun yang dinasehati oleh Gani, selalu dicerna baik olehnya, walaupun Gani lebih muda darinya, tetapi tak mengurangi rasa hormat Aleta terhadap suaminya.
Gani menepi dibarisan kursi paling ujung. Dia meminta kepada Pak Rudi untuk mengambil rekaman CCTV yang sejak kemarin sore hingga hari itu. Gani sangat mencurigai gelagat Ibu mertuanya, bukan ikut campur dalam urusan Mami Greta, hanya saja Gani tidak ingin mertuanya salah langkah lalu merugikan dirinya sendiri juga keluarga besar Pak Salim.
"Pak Rudy, jangan beritahu siapapun, ini tugas rahasia," ucap Gani.
"Baik, Pak Gani." Syara Pak Rudy dibalik telepon.
Pak Rudy tahu maksud Gani. Dia hanya sedang menjalankan tugas untuk membuat keluarga Pak Salim lebih baik lagi. Gani yang menutup telepon kembali mendapatkan berita dari salah satu karyawan kantor.
"Astaga Mami.." Gumam David ketika membaca pesan singkat dari karyawan kantor David.
__ADS_1
Gani berdiri dari tempat duduknya, dari jauh dia memberikan kode kepada Aleta, namun istrinya itu sedang asyik mengobrol dengan salah satu tamu. Tak ingin membuat waktu, Gani pergi dari rumah mendiang Eyang tanpa pamit kepada istrinya dan Pak Salim.
"Jangan beritahu Pak David dulu, jangan rusak hari ini, Bu Sarah belum sembuh," ucap Gani mewanti-wanti karyawannya di balik telepon.
Gani melakukan mobil Aleta dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan, dia tak habis pikir dengan tingkah laku Ibu mertuanya yang tidak berpikir panjang sebelum bertindak. Berkali-kali Gani berdecak kesal karena nama baik David dan Pak Salim menjadi tanggungjawabnya. Dia merasa harus lebih menjadi pelindung bagi David.
"Macet lagi," gerutunya.
Cukup lama Gani terjebak macet, sesekali dia melirik ke HPnya.
"Ayo-ayo cepat jalan," ucapnya sambil menghitung detik-detik waktunya yang berlalu.
"Astaga.. Kenapa Mami seperti ini," gumamnya terheran-heran.
Para awak media dan polisi sedang melakukan wawancara di depan kantor David. Ditambah lagi. kehadiran Mami Greta yang didampingi oleh Fanny, mantan kekasih David. Bak. mimpi buruk melihat Fanny bersama Mami Greta. Mati-matian David membersihkan nama baiknya agar tidak terseret kasus kehilangan Fanny, tetapi kini Ibu kandung David yang menerangkan bahwa selama ini Fanny tinggal bersama mereka, keluarga Pak Salim.
"Pak Gani, mereka tiba-tiba datang, sudah membawa wartawan dan polisi, kami juga heran kenapa Mami bos kita harus melakukan wawancara di kantor? padahal bida ditempat lain 'kan?" keluh manager perusahaan.
"Biarkan saja dulu, kita lihat hasil taktik mereka, walaupun ini akan merugikan Pak David dan perusahaan tapi aku tidak bisa menentang lebih jauh, beliau itu Ibu mertuaku, aku tidak bisa melakukan hal-hal tegas terhadapnya."
__ADS_1
Sesi wawancara itu berakhir, terlihat Fanny menangis ketiak para wartawan berempati terhadapnya. Fannya mengatakan bahwa dia menikah dengan Samuele hanya jebakan, pernikahan itu seringkali dihadirkan kekerasan sehingga Fanny memilih pergi dari rumah.
"Aku terpaksa menikahi si tua botak itu, karena aku ingin melindungi pacarku, David Philip Salim." Fabby tetap saja memasukkan David dalam permasalahan rumah tangganya.
Gani geleng-geleng kepala, dan paling mmembuatnya tercengang ketika Mami Greta memberitahu wartawan bahwa David menikahi istrinya saya ini hanya sebagai pelarian karena ditinggal menikah oleh Fanny.
"Mami.." lirih Gani.
Entah apa yang dipikiran perempuan berusia lima puluh tahun itu. Mami Greta amat gegabah jika telah menggunakan emosinya Kecewanya bahkan membutakan mata hati hingga gak memikirkan akan ada banyak yang terluka karena ulahnya bersama Fanny.
"Mami" seru Gani.
Mami Greta terkejut dengan kehadiran Gani. Dia berkali-kali menghindar tatapan kontak mata dengan menantunya.
"Mami, tunggu.." Seru Gani lagi.
Mami Greta berpura-pura untuk tidak melihatnya, Dia bersembunyi dibalik pundak Fanny. Gani tidak menyerah, dia semakin mendekati Mami Greta dan Fanny.
"Mami.. kok ada disini?"
__ADS_1