
Usai menghadiri semua rapat direksi, David menuju ke ruangannya, sejenak ia beristirahat untuk melepas penat, sudah waktunya jadwal makan siang, pikirannya langsung terarah dengan keadaan Sarah di rumah.
"Dia lagi ngapain ya?" David bergumam sambil meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja.
Ketika ia hendak menelpon ke nomor Sarah, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar, David kembali meletakkan ponselnya.
"Siapa? masuk," ucapnya.
Dibalik pernah muncul Gani dan kedua pengawalnya. Ketiganya nampak tergesa-gesa, seolah ada hal genting yang ingin mereka sampaikan.
"Ada apa?"
"Tuan, marilah ke bawah, mereka membuat kekacauan karena ingin bertemu dengan Tuan David," ujar Gani.
David memakai kembali jasnya, dia melangkah sigap keluar dari ruangannya bersama pengawal juga Gani. Menuju lift dengan mimik wajah yang dingin namun tetap menakutkan bagi setiap karyawannya yang berpapasan dengannya.
"Tuan, Berhati-hatilah," bisik Gani. Dia memposisikan dirinya sebagai Kakak ipar David.
Keluar dari lift, mereka menuju ke pintu keluar kantor, dari jauh matanya teratah kepada sekelompok pria yang sedang menunggunya. David berhenti sejenak, menatap tajam pri berkepala plontos itu, yang tak lain adalah Samuele.
"Rupanya kita kedatangan si botak," kata David kepada Gani dan pengawalnya.
Samuele mematikan api rokoknya, dia melangkah lebih dekat ke arah David. Gani dan pengawalnya hendak mencegah Sumuele namun dihalau oleh David.
"Kau bermain licik, aku tidak suka dengan caramu," ujar Samuele.
Alis David mengerucut, dia tak memahami maksud dari Samuele. Selama ini mereka tidak bertindak bermusuhan secara langsung, hanya persaingan bisnis semata, lalu menikahnya Fanny dengan Samuele.
"Kau mengucapkan kalimat itu untuk dirimu sendiri?" tanya David.
"Berhentilah membual! Kembalikan yang sudah menjadi milikku," kata Samuele dengan wajah bringasnya.
"Apa yang kau maksud?!"
"Fanny, dimana istriku kau sembunyikan?!"
Mendengar itu David gak dapat menahan gelak tawanya. David menertawakan tuduhan Samuele yang sangat tidak masuk akal.
"Kau sungguh berpikir demikian? hahah.."
__ADS_1
Samuele merasa jengkel meraih kerah kemeja David, namun dengan sigap tangan David menepisnya.
"Kau jangan berani menyentuhku! Atau tidak kau akan mati didepan kantorku ini!" David memberi ultimatum.
Samuele diminta mundur oleh pengawalnya agar tidak memicu keributan yang merugikan mereka. David merapikan dasinya yang sempat berantakan.
"Jangan cari istrimu disini, aku memiliki lagi urusan dengannya, dia bukan seleraku setelah kau bersamanya," ucap David dengan lantang.
Samuele merasa semakin direndahkan, David seolah ingin menujukkan bahwa Fanny bukanlah tipe ideal wanita yang dia inginkan.
"Jika kau berani menyembunyikannya, maka kita akan duel," kata Samuele yang belum mempercayai ucapan David.
"Kau yakin? apakah dia pergi darimu juga? sepertinya sifat istrimu tidak akan pernah berubah, ajari dia tentang nilai-nilai menjadi wanita yang mahal," sahut David.
Gani dan pengawalnya tertawa, bukan menertawakan Samuele, tapi cara David yang sudah berhasil keluar dari zona perasaannya terhadap Fanny.
"Brengsek kamu David! Jika ketahuan kamulah yang menyembunyikan Fanny, akan kupastikan kau akan kehilangan orang yang kau sayangi, camkan itu!"
Usai memberikan ancaman kepada David, Samuele memilih enyah dari kantor Angkasa Group. David berdiam diri, dia tidak takut dengan ancaman Samuele, tapi bagaimana jika terjadi sesuatu dengan keluarganya, termasuk Sarah dan bayinya. David bergegas membalikkan badannya ke arah Fani dan pafa pengawalnya.
"Kalian dengar tadi yang botak itu ucapkan? dia bisa melakukan aksi nekat itu kapan saja, pasangkan keamanan di rumah keluargaku, dan terutama untuk Sarah dan bayiku," ucapnya.
"Aku ingin ke rumah, bertemu Mami," ucapnya.
Gani diminta untuk tetap dikantor, David hanya membawa beberapa pengawalnya untuk menemaninya. Sepanjang perjalanan, David tiada henti menelpon ke ponsel Sarah, namun istri kontraknya itu tak kunjung menjawabnya.
"Nona Sarah katanya tidur, Tuan. Kata pengawal di rumah yang menjaganya," ucap pengawal David yang turut serta mencari tahu keadaan rumah dari kawan-kawannya.
Setiba di rumah orang tuanya, David memperingati pengawalnya agar tetap mengunci mulut jika Mami Greta bertanya-tanya perihal tentang David. Sedangkan dari jauh David melihat Mami Greta keluar dari Vaviliun dengan membawa nampang.
"Mami dari mana?" tanya David.
Mami Greta terhenyak, dia menarik nampang kosong dibalik punggung.
"Mami, habis dari Vaviliun, bersih-bersih, Dav. Akhirnya kamu dateng juga sayang, Mami kangen banget sama putra bungsu Mami," sahut Mami Greta.
David melirik sejenak ke Vaviliun, namun dengan sifap Mami Greta menarik tangan putranya itu. Dia mengajak David masuk ke rumah. Mami Greta mengalihkan pembicaraan, dia mengutarakan perihal David yang tak kunjung menikah.
"Makan siang dulu sayang, kiat sambil obrolin kehidupan pribadi kamu," kata wanita berdarah Thailand itu.
__ADS_1
David sudah menebak sebelumnya bahwa hal itu akan diulas oleh Maminya. Namun sebagai pria yang tidak ingin terlalu ketus pada Ibunya, David hanya mendebarkan saja tanpa merespon.
"Kapan sih, Dav, kamu bawa calon istri?"
"Tunggu aja, Mami. Suatu saat Mami jug aakn terkejut," jawabnya.
Dia tidak menjawab dengan kebohongan, juga tidak memberikan kebenaran. David masih menjaga mental Sarah agar tidak direcoki oleh Maminya.
"Sampai kapan David? setidaknya kamu memiliki pacar dulu deh," ketua Maminya.
"Tunggu aja, Mami. Ribet punya pacar."
Mami Greta berbisik kepada putranya, "Atau kamu belum bisa lupain Fabny ya?"
David yang sedang meneguk seketika tersedak, dia teramat kesal jika ada seseorang yang menyebut nama Fanny dihadapannya, walaupun itu Maminya sendiri.
"Apaan sih, Mi?! Aku gak suka wanita itu dibahas, tadi aja suaminya bikin ulah di kantor, dia menuduh aku menyembunyikan Fanny, si botak itu malah mengancam," kata David kesal. Selera makannya hilang karena membahas Fanny di meja makan.
Mami Greta terkesiap, diam merenung seperti sedang ketakutan.
"Mami kenapa? Mami takut karena ancaman si botak itu? tenang Mami, aku akan mengurus semuanya," ujar David.
Mami Greta gemeteran, dia berusaha menenangkan diri dihadapan putranya. Bukan takut karena ancaman Samuele, tapi bagaimana jika terjadi skandal baru lagi di keluarganya karena tuduhan Samuele terhadap David.
"Dav, sebaiknya kamu luruskan itu, bilang bukan kamu yang menyembunyikan Fanny," usul Maminya.
"Oya, Mi. Memang bukan aku kan, ngapain sembunyikan istri orang toh aku juga punya istri," David kelepasan. Matanya membelalak menyadari perkataannya.
Mami Greta mengerutkan alis mendengar penuturan David.
"Maksud kamu apa, Dav? Istri?"
David tidak mau menanggapi pertanyaan Maminya dengan berkata bohong, ia melirik jam, ada banyak pertemuan yang harus ia lakukan siang itu.
"Udah ya, Mi. Kalau udah gak ada lagi diobrolin, Dabid pamit, banyak kerjaan," ucapnya.
Mami Greta kewalahan jika menghadapi putranya, selalu saja David menghindari bila membahas pernikahan. Mami Greta ungin mencegah putranya, namun ia takut jika David semakin malas lagi pulang ke rumah karena perlakuannya yang memaksa.
"Anak itu, padahal aku ingin mengejutkannya, bagaimana caranya mengatakan hal ini ke David," gumam Mami Greta melihat kepergian mobil David.
__ADS_1