
Dari atas balkon, Mami Greta melihat ada beberapa pria yang memantau rumahnya. Dia sejak tadi mengamati, ternyata mereka bukanlah anak buah David, tepatnya orang lain, Mami Greta pun mulai ketakutan, dia mengira sekelompok pria itu akan menganggu keluarganya.
"Harus diberitahu Papi nih," gumamnya.
Mami Greta bergegas menuju ke ruang santai suaminya, Pak Salim saat itu sedang menonton tv, mengamati setiap berita di TV, tak ada yang berani menyiarkan berita tentang putrinya yang nyari bunuh diri karena ditinggal calon suami.
"Pi, ada pria-pria aneh di luar memantua rumau kita," Ucapnya.
"Mungkin itu wartawan," Sahut Pak Salim.
"Sepertinya mereka bukan wartawan, atau jangan-jangan itu suruhan Erick, Pi?"
"Dia bisa apa? papi akan minta David tangani ini, Mami tenang saja."
Mami bernafas lega jika putranya mengambil alih keadaan seperti itu, David sangat diandalkan menjaga keamanan keluarganya, mengingat putranya itu sangat disegani.
"Tapi kenapa akhir-akhir ini David jatang pulang, dia terlalu sibuk di luar sana, seharusnya dia ada di rumah sekarang," Ketus Mami Greta.
"Lah, biarin aja, Mi. Toh, dia juga sydah punya keluarga sendiri untuk dilindungi," Sahut Pak Salim keceplosan.
Mami Greta melotot ke suaminya, "Maksud Papi apa? Keluarga sendiri?"
Seketika Pak Salim tersadar, "Astaga, Papi tadi salah ucap, maksudnya urusan penting sendiri, tahu 'kan anak kita juga sudah memiliki perusahaan sendiri."
Mami Greta percaya alasan suaminya, dia tak menarug curiga apapun kepada putranya itu. Dari atas lantai dua, terdengar syara Aleta histeris, Mami Greta dan Pak Salim menyusuri tangga untuk melihat keadaan putrinya. Aketa tidak ada di atas ranjangnya.
"Aleta," Mami Greta mendapati Aleta terjatuh di kamar mandi. Ada darah yang merembes di lantai.
"Aleta, sayang.. Papi angkat Aleta," Pekiknya.
Pak Salim hanya kuat mengangkat putrinya sampai di ranjang, Mami Greta bergegas memanggil supirnya, Pak Arif. Pria bertubuh kurus itu membantu Pak Salim menurunkan Aleta ek lantai bawah.
__ADS_1
"Langung ke rumah sakit, Arif."
Aleta di bawa ke rumah sakit, diperjalanan berkali-kali Mami Greta menelpon David, tetapi putranya itu sedang tidur nyenyak bersama Sarah, ponselnya dibiarkan membisu.
"David gak akan teleponnya lagi," Keluh Mami Greta.
Pak Salim tak merespon, dia masih tetap. merahasiakan pernikahan David dengan Sarah, jauh ke ih baik ketimbang istrinya akan shock verat ketika mengetahui berbagai kenyataan memilikan menimpa keluarganya.
"Papi coba telepon Gani, beritahu dia untuk menjemput David," Pinta Mami Greta.
Pak Salim hanya mengirimkan pesan rahasia kepada Gani, dia meminta Fabi agar David meluangkan waktu bersama Mami dan Kakaknya, cara agar sementara waktu Mami Greta tidak menaruh curiga.
Aleta dibawah ke ruangan UGD, darah dari bawah sananya tak berhenti keluar. Mami Greta selama mau pingsan melihat keadaan putrinya. Aleta sempat siuman, dia berbisik kepada Papinya agar memanggil Gani.
"Papi sudah menginformasikan ke Gani, tunggu ya sayang.." Ucap Pak Salim.
Tidak lama kemudian ada Gani yang datang, raut wajahnya digelayuti kekhawatiran, bahkan tampa sadar dia langsung menghampiri Aleta, padahal saat itu ada Pak Salim dan Mami Greta yang menemani putrinya.
"Non Aleta.." Ucap Gani yang memegang tangan Aleta.
"Aku takut anakku kenapa-kenapa," ucapan Aleta dengan suara lirih.
"Semua akan baik-baik saja, aku yakin itu Non Aleta," sahut Gani.
Mami Greta sampai tercengang, matanya melotot melihat tangan putrinya di genggam oleh manajer puteranya. Pak Salim malah terharu karena putrinya mendapatkan dukungan dari Gani.
"Pi, kok Gani megangin tangan Aleta sebegitunya sih?" tanya Mami Greta yang keberatan.
"Hush, Mami liat aja, semua demi Aleta, putri kita saat ini sangat butuh dukungan moril dari orang-orang sekitarnya, dan Gani memiliki cara positifnya," jelas Pak Salim.
Walaupun terasa aneh melihat tangan putrinya di genggam oleh Gani, tapi Mami Greta berusaha menerima penjelasan suaminya, semua demi kestabilan emosional Aleta.
__ADS_1
"Aku mau kamu ada disini, Gani.." Pinta Aleta.
"Iya, Non.. aku akan tetapil disini," sahut Gani lagi.
Ada dokter yang masuk ke ruangan IGD lagi, dia akan kembali memeriksa Aleta, Gani berdiri dari bertekuk lututnya. Dokter dan suster melakukan serangkaian pemeriksaan, Aleta berharap bayi yang dikandungnya tetap baik-baik saja.
"Bagaimana, dok?" tanya Mami Greta.
Dokter itu menghela nafas panjang, "Syukurlah, bayinya selamat, ini pendarahan karena benturan dari bawahnya," sahut dokter.
Mami Greta dan Pak Salim langsung menoleh ke arah Aleta, mereka terenyuh karena putrinya sekuat tenaga mempertahankan cucunya.
"Sayang, anak kamu baik-baik saja," ucap Mami Greta.
Gani mengucap syukur juga, dia menatap Aleta, ingin rasanya cepat-cepat memenuhi janjinya kepada Aleta, Gani sangat ingin melindungi Aleta dari segala situasi. Sesaat mata Pak Salim melirik ke Gani, doa melihat mimik wajah Gani yang tegang, seakan ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Pak Salim mendahului. Pak Salin ingin Gani lebih gentleman mengungkapkan keinginannya di depan Pak Salim dan Mami Greta.
Gani menganggukkan kepalanya, dia maju selangkah lagi mendekati Aleta, wajahnya penuh keseriusan, ia mengenyahkan rasa mindernya yang membumbung sejak lama.
"Tuan, Nyonya, saya memang bukan pria yang setara dengan Non Aleta, bukan berasal dari keluarga terpandan seperti Tuan dan Nyonya, tapi dengan segala ketulusan saya, dari hati yang paling dalam, saya berniat melamar Non Aleta, saya tidak peduli kondisinya seperti bagaimana, saya akan memulai dengan cara saya melihat melindunginya," ungkap Gani dengan terbata-bata.
Tubuh Mami Greta lunglai, dia tidak dapat berpikir jernih lagi, sebelumnya dia sudah diberitahu oleh David tentang keinginan Aleta yang menerima Gani menjadi suaminya. Namun tetap saja ungkapan Gani membuat Mami Greta shock.
Pak Salim mengusap kepala Aleta, " Kau telah menjalani hidupmu karena keinginan orang tua, Nak, tapi kami salah arah, sekarang jalanilah hidupmu sesuai pilihanmu, Terima Gani, kalau lelah menikahlah sekarang," kata Pak Salim.
Mami Greta yang tidak ingin anaknya menikah seadanya keberatan, "Pi, dirumah sakit ini? kita harus buat pesta megah," protesnya.
"Resepsi bisa di belakangan, Mi. Kita akad saja dulu," ujar Pak Salim tegas.
Nyali Mami Greta menciut, dia segan jika harus membantah lagi, para perawat yang ada di ruangan IGD itu ikut bungkam, mereka menjadi pendengar dari drama kehidupan orang kaya itu.
__ADS_1
"Aku tidak ingin lagi jatuh cinta dengan pria yang salah, aku yakin Gani akan menjadi suami dan Ayah yang baik," ucap Aleta dengan mata berkaca-kaca.
Pak Salim mengangguk, dia sudah cukup lama mengenal Gani, semenjak ikut menjadi manajer David, Gani selalu menujukkan etika yang baik. Gani anak yang sabar dan selalu sopan, dia juga tekun bekerja sehingga David sangat menyukainya