
David menjelaskan perihal menimpanya kepada Sarah, berkali-kali Sarah menolak untuk ditampilkan di publik, namun berkali-kali pula David menyakinkan istrinya. Sarah merasa dia hanyalah istri kontrak, perpisahan mereka setelah kelahiran anak yang dikandungnya tentu akan menjadi buah bibir pula nantinya.
"Aku tidak bisa, Tuan.." Sarah menolak, dia terlalu gemetaran menghadapi keluarga besar dan orang-orang besar yang mengenal David.
"Bantu aku Sarah, pria itu menuduhku membawa lari istrinya, ini hanya persaingan bisnis, aku di fitnah, ini memang diluar dari persetujuan dari kontrak kita, tolong, ini khusus permintaanku," pintar David berulang kali dengan kalimat yang sama.
Sarah memelas, dia mengasihani keadaan David, tapi disisi lain, sebagai perempuan dia memiliki harga diri, muncul di publik sama saja dengan mempamerkan dirinya sebagai istri kontrak Terlebih lagi Mami Greta dan keluarga David yang lain, semua pasti amat shock melihat Sarah telah dipersunting oleh putra bungsu Pak Salim.
"Sarah, aku mohon.."
"Aku takut, Tuan.. dunia dipake teramat kejam bagi kau yang dari keluarga miskin, aku tidak apa-apa jual harus disembunyikan sampai melahirkan bayi ini, tapi.."
"Tapi apa? kau meragukan aku? aku sudah berjanji untuk melindungimu, aku David Philip Salim, Suamimu. Aku hanya tidak ingin di tuduh merebut istri orang lain, sementara aku memiliki istri di rumah yang sedang mengandung," jelas David.
Sarah memandangi raut wajah David yang penuh pengharapan terhadap dirinya, besar sekali harapan David itu agar memunculkan Satah di mata publik. Satah tertunduk sejenak, dia memang hanya tamatan SMP, tapi Sarah cukup memiliki ilmu keagamaan yang didapatkan dari gemar membaca buku. Sarah tahu menjadi istri yang patuh adalah kewajiban utama.
"Saya bersedia, Tuan. Jika ini bisa membantu Tuan, saya akan melakukannya, bukan sebagai Satah, tapi istri.."
David terenyuh, dia kehilangan ketenangan batin dari Mami nya, namun kehadiran Sarah malah menciptakan ketenangan itu secara sempurna.
"Sarah.." David mendekap erat tubuh Sarah.
"Tuan, tolong aku tidak bisa bernafas," kata Sarah.
David menciumi kedau pipi Sarah, menuju ke lehernya, berkali-kali, bentuk rasa bahagianya karena Sarah selalu saja menjadi pil penenang bagi seorang pria lemah spritual sepertinya.
"Kamu Siap-siap, kita ke salon, kamu tidak akan yampu sebagai Sarah yang dulu, kamu akan tampil sebagai Sarah, istri David Salim."
Mereka berangkat menuju salon termahal di kota itu, Sarah didandan elegan, belajar kilat menggunakan bahas tubuh yang sopan dan benar di depan umum. Satah tahu ini tantangan tersendiri baginya, menghadapi puluhan pasang mata yang akan menyoroti setiap jengkal yang ada di tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu pasti deg-degan ya?" tanya David.
"Iya, Tuan."
David menutup mulut Sarah, "Satu lagi, ubah cara panggilanmu itu, jangan panggil tuan, panggil Papa," bisik David.
Sarah membelalakkan mata, dia menahan gelak tawanya, pengucapan 'Papa' sungguh aneh baginya.
"Tidak, aku malu, itu sangat sulit diucapkan," ketua Sarah.
"Apanya yang sulit? hanya empat huruf saja 'Papa', sama dengan Tuan, coba kamu praktekkan, bilang 'Papa aku mencintaimu', bilang," David memaksa, dia menggenggam tangan Sarah.
Sarah tetap berat mengucapkannya, malu bercampur segan, pria yang setiap harinya ia panggil "Tuan muda" kini harus beralih panggilan dengan "Papa".
" Ayo Sayang, seperti aku ya, Mama bilang yuk," David kian menggoda Sarah.
Sarah tertawa cekikikan, David ikut tertawa, kisha mereka memang teramat lucu, berawal dari kesalahan inseminasi, dan kini harus dihadapkan dengan tuntutan publik. Sarah mengatur nafas, dia mencoba mengumandangkan kalimat indah seorang istri itu kepada suaminya. Setelah lebih fasih, Sarah melafalkan nya lewat mulut.
Ucapan Sarah itu menggetarkan kedaulatan jiwanya masing-masing, sesaat mereka saling berpandangan.
"Aku juga mencintaimu, Ibu dari anakku," David membalasnya seraya mengusap perut Sarah.
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, gemuruh telepon Gani berkali-kali menyangkut di HP David. Pak Rudi mengencangkan laju mobilnya, mencari jalan pintas agar tidak terjebak macet.
"Kita tidak lama lagi akan sampai, Gani akan menjemput mu, aku akan keluar terlebih dulu, kamu akan ditempatkan sementara diruang tunggu," uang David mewanti-wanti.
Setelah tiba di gedung, David dan Sarah terkejut, ternyata media membludak. David memang cukup di kenal, karena dulu ia pernah berperan sebagai pemain film cilik pada masanya.
"Kamu jangan khawatir, mereka tidak akan berbahaya," ucap David.
__ADS_1
Sesaat mereka menunggu didalam mobil, tidak. lama berselang, ada mobil yang dibawa Gani berdekatan dengan mobilnya. David pindah ke mobil sebelah, sedangkan Gani yang masuk menggantikan posisinya di dalam mobil.
"Sarah, kamu akan ketika perhatian mereka teralihkan ke David, kita akan lewat jalur samping," ujar Gani.
"Iya, Pak Gani."
Terlihat David keluar dari mobilnya, seketika para awak. media mengeremuni putra Pak Salim Atmadja itu. Ketika para awak media mengejar langkah David yang dilindungi puluhan pegawal, Gani bergegas mengeluarkan Sarah dari mobil sebelah. Kepala Sarah ditutupi jaket agar awak media tidak mencurigainya.
"Masuk Sarah, kamu akan menunggu disini, David akan datang membawa kamu keluar, menunjukkan kamu dihadapan publik," kata Gani.
Di bodyguard ditugaskan menjaga Sarah di ruang tunggu, sedangkan Gani kembali keluar, dia mengecek keluarga istrinya yang sudah satu persatu datang dengan perasaan deg-degan.
"Gani, apa sih yang akan diumumkan oleh David? Beneran gak sih skandal David dengan mantannya?" tanya salah seorang dari sepupu David.
"Kita lihat saja nanti Winda," sahut Gani.
Para tante dan om David sudah memasuki gedung, mereka duduk rapi di jajaran kuati yang sediakan untuk keluarga. Gani menyambut satu persatu keluarga yang berdatangan. David duduk menunduk, sebentar lagi tim pengacaranya akan melakukan pembukaan.
Mobil terakhir yang datang ialah mobil Pak Salim bersama Aleta dan Mami Greta. Gani menyambut kedatangan mertua dan istrinya.
"David dimana Gani? kenapa ini?" tanya Pak Salim.
Mami Greta malah tidak bertanya-tanya, raut wajahnya nampak ketakutan, Gani bahkan sesekali melirik ke arah ibu mertuanya yang nampak gelisah.
"Mereka memfitnah anakku, aku yakin itu," Ujar Pak Salim.
"Iya, Pi. Aleta juga tahu itu, ini hanya akal-akalan Fanny dan Samuele," Aleta menambahkan.
Mereka melirik ke Mmai Greta, sejak tadi dari rumah hingga perjalanan, Mami Greta hanya berdiam diri, mulutnya bau beku tak menanggapi skandal yang menimpa putranya.
__ADS_1
"Mami, jangan khawatir gitu ah, aku percaya David bisa menangani ini semua, dan satu lagi, apapun yang diumumkan oleh David, Mami gak boleh turut bersuara disini, jangan menambah kegaduhan ya, Mi.." Aleta mewanti-wanti Mami nya, karena dia dan Pak Salim sudah tahu, David akan mengumumkan pernikahannya dengan Sarah.
"Iya, iya," hanya itu yang diucapkan Maki Greta Pikirannya berkecamuk, seolah sedang tidak fokus berada diantara keluarganya.