
"Kau anak yang tidak menghormati orang tuamu!" Mami Greta menghardik putranya di depan seluruh keluarga besarnya.
"Sabar, Mi. Jangan begitu, David udah dewasa, dia tidak pantas dimarahi didepan umum," ucap Aleta.
"Jika dia sudah dewasa, pasti dia tahu aturan dirinya sebagai anak, dia anak keterlaluan!"
David hanya mendudukkan kepala, dia sudah menerka ssebelumnya bahwa Maminya akan bereaksi demikian. Menikahi gadis yang bukan pilihan Maminya akan menjadi pemicu kemarahan terbesar oleh wanita yang melahirkannya itu.
"Kenapa harus anak itu?! Dia menggoda kamu atau kalian berbuat mesum dibelakang kami?!" Mami Greta tak dapat menahan emosinya. Pengunjung rumah sakit lainnya bahkan mendengar luapan emosi Mami Greta.
Pak Salim menarik tangan Gani, membawa putranya itu segera enyah dari hadapan Maminya.
"Hei, jangan bawa dulu, aku mau minta penjelasan kalian!" Teriak Mami Greta.
"Udah, Mi. Banyak orang disini, tolong jaga harga diri Papi," bisik Aleta.
"Kalian sama saja!" Hardiknya lagi.
Pak Salim membawa David keluar dari rumah sakit, David menjadi linglung, dia menyalahkan dirinya sendiri atas kelalaiannya, seharusnya sejak dulu dia mengatakan sejujurnya kepada Maminya.
"David, kamu akan butuh ekstra sabar untuk menghadapi Mamimu saat ini, ini akan butuh waktu yang sangat panjang," ucap Pak Salim yang selalu bijaksana.
"Sungguh sulit, aku hanya sedang memperjuangkan kehidupanku sendiri, Pi. Andaikan Mami mau mengerti itu," kata David.
Pak Salim meminta David untuk kembali bersama Safah, dia meminta David agar memberikan ruang kepada Mami Greta untuk mengontrol kekecewaannya.
"Setelah Mamimu lebih tenang, barulah kamu dan Sarah ke rumah, menujukkan diri kalian secara kekeluargaan, dan meminta maaf kepada Mamimu," usul Pak Salim.
David menerima saran Papinya, dia memilih kembali ke rumah kontrakannya bersama Sarah. Dia yakin, Sarah juga sedang ketakutan, melihat reaksi pihak keluarganya, tentu membuat istrinya lebih tidak percaya diri. David menelpon ke nomor Gani.
__ADS_1
"Gani, Sarah sudah diantar ke rumah?"
"Sarah belum ke rumah, dia duduk sendiri di taman Jenderal, katanya sedang menenangkan pikiran," sahut Gani di balik telepon.
"Baiklah, aku yang akan. menjemputnya," David memutar balik arah. Dia menuju ke taman yang berada di tepi danau.
Hanya menempuh jarak dua kilometer, David tiba di taman Jenderal, taman umum yang dihimpit di dua danau buatan. Malam hari, danau itu memang nampak indah, lampu taman sengaja dibentuk lingkaran oleh pemerintah.
Dari jauh David melihat Sarah duduk di bangku taman, menghadap ke danau dengan tatapan kosong. Gani menghampiri David, dia memberitahukan bahwa sejak tadi Sarah bersikap seperti itu.
"Gani, kamu ke rumah sakit saja, temani Mami da Kak Aleta, biar aku yang disini bersama Sarah," ucap David.
Gani pun bergegas ke rumah sakit, sedangkan David berjalan perlahan mendekati Sarah. Benar saja, wanita yang sedang mengandung anaknya itu melamun. Matanya sudah bengkak sebab sedari tadi menangis.
"Sarah.." lirih David. Dia duduk disamping Sarah, memandangi wanita itu yang enggan menoleh kepadanya.
Sarah tahu kehadiran David disampingbya, namun pikirannya amat rumit untuk menyambut David dengan senyuman.
Sarah menarik nafas panjang, Lagi-lagi menggunakan hatinya memahami kekecewaan dari pihak keluarga David. Kali ini dia harus mengerti, dan mengerti kesekian kalinya bahwa keluarga terpandang memang memiliki standar bila berurusan dengan pasangan anaknya.
"Buat apa kata maaf Tuan? sebaiknya kata maaf itu untuk keluarga Tuan," ujarnya.
Seketika bibir David kelu, rasa bersalahnya kian menumpuk setelah Sarah mengucapkan kalimat demikian.
"Apakah Tuan pernah memiliki impian?" tanya Sarah tanpa menoleh ke David.
David terhenyak, pertanyaan Sarah mengingatkannya dengan kesakitannya di masa remaja. Ketika dia berusaha untuk meraih impiannya jalur hobby, namun tidak mendapatkan restu dari Maminya sendiri. Sejak kecil, David ingin menjadi atlet pemain basket, tetapi karena bagi Maminya, atlet tjdak memiliki masa depan yang cerah sehingga David di tuntut untuk belajar menjadi penerus perusahaan Papinya.
"Punya, tapi aku sudah lupa itu," jawabnya.
__ADS_1
Sarah tersenyum masam, "Tuan lupa karena hidup Tuan di penuhi berbagai kemudahan, jika berada sebaliknya, pasti Tuan David akan mengalami sakit karena gagal."
David hanya bisa memandangi Sarah, sepasang mata indah istrinya itu masih enggan untuk menatapnya.
"Aku berasal dari Desa, tumbuh dari keluarga yang sangat sederhana, impianku bersekolah setelah itu bekerja, menggantikan Ibu untuk membiayai adik-adikku, impianku bersekolah untuk cerdas Tuan dan membantu membiayai adik-adikku," kata Sarah bercerita.
Bila mengenang impian-impiannya sewaktu di kampungnys, Sarah merasa geli, sebab segala yang di khayal kan hanyalah kemanis kehidupan seorang remaja putri.
"Apa yang kau impikan lagi Sarah? aku akan membantumu menggapainya, kau ingin lanjut sekolah? aku bisa menguruskan ijazah, kau bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, aku akan membantumu, aku akan membayar kesalahanku," ucap David.
Sarah mengeluarkan suara tertawa namun dia menampakkan wajah ingin menangis. Sarah menertawakan David yang selalu saja mengedepankan kekuatan uang. David sungguh bersikap layaknya menguasai segalanya karena memiliki uang, harta, can kekuasaan secara sosial.
"Kamu kenapa Sarah?" tanya David tegas. Dia tidak menyukai sikap Sarah yang menakut-nakutinya.
"Tuan terlalu lucu, tapi juga jahat, kau bahkan tertawa sambil menangis mendengarnya," sahut Sarah dengan mimik wajah yang ingin menangis tetapi mengeluarkan suara tawa.
"Berhentilah bersikap seperti ini, aku akan membayar kesalahanku, aku bisa memberikanmu timau dan keluargamu, berhentilah menakut-nakutiku dengan sikapmu ini, kau sedang mengandung anakku Sarah," kata David setengah membentak. David takut kiamat Sarah melakukan aksi nekat yang dapat membayahakan janinnya.
"Aku bilang, aku memiliki banyak impian, dan aku sudah menyebutkannya dua diantaranya, Tuan David sudah mewujudkan itu, aku menjadi wanita yang cerdas karena aku bisa membeli buku-buku yang aku suka belakangan ini, aku juga mengirimkan uang puluhan juta kepada keluargaku, Tuan David telah mewujudkan impian gadis desa itu," jelas Sarah.
Alis David mengerucut, dia menarik paksa wajah Sarah agar memandanginya.
"Lihat aku Sarah, kamu kenapa? bukankah aku sudah mewujudkan impianmu, apalagi yang kau inginkan? katakan, aku akan berusaha mewujudkannya, asalkan kau benar-benar berdamai denganku, berusaha untuk mengikuti arus hubungan ini," David berharap Sarah tetap bersamanya, mendampinginya dalam mengatasi masalah pernikahan mereka.
Sarah tersenyum masam, dia tahu David memiliki banyak beban yang pendam, sorot mata David yang biasanya dingin menunjukkan bahwa pria itu sedang mengalami cedera mental yang sulit disembuhkan. Namun Sarah tidak dapat mengerti itu selalu, dia juga memiliki ketakutan yang amat sangat terhadap keluarga David.
"Apa impianmu yang ingin kau wujudkan? apakah terlambat untuk mewujudkannya?!" David memaksa Sarah mengatakan impian terbesarnya.
Sarah menatap kedua bola mata suaminya. Dia dapat melihat pantulan wajahnya dibola mata David.
__ADS_1
"Aku ingin menjadi wanita terhormat, yang Dihormati!!"