
Azzura baru saja selesai bersiap. Celana bahan berwarna abu-abu, kemeja putih, dan juga blazer sudah melekat sempurna dia tubuhnya, sepasang sepatu kets, juga kacamata yang tak pernah ketinggalan. Dia segera keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan dengan tas kerja yang biasa dia gunakan.
" Pagi semua," sapa Azzura.
" Pagi sayang," balas sang Ibu.
" Kok sepi, Manda sama Fathan sudah berangkat?"
" Sudah, Manda ada meeting, Fathan ada kelas pagi," jelas sang Ayah yang baru saja masuk ke ruang makan.
" Tumben ayah masih dirumah?" Tanya Azzura saat melihat ayahnya masih dirumah.
" Nggak ke toko?" Tanyanya lagi sambil mendudukkan bokongnya di kursi ruang makan.
" Ayahmu sengaja menunggu mu," jawab sang ibu sambil meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan ayah dan anak itu.
" Menunggu Zura? Untuk?"
" Ya untuk bicara denganmu," balas sang Ibu.
" Anak Ayah ini sangat sibuk sekarang, bahkan untuk sekedar mengobrol dengan Ayahnya saja tidak punya waktu. Apa Ayah harus membuat janji dulu, untuk bisa bicara denganmu?" sindir sang ayah sambil tersenyum. Memang belakangan ini Azzura sangat sibuk, pekerjaan di kantor membuatnya harus berangkat pagi buta dan pulang larut.
" Ahhh,,Ayah. Maafkan anakmu ini, pekerjaan Azzura sangat banyak di kantor," balas Azzura.
" Iya Ayah mengerti, yang terpenting kamu harus tetap jaga kesehatan. Jangan terlalu di forsih, tubuhmu juga perlu istirahat," balas sang Ayah.
" Iya, Yah. Ehmmm sebenarnya apa yang ingin Ayah bicarakan dengan Zura?" Tanya Zura sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Hening
Ayah terlihat menarik napas dan kemudian membuangnya.
" Ayah hanya ingin bertanya, kapan kamu dan nak Harsa menikah?" Tanya Ayah, seketika Azzura menghentikan makannya.
" Kenapa Ayah selalu menanyakan itu, bukankah sudah pernah ku katakan, nanti kalau waktu nya tiba pasti kami akan menikah. Kami masih sama-sama sibuk saat ini," jelas Zura.
" Kalian sudah menjalin hubungan cukup lama, Zura. Dan usia kamu sudah sangat matang, teman-teman mu saja kini sudah banyak yang menikah bahkan punya anak. Janganlah kamu mengejar karier terus, ingat usiamu," Ibu ikut bicara.
" Iya Bu, Zura ngerti," balas Azzura.
" Arga semalam menelpon Ayah, dia bilang saat dia pulang nanti dia akan menikahi adikmu, Manda," jelas sang Ayah.
" Bagus dong kalau gitu," Azzura tampak senang.
" Yang jadi masalah, Manda tidak mungkin menikah sebelum kamu yang menikah," ucap Ibu.
" Kenapa?"
__ADS_1
" Ya mana mungkin kami menikahkan anak kedua kami, sementara anak perempuan pertama kami belum menikah. Apa kata orang nanti?"
" Ahh Ibu, kenapa harus memikirkan omongan orang? Kita yang jalani bukan mereka, kalau Manda dan Arga mau menikah dulu sebelum Zura, itu tidak masalah bagi Zura," balas Azzura.
" Tidak masalah bagimu, tapi bagi kami, terutama bagi nenekmu ini sangat masalah," ucap Ibu lagi.
" Ibumu benar Zura, kamu tahu sendiri kan bagaimana nenek?" Ucap sang Ayah.
" Lalu, Zura harus bagaimana?"
" Ya kamu minta Harsa untuk melamar kamu, kalian harus menikah sebelum Manda. Kalau memang Harsa serius pasti dia tidak keberatan kan?" Ucap Ibu.
" Iya, nanti Zura coba bicarakan dengan Harsa. Ya sudah Zura berangkat sekarang, ada meeting pagi ini," ucap Azzura sambil bangkit tanpa menghabiskan makanannya. Selera makannya seketika menghilang, mendengar permintaan orang tuanya.
" Ibu serius Zura, setidaknya pikiran juga adikmu," ucap Ibu lagi.
" Iya, Bu," balas Azzura sesaat sebelum dia benar-benar meninggalkan rumah.
Pikiran Azzura kacau, moodnya seketika memburuk. Sebenarnya Azzura sendiripun ingin segera menikah dengan Harsa, lelaki yang sudah hampir lima tahun ini mengisi hatinya. Tapi apa daya, saat dia membahas itu dengan Harsa, hanya permintaan untuk bersabar yang keluar dari mulut Harsa.
" Aaaaaaaaaa...." teriak Azzura frustasi.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga ke tempat tujuan Azzura. Sebuah gedung yang berdiri dengan megahnya, tempat nya mengais rejeki selama satu tahun belakangan ini. Azzura segera memarkirkan motor kesayangannya ke tempat parkir.
" Pagi Pak," sapa Azzura pada security tempat itu.
" Pagi juga Non Zura, kok lesu amat, nggak kaya' biasanya," balas sang security.
Sesampainya di ruang kerjanya, Zura segera mengganti sepatu nya dengan high heels. Dia memang selalu seperti itu, andai diperbolehkan dia memilih untuk memakai sepatu kets saat bekerja. Namun sayangnya big no, pernah sekali dia memakai sepatu kets, dan berujung teguran dari sang bos.
" Kamu mau, main atau mau bekerja. Bisakah penampilan mu lebih formal sedikit." Ucap sang bos kala itu.
Selesai merapikan penampilannya, dia memilih untuk memeriksa schedule sang bos. Sejelek apapun moodnya, Azzura tetap berusaha bekerja dengan baik. Apalagi kalau sudah berurusan dengan bosnya yang dingin dan arogan itu.
Sesaat kemudian
" Pagi Tuan Devan, Tuan Martin," ucap Azzura sambil menunduk pada bos dan juga asisten nya yang baru saja datang.
Devan Anggara Hadiwinata, CEO dari perusahaan ternama yang bergerak di bidang konstruksi. Selain tampan dia juga seorang pengusaha muda yang tidak diragukan lagi kehebatannya, terbukti saat perusahaan di pegang olehnya, kemajuannya sangat pesat.
" Hmmmn," balas Devan langsung masuk keruangan nya. Ya begitulah bosnya itu, irit bicara dan juga dingin.
" Pagi juga Nona Zura, " balas Martin setengah berbisik kemudian menuju meja kerjanya yang berada di seberang meja kerja Azzura. Di lantai itu memang hanya terdapat ruangan CEO yang ditempati oleh Devan, ruang meeting dan juga ruangan Azzura dan Martin yang di buat tanpa sekat.
' Zura keruangan saya sekarang,' panggil Devan melalui sambungan telepon.
Azzura bergegas keruangan bosnya itu.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
" Masuk," ucap Devan tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
" Apa schedule saya hari ini?" tanya Devan masih dengan posisi yang sama.
" Jam sepuluh ada meeting dengan Perusahaan Wijaya Group, dan setelah makan siang ada meeting lagi dengan Perusahaan Ageng Group, Tuan," jelas Azzura.
Devan melepas kacamatanya, dan melihat ke arah Azzura.
" Perusahaan Wijaya Group?"
" Iya Tuan."
" Bukankah kemarin saya sudah bilang untuk mengatur ulang satu Minggu lagi meeting dengan perusahaan itu?"
" Kamu ini sudah berapa lama bekerja dengan saya? Bisa-bisanya teledor seperti ini, cepat hubungi mereka, meeting Minggu depan, " ucap Devan marah.
" Baik Tuan, maafkan atas keteledoran saya," balas Azzura.
" Jangan ulangi lagi, kalau kamu masih ingin kontrak kerjamu ku perpanjangan. Sekarang keluar!"
Azzura berjalan gontai meninggalkan ruangan itu, dia langsung menghubungi Perusahaan Wijaya Group untuk membatalkan meeting hari ini.
Martin yang melihat ekspresi Azzura, langsung mendekati nya.
" Kenapa dengan mukamu, Nona?"
" Biasa, bos mu itu membuat mood ku semakin memburuk, hanya karena lupa membatalkan meeting saja dia marah," balas Azzura.
" Kau ini seperti tidak hafal dengan sikapnya, seperti baru sehari bekerja dengannya," ucap Martin.
" Apa aku menggaji kalian hanya untuk ngobrol?" ucap Devan pada Azzura melalui sambungan telepon.
" Shittt," umpat Azzura.
" Ada apa?" tanya Martin.
" Kembali lah ke meja kerjamu Tuan, sejak tadi singa mengintai kita, jangan sampai kita diterkam," jelas Azzura sambil melihat ke ruangan Devan.
" O o, kenapa aku bisa lupa kalau dia bisa melihat kita dari dalam?" balas Martin sambil melihat ke ruangan Devan, dan kini dia bisa melihat tatapan tajam dari teman sekaligus bosnya itu.
" Ya sudah lanjutkan kerjamu," ucap Martin lagi kemudian kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
***
Bersambung