
Devan dan Azzura sedang dalam perjalanan menuju rumah mereka. Sebenarnya Opa meminta mereka untuk menginap, namun Devan menolak nya, karena besok pagi dia ada meeting. Dan kalau harus berangkat dari rumah Opa itu akan memakan banyak waktu, karena jarak rumah Opa dan kantor cukup jauh.
Suasana tampak hening, kedua insan itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
" Ehmmmm, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Azzura pada akhirnya, dia tidak bisa membiarkan dirinya terus penasaran, tentang sebab kenapa Devan sampai saat ini belum memaafkan Naila.
" Katakan," balas Devan.
" Ini tentang Naila," ucap Azzura, sontak membuat Devan yang semula fokus ke jalanan kini beralih menatap nya.
" Aku tadi bertemu dengannya," imbuh Azzura.
" Apa yang dia katakan?"
" Dia meminta tolong padaku, untuk menyampaikan permintaan maafnya padamu. Katanya dia belum bisa hidup tenang, sebelum mendapatkan maaf darimu," ucap Azzura.
" Katanya kamu selalu menghindar dari nya, makanya dia meminta tolong padaku," ucap Azzura lagi.
Devan memilih diam, pikiran kembali ke masa lalu. Saat dia memergoki perselingkuhan Naila dengan sepupunya sendiri.
" Boleh aku tahu kenapa sampai saat ini kamu belum memaafkan nya?" Tanya Azzura penasaran.
" Kamu pernah di khianati kan? Jadi sepertinya aku tidak perlu menjelaskan tentang alasannya," balas Devan.
" Di khianati memang sakit, tapi untuk apa kita menyimpan dendam. Bukankah itu hanya akan terus menyakiti kita sendiri. Mengikhlaskan itu lebih baik menurut ku, kecuali...." Azzura menjeda kalimatnya.
" Kecuali apa?"
" Dia masih ada di hatimu, kamu masih mencintainya," ucap Azzura, Devan hanya diam, membuat Azzura beranggapan kalau memang Devan masih mencintai Naila. Dan itu membuat hatinya sakit.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di rumah. Azzura bergegas masuk, kemudian menuju kamarnya.
Devan yang berjalan di belakang Azzura di buat heran, karena Azzura memilih masuk ke dalam kamarnya yang dulu.
" Kenapa masuk kamar ini?" Tanya Devan saat Azzura hendak membuka pintu.
" Papa, Mama, dan Celine sudah tidak ada disini, jadi aku akan kembali menempati kamar ini," balas Azzura.
" Maaf bisa aku masuk?" Tanya Azzura, karena Devan menghalangi jalannya.
" Siapa yang mengijinkan kamu untuk kembali ke kamar ini lagi?" Ucap Devan, dia tidak rela jika harus pisah kamar dengan Azzura.
" Sekarang masuk ke kamar kita!" Ucap Devan.
" Tidak, aku ingin tidur di kamar ini," balas Azzura, Devan langsung menarik tangan Azzura menuju kamarnya.
" Stop, Dev. Tolong jangan lakukan ini, jangan buat aku terlalu berharap padamu," ucap Azzura setengah berteriak.
" Berharap?"
" Ya aku berharap bisa mendapatkan hatimu, walau itu tidak mungkin aku dapatkan. Karena sampai saat ini didalam hatimu hanya ada Naila. Jadi aku mohon, biarkan hubungan kita tetap seperti dulu, agar aku tidak berharap lebih darimu," ucap Azzura sambil berjalan ke kamarnya dengan menahan air mata. Mendengar semua itu Devan hanya bergeming, dia tidak menyangka kalau selama ini Azzura mengharapkan hatinya.
Tok
Tok
Tok
" Zura!" Panggil Devan.
" Zura tolong buka pintunya, aku ingin bicara," ucap Devan dari balik pintu yang terkunci, namun Azzura tidak menghiraukan nya. Dia memilih menenggelamkan wajahnya di bantal dan menangis sejadinya. Karena tak kunjung mendapat kan respon dari Azzura, dengan langkah gontai Devan memilih untuk kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, Devan sudah siap untuk pergi ke kantor. Saat dia melewati kamar Azzura, tampaknya pintu itu masih terkunci. Dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Azzura.
Sesaat setelah sampai di kantor, meeting segera dimulai, dan semua nya berjalan dengan lancar.
" Tumben Nona Zura tidak berangkat? Apa dia sakit?" Tanya Martin setelah selesai meeting.
__ADS_1
" Kenapa kau perhatian sekali dengan Zura?" Bukannya menjawab, Devan justru bertanya seperti itu pada Martin. Hal itu membuat Martin heran.
" Memangnya salah kalau aku bertanya seperti itu?"
" Salah."
" Salah nya dimana?"
" Kau lupa dia siapa? Dia istri ku jadi jangan sok perhatian sama dia," ucap Devan, membuat Martin tersenyum.
" Aku tahu, makannya aku bertanya seperti itu. Karena Nona Zura tidak pernah mendapatkan perhatian darimu. Jadi biarlah aku saja yang memperhatikan nya," ucap Martin sengaja membuat Devan marah.
" Kau!!" Ucap Devan.
" Kenapa? Tidak ada salahnya kan? Toh kamu juga tidak mencintai nya, pernikahan kalian juga hanya sementara," balas Martin.
" Makanya kalau memang suka, akui saja. Jangan sampai keduluan sama orang lain, wanita seperti Nona Zara itu langka, banyak pria yang ingin mempunyai pasangan sepertinya. Kalau saja aku tidak mengingat kalau kau itu teman ku, sudah ku ambil dia darimu," ucap Martin lagi sebelum meninggalkan Devan.
Di rumah
Azzura mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memulihkan kesadaran. Semalam dia terus saja menangis, dan baru bisa tidur menjelang pagi. Setelah kesadaran nya pulih, dia melihat jam di dinding, dan ternyata sudah pukul 10.00 wib.
" Shiitt, aku telat," ucap Azzura kemudian buru-buru ke kamar mandi dan bersiap.
Selesai bersiap dia langsung turun ke bawah.
" Nona Zura sudah bangun?" Tanya Mbak Nani saat berpapasan dengannya.
" Kenapa tidak ada yang membangunkan ku tadi?" Tanya Azzura.
" Maaf Nona, Tuan yang melarangnya. Tadi Tuan Devan juga berpesan, Nona tidak perlu pergi ke kantor. Katanya suruh istirahat saja," Mbak Nina memberi tahu.
" Haaahhhh, Mbak serius?" Tanya Azzura, Mbak Nina hanya mengangguk.
" Ya sudah kalau nggak perlu ke kantor, lebih baik aku ke tempat Naina saja," ucap Azzura.
" Ada apa Nona?"
" Tidak sarapan dulu, Non?"
" Nggak, nanti aku sarapan diluar. Aku berangkat ya mbak."
Sesampainya di cafe Naina, Azzura langsung di sambut oleh Naina.
" Tumben jam segini udah kesini? Nggak kerja memang?"
" Nggak, kesiangan," balas Azzura.
" Habis ngapain aja kok bisa kesiangan?" Tanya Naina.
" Nggak bisa tidur semalam," balas Azzura.
" Devan yang membuat kamu tidak bisa tidur?"
" Iya dia siapa lagi," balas Azzura sontak membuat Naina langsung tertawa.
" Hahahaha."
" Kenapa tertawa, memangnya ada yang lucu?"
" Nggak, ya aku doakan saja semoga Devan junior segera hadir," ucap Naina membuat Azzura bingung.
" Apa hubungannya?"
" Ya iya ada hubungannya lah, dengan kalian begadang pasti lama kelamaan Devan junior akan hadir," balas Naina, Azzura langsung memukul Naina dengan tasnya saat sadar kemana arah pikiran temannya itu.
" Stop berhenti tertawa, lebih baik kasih aku makanan atau minuman. Aku lapar, belum sarapan," ucap Azzura.
__ADS_1
" Yaahhh kesini cuma numpang makan, percuma dong punya suami kaya, kalau makan masih kesini," gurau Naina.
" Yaahhh aku kan kangen masakan teman ku yang cantik ini," ucap Azzura.
" Ya udah bentar," ucap Naina sambil meminta pegawai nya untuk membawakan makanan dan minuman untuk Azzura.
Sambil menunggu makanan datang Azzura dan Naina berbincang.
" Na, menurut kamu apa alasannya seseorang belum bisa memaafkan mantan kekasihnya yang sudah mengkhianati nya?" Tanya Azzura.
" Kenapa tanya ke aku, kamu kan juga sudah mengalaminya sendiri?"
" Aku mengalami, tapi aku sudah memaafkan Harsa. Sedangkan orang ini belum, padahal peristiwa itu sudah lama sekali," ucap Azzura.
" Memangnya siapa orangnya?"
" Temanku, padahal saat ini mereka sudah punya pasangan masing-masing. Kira-kira apa ya alasan nya? Apa mungkin karena dia masih mencintainya?"
" Bisa jadi, punya pasangan kalau hati kita masih ada nama mantan, itu akan sulit menerima pasangan baru kita. Sebaik apapun pasangan baru kita itu tidak akan terlihat kalau masih ada orang lain di sini,"ucap Naina sambil memegang dadanya.
" Jadi kita harus mencoba membuka hati kita untuk yang lain, ya walau sulit.Memangnya mereka dulu berhubungan lama?"
" Lumayan lama katanya."
" Mungkin dulu dia terlalu mencintai kekasihnya itu makanya dia terlalu sakit hati dan belum bisa ikhlas," balas Naina.
" Ohh, gitu."
Sesaat kemudian makanan sudah siap, Azzura segera melahap nya. Baru beberapa suap, tiba-tiba ada seseorang yang merebut sendoknya.
" Apaan sih?"
" Bagi-bagi dong," ucap seseorang itu, yang ternyata adalah Arga.
" Arga?"
" Yes ini aku Arga teman terganteng, terbaik, yang sebentar lagi akan menjadi adik iparmu," balas Arga sambil mengambil piring Azzura.
" Kapan kau kembali?" Tanya Naina.
" Baru tadi pagi," balas Arga.
" Dan langsung kesini?" Tanya Naina.
" Aku lapar, jadi langsung kesini deh," balas Arga dengan santainya sambil melahap makanan Azzura.
" Dasar memang dirumah kamu nggak ada makanan?" Tanya Azzura.
" Adanya masih mentah, bibi cuti, mama, sudah berangkat kerja."
" Memangnya kamu nggak bilang kalau mau pulang?" Tanya Azzura.
" Nggak."
" Salah sendiri," balas Naina.
" Ehh tapi nggak ambil makanan orang juga kali, pesan sendiri kek," ucap Azzura pura-pura cemberut. Mereka bertiga memang selalu seperti ini kalau sedang berkumpul, bercanda, kadang juga saling berebut makanan, sudah seperti saudara sendiri.
" Iya iya ini, aku sisain satu suap, ak.....ak....ak...," Ucap Arga sambil menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Azzura. Azzura langsung membuka mulutnya dan menerima suap an dari sahabat nya itu.
" Aku...?" Naina merengek.
" Habis, lagian ini kan buatan kamu sendiri Nai," ucap Arga.
" Ohhh gitu ya," ucap Nania pura-pura merajuk.
Tanpa mereka sadari sejak tadi ada yang terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
__ADS_1
***
Bersambung