
Semua pekerjaan Martin akhirnya selesai juga. Dia bergegas meninggalkan kantor untuk pulang ke rumah.
Dalam perjalanan, tanpa sengaja Martin melihat sosok yang dia kenal di tepi jalan sedang mengutak-atik mobil. Martin kemudian menepikan mobilnya dan menghampiri orang itu.
" Nona Naina, ada masalah?" Tanya Martin.
" Tuan Martin, oh ini mobil saya tiba-tiba mogok, padahal saya sedang buru-buru. Sejak tadi juga tidak ada taxi yang lewat," balas Naina.
" Kalau begitu biar saya antar saja bagaimana? Nanti mobil Nona biar di ambil orang bengkel," ucap Martin.
" Apa tidak merepotkan Anda, Tuan?"
" Tidak sama sekali, mari," ucap Martin sambil mempersilahkan Naina masuk ke dalam mobilnya.
Mobil perlahan melaju, Naina merasa tidak enak dengan Martin. Sedang Martin, saat ini sangat bahagia, karena bisa satu mobil dengan wanita yang selama ini dia sukai.
" Ke arah mana lagi, Nona?" Tanya Martin pada Naina.
" Perempatan itu belok kiri, Tuan. Tempat nya kurang lebih 200 meter dari perempatan itu," jelas Naina, Martin mengikuti arahan dari Naina.
Sesaat kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai juga di tempat tujuan, Naina segera turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih pada Martin.
" Sayang," ucap Naina pada seorang gadis kecil yang sejak tadi sudah menunggu nya di pos satpam.
" Mamaaaaa," teriak gadis kecil itu sambil berlari memeluk mamanya.
" Maaf sayang, mobil mama mogok. Jadi telat deh jemput nya," ucap Naina.
" It's ok, Ma," balas gadis kecil yang bernama Keysa itu.
" Ya sudah kalau gitu kita langsung pulang aja yuk. Pak kami pamit ya, makasih sudah jagain Eca," ucap Naina pada Satpam di tempat itu.
" Iya Non sama-sama, hati-hati ya Non Eca cantik," ucap Pak satpam.
Mereka berdua langsung ke pinggir jalan untuk menunggu taxi, tapi tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan mereka.
__ADS_1
" Tuan Martin, anda masih disini?" Tanya Naina.
" Di sini sulit untuk mencari taxi, jadi aku memutuskan untuk menunggu anda, Nona," balas Martin.
" Siapa uncle ini Ma?" Tanya Eca, sontak membuat Martin kaget, karena anak itu memanggil Naina , mama.
" Teman Mama, sayang. Oh ya Tuan kenalkan ini Keysa, anak saya," ucap Naina.
" Hai Keysa, saya Martin," ucap Martin.
"Keysa uncle, tapi biasa di panggil Eca," balas Keysa.
" Ya sudah mari saya antar kalian," ucap Martin, dengan terpaksa Naina mengikutinya.
Keysa meminta untuk duduk di depan di samping Martin. Dengan senang hati Martin mengijinkan nya. Perlahan mobil yang di kendarai Martin meninggalkan tempat itu.
Didalam mobil Keysa sama terus saja berbicara, dia bercerita tentang sekolahnya, temannya, pada Martin. Hal ini membuat Naina merasa tidak enak.
" Sayang, kenapa kamu terus bicara? Kamu bisa mengganggu konsentrasi uncle Martin kalau bicara terus," ucap Naina yang duduk di kursi belakang.
" Nggak masalah Nona, saya justru senang," balas Martin.
" Oh ya uncle, uncle mau nggak jadi Papanya Eca?" Tanya Keysa sontak membuat Martin dan Naina kaget dengan pertanyaan Keysa itu.
" Sayang jangan bicara yang aneh-aneh. Maafkan Eca, Tuan," ucap Naina merasa tidak enak.
" Ya kan Eca juga pengin punya Papa, Ma. Sama seperti teman-teman Eca, mereka bisa bermain sama Papa mereka, sedangkan Eca hanya bisa bermain sama Mama dan Oma saja," balas Keysa sambil menunduk menahan tangis.
" Kan masih ada aunty Zura, aunty Manda, uncle Fathan, uncle Arga, Kakek sama nenek sayang. Kamu bisa bermain dengan mereka kan?" Ucap Naina.
" Eca maunya Papa, Ma. Lagian mereka kan tidak tinggal bersama kita, mama juga sibuk kerja, dirumah hanya ada Eca sama Oma saja. Kalau Eca punya Papa kan, dia bisa tinggal sama kita, Mama nggak perlu kerja, Mama akan menemani Eca. Eca juga tidak akan di ejek sama teman-teman Eca karena Eca nggak punya Papa," ucap Eca sambil menangis. Mendengar semua itu membuat hati Naina sakit, begitupun denga Martin dia tidak tega melihat anak kecil itu menangis.
" Sekarang kan juga ada uncle, uncle kan teman Eca. Kalau misal Mama Eca sibuk, uncle bisa kok menemani Eca bermain," ucap Martin sambil mengelus kepala Keysa.
" Uncle serius?" Tanya Eca sambil mendongakkan kepalanya menatap Martin.
__ADS_1
" Tentu, kapanpun Eca mau, uncle siap untuk menemani Eca. Jadi sekarang Eca jangan sedih lagi," ucap Martin.
" Beneran uncle, kapanpun?" Tanya Keysa lagi memastikan, di balas anggukan oleh Martin.
" Sekarangpun juga bisa, Eca mau kemana?"
" Ke taman, boleh?" Tanya Keysa.
" Sayang uncle Martin kan harus pulang," ucap Naina.
" Nggak apa-apa Nona. Boleh dong sayang," ucap Martin.
Martin kemudian melaju kan mobilnya menuju taman yang di maksud Keysa. Sesampainya di sana mereka bertiga segera turun. Keysa langsung mengajak Martin untuk bermain bersamanya, sedang Naina memilih duduk di bangku taman itu. Melihat keakraban mereka membuat Naina sedih sakaligus bahagia.
" Maaf sudah merepotkan Anda, Tuan," ucap Naina saat Martin ikut duduk di sampingnya. Sedang Keysa saat ini bermain dengan anak-anak pengunjung taman itu, Keysa memang anak yang cepat akrab dengan siapapun.
" Sama sekali tidak, Nona," balas Martin.
" Eca belum pernah melihat Papanya. Kami bercerai saat Eca masih di dalam kandungan. Mungkin karena itu Eca bersikap seperti ini," jelas Naina sambil tetap memperhatikan Keysa dari kejauhan.
" Bercerai?"
" Laki-laki itu dulu menikah denganku karena orang tuaku kaya, dan setelah orang tuaku bangkrut dia memilih untuk meninggalkan ku. Itu salahku, aku tidak pernah mendengar kan perkataan orang tua dan teman-teman ku. Padahal mereka sebelum nya sudah mengingatkan ku kalau laki-laki itu bukan laki-laki yang baik. Mungkin bisa di bilang saat itu aku terlalu di butakan oleh cinta. Sejak itulah hidupku hancur, kejadian itu membuat Papaku meninggal, Untung saja aku punya Arga, Zura dan juga keluarga Zura, mereka lah yang membuatku bangkit. Merekalah yang selalu ada di masa sulit ku," jelas Naina dengan menahan tangis mengingat kejadian itu.
" Menangis lah kalau kau ingin menangis, Nona," ucap Martin sambil memberikan sapu tangan pada Naina.
" Terima kasih, maaf tidak seharusnya saya mengatakan ini pada, Anda," ucap Naina sambil menyeka air matanya.
" Tidak masalah, Nona." Balas Martin.
" Aku tidak menyangka, ternyata di balik keceriaan yang selalu anda tampilkan ada luka yang sangat besar, dan Anda bisa menutupinya dengan baik, seolah anda baik-baik saja. Anda wanita yang tangguh, Nona," ucap Martin.
" Keadaan yang membuat saya seperti ini. Memperlihatkan penderitaan kita pada orang lain, tidak ada gunanya, Tuan. Dan saya memang harus menjadi tangguh untuk Eca dan Mama saya, bukan?" balas Naina, membuat Martin semakin mengagumi wanita itu.
Martin lebih bersemangat untuk mendapatkan Naina, dia berharap bisa mengobati luka hati Naina dan menjadi Papa yang baik bagi Keysa. Padahal tadi Martin sempat kecewa saat mengetahui Naina sudah punya anak, dan itu berarti Naina sudah bersuami. Tapi setelah dia mengetahui kalau Naina single parents, tekadnya untuk mendapatkan hati Naina semakin kuat.
__ADS_1
***
Bersambung