Secretary For Life

Secretary For Life
Wanita Kuat


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Devan sudah sampai di sebuah pantai. Ya memang Devan sengaja mengajak Azzura ke tempat itu, berharap perasaan Azzura bisa sedikit membaik.


" Pantai?" Tanya Azzura pada Devan.


" Kenapa Tuan membawa saya kesini?" Tanya Azzura lagi.


" Ya mungkin dengan kesini, perasaanmu bisa lebih baik," balas Devan.


" Aku baik-baik saja Tuan, seharusnya anda tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap Azzura.


" Sudahlah, lebih baik kita turun, kita sudah sampai sejauh ini. Setidaknya nikmati dulu suasana pantai ini," ucap Devan sambil keluar dari mobilnya, di ikuti oleh Azzura.


Mereka duduk di tepian pantai, diatas pasir putih. Suasana tampak hening hanya suara deburan ombak yang terdengar.


" Maaf, andai aku tidak memaksa mu untuk menemaniku ke acara tadi, pasti kau tidak akan seperti ini," ucap Devan merasa tidak enak.


" Huuuhhhh, justru aku berterima kasih pada anda, Tuan. Karena anda kini saya tahu siapa Harsa." Ucap Azzura tanpa menoleh sedikitpun ke arah lawan bicaranya, matanya tetap memandang lurus ke arah lautan.


" Apa kau tidak sedih?" Tanya Devan, dia heran karena sejak tadi tidak ada setetes air mata yang keluar dari mata Azzura.


" Sedih, sudah pasti. Kami menjalin hubungan sudah cukup lama, 5 tahun. Berjanji untuk saling setia, tapi nyatanya pengkhianat yang saya dapat, miris bukan?"


" Kenapa kau tadi memilih pergi tanpa meminta penjelasan darinya? Mungkin dia punya alasan."


" Untuk apa, semua yang saya lihat sudah cukup menjelaskan posisi saya."


" Saya salut padamu," ucap Devan.


" Kenapa?"


" Jika wanita lain di posisi mu, pasti dia langsung menangis, bahkan melabrak dan menghancurkan pesta itu. Tapi hal itu tidak kau lakukan, jangankan merusak pesta, setetes air mata pun tak jatuh dari matamu."


" Saya bukan tipe wanita seperti itu Tuan, sesedih apapun saya bukan tipe orang yang bisa menangis dihadapan orang lain. Saya juga tidak ingin mempermalukan diri saya sendiri."


" Orang tua Harsa memang sejak awal tidak menyukai saya, karena kelas kami berbeda. Mereka orang kaya, sedang saya hanya orang biasa. Saya tahu diri, sempat saya ingin mundur, percuma mempertahankan hubungan tanpa restu orang tuanya. Tapi dia selalu meyakinkan saya untuk bersabar, dia bilang pada saya kalau suatu saat orang tuanya pasti menyetujui hubungan kami. Dan bodohnya saya percaya itu," ucap Azzura teringat akan pertemuan nya dengan orang tua Harsa beberapa tahun yang lalu. Dia masih ingat bagaimana orang tua Harsa menghinanya kala itu hanya karena mereka tidak selevel, dan menganggap Azzura hanya ingin harta Harsa saja.


" Maaf, tidak seharusnya saya mengatakan ini pada anda," ucap Azzura saat sadar apa yang dia katakan.


" Tidak masalah jika itu bisa membuatmu sedikit lega." Balas Devan.


" Ckckck. Kenapa masih ada orang berpikiran sempit seperti itu? Mereka pikir harta itu segala nya," batin Devan geram.

__ADS_1


Keduanya kembali diam, larut dalam pikiran mereka masing-masing.


" Lebih baik kita pulang saja Tuan," ucap Azzura.


" Apa perasaan mu sudah lebih baik?" Tanya Devan dibalas anggukan oleh Azzura.


" Baiklah," ucap Devan sambil berdiri.


Devan Daan Azzura sudah berada di dalam mobil. Devan fokus ke jalanan dengan sesekali melirik ke arah Azzura, sedang Azzura memilih untuk mengalihkan pandangannya ke luar.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di rumah Azzura. Azzura turun dari mobil.


" Terima kasih, Tuan," ucap Azzura.


" Sama-sama, untuk motor dan barang-barangmu besok biar di bawa ke kantor," ucap Devan.


" Iya, sekali lagi terimakasih kasih." Ucap Azzura kemudian melangkah masuk.


" Azzura!" Panggil Devan membuat Azzura menoleh kebelakang.


" Tangguh itu bukan tidak pernah menangis, jadi jangan pernah malu untuk menangis, menangis itu manusiawi, tapi jangan berlebihan," ucap Devan lagi, entah kenapa dia merasa ikut sedih dan juga khawatir atas apa yang terjadi pad Azzura.


Azzura bergeming, berusaha mencerna kata-kata Devan, sampai sebuah suara mengejutkannya.


" Ayah? Kenapa belum tidur?" Tanya Azzura berusaha bersikap biasa, dia kemudian menghampiri ayahnya.


" Apa lagi kalau tidak menunggu mu." Ucap Ayah.


" Hehehe, maafkan Zura."


" Ya sudah ayo masuk, sudah malam. Apa kamu sudah makan, perlu ayah buatkan sesuatu?" Tanya ayah sambil menggandeng tangan puterinya. Devan bisa melihat interaksi ayah dan anak itu, dan ini membuatnya semakin salut pada Azzura, dia benar-benar wanita yang kuat.


" Menurut ayah kalau anakmu ini ke pesta apa mungkin akan menyia-nyiakan makanan enak yang ada di sana," ucap Azzura sambil tersenyum, sang ayah pun ikut tertawa.


" Hahahaha, kamu benar, kenapa ayah bisa lupa?"


" Faktor U mungkin," balas Azzura.


" Faktor U?"


" Iya usia, ayah kan sudah tua, heheheh."

__ADS_1


" Maka dari itu kamu cepat menikah," ucap sang ayah sambil menutup pintu rumah. Membuat Azzura kembali bersedih, bagaimana kalau ayahnya tahu keinginan itu tidak mungkin dia wujudkan dalam waktu dekat ini. Dan bagaimana dengan nasib Manda dan Arga, gara-gara dia pasti pernikahan mereka juga terancam gagal.


" Do'akan saja yah, biar Zura cepat menikah, ya sudah Zura ke kamar dulu ya, sudah ngantuk. Selamat malam ayah," ucap Azzura bergegas meninggalkan ayahnya, jika terlalu lama dengan ayahnya dia takut air mata yang sejak tadi dia tahan akan tumpah.


***


Keesokan harinya Azzura sudah bersiap ke kantor. Suasana rumah sudah sepi, sepertinya seluruh anggota keluarga sudah berangkat. Ini membuat Azzura sedikit lega, setidaknya mereka tidak akan melihat kondisi Azzura yang sangat menyedihkan saat ini. Semalaman Azzura tidak tidur, dia hanya terus menangis hal itu menyebabkan matanya sembab.


Sesampainya di kantor, Azzura langsung berkutat dengan pekerjaannya. Sebenarnya dia masih malas, tapi dia hanya ingin bersikap profesional.


" Selamat pagi, Nona Zura," sapa Martin yang saat itu datang bersama Devan.


" Pagi Tuan," ucap Azzura sambil menunduk.


Devan langsung masuk ke dalam ruangan, Martin juga langsung menuju meja kerjanya. Dari dalam ruangan, Devan terus saja memperhatikan Azzura, dia khawatir dengan wanita itu.


" Dev, kau tahu tidak?" Ucap Martin yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Devan.


" Apa?"


" Yang semalam bertunangan dengan puteri Tuan Wijaya itu ....." Martin belum selesai bicara dan langsung di potong oleh Devan.


" Aku sudah tahu." Balas Devan.


" Terus, Nona Zura sudah tahu?" Tanya Martin di balas anggukan oleh Devan.


" Ya Tuhan, terus bagaimana?" Tanya Martin.


" Menurutmu bagaimana?" Balas Devan.


" Pasti perasaan nya saat ini sangat hancur."


" Itu sudah pasti, kami bisa lihat sendiri bagaimana kondisinya saat ini?" Ucap Devan sambil kembali melihat ke arah Azzura, begitupun dengan Martin.


" Tapi aku salut padanya, dia benar-benar wanita kuat. Andai wanita lain yang ada di posisi nya saat itu, pasti dia sudah menangis bahkan mengamuk ditempat. Tapi Azzura tidak melakukannya."


" Jangankan wanita, pria saja bisa berhari-hari mengurung diri, sedang Nona Zura di kondisinya seperti ini, dia tetap bekerja," ucap Martin.


" Apa kau menyindir ku?" Tanya Devan sambil menatap tajam Martin.


" Tidak," balas Martin kemudian memilih keluar dari ruangan Devan sebelum terjadi hal yang tidak di inginkan.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2