
Pekerjaan Devan sudah selesai, dia memutuskan untuk segera pulang. Dia menghampiri Azzura di kamar, dan ternyata Azzura tertidur. Awalnya Devan berniat untuk membangunkan Azzura, tetapi saat dia melihat wajah polos Azzura saat tertidur membuatnya tidak tega membangunkannya. Sesaat Devan memandangi wajah Azzura, ada rasa hangat yang menjalar dalam dadanya.
Tanpa Devan sadari, Devan tersenyum sendiri melihat wajah itu. Perlahan tangannya bergerak untuk menyentuh wajah itu. Membelai setiap inci wajah Azzura, mulai dari rambut, mata, pipi, hidung, dan berakhir di bibir Azzura. Dan tiba-tiba hhmmpptt, Devan mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Azzura. Devan mulai menikmati ciuman itu, dia mengeksplor seluruh bibir Azzura, hal ini membuat Azzura bangun.
Betapa kagetnya Azzura saat melihat siapa dan apa yang sedang dilakukan oleh lelaki di hadapannya itu kepadanya. Namun hal ini tidak membuat Devan menghentikan aktivitas nya, dia justru menarik tengkuk Azzura dan terus menikmati bibir Azzura. Azzura yang semula canggung, kini justru menikmati dan membalas permainan Devan itu.
Tok
Tok
Tok
" Dev, kamu di dalam? " panggil Martin dari balik pintu, membuat keduanya menghentikan aktivitas mereka. Devan langsung merapikan pakaian nya, begitu dengan Azzura dia segera mengancingkan bajunya yang sempat terbuka karena ulah Devan.
" Dev?" Ucap Martin lagi sambil membuka pintu.
" Ohhh sorry," ucap Martin lagi, kemudian keluar dan menutup pintu.
" Silahkan dilanjutkan, aku mau pulang," ucap Martin lagi dari balik pintu sambil tersenyum.
Setelah kepergian Martin, Devan dan Azzura tampak canggung. Devan bingung kenapa dia bisa lakukan itu pada Azzura.
" Lebih baik kita juga pulang," ucap Devan pada akhirnya.
" Ya."
***
Sesampainya dirumah, ternyata Martin juga ada di sana. Dia terpaksa mengantarkan Celine, karena tadi Celine bersikeras untuk menunggu Azzura.
" Sudah?" Tanya Martin.
" Hah?"
" Sudah itunya?" Ucap Martin lagi sambil tersenyum.
" Sudah apanya kak?" Tanya Celine.
" Saya masuk dulu," ucap Azzura memilih untuk menghindari Martin, dia merasa malu.
" Tunggu kak Zura," Celine memilih untuk mengikuti Azzura.
" Kalian tadi kemana? Kata kak Martin kalian nggak ada diruangan Kak Devan?" Tanya Celine saat sudah berada di kamar Devan.
" Oh tadi kami ke kantin, iya ke kantin," bohong Azzura.
__ADS_1
" Kantin? Kok kita nggak bertemu?"
" Oh tadi aku ke toilet dulu, mungkin kau sudah kembali saat aku kesana," ucap Azzura lagi.
" Masa' sih?"
" Iya, sudah lebih baik kamu ke kamar mu, aku mau mandi dulu," ucap Azzura sambil mendorong Celine keluar dari kamarnya. Dia kemudian menutup pintu dan langsung masuk ke kamar mandi. Namun bukanya langsung mandi, Azzura justru terusa saja memandangi wajahnya dari cermin dalam kamar mandi. Dia tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi.
" Stop Zura, stop. Ingat jangan berharap lebih!! Devan mencium mu bukan berarti dia juga mencintaimu." Ucap Azzura pada dirinya sendiri.
Sedangkan di tempat lain, Martin terus saja menggoda Devan.
" Apa yang sedang kalian lakukan tadi?" Tanya Martin.
" Ckckck, kau ini lain kali jangan masuk tanpa ijin, mengerti!" Ucap Devan kesal.
" Ohhh sorry. Tapi salah kalian juga, ngapain bermesraan di kantor kaya' nggak ada tempat lain aja," ucap Martin.
" Kantor kantor aku, jadi ya suka suka akulah. Sudah lebih baik kau pulang sana," ucap Devan kesal.
" Mau lanjut dirumah ya?" bisik Martin, membuat Devan tambah kesal. Dia langsung menatap tajam ke arah Martin.
" Ok ok, aku pulang sekarang. Silahkan di lanjut, aku tunggu kabar baiknya," ucap Martin sambil berlari meninggalkan Devan.
" Sial," ucap Devan kemudian memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, bertepatan dengan Azzura yang keluar dari kamar mandi.
" Martin sudah pulang, aku mau mandi," ucap Devan sambil berjalan menuju kamar mandi.
Sesaat kemudian, Devan sudah selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang nya.
" Aaaaaaaaaa," teriak Azzura saat melihat pemandangan itu, dia langsung membalikkan badannya.
" Kenapa kamu tidak memakai baju? Kamu sengaja ya, semalam tiba-tiba tidur denganku, tadi sudah mencuri ciuman dari ku dan sekarang malah nggak pakai baju. Kamu sengaja ya?" ucap Azzura.
" Sengaja? Sengaja apa maksudmu?"
" Sengaja menggodaku, sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Azzura.
" Tapi kamu senang kan," bisik Devan ditelinga Azzura, entah sejak kapan lelaki itu sudah berada di sana.
" Ihhhh ti...tidak, siapa bilang? Sudah sana pakai bajumu, kamu sudah menodai mata suciku," ucap Azzura lagi, membuat Devan tersenyum dengan tingkah Azzura.
" Ya Tuhan, kalau aku terus sekamar dengan Devan bisa jadi jantungku benar-benar meledak . Ayolah Zura, ingat kata Devan jangan berharap lebih, ok. Tapi bagaimana, dia benar-benar menarik, andai andai. Ahhh sudahlah, jangan ber andai-andai. Sampai kapanpun status pernikahan kalian hanya sebuah kontrak, Azzura," Batin Azzura sambil memegang dadanya.
***
__ADS_1
Devan dan Azzura dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Hadiwinata, untuk menghadiri acara ulang tahun Opa. Orang tuanya dan juga Celine sudah berangkat terlebih dahulu.
" Nanti jangan kaget kalau bertemu keluarga Hadiwinata, sikap mereka sangat berbeda dengan Papa dan Mama. Mereka tipe orang yang melihat orang lain berdasarkan status sosial, kecuali Opa. Itulah yang membuat ku malas bertemu mereka," jelas Devan.
" Ya aku mengerti, tenang saja. Aku tahu cara menghadapi orang-orang seperti itu," balas Azzura.
Sesaat kemudian mobil yang di kendarai Devan sudah sampai di kediaman Hadiwinata. Disana sudah ramai dengan anak cucu dan juga kerabat Opa.
Devan dan Azzura segera masuk ke dalam rumah Opa. Opa yang melihat kedatangan cucu kesayangan langsung menghampiri.
" Devan, Zura, Opa senang kalian datang," ucap Opa sambil bergantian memeluk cucu dan cucu menantunya itu.
" Selamat ulang tahun Opa, do'a terbaik untuk Opa," ucap Devan pada Opanya.
" Terima kasih, nak."
" Selamat ulang tahun Opa, ini kami ada sesuatu untuk Opa," ucap Azzura sambil menyerahkan sebuah kado untuk Opa.
" Terima kasih nak, sebenarnya Opa akan sangat bahagia kalau kalian segera memberikan Opa cicit," ucap Opa, membuat Devan dan Azzura salah tingkah.
" Do'akan saja Opa," balas Devan.
" Ya sudah ayo masuk," ajak Opa, Devan dan Azzura mengikuti nya.
Di dalam, semua keluarga besar sudah berkumpul, mereka saling berbincang satu sama lain.
" Devan, ini istri mu?" Tanya seorang wanita yang tak lain adalah istri dari anak pertama Opa.
" Iya, Tante. Kenalkan Azzura, istri Devan," balas Devan.
" Arimbi, Tantenya Devan. Lebih tepatnya istri dari Antoni, anak tertua sekaligus pewaris keluarga Hadiwinata," ucap Tante Arimbi sombong sambil mengamati penampilan Azzura dari atas sampai bawah.
" Oh ya maaf, kami tidak bisa menghadiri pernikahan kalian waktu itu. Maklum kami kan orang sibuk," ucap Tante Arimbi.
" Tidak masalah, Tan." Balas Devan.
" Tapi Tante senang, akhirnya kamu bisa move on dari Naila. Setidaknya dengan begitu kamu tidak akan mengusik pernikahannya lagi," ucap Tante Arimbi.
" Naila?" Ucap Azzura lirih sambil menatap Devan.
" Kamu belum tahu, siapa Naila?" Tanya Tante Arimbi.
" Naila itu...."
***
__ADS_1
Bersambung