Secretary For Life

Secretary For Life
Pernikahan


__ADS_3

Hari ini, pernikahan Devan dan Azzura di gelar di sebuah hotel mewah milik Devan . Keluarga Azzura awalnya kaget, karena bukan Harsa yang datang untuk melamar Azzura. Untung saja mereka bisa menerima setelah mendengar penjelasan dari Azzura, Azzura beralasan kalau sebenarnya dia dan juga Harsa sudah lama putus.


Setelah proses akad nikah selesai, Devan dan Azzura melakukan jumpa pers untuk memberikan klarifikasi tentang gosip yang beredar belakangan ini. Dan akhirnya nama Devan dan juga Martin sekarang sudah benar-benar bersih.


Semua acara sudah selesai, kini para anggota keluarga perlahan meninggalkan hotel menuju rumah masing-masing, begitupun dengan Devan dan Azzura.


Devan membawa Azzura ke rumah mewah nya. Azzura tampak takjub saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah itu, "benar-benar seperti istana," batin Azzura.


" Kenapa bengong disitu, ayo masuk," ucap Devan mengagetkan Azzura.


Azzura mengikuti Devan dari belakang, saat mereka masuk, mereka langsung disambut oleh para pelayan yang bekerja di rumah itu.


" Selamat datang Tuan, Nona," ucap para pelayan itu.


" Hemmm," balas Devan, sedangkan Azzura hanya mengangguk sambil tersenyum.


" Banyak sekali pelayannya," batin Azzura sambil menghitung pelayan di rumah itu, totalnya ada tujuh orang termasuk dengan satpam yang berjaga didepan, empat perempuan dan tiga laki-laki.


" Ini para pekerja di sini," ucap Devan.


" Perkenalkan saya Nani, Nona, kepala pelayan dirumah ini. Ini Mirna, dia koki disini. Ini Lela dan Tuti, mereka bertugas untuk membersihkan rumah ini. Dan itu Pak Karyo, tukang kebun. Itu Pak Budi, sopir, dan yang di depan tadi Pak Hari, satpam di rumah ini," ucap Nani, memperkenalkan.


" Saya Azzura, senang bertemu kalian," ucap Azzura ramah.


" Kalau anda butuh sesuatu, silahkan panggil kami, Nona," ucap Nani lagi.


" Iya terima kasih."


" Sudah cukup perkenalannya, sekarang kembali bekerja. Dan kau Nani, antar kan Azzura ke kamarnya," ucap Devan dingin sambil berlalu begitu saja. Ya memang Devan dan Azzura memutuskan untuk pisah kamar selama mereka menikah.


" Baik Tuan, mari Nona," balas Nani.


Azzura mengikuti Nani dari belakang.


" Ini kamar Nona," ucap Nani sambil membuka kan pintu kamar Azzura.


" Yang di sebelah kamar Nona ini, kamar Tuan Devan," Nani menjelaskan.


" Oh iya, terima kasih Mbak Nani," balas Azzura, menurut Azzura usia Nani diatasnya, jadi dia memilih untuk memanggilnya Mbak Nani.


" Panggil saya Nani saja, Non. Tuan juga biasa memanggil saya begitu," ucap Nani.


" Tapi saya nggak bisa kalau harus seperti Tuan. Saya panggilnya Mbak Nani saja," ucap Azzura.


" Baiklah, terserah Nona. Kalau begitu saya permisi ya Non, kalau Nona butuh apa-apa jangan sungkan untuk memanggil kami. Nona bisa panggil kami melalui telepon itu," ucap Nani.


" Iya."


Selepas kepergian Nani, Azzura segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan lagi-lagi dia di buat takjub, melihat kamar mandi yang ada di kamarnya itu, benar-benar mewah.

__ADS_1


" Sekaya apa sih Tuan Devan itu, sampai kamar mandi saja semewah ini?"batin Azzura.


Selesai membersihkan diri, Azzura memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasa lelah membuat matanya perlahan terpejam. Sampai sebuah sentuhan membangunkannya, ternyata itu adalah Nani. Dia memberitahu kalau Devan sudah menunggu nya di meja makan, untuk makan malam.


Azzura segera turun, menghampiri Devan yang sudah menunggu nya.


" Selamat malam, maaf sudah membuat anda menunggu," ucap Azzura. Devan tidak langsung menjawab, dia hanya memperhatikan penampilan Azzura dari atas sampai kebawah. Celana training, kaos longgar, rambut di ikat asal-asalan, dan tak lupa kacamata yang selalu ikut kemampuan Azzura pergi, itulah penampilan Azzura malam ini. Merasa diperhatikan, Azzura merasa risih.


" Maaf, penampilan saya kalau di rumah memang begini, Tuan. Apa anda keberatan, kalau iya saya akan ganti," ucap Azzura merasa tidak enak.


" Tidak masalah, duduklah, mari makan," ucap Devan.


" Panggil saja saya Devan," ucap Devan di sela makannya.


" Memangnya tidak apa-apa, Tuan?"


" Tidak masalah, kau harus membiasakan itu. Aku tidak mau orang tua kita curiga dengan pernikahan ini."


" Ok baiklah," balas Azzura.


" Dan ya, pakai lah ini untuk kebutuhan mu," ucap Devan sambil menyerahkan black card pada Azzura.


" Tidak perlu Tu...eh maaf Devan, sayakan bekerja, saya punya penghasilan sendiri," ucap Azzura hendak mengembalikan kartu itu.


" Simpan saja uangmu, ini sudah kewajiban ku," ucap Devan sambil berlalu begitu saja.


" Kewajiban?,tapi kan ini cuma pernikahan bohongan. Kenapa dia bawa-bawa kewajiban segala, ahh jangan-jangan setelah ini dia akan meminta haknya," batin Azzura sambil meletakkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya.


" Hehehe," Azzura meringis sambil menurunkan tangannya.


***


Keesokan harinya, Devan dan Azzura melakukan aktivitas seperti biasanya. Mereka berdua berangkat kekantor bersama.


Sesampainya di kantor, Azzura di buat risih dengan tatapan para karyawan yang sejak tadi memperhatikan mereka.


" Ehhhhhh pengantin baru, udah kerja aja," ledek Martin.


" Lalu?"


" Ya bulan madu kek, ajak Nona Zura jalan-jalan kemana gitu," ucap Martin.


" Aku sibuk, dan kau tahu kan alasan kami menikah karena apa? Jadi..."


" Iya deh iya, nggak perlu di jelaskan," balas Martin langsung memotong pembicaraan Devan yang sudah tampak kesal itu.


Devan masuk ke dalam ruangannya, begitupun dengan Martin dan Azzura, mereka juga langsung menuju meja kerja mereka masing-masing. Mereka langsung berkutat dengan pekerjaan masing-masing.


Pukul 11.15 wib

__ADS_1


" Nona Zura, apa kau sibuk?" Tanya Martin.


" Tidak begitu sibuk Tuan, memangnya kenapa?"


" Bisa minta tolong, berikan berkas ini ke bagian keuangan. Pekerjaan ku masih banyak soalnya," ucap Martin.


" Oh, ok."


" Terima kasih, Nona. Maaf merepotkan," ucap Martin.


" Sama sekali tidak, Tuan," balas Azzura kemudian meninggalkan tempat itu menuju bagian keuangan.


Sesampainya ditempat yang di tuju, Azzura langsung memberikan berkas itu.


" Zura tunggu!" Panggil Naya saat melihat Azzura.


" Ke kantin bareng yuk," ajak Naya.


" Memangnya jam berapa ini?" Tanya Azzura sambil melihat jam tangannya.


" Sudah saatnya makan siang rupanya, boleh," ucap Azzura lagi. Mereka kemudian menuju kantin yang ada di perusahaan itu. Suasana tampak ramai dengan para karyawan yang hendak mengisi perut mereka.


" Btw selamat ya Zura atas pernikahan kamu. Aku nggak nyangka, kalau kamu sekarang udah jadi Nyonya Devan," ucap Naya, saat mereka sedang menunggu pesanan.


" Aku sendiri aja nggak nyangka, apalagi kamu," balas Azzura.


" Bagi tipsnya dong," ucap Naya.


" Tips apaan?"


" Ya tips biar dapat suami, sekeren bos kita itu," ucap Naya.


" Nggak ada tips kok."


" Ahhh Zura pelit," balas Naya sambil mencurutkan bibirnya.


" Sudah lebih baik kita makan, keburu dingin," ucap Azzura saat makanan pesanan mereka sudah datang.


Saat mereka berdua sedang menikmati makanan nya, samar-samar terdengar para karyawan membicarakan Azzura. Ternyata banyak yang menyayangkan pilihan Devan, menurut mereka Azzura tidak pantas bersanding dengan Devan. Bagai bumi dan langit, dari sisi manapun bagi mereka tidak cocok, Devan yang tampan, kaya, dan modis sedang Azzura hanya gadis biasa yang berpenampilan ala kadarnya.


" Sudah jangan hiraukan mereka, mereka itu hanya iri denganmu," ucap Naya yang juga mendengar suara itu.


" Kamu benar, lebih baik kita pergi dari sini saja, makanmu sudah selesai kan?" Tanya Azzura di balas anggukan oleh Naya. Azzura langsung membayar, kemudian pergi dari tempat itu.


" Ya sudah aku langsung ke ruangan aku ya," ucap Azzura.


" Ok bos, makasih traktiran nya ya," balas Naya.


" Sama-sama," balas Azzura.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2