
Doni, sekretaris Harsa kebingungan mencari keberadaan Harsa, usai meeting bosnya itu langsung keluar begitu saja. Dia beberapa kali mencoba menghubungi ponsel Harsa, namun tidak diangkat. Akhirnya Doni memutuskan untuk kembali kekantor tanpa Harsa. Saat dia sedang berjalan, dari kejauhan dia melihat Harsa yang sedang duduk di lantai dengan kepala bertumpu pada lututnya yang di tekuk. Doni langsung menghampiri Harsa.
" Tuan Harsa, apa anda baik-baik saja?" Tanya Doni membuat Harsa mengangkat kepalanya.
" Sudah saatnya kita kembali ke perusahaan, Tuan," ucap Doni lagi. Harsa langsung bangkit dan segera meninggalkan tempat itu.
Di dalam mobil, Harsa masih terus saja memikirkan Azzura. Azzura adalah wanita yang sangat dia cintai, wanita yang sebenarnya ingin dia jadikan pendamping hidupnya. Namun karena ketidak berdayaannya, hal itu harus pupus.
" Rahasia kan kejadian tadi. Jangan sampai Dita dan papanya tahu," ucap Harsa pada Doni.
" Baik, Tuan." Balas Doni sambil melihat bosnya dari kaca spion, Doni merasa kasihan dengan bosnya itu, dia terlihat sangat hancur.
Sementara itu ditempat lain, Devan, Azzura dan Martin baru saja sampai di sebuah restoran, untuk makan siang. Setelah memilih tempat duduk, mereka langsung memesan makanan yang mereka inginkan.
" Saya ijin ke toilet sebentar," ucap Azzura saat mereka sedang menunggu makanan yang di pesan.
" Perlu ditemani Devan nggak, Nona Zura?" Ledek Martin.
" Tidak, terima kasih," ucap Azzura langsung meninggalkan mereka.
" Aku suka gayamu tadi, sungguh keren," ucap Martin pada Devan, sambil mengangkat dua ibu jarinya.
" Saat kau bilang " Maaf Tuan Harsa, apa istri saya terlalu menarik bagi anda? Sehingga membuat anda lebih fokus padanya dari pada presentasi yang di sampaikan asisten saya." Martin menirukan apa yang di katakan Devan pada Harsa saat meeting tadi.
" Belum lagi, saat kamu menghampiri Nona Zura, dan memberi peringatan pada Tuan Harsa tadi, uhhhh keren," ucap Martin lagi, namun Devan memilih untuk menghiraukan nya.
" Sepertinya kau mulai menyukainya," ucap Martin lagi.
" Jangan sembarangan, aku sama sekali tidak menyukainya dan tidak akan pernah menyukainya. Aku melakukan itu hanya karena tidak ingin ada gosip murahan lagi, jadi jangan salah sangka," balas Devan.
" Menyukai pun tak masalah, toh dia juga istri kamu. Jadi sah-sah saja, yang jadi masalah itu kalau kau menyukai istri orang," balas Martin.
" Jangan karena masa lalu kau jadi membohongi dirimu sendiri, tidak semua wanita sama dengan wanita itu," ucap Martin lagi.
" Aku tidak membohongi diriku sendiri, karena memang kenyataannya aku tidak menyukainya. Sudahlah lebih baik jangan bahas itu lagi," balas Devan.
Sesaat kemudian makanan pesanan mereka datang, bersamaan dengan datangnya Azzura. Mereka bertiga segera menikmatinya. Setelah itu mereka langsung kembali ke kantor.
Jam kantor sudah usai, Devan, Azzura bersiap untuk pulang begitupun dengan Martin.
__ADS_1
" Aku duluan ya, sampai jumpa besok," ucap Martin pada Devan dan Azzura. Sejak Devan dan Azzura menikah, Martin sudah tidak pernah lagi berangkat atau pulang bersama Devan lagi.
Sesaat kemudiaan Devan dan Azzura juga meninggalkan kantor.
Di dalam mobil suasana hening, kedua insan yang ada di dalamnya sama-sama larut dalam pikiran mereka sendiri. Devan yang bingung dengan perasaannya. Sedang Azzura saat ini kembali mengingat tentang kejadian di restoran tadi.
Baru saja sampai di restoran, Azzura merasa ada panggilan alam, dan mengharuskan dia untuk segera ke toilet. Saat di toilet, Azzura kembali mengingat kejadian saat bertemu dengan Harsa tadi. Namun kali ini bukan Harsa yang mengganggu pikirannya, akan tetapi sikap Devan. Dia tidak menyangka Devan akan melakukan hal seperti itu untuk melindunginya dari Harsa. Mengingat hal itu membuat pipi Azzura bersemu.
" Aku harus berterima kasih pada Devan," ucap Azzura pada dirinya sendiri, dia segera kembali ke meja tempat Devan dan Martin berada.
Saat Azzura akan mendekati mereka, samar-samar dia mendengar Devan dan Martin sedang membahas kejadian tadi.
" Jangan sembarangan, aku sama sekali tidak menyukainya dan tidak akan pernah menyukainya. Aku melakukan itu hanya karena tidak ingin ada gosip murahan lagi, jadi jangan salah sangka," ucap Devan saat itu, entah kenapa hal itu membuat Azzura bersedih. Ternyata hal yang dilakukan Devan tadi hanya sebatas untuk menjaga nama baik Devan saja, tidak lebih.
" Pikiran mu terlalu jauh Zura, kau dengar sendiri apa yang di katakan Devan tadi bukan? Dia melakukan itu hanya untuk menjaga nama baiknya tidak lebih, jadi jangan pernah berharap lebih, sadar diri Zura, siapa kamu itu?"Ucap Azzura pada dirinya sendiri.
Flashback off
" Terima kasih untuk tadi, Dev," ucap Azzura.
" Tidak masalah, aku lakukan itu hanya karena tidak mau ada gosip murahan lagi. Jadi aku harap kau bisa jaga sikap mu, kau bukan Azzura yang bebas melakukan apapun seperti dulu. Banyak mata yang memperhatikan mu sekarang," balas Devan.
Suasana kembali hening, keduanya memilih untuk tidak saling bicara, sampai pada akhirnya mereka berdua sampai di rumah. Azzura langsung masuk ke dalam kamarnya, begitupun dengan Devan.
***
Pernikahan Azzura dan Devan sudah berjalan kurang lebih satu bulan. Tidak ada yang berbeda dari hubungan keduanya, mereka masih tetep menjalani kehidupan mereka masing-masing. Satu hal yang berbeda, perasaan Azzura pada Devan, saat dia berdekatan dengan lelaki itu, jantungnya seakan mau melompat keluar. Sepanjang malam Azzura juga terus saja memikirkan Devan, sepertinya Azzura mulai menyukai Devan. Entah sejak kapan perasaan itu ada diapun tak tahu. Namun Azzura memilih untuk memendamnya, dia sadar diri siapa dia.
" Zura, malam ini mama akan menginap," ucap Devan saat di mobil.
" Apa? Lalu bagaimana dengan kita?" Tanya Azzura.
" Ya dengan terpaksa, kita harus tidur satu kamar, dari pada mama curiga,"balas Devan.
" Tenang, aku tidak akan berbuat macam-macam sama kamu," ucap Devan lagi.
" Kalau mau macam-macam pun tak masalah," ucap Azzura lirih.
" Apa yang kau katakan?" Tanya Devan.
__ADS_1
" Tidak ada," balas Azzura salah tingkah.
Devan kembali fokus mengemudikan mobilnya, sesaat kemudian mereka sudah sampai dirumah. Devan dan Azzura dapat melihat kalau mobil mamanya sudah ada di halaman rumahnya, itu tandanya sang pemilik sudah datang.
" Kak Devan, Kak Zura," sapa Celine, adik perempuan Devan, sambil bergantian memeluk kakak dan kakak iparnya.
" Kamu ikut?" Tanya Devan.
" Menurut kakak?" Balas Celine.
" Jangan bilang kakak keberatan kalau aku kesini, tenang aku tidak akan mengganggu kalian kok," ucap Celine lagi.
" Devan, Zura, kalian sudah pulang ternyata," Mama Annete muncul dari belakang, Devan dan Azzura langsung menyalami dan mencium punggung tangan Mama Annete.
" Mama apa kabar?" Tanya Azzura.
" Alhamdulillah baik sayang," balas Mama Annete.
" Ma, sepertinya Kak Devan keberatan kalau kita menginap disini," ucap Celine sengaja mengerjai kakaknya.
" Takut ke ganggu," ucap Celine lagi.
" Tidak kok Ma, kami sama sekali tidak keberatan. Zura malah senang kalau kalian menginaap disini," ucap Azzura.
" Syukurlah, kalau begitu."
" Ya sudah Ma, kami ke kamar dulu mau mandi, gerah," ucap Devan.
" Mandi atau mandi," Celine kembali meledek kakak nya.
" Celine," Mama Annete memberi peringatan.
" Iya maaf," balas Celine.
" Ya sudah sana, kalian bersih-bersih dulu," ucap mama Annete, Devan dan Azzura bergegas meninggalkan mereka.
***
Bersambung
__ADS_1