Secretary For Life

Secretary For Life
Kemarahan Devan


__ADS_3

" Lihatlah Tuan, apa berita ini benar?" tanya Azzura sambil memberikan ponselnya pada Martin. Martin terlihat sangat kaget membaca berita itu.


" Shittt, berita macam apa ini?" ucap Martin emosi, dan langsung menuju ruangan Devan.


" Tuan itu ponsel saya," ucap Azzura setengah berteriak.


Martin masuk ke ruangan Devan dengan membawa ponsel Azzura.


" Ya Tuhan, semoga ponsel ku selamat, tidak menjadi pelampiasan amarah mereka berdua," batin Azzura sambil menengadah kan tangannya.


Di dalam ruangan Devan


" Ada apa dengan wajah mu? Ada masalah?" Tanya Devan saat Martin masuk dengan wajah penuh amarah.


" Lihatlah," ucap Martin sambil menyerahkan ponsel milik Azzura.


" Shiitt!!" Umpat Devan, hampir saja melempar ponsel Azzura. Untung saja di cegah oleh Martin.


" Jangan, itu ponsel Nona Zura," cegah Martin.


" Cari tahu siapa yang membuat berita sampah ini! Secepatnya!!" Ucap Devan dengan penuh amarah.


Drrttt drrttt drrttt


Ponsel Devan berdering, ternyata itu panggilan dari Angga, Papanya.


" Shitt, pasti berita ini sudah sampai ke mereka," ucap Devan sebelum mengangkat panggilan itu.


" Dev, Papa dan Mama menunggu mu di rumah Opa sekarang!" Ucap sang Papa tanpa basa basi


" Ada apa?"


" Kita harus ke rumah Opa sekarang," ucap Devan.


" Berita ini sudah sampai ke mereka?"


" Pastinya."


" Sialan, siapa sih yang buat berita semacam ini. Bikin repot saja, masa' iya cowok ganteng kaya' gini di bilang jeruk makan jeruk."


" Sudah jangan banyak bicara, lebih baik kita berangkat sekarang sebelum para wartawan datang untuk mencari kita."


Devan keluar dari ruangan nya di ikuti Martin.


" Zura, batalkan semua pertemuan hari ini, saya ada urusan diluar." Ucap Devan.


" Baik Tuan."


" Ponsel saya, Tuan?" Ucap Azzura setengah berbisik pada Martin yang berada di belakang Devan.


" Oh ya, ini." Martin menyerahkan ponsel Azzura.


" Syukurlah, aman." Ucap Azzura mendapati ponsel nya yang masih utuh.


Di dalam mobil, Martin terus mencari tahu siapa yang berada di balik berita tentang dia dan juga Devan.


" Bagaimana, sudah ketemu siapa orangnya?"


" Bentar," balas Martin.

__ADS_1


Sesaat kemudian


" Yes," ucap Martin.


" Siapa?"


" Biasa, cucu kesayangan Oma," jelas Martin.


" Shittt, si brengsek itu lagi," ucap Devan penuh amarah.


" Sepertinya memang perlu di kasih pelajaran dia. Bisa-bisanya dia membuat berita kalau kita menjalin hubungan sesama jenis."


Kediaman Hadiwinata


Devan dan Martin tiba di kediaman Hadiwinata, Opa nya . Dan ternyata kedua orang tuanya sudah sampai terlebih dahulu.


" Maaf sudah membuat kalian menunggu," ucap Devan, kemudian menghampiri Opanya untuk mencium punggung tangan sang Opa.


" Duduklah," ucap Opa.


" Ohhh sudah datang ternyata perusuh ini," ucap Oma yang baru saja keluar dari kamar.


" Kalian bisa jelaskan tentang berita itu?" Ucap Opa sambil melihat Devan dan juga Martin.


" Berita itu tidak benar kan?" Tanya Opa lagi.


" Menurut Opa, apakah kami seperti itu?" Devan balik bertanya.


" Kau ini, Opamu bertanya padamu, kenapa kamu malah balik bertanya?" Oma ikut bicara.


" Coba Opa tanyakan ini pada dia," ucap Devan sambil menunjuk ke arah seseorang yang baru saja datang.


" Ada apa, Oma? Kenapa nama Riko disebut?" Tanya Riko.


" Entah lah, apa maksud Devan? Dia yang bikin ulah, malah menyuruh kami menanyakan kepadamu."


" Ya karena cucu kesayangan Oma lah yang mengarang berita ini," ucap Devan.


" Apa benar itu, Ko?" Tanya Opa.


" Berita apa memangnya?"


" Berita kalau mereka berdua penyuka sesama," jelas Oma.


" Apa? Kenapa bisa ada berita seperti itu?"


" Shiitt, jangan pura-pura bodoh kamu, Ko!" Ucap Devan.


" Aku memang baru tahu Dev. Aku turut bersedih jika memang berita itu benar, aku tidak menyangka kegagalan mu menjalin asmara berakhir seperti ini," ucap Riko.


" Kamu memang benar-benar brengsek, Ko!!" Ucap Devan dengan penuh amarah.


" Kamu yang brengsek, kamu yang mencoreng nama keluarga Hadiwinata, bukan Riko. Bisa-bisanya kamu menuduh Riko yang membuat berita itu, atas dasar apa? Coba jelaskan pada kami!" Ucap Oma membela Riko.


" Benar Dev, aku tahu kamu masih dendam padaku. Tapi aku tidak menyangka, kamu akan menfitnahku seperti ini," ucap Riko.


" Sudah cukup!!" Teriak Opa.


" Aku meminta penjelasan atas berita ini. Mengundang kalian untuk mencari solusi, bukan untuk bertengkar," ucap Opa.

__ADS_1


" Maaf Opa, tapi tidak ada yang harus Devan jelaskan. Karena Devan tidak seperti yang di beritakan, begitu pun Martin. Kami masih normal, Opa," ucap Devan.


" Devan benar, Opa."


" Tapi setelah saya lihat foto-foto dan juga vidio yang ada di berita, kalian memang mengarah ke hubungan itu," ucap Riko.


" Shittt sebenarnya apa mau mu, Ko?"


" Tenang Dev," Annete, Mamanya Devan mencoba menenangkan putera nya.


" Aku hanya menganalisa dari yang aku lihat saja Dev," ucap Riko.


" Sepertinya Kau memang sengaja memancing kemarahanku, Ko. Sekarang terserah Opa, mau percaya dengan berita sampah itu atau Devan," ucap Devan sambil bangkit dari tempat duduknya.


" Buktikan, agar kami percaya," ucap Riko lagi.


" Akan aku buktikan. Dan kamu bersiaplah, aku sudah cukup bersabar dengan ulahmu, tapi tidak kali ini. Akan aku pastikan kamu akan hancur!" Ucap Devan sambil menarik kerah Riko.


" Devan!! Cukup!! Lebih baik kamu pulang, tunggu Papa dirumah. Kita perlu bicara," ucap Papanya Devan. Akhirnya Devan melepas Riko, dan pergi dari tempat itu, di ikuti Martin dibelakang nya.


" Sikap Devan sudah seperti preman pasar saja, inikah hasil didikan kalian selama ini?" Ucap Oma. Devan yang masih berada di ambang pintu dan mendengarkan ucapan Omanya itu, seketika menoleh dengan wajah memerah dan bersiap menghampiri Oma.


" Devan, pulang lah dulu," ucap Mamanya mencegah hal-hal yang tidak di inginkan. Dia tahu bagaimana watak putera, Devan tidak akan tinggal diam jika ada yang menyinggung orang tuanya.


Rumah Keluarga Anggara


Sesampainya di rumah, Devan menghempaskan tubuhnya di sofa, begitu pula dengan Martin. Sesaat kemudian kedua orang tuanya datang.


" Sekarang kalian bisa jelaskan tentang berita yang beredar itu pada kami?" Tanya Papa.


" Penjelasan apa lagi, Pa? Bukankah Devan sudah mengatakan semua?"


" Iya, Om. Martin ini masih normal, ya walaupun sampai saat ini masih jomblo," ucap Martin.


" Papa percaya pada kalian, tapi bagaimana dengan publik?"


" Hanya ada satu cara untuk membuktikan kalau kalian tidak seperti yang diberitakan," ucap Mama.


" Apa?" Tanya mereka serempak.


" Menikah."


" Mama benar," ucap Papa.


" Iya, Martin juga setuju kalau Devan menikah."


" Kenapa harus aku? Kenapa bukan kamu saja?"


" Ya iyalah, yang menjadi sorotan utama saat ini kamu, karena kamu membawa nama Hadiwinata. Kalau aku mah apa atuh, namaku tidak setenar namamu, mereka tidak begitu peduli denganku. Lain dengan kamu, Dev. Lagian di foto dan berita itu bukan cuma aku saja pasangan mu, tapi banyak pria lain juga, di tambah vidio pengakuan wanita saat kamu mengatakan kalau kamu tidak tertarik dengan wanita itu," jelas Martin panjang lebar.


" Apa yang dikatakan Martin benar, Dev."


" Tapi menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan Ma, Pa."


" Tapi hanya itu jalan satu-satunya, sayang," ucap Mama.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2