
Sesampainya dirumah, Azzura segera memarkirkan motornya dan masuk kedalam rumah. Rumah masih tampak sepi, sepertinya kedua orang tuanya belum kembali dari toko. Orang tua Azzura adalah pemilik sebuah Toko sembako. Toko itu di bangun dari uang pesangon saat Ayah Azzura di PHK, 10 tahun yang lalu. Dari tempat itulah kebutuhan keluarga Azzura tercukupi.
" Tumben udah pulang, Kak?" Azzura dibuat kaget dengan kedatangan Fathan, dia terlihat segar, sepertinya habis mandi.
" Sekali-kali boleh dong pulang awal," balas Azzura sambil menutup pintu kulkas setelah mengambil sebotol air dingin dari sana.
" Iya deh."
" Ayah, Ibu, belum pulang?" Tanya Azzura sesaat setelah meneguk minumannya.
" Belum lah, masih jam 4 ini."
" Manda?"
" Kak Manda belum pulang, paling sebentar lagi," jelas Fathan.
" Ya udah kakak ke kamar dulu, mau mandi, gerah," balas Azzura.
Sesampainya di kamar, bukannya langsung mandi, Azzura justru memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya kembali kacau. Permintaan orang tuanya kini benar-benar serius, biasanya dia masih bisa beralasan jika menyangkut pernikahan. Namun kali ini tidak, nasib adiknya juga berada di tangan nya. Belum lagi soal perkataan Naina tadi, hal ini membuat nya sangat pusing. Azzura memilih bangun dari tempat tidur nya menuju kamar mandi, mungkin dengan mandi bisa membuat pikiran kembali segar.
Pukul 19.00 wib
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Azzura di ketuk.
" Masuk," balas Azzura malas, sejak pulang dari kantor tadi memang Azzura memilih tetap berada di dalam kamar.
" Kak." Ucap Manda saat sudah masuk ke dalam kamar Azzura.
" Ada apa?" Tanya Azzura sambil bangun dari rebahan nya.
" Ibu meminta Manda panggil Kakak, makan malam sudah siap," jelas Manda.
" Kalian duluan saja, Kakak belum lapar," balas Azzura, selera makannya benar-benar menghilang karena memikirkan masalahnya.
" Maafkan Manda ya Kak," ucap Manda tiba-tiba.
" Kenapa kamu minta maaf?"
" Gara-gara Manda, Kak Zura jadi diminta segera menikah sama Ayah dan Ibu. Manda juga bingung Kak, orang tua Kak Arga terus saja mendesak kami untuk segera menikah. Di tambah lagi kondisi Kakek Kak Arga. Beliau berharap bisa melihat kami menikah sebelum tutup usia."
" Bukan salah mu, Manda. Sebenarnya kalau kamu mau nikah duluan, nggak jadi masalah bagi Kakak, Kakak ikhlas."
" Iya Manda tahu, tapi Ayah dan Ibu juga nenek pasti tidak akan setuju," ucap Manda.
" Ehmmmm, Kakak sudah bilang masalah ini ke Kak Harsa?" Tanya Manda lagi.
" Belum, tapi secepatnya Kakak akan bicarakan ini sama dia. Kamu jangan khawatir," balas Azzura.
" Makasih ya Kak, sekali lagi Manda minta maaf," ucap Manda merasa tidak enak.
__ADS_1
" Sudahlah jangan minta maaf terus, lebih baik kita ke ruang makan. Mereka pasti sudah menunggu," ucap Azzura pada akhirnya.
Sesampainya di ruang makan, Ayah, Ibu dan juga Fathan sudah tampak menunggu mereka.
" Kalian lama sekali, cacing di perutku sudah pada demo ini," ucap Fathan.
" Ya sorry, biasanya kamu juga makan duluan," balas Azzura.
" Nggak boleh sama Ibu, katanya nunggu Kak Zura dulu. Jarang-jarang bisa makan malam bareng Kakak," jelas Fathan.
" Ahhh Ibu, terlalu berlebihan," ucap Azzura kemudian duduk di sebelah Ayahnya.
" Ya kan memang benar, anak Ibu yang satu ini memang sangat sibuk. Sudah makanlah, Ibu sudah memasak makanan kesukaan mu," ucap Ibu. Ibu memang sengaja membuat makanan kesukaan Azzura, dia mengerti saat ini Azzura pasti sangat tertekan dan pasti membuat nafsu makannya menurun. Berharap dengan masakannya bisa membuat selera makan Azzura kembali.
" Makasih, Bu."
Selesai menikmati makan malam, Azzura kembali ke kamarnya.
" Zura, kamu sudah tidur?" Tanya Ibu dari balik pintu kamar Azzura.
" Belum, Bu. Masuklah tidak dikunci."
" Maafkan kami ya," ucap Ibu saat sudah duduk di samping Azzura.
" Kenapa Ibu minta maaf? Tadi Manda sekarang Ibu."
" Pasti situasi ini membuat mu tertekan kan? Kami hanya ingin yang terbaik saja untuk kalian. Hubungan mu dan nak Harsa juga sudah lama, sudah sepantasnya kalian menikah. Belum lagi omongan orang tentang mu, Ibu tidak suka itu. Mereka terus saja menyebut mu perawan tua, yang sibuk mengejar karier saja."
" Iya, Bu. Zura ngerti. Maafkan Zura ya, Ibu harus mendengarkan omongan orang yang tidak ibu sukai tentang Zura," ucap Azzura sambil memeluk ibunya dari samping.
" Zura janji secepatnya Zura akan memenuhi permintaan ayah dan ibu, sebelum Manda menikah, Zura akan menikah," ucap Azzura.
" Ya sudah, sekarang istirahatlah." Ucap Ibu lagi sebelum meninggalkan kamar Azzura.
***
Azzura menjalani harinya seperti biasa, walau sampai saat ini dia belum bisa menghubungi Harsa, kekasihnya.
Kantor
Azzura baru saja tiba di kantor, suasana kantor tampak riuh. Tiba-tiba ada salah satu karyawan yang memanggilnya.
" Zura, tunggu!!" Panggil Naya, salah satu teman kantor nya.
" Eh Naya."
" Bareng keatas boleh?"
" Boleh dong, ayo. Tapi aku mau ke pantry dulu, mau ngopi," ucap Azzura.
" Nggak masalah, aku rasa aku juga butuh kopi."
Sesampainya di pantry, Azzura segera membuat kopi, begitupun dengan Naya.
" Zura, ehmmm, berita tentang Tuan Devan dan Tuan Martin itu apa benar?"
__ADS_1
" Berita? Berita apa memangnya?"
" Kamu belum tahu?" Tanya Naya, Azzura hanya menggeleng.
" Lihatlah," ucap Naya sambil menyerahkan ponselnya.
Seketika mata Azzura terbelalak, melihat berita di sosial media yang Naya tunjukkan.
" Apa itu benar?"
" Entahlah aku tidak tahu," balas Azzura.
" Tapi kamu kan satu lantai dengan mereka? Apa kamu tidak melihat gelagat yang mencurigakan dari keduanya?"
" Ehhmmm, sepertinya biasa aja, nggak ada yang mencurigakan," balas Azzura.
" Tapi kenapa beritanya seperti ini?" Tanya Naya lagi.
" Ahhh aku bingung, sulit dipercaya. Tapi melihat mereka yang selalu bersama, bisa jadi berita ini benar."
" Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, nggak usah ikut mengurusi masalah mereka."
" Kalau berita itu benar, sangat di sayangkan. Lelaki setampan mereka ternyata penyuka sesama, hwaaaaa." Naya bicara sendiri.
" Sudah, lebih baik kita kembali kerja. Mau berita itu benar atau tidak, toh bukan urusan kita." Ucap Azzura sambil berlalu meninggalkan Naya.
" Tapi masa' iya sih mereka berdua jeruk makan jeruk? Sungguh sulit dipercaya." Batin Azzura.
" Kenapa aku jadi ikut memikirkan mereka? Masalah ku saja sudah banyak, huufttt." Batin Azzura lagi.
Sesampainya di ruangan nya Azzura segera menduduki kursi kebesaran nya. Sesaat kemudian tampak Devan dan juga Martin datang.
" Selamat pagi, Tuan," sapa Azzura.
" Hemmmm," balas Devan dingin dan langsung masuk ke ruangan nya.
Martin memilih untuk kemeja kerjanya.
" Kenapa aku ikut penasaran, tadi aja sok sok an ngingetin Naya untuk tidak mencampuri urusan si bos. Baiknya tanya nggak ya?" Batin Azzura sambil terus memandangi Martin.
Martin yang merasa Azzura memperhatikan nya, merasa risih.
" Ada apa?" tanya Martin.
Azzura bangkit menuju meja Martin dengan membawa ponselnya.
" Tuan Martin dan Tuan Devan memangnya jeruk makan jeruk ya?" tanya Azzura hati-hati.
" Apa maksudmu?"
" Lihatlah Tuan, apa berita ini benar?" tanya Azzura sambil memberikan ponselnya pada Martin. Martin terlihat sangat kaget membaca berita itu.
" Shittt, berita macam apa ini?" ucap Martin emosi, dan langsung menuju ruangan Devan.
" Tuan itu ponsel saya," ucap Azzura setengah berteriak.
__ADS_1
***
Bersambung