Secretary For Life

Secretary For Life
Kangen


__ADS_3

Selesai make over, Azzura dan Celine segera keluar kamar. Mereka menuju ruang tamu, tempat Mama Annete dan Papa Angga berada.


" Mama beneran nggak ikut?" tanya Celine pada Mama Annete.


" Nggak sayang, kalian saja. Mama mau pergi sama Papamu," balas Mama Annete.


" Ohh ya sudah, kalau gitu kami berangkat dulu ya Ma, Pa," pamit Celine pada kedua orangtuanya, di ikuti dengan Azzura.


" Hati-hati dan selamat bersenang-senang," balas Mama Annete.


Celine melajukan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Sesampainya di tempat yang di tuju, dia langsung memarkirkan mobilnya, dan mengajak Azzura untuk masuk ke dalam mall itu.


" Sepertinya baru buka, Kak, masih sepi," ucap Celine sambil melihat sekelilingnya.


" Kamu sih, tadi kan aku dah bilang," balas Azzura.


" Hehehe, saking senangnya sih. Efek lama nggak nge mall ya gini deh, harap maklum," balas Celine sambil nyengir.


" Tapi nggak apa-apa, enak kalau sepi kok. Ya udah ayo masuk, Kak," ucap Celine lagi sambil menarik tangan Azzura. Azzura hanya mengikutinya.


Setelah puas berkeliling dan mendapatkan barang yang mereka inginkan, Celine mengajak Azzura ke sebuah restoran cepat saji yang ada ditempat itu.


" Kak Zura mau pesan apa?" Tanya Celine sambil membaca buku menu makanan.


" Ehmmmm, apa aja deh. Aku apa aja doyan kok," balas Azzura.


" Burger cheese gimana?"


" Ok, sama kentang goreng ya."


" Ya udah, mau ini mbk, ini, ini, terus minuman nya ini, masing-masing dua ya mbk," ucap Celine pada pelayan tempat itu.


" Baik kak, mohon di tunggu sebentar ya," balas si pelayan.


Sesaat kemudian makanan yang mereka pesan datang, mereka langsung menikmati nya sambil sesekali bercakap.


" Celine, ini benar Celine?" Tanya seorang perempuan cantik pada Celine. Celine tampak terkejut, dia berusaha mengingat apakah dia mengenal wanita itu atau tidak.


" Ini aku, Dita," ucap wanita itu.


" Dita, Dita si pipi tomat?" Balas Celine.


" Iya."


" Ya Tuhan, aku nggak nyangka bisa ketemu kamu disini. Bukannya kamu menetap di luar negeri?" Ucap Celine sambil berdiri dan memeluk Celine.


" Awalnya sih gitu, tapi malah di suruh pulang sama papa. Kamu apa kabar?"


" Seperti yang kamu lihat, sangat baik. Kamu sendiri bagaimana?'


" Alhamdulillah baik."

__ADS_1


" Eh sampai lupa, kenalin ini kak Zura, kakak ipar aku," ucap Celine.


" Azzura."


" Dita."


" Ya udah jangan berdiri saja, ayo silahkan duduk," ucap Azzura.


" Dita ini kakak kelas aku waktu SMA, dua tingkat di atas aku, tepatnya. Terus dia pindah ke luar negeri jadi sejak itu kita jarang ketemu lagi," ucap Celine.


" Berarti kita seumuran dong, 26 kah?" balas Azzura.


" Iya."


" Jadi benar kalian seumuran?"


" Kalau usia kakak ipar kamu 26, ya kita seumuran. Btw kamu ternyata masih sama cerewet nya ya, Cel," uca Dita.


" Ya namanya sudah watak mau gimana lagi," balas Celine santai.


" Oh ya sekarang kamu sibuk apa Cel?"


" Sibuk kuliah," balas Celine.


" Lanjut S2 ya? Keren," puji Dita.


" Ya mau gimana lagi, kedua kakak ku kepintaran nya di atas rata-rata, pendidikan mereka tinggi tinggi. Kakak ipar aku juga gitu, ya mau tidak mau aku juga harus lanjut S2 dong," balas Celine asal, padahal sebenarnya dia memang anak yang cerdas sejak dulu.


Mereka bertiga larut dalam obrolan, Azzura dan Dita juga cepat akrab. Saling bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing.


" Aku duluan ya Zura, Celine. Jangan lupa mampir ke butik aku," ucap Dita. Dita ternyata membuka butik di mall itu.


" Mampir kalau kamunya nggak ada ya sama aja bohong, lain kali aja deh. Kami juga mau pindah ke salon, perawatan, hehehehe," ucap Celine.


" Pengeennn, tapi sayangnya aku ada acara lain," balas Dita.


" Ya sudah selamat bersenang-senang saja buat kalian, bye sampai ketemu lagi," ucap Dita lagi sebelum mereka berpisah.


Setelah dari tempat itu, Azzura dan Celine langsung pergi ke salon. Mereka melakukan perawatan ke seluruh tubuh mereka. Awalnya Azzura menolak, dia meminta agar Celine saja yang melakukan perawatan. Namun bukan Celine namanya kalau dia tidak bisa memaksa Azzura.


Selesai dari salon, Celine mengajak ke kantor. Karena dia ingin bertemu dengan Martin. Ya sejak dulu Celine memang menyukai Martin, tapi dia tidak berani untuk mengatakannya.


" Siang menjelang sore kak Martin," ucap Celine saat sampai di kantor.


" Celine, Nona Zura, kalian mau bertemu Devan?"


" Ohh kak Martin di sapa itu di balas dulu, jangan malah tanya yang lain," ucap Martin.


" Iya iya sorry, selamat siang menjelang sore Celine cantik," balas Martin membuat pipi Celine seketika merona.


" Kalian, ngapain kesini?" Tanya Devan keluar dari ruangan nya.

__ADS_1


" Kangen," balas Celine sambil terus menatap Martin.


" Kangen? Siapa yang kangen?"


" Eh itu Kak Zura, katanya kangen Kak Devan," balas Celine, membuat Azzura langsung menatap Celine.


" Kenapa jadi aku, bukankah kamu yang ngajak aku kesini tadi," balas Azzura.


" Ya iyalah aku ajak kesini, aku kan nggak tega sama Kak Zura. Dari tadi bilang kangen sama Kak Devan terus," Celine ngeles.


Martin menatap Azzura dan Devan secara bergantian.


" Jadi sudah main kangen-kangenan sekarang?" Ledek Martin.


" Nggak, bukan kaya' gitu Tuan Martin, Celine hanya asal bicara. Aku nggak pernah bilang gitu kok," balas Azzura.


" Kangen juga nggak apa-apa, namanya juga pengantin baru," ucap Martin.


" Cel, temani kakak ke kantin yuk. Kita kasih waktu untuk mereka berdua," ucap Martin lagi sambil menarik tangan Celine. Dalam hati Celine sangat bahagia bisa berdu'an dengan Martin. Berbeda dengan Azzura dia sangat kesal dengan apa yang Celine lakukan. Sedang Devan, dia kembali mengingat kejadian tadi pagi, hal ini membuatnya salah tingkah.


" Jangan percaya apa yang di katakan Celine tadi, dia bohong. Aku nggak pernah bilang gitu kok," Azzura membuka pembicaraan.


" Aku tahu," balas Devan.


" Masuklah ke ruangan ku, kau tidak ingin berdiri disitu terus kan?" Ucap Devan sambil berjalan menuju ruangan nya.


" Istirahatlah di dalam, Celine pasti sudah membuat mu lelah hari ini," ucap Devan membukakan pintu kamar pribadi yang ada di ruangan nya. Azzura hanya menurut saja, dari pada terus di dekat Devan hanya akan membuat jantung nya tidak bersahabat, lebih baik dia menurut i perkataan Devan, untuk istirahat.


" Terima kasih," balas Azzura.


Devan kembali ke meja kerjanya, dan kembali fokus pada tumpukan berkas di sana. Sedang Azzura memilih untuk merebahkan diri di ranjang yang ada ditempat itu, nyaman, itulah yang dirasakan Azzura. Dia kembali mencium aroma parfum Devan yang menempel di tempat itu, seketika Azzura teringat kejadian tadi pagi. Dia hanya senyum-senyum sendiri.


" Apa aku sudah gila?" batin Azzura saat menyadari apa yang dia lakukan.


" Ckckck, kenapa mukaku jadi panas kaya' gini?" batin Azzura lagi sambil memegang ke dua pipinya.


" Dan ini, kenapa juga dengan jantung ku?" Tangan Azzura beralih memegangi dadanya.


" Aaaaaaaaaa," teriak Azzura, membuat Devan kaget dan langsung berlari ke kamar.


" Ada apa?" Tanya Devan sambil membuka pintu.


" Ehhhhh, nggak kok. Ini tadi ada kecoa," ucap Azzura berbohong, dalam hatinya dia merutuki dirinya kenapa tadi harus berteriak.


" Kecoa?"


" Iya, eh bukan. Maksudnya, tadi aku seperti melihat kecoa, tapi ternyata bukan. Aku hanya salah lihat, mungkin karena aku mangantuk," ucap Azzura.


" Aneh," balas Devan kemudian kembali ke mejanya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2