
Semua yang hadir dalam acara itu di buat tercengang, dengan apa yang di sampaikan oleh Papa Angga. Seperti yang pernah dia bahas bersama istri dan anaknya, malam ini Papa Angga benar-benar menyerahkan kembali posisi nya di perusahaan HW kepada Opa. Oma dan kedua anaknya begitu bahagia mendengar apa yang di sampaikan oleh Papa Angga, namun tidak dengan Opa.
" Apa maksud semua ini Angga?" Tanya Opa. Selesai menyampaikan hal penting tadi, Opa meminta Papa Angga untuk berbicara dengannya di ruang kerja.
" Kenapa kau lakukan itu?"
" Maafkan Angga, Pa. Tapi Angga rasa inilah yang terbaik, posisi Angga di perusahaan hanya akan membuat mereka semakin memusuhi keluarga Angga, dan Angga tidak mau itu, Pa. Angga ingin hidup tenang," jelas Papa Angga.
" Tapi memang hanya kamu yang pantas menduduki posisi itu, apa kamu lupa bagaimana keadaan perusahaan saat di pegang oleh kakakmu, Antoni? Bukan semakin maju, tapi justru semakin memburuk."
" Itu dulu Pa, sekarang Angga sudah membereskannya, dan tugas Angga sudah selesai. Angga yakin sekarang Kak Antoni bisa menjalankan perusahaan lagi, apalagi ada Riko yang membantu nya," ucap Papa Angga.
" Angga tidak ingin terus terjadi permusuhan antara keluarga kita hanya karena harta, Pa." Ucap Papa lagi.
" Tapi kamu juga punya hak, dengan apa yang Papa miliki, Angga. Kamu juga anak Papa, bagian dari keluarga Hadiwinata,"ucap Opa.
" Angga ikhlas, Pa. Angga tidak mengharap harta Papa, biarkan mereka saja yang mendapatkan nya, lagi pula apa yang Angga miliki saat ini sudah lebih dari cukup, Pa," ucap Papa Angga.
" Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, maafkan Papa karena selalu membuat mu menderita. Karena kesalahan Papa, kamu harus dibenci saudara-saudaramu. Maafkan Papa karena menjadi ayah yang buruk bagimu, Papa tidak bisa menyatukan anak-anak Papa," ucap Opa merasa bersalah.
" Papa tidak salah, ini memang jalan hidup Angga. Papa tetap seorang ayah terbaik bagi kami," ucap papa Angga sambil memeluk Opa.
" Tapi kamu tidak akan meninggalkan Papa bukan?"
" Tentu tidak Pa, selamanya Papa tetap Papa ku, Opa dari Carissa, Devan dan juga Celine. Aku hanya menyerahkan kembali perusahaan, bukan berarti tidak menjadi anak Papa lagi. Kami akan tetap berkunjung kemari untuk menemui Papa, ya kalau di perbolehkan," ucap Papa Angga sambil tersenyum.
" Tentu boleh," balas Opa.
" Maafkan Mama dan saudara-saudaramu ya," ucap Opa lagi.
" Sudah Angga maaf kan Pa," balas Angga.
Di luar, Azzura sedang menemani Ammara main di taman. Gadis kecil itu memang mudah sekali bosan.
" Aunty Zura, Ammara haus, aku ambil minum dulu ya," ucap Ammara.
" Biar aunty aja yang ambilin sayang," ucap Azzura.
" Ammara bisa kok, Ammara kan udah gede," balas Ammara.
" Kalau begitu aunty temani ya," ucap Azzura.
__ADS_1
" No, aunty!"
" Ya sudah, tapi hati-hati ya. Aunty tunggu disini," ucap Azzura.
" Ok bos," balas Ammara sambil berjalan ke dalam. Ammara memang sangat dekat dengan Azzura. Dulu saat Azzura bekerja dengan Carissa mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Azzura memilih untuk memainkan ponselnya saat menunggu Ammara. Sampai seorang wanita cantik menghampiri nya.
" Hai, boleh aku duduk disini," ucap wanita itu.
" Oh silahkan," balas Azzura sambil menggeser posisi nya.
" Aku Naila," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
" Naila, jadi ini Naila yang di sebut Tante tadi. Apa dia mantan Devan?" Batin Azzura.
" Kok bengong?"
" Eh iya, aku Azzura," balas Azzura saat kesadarannya kembali pulih sambil menjabat tangan Naila.
" Maafkan sikap Mama mertua dan Tante Tania tadi ya, mereka memang begitu," ucap Naila, ternyata sejak tadi Naila juga memperhatikan keributan yang terjadi.
" Mama mertua?" Azzura nampak bingung.
" Oh ya boleh aku minta tolong padamu?" Ucap Naila lagi.
" Tolong, apa?"
" Bujuk Devan untuk memaafkan ku. Aku sadar mungkin sulit bagi Devan untuk memaafkan pengkhianat seperti ku, tapi aku sungguh -sungguh minta maaf padanya, aku tidak bisa hidup tenang kalau dia belum bisa memaafkan ku," ucap Naila membuat Azzura sedikit demi sedikit paham apa yang pernah terjadi diantara Naila dan Devan.
" Kenapa tidak minta maaf sendiri?" Balas Azzura.
" Sejak kejadian itu, Devan tidak pernah mau bertemu atau berbicara denganku. Dia sangat marah padaku," ucap Naila.
" Kalau kamu di posisi Devan, apakah dengan mudah memaafkan orang yang mengkhianati mu?" Tanya Azzura.
" Kalau dulu mungkin sulit, tapi pasti tidak dengan sekarang. Karena aku lihat dia sudah baik-baik saja, dia sudah memiliki mu sebagai istri nya. Jadi tidak ada alasan lagi dia untuk membenciku bukan?" balas Naila.
" Kamu benar, kecuali Devan memang masih mencintaimu," batin Azzura.
" Baiklah akan aku coba. Tapi ingat akan sulit untuk mengembalikan gelas yang sudah pecah ke bentuk semula. Mungkin kamu akan mendapatkan maaf dari Devan, tapi tentang bagaimana hubungan kalian selanjutnya aku tidak tahu," balas Azzura.
__ADS_1
" Terima kasih," balas Naila, kemudian pergi meninggalkan Azzura. Pikiran Azzura kembali kacau, dalam benak nya dia bertanya tanya, sejauh apa hubungan Naila dengan Devan dulu. Dan apakah alasan Devan belum bisa memaafkan Naila karena dia masih mencintainya.
" Apakah Devan sampai saat ini masih mencintai Naila. Arrggggtttt memikirkan itu membuat ku gila, lagian apa peduli mu dengan cinta Devan, Zura? Sadar kamu itu siapa, jangan berharap lebih, bukankah Devan sudah pernah mengatakan itu padamu," batin Azzura.
" Aunty, maaf Ammara lama, soalnya Ammara ambil ini juga. Terus nggak bisa bawa, jadi minta tolong mbaknya dulu buat bawain,"ucap Ammara sambil membawa cake di tangannya.
" Kamu itu, tadi di temani nggak mau. Makasih ya mbak," ucap Azzura pada pelayan yang membantu Ammara.
Ammara langsung meminta Azzura untuk menyuapinya. Ammara memang selalu manja kalau dekat dengan Azzura, apa-apa maunya dengan Azzura. Namun Azzura tidak keberatan dengan itu semua, justru dia sangat senang.
Dari kejauhan, Devan memperhatikan keduanya. Melihat keakraban istri dan keponakannya itu membuat nya tersenyum sendiri.
" Kamu beruntung Dev, punya istri seperti Azzura," ucap Carissa yang tiba-tiba ada di samping Devan.
" Kamu harus memperlakukan dia dengan baik, perlakuan dia layaknya istri sesungguhnya jangan hanya sebatas kontrak," ucap Carissa lagi membuat Devan kaget dan langsung menatap kakaknya.
" Kakak sudah tahu status pernikahan kalian yang sesungguhnya. Awalnya kakak kecewa, makanya saat pernikahan kalian kakak nggak datang. Tapi setelah kakak lihat perkembangan hubungan kalian, kakak justru bersyukur karena kamu menikah dengan Azzura," ucap Carissa dengan mata tak lepas dari Azzura dan Ammara.
" Kakak tahu dari mana?"
" Martin."
" Shittt...Jadi selama ini Martin jadi mata-mata kakak?"
" Jangan salahkan Martin, kakak yang memintanya. Kamu pikir kakakmu ini tidak khawatir dengan dirimu, saat kamu putus dari Naila seperti apa dirimu? Seperti mayat hidup, makanya kakak meminta Martin untuk melaporkan segalanya mengenai dirimu," ucap Carissa.
" Siapa lagi yang tahu tentang status pernikahan kami kak?"
" Hanya kakak, tapi kakak minta jangan permainkan pernikahan. Azzura itu wanita baik, tidak pantas dia mendapatkan perlakuan seperti ini," ucap Carissa.
" Tapi dia setuju kak," balas Devan.
" Tidak ada wanita yang mau dinikahi hanya sebatas kontrak, Dev. Alasan Azzura mau karena terpaksa, andai saat itu ada jalan lain pasti dia tidak akan mau mengikuti permintaan mu. Kakak tahu seperti apa Azzura," ucap Carissa.
" Berarti Devan sudah menolongnya dong," balas Devan.
" Menolong itu jika kamu tidak menyertakan surat kontrak, Dev," ucap Carissa.
" Kakak harap kalian benar-benar menjadi pasangan sesungguhnya, mencintai seorang Azzura tidak ada ruginya untukmu. So tanyakan pada hatimu, bagaimana perasaan mu terhadap nya. Kalau kamu memang mencintai nya, lebih baik kamu akui secepatnya," ucap Carissa sambil menepuk bahu Devan kemudian menghampiri Azzura dan Ammara, untuk mengajak Ammara pulang.
Sedangkan Devan termenung memikirkan apak yang telah dikatakan oleh Carissa tadi. Dia sendiri bingung bagaimana dengan perasaan nya pada Azzura.
__ADS_1
***
Bersambung