
Malam semakin larut, Devan, Azzura, Celine dan kedua orang tuanya memilih untuk mengakhiri obrolan dan bergegas menuju kamar masing-masing.
Devan masuk ke dalam kamarnya, di ikuti Azzura dari belakang. Ada rasa canggung di antara keduanya, terlebih lagi Azzura, karena baru kali ini dia sekamar dengan seorang pria.
Devan langsung menuju kamar mandi, sedang Azzura hanya duduk di pinggiran tempat tidur. Azzura bingung harus tidur di mana. Dan pada akhirnya Azzura memilih untuk mengambil bantal, untuk dia bawa ke sofa. Dia memutuskan untuk tidur di sofa saja.
" Mau kau bawa kemana bantal itu?" Tanya Devan saat keluar dari kamar mandi.
" Saya akan tidur di sofa saja," balas Azzura.
" Tidak perlu, tidur disini saja."
" Haaahhhh?" Azzura kaget mendengar ucapan Devan.
" Apakah ini berarti dia meminta ku untuk tidur bersama dalam satu ranjang?Ya Tuhan haruskah aku senang?" Batin Azzura.
" Jangan berpikir yang aneh-aneh, kau bisa tidur di ranjang ku, aku yang akan tidur di sofa," ucap Devan sambil mengambil bantal dari tangan Azzura, dan berjalan ke sofa.
" Tunggu apa lagi? Tidurlah," ucap Devan lagi karena Azzura tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri, membuat Azzura langsung berjalan menuju tempat tidur. Dia langsung naik ketempat tidur dan merebahkan diri di sana, sesaat kemudian Azzura sudah terlelap, begitupun dengan Devan.
Saat tengah malam, Devan merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Karena memang sofa itu terlalu kecil untuk dirinya. Dia harus tidur meringkuk, dan ini membuatnya tidak nyaman. Devan bangkit dari sofa menuju ranjang, kemudian dia merebahkan diri di sana.
Pagi harinya
Azzura berusaha membuka matanya, saat dia merasa ada sesuatu yang menindih perutnya.
" Ya Tuhan, siapa ini pangeran? Dia tampan sekali," batin Azzura setengah sadar. Dia menatap wajah tampan di hadapannya saat ini. Dia masih belum sadar kalau pria itu adalah Devan. Azzura mengerjakan matanya untuk memastikan siapa pangeran yang dia lihat itu.
" Devan?" Batin Azzura saat dia sudah benar-benar sadar. Azzura melihat ke arah perut nya, tempat tangan Devan melingkar di sana. Saat Azzura hendak melepaskan pelukan itu, pelukan itu justru semakin kuat.
" Ya Tuhan, bagaimana ini?" Batin Azzura.
" Mungkin ini bonus dariMu Tuhan, agar aku bisa menikmati wajah tampannya ini. Lagian nggak dosa kan, dia kan suami ku," batin Azzura lagi, dia kembali menatap wajah tampan dihadapan itu. Sungguh Devan memang sangat tampan, dia tampak tenang saat sedang tidur seperti ini.
" Andai pernikahan ini pernikahan sesungguhnya, betapa beruntung nya aku. Tapi sayangnya hanya kontrak, huuuhhhh," batin Azzura lagi.
Perlahan Devan membuka matanya, Azzura memilih untuk pura-pura tidur. Dan betapa terkejutnya Devan saat dia tahu kalau saat ini dia tidur dengan Azzura, bahkan dia juga memeluk Azzura.
__ADS_1
" Kenapa kau bisa tidur disini?" Ucap Devan saat Azzura membuka mata.
" Harusnya saya yang menanyakan itu. Bukankah semalam kau tidak di sofa?" Balas Azzura.
Devan mengingat kejadian semalam, dan memang benar apa yang di katakan Azzura.
" Apa kau akan terus memeluk ku seperti ini?" Tanya Azzura, karena Devan masih saja memeluknya. Sontak Devan langsung saja melepaskan pelukan itu, dengan wajah memerah. Dia langsung bangkit dan menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Devan terus saja mengumpati dirinya sendiri, " Shittt, bisa-bisanya aku menyusul nya ke tempat tidur. Apa yang akan dia pikirkan tentang aku? Pasti dia mengira aku memanfaatkan situasi, aaaahhhh sialll."
Devan keluar kamar mandi, dia terlihat salah tingkah.
" Jangan salah paham, semalam aku pindah ke ranjang karena tidur di sofa membuat punggung ku sakit, sofa itu terlalu kecil. Dan aku lupa kalau kau tidur di sini," ucap Devan tanpa menatap Azzura.
" Tidak masalah," balas Azzura sambil tersenyum, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi dan bersiap, Devan dan Azzura langsung menuju ruang makan untuk sarapan. Di sana sudah ada ke dua orangtuanya dan juga Celine.
" Selamat pagi," ucap Devan.
" Selamat pagi, sayang," balas Mama Annete.
" Ya, tentu," balas Azzura.
" Yaahhh nggak asyik, Celine di sini kok malah di tinggal kerja. Harusnya kita itu jalan-jalan, Kak," ucap Celine.
" Tapi pekerjaan kakak masih banyak Cel, besok saja ya. Kamu kan masih di sini, atau nanti sore saja gimana?"
" Pekerjaan apa pekerjaan? Bilang aja kak Zura takut kalau di kantor ada yang goda kak Devan kan, selama kakak nggak ada?" Ucap Celine lagi.
" Bukan begitu Cel, tapi memang benar pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya," jelas Azzura.
" Atau jangan-jangan, Kak Devan yang nggak mau jauh-jauh dari kak Zura. Makanya kak Zura di suruh tetap kerja," ucap Celine sambil menatap Devan. Mendengar semua itu membuat Devan hampir saja tersedak.
" Ya namanya juga pengantin baru Cel, jadi harap maklum," balas Papa Angga.
" Ok ok, Azzura kau temani saja Celine. Urusan kantor biar di handle Martin nanti," ucap Devan pada akhirnya, tidak ingin adiknya itu terus meledeknya.
__ADS_1
" Tapi....."
" Sudah sayang, kamu sudah dapat ijin dari suamimu, jadi nggak usah tapi-tapian lagi, ok ," ucap Mama Annete. Azzura hanya tersenyum.
" Ya sudah aku berangkat dulu," ucap Devan sambil beranjak dari kursinya. Dia mencium punggung tangan kedua orangtuanya kemudian berjalan ke depan.
" Kau tidak pamit ke istrimu?" Tanya Papa Angga, sontak membuat Devan berhenti dan berbalik ke arah Azzura. Devan menyodorkan tangannya ke arah Azzura, Azzura langsung membalas dan mencium punggung tangan suaminya itu. Hal yang jarang mereka lakukan, bahkan sejak menikah baru dua kali mereka melakukan itu, saat selesai akad nikah dan hari ini.
" Udah gitu aja, nggak romantis banget," ucap Celine membuat Devan bingung.
" Ini," ucap Celine sambil menunjuk keningnya, Devan masih saja bingung.
" Cium kening kak, tenang kami pura-pura nggak lihat kok," ucap Celine lagi sambil pura-pura menutup mata.
" Ayo tunggu apa lagi, nggak perlu malu, Dev," ucap sang mama. Dan akhirnya Devan mencium kening Azzura.
" Antar kan suami mu ke depan, sayang," ucap Mama Annete, Azzura menurut.
Sesampainya di depan rumah, Devan langsung menuju mobilnya.
" Maaf untuk yang tadi, aku terpaksa melakukan nya," ucap Devan sebelum pergi.
" Iya saya mengerti," balas Azzura lesu. Entah kenapa ada rasa sakit saat mendengar ucapan terpaksa yang keluar dari mulut Devan.
" Ya sudah aku berangkat," ucap Devan.
" Iya, hati-hati," balas Azzura. Perlahan Devan melajukan mobilnya, Azzura hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
" Sudah jangan di lihatin terus kak, kalian cuma berpisah beberapa jam saja," ucap Celine yang entah sejak kapan ada di belakangnya.
" Ya sudah, lebih baik kakak ganti baju. Kita jalan-jalan sekarang," ucap Celine lagi.
" Harus ganti baju ya?"
" Iya lah, biar lebih santai dikit. Masa' mau jalan-jalan pakai baju kerja," ucap Celine lagi.
" Ahhh kelamaan kak Zura ni, ayo ke kamar kakak saja. Aku make over kakak," ucap Celine sambil menarik tangan Azzura, Azzura hanya pasrah. Papa Angga dan mama Annete hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya itu.
__ADS_1
***
Bersambung