Secretary For Life

Secretary For Life
Keributan


__ADS_3

Di dalam, semua keluarga besar sudah berkumpul, mereka saling berbincang satu sama lain.


" Devan, ini istri mu?" Tanya seorang wanita yang tak lain adalah istri dari anak pertama Opa.


" Iya, Tante. Kenalkan Azzura, istri Devan," balas Devan.


" Arimbi, Tantenya Devan. Lebih tepatnya istri dari Antoni, anak tertua sekaligus pewaris keluarga Hadiwinata," ucap Tante Arimbi sombong sambil mengamati penampilan Azzura dari atas sampai bawah.


" Oh ya maaf, kami tidak bisa menghadiri pernikahan kalian waktu itu. Maklum kami kan orang sibuk," ucap Tante Arimbi.


" Tidak masalah, Tan." Balas Devan.


" Tapi Tante senang, akhirnya kamu bisa move on dari Naila. Setidaknya dengan begitu kamu tidak akan mengusik pernikahannya lagi," ucap Tante Arimbi.


" Naila?" Ucap Azzura lirih sambil menatap Devan.


" Kamu belum tahu, siapa Naila?" Tanya Tante Arimbi.


" Naila itu...," Ucap Tante Arimbi namun langsung di potong oleh Devan.


" Masa lalu yang ingin aku lupakan, karena bagiku mengenal nya adalah suatu kesalahan. Dan aku sudah menceritakan nya pada Azzura, bukankah begitu sayang?" Ucap Devan dingin, ekspresi kembali ke mode dingin, berbeda saat mengobrol dengan Opanya tadi


" Ya benar Tante, Devan sudah menceritakan semuanya pada Zura," balas Azzura.


" Ya sudah kalau begitu, kami ke sana dulu, Tan. Permisi," ucap Devan meninggalkan Tante Arimbi.


Dalam hati Azzura bertanya tanya tentang siapa Naila, kenapa ekspresi Devan terlihat marah saat membahas Naila. Namun dia memilih diam, tidak berani menanyakan nya pada Devan.


Devan mengajak Azzura bergabung dengan orang tua dan juga kakaknya Carissa.


" Hai Dev, Zura," sapa Carissa saat melihat keduanya.


" Hai kak, apa kabar? Mana Ammara dan kak Edward, mereka nggak ikut?" Tanya Devan. Edward adalah suami dari Carissa.


" Ammara sama Celine, Edward lagi ke toilet," jelas Carissa.


" Gimana rasanya jadi istri Devan, Ra?" Tanya Carissa.


" Apa dia juga menyiksa mu dirumah?" Tanya Carissa lagi.


" Nggak kok Kak," balas Azzura.


" Kak Risa apaan sih, memang aku suka menyiksa orang," balas Devan.

__ADS_1


" Ya kali aja, soalnya di kantor kan kamu suka nyiksa karyawan kamu. Sampai-sampai kakak harus merelakan Azzura, karyawan kesayangan kakak untuk bekerja denganmu," ucap Carissa.


" Ya karena mereka aja yang nggak bisa kerja," balas Devan.


Mereka larut dalam obrolan, saling berbagi cerita tentang hidup mereka. Sampai kedatangan Tante Arimbi membuat mereka terpaksa menghentikan obrolan nya.


" Dev, ini Tante Tania mau kenalan sama istri kamu, katanya," ucap Tante Arimbi yang datang bersama Tante Tania, anak bungsu Opa.


" Oh silahkan, Tan. Zura, kemarilah," ucap Devan pada Azzura.


" Ini Azzura, Tan. Istri Devan," ucap Devan memperkenalkan Azzura.


" Kamu serius, menikah dengan perempuan seperti ini?" Ucap Tante Tania.


" Perempuan seperti ini? Maksud Tante?"


" Memangnya kamu tidak tahu siapa dia? Dia itu hanya anak seorang pemilik toko kecil lho Dev, nggak pantas lah kalau dia jadi bagian dari keluarga Hadiwinata," ucap Tante Tania lagi, membuat Tante Arimbi kaget.


" Kamu serius, Nia?"


" Serius dong Kak, aku pernah bertemu dengan wanita ini, saat mengunjungi toko kecilnya," ucap Tante Tania.


" Kenapa selera kamu rendah sekali sih, Dev? Tante pikir kamu menikah dengan perempuan yang sederajat dengan keluarga kita." Ucap Tante Arimbi.


" Apa sudah cukup bicaranya, Tante?" Tanya Devan.


" Siapa istri saya, mau berasal dari keluarga mana, itu bukan urusan kalian," ucap Devan dengan ekspresi mengerikan.


" Kamu ini, Tante seperti ini karena peduli dengan mu, Dev. Perempuan ini pasti bukan perempuan baik-baik, dia sengaja mendekati mu, pasti karena dia tahu kalau kamu kaya. Apa kamu tidak takut kalau dia akan menguras habis hartamu?"


" Sejak kapan Tante peduli dengan hidupku? Tante mengatakan itu karena usaha Tante untuk menjadi kan Vallery istriku, tidak berhasil kan? Lagi pula dia istri ku, jadi kalau dia mau menghabiskan harta ku, itu hak dia, dan itu juga bukan urusan Tante, harta-harta ku sendiri, bukan milik Tante," balas Devan.


" Tapi tetap saja ini akan membuat keluarga Hadiwinata malu Dev, apa kata orang kalau tahu salah satu anggota keluarga Hadiwinata menikah dengan perempuan rendahan," imbuh Tante Arimbi.


" Maaf menurut saya rendah atau tidaknya status manusia tidak bisa di ukur dari kekayaan nya. Memang anda kaya, tapi apakah itu hasil kerja anda sendiri? Dari sikap yang anda tunjukkan saya yakin anda hanya mengandalkan harta orang tua anda," ucap Azzura.


" Lihatlah apa dia punya sopan santun? Begitu kah cara berbicara dengan orang yang lebih tua? Aku yakin dia pasti juga tidak berpendidikan," ucap Tante Tania.


" Mungkin ajaran orang tuanya memang seperti itu, biasa orang rendah itu tidak peduli tentang pendidikan. Yang terpenting bagi mereka, bagaimana cara mendapatkan pria kaya agar bisa menumpang hidup, bukankah kau bilang tadi dia hanya anak pemilik toko kecil?" Ucap Tante Arimbi.


" Kakak benar," ucap Tante Tania.


" Sebelum nya maaf, saya memang berasal dari keluarga yang kalian anggap rendahan. Tapi saya bangga. Dan perlu kalian tahu, orang tua saya tidak pernah mengajarkan seperti yang anda tuduhkan tadi kepada saya. Mereka selalu mengajarkan kepada kami untuk bekerja keras, agar kami bisa mandiri, bisa berdiri dengan kaki kami sendiri. Agar kami tidak selalu bersembunyi di balik ketiak orang tua kami. Seperti yang kebanyakan orang kaya lakukan sekarang, yang hanya bisa mengandalkan kekayaan orang tua mereka," ucap Azzura.

__ADS_1


" Kau menyindir kami?"


" Memangnya kalian merasa seperti itu?" Ucap Azzura.


" Kau benar benar perlu di beri pelajaran, agar punya sopan santun," ucap Tante Tania sambil mengangkat tangan hendak menampar Azzura, namun di gagal kan oleh Devan.


" Jaga sikap Tante, jangan berani menyentuh istriku," ucap Devan sambil memegang tangan Tante Tania, dengan tatapan marah.


" Istri mu itu yang tidak punya sopan santun, dia tidak menghormati kami," ucap Tante Arimbi.


Carissa yang sejak tadi diam, akhirnya turun tangan. Dia menghampiri ke dua Tantenya itu.


" Sopan santun? Hormat? Kalau kalian ingin di hormati maka hormatilah orang lain. Aku tahu siapa Zura, dia bukan orang yang suka membuat keributan. Kecuali memang ada orang yang memancingnya terlebih dahulu. Wanita yang kalian anggap berasal dari keluarga rendahan ini, bukan wanita sembarangan. Bisa di bilang dia jauh lebih baik dari kalian. Dan perlu kalian tahu dia, adalah lulusan terbaik dari....." Ucap Carissa langsung di potong oleh Azzura.


" Sudahlah Kak, tidak perlu mengatakan itu pada mereka. Karena langit tidak akan pernah mengatakan kalau dia tinggi," potong Azzura.


" Sombong sekali kamu, sudah miskin masih saja sombong," ucap Tante Tania.


Mendengar keributan itu, membuat Opa menghampiri mereka.


" Ada apa ini?" Ucap Papa Angga, bersamaan dengan datangnya Opa. Dia sejak tadi juga memperhatikan mereka dari kejauhan. Dia sangat kecewa dengan sikap kakak ipar dan adiknya itu, sungguh keterlaluan.


" Lihatlah, istri yang di pilih anakmu, Devan ini. Benar-benar tidak pantas menjadi anggota keluarga Hadiwinata," ucap Tante Tania.


" Iya, aku pikir Devan akan memilih istri yang sepadan dengan kita, ternyata lagi-lagi dia membuat keluarga Hadiwinata malu," imbuh Tante Arimbi.


" Cukup, Tania, Arimbi!" Ucap Opa.


" Tapi itu memang kenyataannya, Pa," ucap Tania.


" Azzura adalah menantu terbaik yang aku miliki, aku bangga mempunyai menantu seperti nya. Dan aku juga salut kepada orang tua nya karena bisa mendidik anaknya seperti ini. Hal yang tidak pernah kalian bisa lakukan," Papa Angga bicara.


" Jadi kau mengganggap kami tidak bisa mendidik anak kami?"


" Ya memang seperti itu bukan? Dan ya satu lagi kalau kalian menganggap kami salah memilih menantu, dan membuat malu nama keluarga Hadiwinata. Saat ini juga kami akan lepaskan nama Hadiwinata dari kami," ucap Papa Angga.


" Apa maksudmu, Angga?" Tanya Opa.


" Maafkan Angga, Pa. Tapi sepertinya ini sudah saatnya," ucap Papa Angga sambil berjalan ke depan dan meminta mic pada MC yang berada di sana.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2