Secretary For Life

Secretary For Life
Bad mood


__ADS_3

Siang ini Azzura bisa bernapas sedikit lega, karena Devan dan juga Martin sedang meeting di luar. Setidaknya dengan begitu tidak menambah buruk mood Azzura. Permintaan orang tuanya tadi pagi sudah membuat setengah harinya sangat buruk. Bahkan dia harus mendapatkan beberapa teguran dari Devan, karena konsentrasinya terbagi.


Flashback on


Azzura menghadap bosnya untuk memberikan laporan yang di minta oleh Devan. Devan tampak serius membaca laporan itu dengan serius, sesaat kemudian.


Byaarrrr


Devan melemparkan berkas laporan itu ke arah Azzura, seketika membuat semua kertas berhamburan. Membuat Azzura kaget dan langsung memunguti berkas itu.


" Kamu ini bisa kerja atau tidak?" Bentak Devan.


" Maafkan saya, Tuan," ucap Azzura lirih.


" Memangnya kata maaf bisa menyelesaikan semuanya, keluar!! Perbaiki semua, saya beri kamu waktu 20 menit!!"


" Baik Tuan."


" Jangan sampai ada kesalahan lagi, kalau memang kamu mau kontrak kerjamu ku perpanjang," ucap Devan dingin.


Azzura keluar dari ruangan itu, dan langsung memperbaiki laporan itu.


" Apa memang orang itu selalu bicara dengan ototnya? Selalu saja berteriak, memangnya aku tuli, salah ya salah, bicara baik-baik kan bisa," Azzura terus saja bicara sendiri. Entah kenapa kali ini dia sangat kesal dengan sikap bosnya itu, padahal sebelumnya dia juga sering mendapatkan perlakuan seperti itu. Mungkin karena moodnya yang sudah buruk sejak pagi tadi.


" Ada yang bisa saya bantu, Nona Zura?" Martin sudah berdiri di hadapan Azzura.


" Tidak Tuan, terimakasih. Lebih baik anda kembali ke meja anda saja. Saya tidak ingin kena masalah lagi," ucap Azzura tanpa melihat Martin, matanya terus melihat ke laptop nya dangan jari tangan menari di atas keyboard.


" Ok, kalau butuh bantuan bilang saja," ucap Martin kemudian menuju meja kerjanya.


" Ok."


Sesaat kemudian laporan Azzura selesai, setelah memastikan tidak ada kesalahan lagi, dia segera memberikan laporan itu pada Devan.


Huuhhhh


Azzura menghembuskan napas lega saat keluar dari ruangan Devan.


" Bagaimana?" Tanya Martin, Azzura membalasnya dengan mengacungkan ibu jarinya.


" Syukurlah," ucap Martin ikut lega, dia tahu bagaimana Devan kalau sedang marah. Hal itulah yang membuat sekretaris sekretaris sebelum nya memilih untuk mengundurkan diri dalam hitungan hari. Dan hanya Azzura lah yang bisa bertahan lama, hampir satu tahun. Bagi Martin itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa, karena seorang Azzura bisa menghadapi Devan yang dingin, arogan, dan suka marah itu.


" Sebenarnya kau kenapa, aku perhatikan sejak pagi tadi kau tidak fokus?" Tanya Martin.


" Tidak apa-apa, Tuan. Hanya sedikit ada masalah pribadi saja," balas Azzura.


" Apapun masalahmu, saya sarankan cepat selesaikan, jangan sampai mengganggu pekerjaan mu. Kamu tahu kan bagaimana Devan?"


" Iya Tuan, semoga masalah tadi tidak membuat kontrak kerja saya tidak di perpanjang," ucap Azzura.


" Tenang saja, aku usahakan agar kamu tetap bisa bekerja disini."


" Terima kasih Tuan."

__ADS_1


" Ya iyalah aku akan usahakan kamu tetap jadi sekretaris bos gila itu. Karena kalau tidak aku yang repot, bisa-bisanya semua pekerjaan kembali dilimpahkan kepadaku," batin Martin.


Ceklek


Devan membuka pintu, tampak sudah rapi dengan jas nya.


" Martin, kita berangkat meeting sekarang," ucap Devan pada Martin.


" Siap bos," balas Martin sambil memberikan hormat, kemudian berdiri menghampiri Devan.


" Dan kamu, Azzura, setelah meeting saya tidak akan kembali ke kantor. Kamu boleh pulang kalau pekerjaan mu sudah selesai, hari ini tidak ada lembur."


" Baik Tuan," balas Azzura.


Flashback off


Jam kantor sudah selesai, Azzura membereskan meja kerjanya sebelum pulang. Setelah selesai dia segera meninggalkan lantai teratas di gedung itu, menuju tempat parkir.


" Sore Pak," sapa Azzura pada security yang bertugas saat itu.


" Sore juga Non Zura, sudah mau pulang, tumben nggak lembur?"


" Ya masa' iya lembur terus Pak, sekali kali pulang awal lah," balas Azzura sambil memasang helm di kepalanya.


" Iya deh iya."


" Ya sudah Zura pulang dulu ya Pak, mari," ucap Azzura sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Sesampainya di cafe Naina, Azzura memarkirkan motornya dan segera masuk kedalam cafe itu.


" Tumben jam segini sudah pulang," ucap Naina saat tahu sahabatnya datang.


" Memangnya nggak boleh?"


" Galak amat neng, lagi PMS ya?" Tanya Naina kemudian duduk di hadapan Azzura.


Azzura hanya diam, sambil menunduk kan kepalanya dan menjadikan kedua tangannya sebagai penopang.


" Ada masalah?" Tanya Azzura lagi.


" Setidaknya berikan aku minum dulu kek," ucap Azzura mendongak kan kepalanya. Naina bangkit dan mengambil kan minuman untuk Azzura.


" Ni, minumlah," ucap Naina sambil meletakkan segelas jus jeruk di hadapan Azzura. Azzura menyesapnya sampai setengah gelas.


" Ada apa, apa yang membuatmu bad mood, bosmu?" Tanya Naina setelah Azzura meletakkan kembali gelasnya di meja.


Huuhhhh


Azzura membuang napas.


" Salah satunya," balas Azzura.


" Salah satunya? Berarti ada masalah lain dong?"

__ADS_1


" Ayah dan Ibu memintaku untuk segera menikah," ucap Azzura.


" Ya kalau itu sih sudah sering aku dengar, biasanya kamu juga bisa beralasan kepada mereka, Harsa sibuk lah, kamu masih mau mengejar karier lah," balas Naina.


" Kali ini beda, Manda mau nikah sama Arga."


" Oh ya, Arga bakal jadi adik ipar kamu dong, wah pasti seru sahabat ku jadi adik ipar ku," balas Naina.


" Iya, tapi yang jadi masalah, aku harus menikah dulu dengan Harsa sabelum Manda dan Arga menikah. Ayah dan ibu tidak ingin Manda melangkahi ku."


" Ya sudah, kamu tinggal bilang saja ke Harsa. Suruh dia segera melamar kamu, kalau memang dia serius itu pasti tidak jadi masalah buat dia. Toh kalian juga sudah dewasa dan sama-sama mandiri," ucap Naina.


" Mauku juga seperti itu Na, aku juga tahu diri, usiaku sudah sangat matang untuk menikah. Aku juga berharap dia segera melamar dan menikahiku. Sebelumnya aku juga sudah membahas ini dengannya tapi dia selalu mengalihkan pembicaraan. Dan sekarang dia malah sulit untuk dihubungi."


" Apa jangan-jangan dia punya WIL, secara kalian kan LDR ya, dia tinggal di luar negeri, kamu di sini. Dia juga cukup tampan, mapan juga sudah, pasti banyak wanita yang tertarik padanya."


" Harsa nggak seperti itu, aku tahu dia."


" Yah neng Zura sayang, namanya juga lelaki. Ibarat kucing ni ya kalau dia disuguhi ikan di tempat dia juga nggak akan nolak."


" Ahh, kamu ini bukannya memberi solusi malah membuat mood ku semakin buruk."


" Bukannya gitu Zura sayang, gini deh kamu selama pacaran kamu sudah pernah dikenalin sama orang tuanya belum?" Tanya Naina di balas gelengan oleh Azzura.


" Itu perlu dipertanyakan, hubungan kalian sudah lama dan sekalipun kamu belum di ajak bertemu dengan orang tua nya. Dari situ kita bisa lihat seserius apa dia dengan hubungan kalian?"


" Orang tuanya sangat sibuk, Na. Harsa sendiri juga sangat sibuk."


" Sesibuk apapun, bertemu walau hanya sebentar bisa kan? Rumahnya orang tuanya aku yakin kamu sendiri juga belum tahu?" Lagi-lagi Azzura menggeleng.


" Menurut cerita mu, maaf jika aku meragukan ke serius an Harsa. Jika dia serius dia tidak akan menghindari pembicaraan tentang pernikahan secara hubungan kalian sudah sangat lama."


Azzura kembali meminum minumannya sampai tak bersisa, bangkit dan memilih untuk meninggalkan tempat itu.


" Mau kemana?"


" Pulang, moodku akan semakin buruk jika disini, kamu tidak memberikan solusi tapi malah membuat hatiku gundah," balas Azzura.


" Sebaiknya kamu tegas ke Harsa, kalau tidak lupakan cari yang lain. Sudah terlalu lama kamu menunggu nya."


" Hemmmm," balas Azzura kemudian memacu motor kesayangannya.


Dalam perjalanan pulang perkataan Naina, terus saja terngiang di telinga nya.


" Harsa bukan lelaki seperti itu, dia memang sangat sibuk. Itulah alasannya kenapa dia belum mau melamar ku." Azzura berusaha menepis keraguannya pada Harsa.


" Tapi bagaimana jika semua yang di katakan Naina itu benar?," batin Azzura lagi.


" Aaaaaa, semua ini membuat ku pusing. Jika bisa memilih, aku lebih memilih mengerjakan setumpuk pekerjaan yang di berikan Tuan Devan dari pada masalah ini." batin Azzura.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2