Secretary For Life

Secretary For Life
Perjanjian


__ADS_3

Devan bergegas masuk ke dalam rumah Opa. Beberapa saat lalu Papanya memberi tahu kalau kondisi sang Opa memburuk.


" Lihatlah gara-gara ulahmu, kondisi Opa jadi seperti ini," ucap Oma saat Devan baru saja masuk. Devan memilih untuk tidak menghiraukan ucapan Oma, dia memilih melangkah menuju kamar Opa.


" Itulah Opa, dia itu memang tidak bisa menjaga nama baik keluarga. Bisa-bisanya dia memilih menjalin hubungan terlarang. Patah hati sih patah hati, tapi kenapa harus menyimpang. Bikin malu saja," Riko sengaja memancing emosi Devan.


" Shiitt," umpat Devan, bersiap menghampiri Riko. Ingin rasanya Devan menghajar Riko, tidak peduli dia itu kerabatnya atau bukan.


" Devan!!" Panggilan Papa membuat Devan mengurungkan niatnya.


" Naiklah, Opa sudah menunggu mu," ucap Papa lagi. Devan mengikuti perkataan Papanya, dia segera berlalu meninggalkan Oma dan Riko.


" Jaga emosi mu, ingat kondisi Opa," ucap Papa sambil merangkul Devan dan mengajaknya ke kamar Opa.


Devan bisa melihat saat ini kondisi Opanya sangat lemah. Perlahan Devan menghampiri Opa, dan duduk disampingnya.


" Bagaimana kondisi Opa?" Tanya Devan.


" Kata dokter, Opamu terlalu banyak pikiran. Hal inilah yang menyebabkan penyakit nya kambuh," jelas Mama, yang sejak tadi berada di sisi Opa.


" Devan, apa itu kamu?" Tanya Opa sambil perlahan membuka matanya.


" Iya, Opa, ini Devan. Maafkan Devan ya Opa, Opa sakit pasti gara-gara Devan." Ucap Devan.


" Opa jangan terlalu banyak pikiran. Devan ini masih lelaki normal Opa, Devan punya kekasih, dan dia wanita. Jadi berita itu sama sekali tidak benar. Berita itu pasti hanya dibuat untuk menjatuhkan kita," Ucap Devan mencoba menenangkan Opa.


" Kalau begitu menikahlah dengan kekasih mu itu," ucap Opa sambil menggenggam tangan cucu kesayangan nya itu.


" Opa harap dalam bulan ini, kalian sudah menikah," ucap Opa lagi. Mendengar permintaan Opa, membuat Devan frustasi. Bagaimana dia akan menikah, kekasih saja dia tidak punya. Jangankan kekasih, teman perempuan saja saat ini tidak ada. Devan tidak mengira, awalnya dia mengatakan itu hanya untuk menangkan Opa, malah berujung seperti itu.


" Bagaimana Devan?" Tanya Opa, membuyarkan pikiran Devan.


" Ehmmmm."


" Devan pasti akan lakukan itu, Pa. Iyakan Dev?" ucap Mama pada akhirnya, membuat Devan langsung menatap ke arah Mamanya.


" Hehehe, iya Opa." Balas Devan.


***


Devan baru saja sampai apartment nya, dia segera menghubungi Martin dan memintanya untuk datang ke apartement.


" Ada apa?" Tanya Martin saat sudah tiba di apartement Devan.


" Buatkan aku surat perjanjian seperti ini!" Ucap Devan sambil memberikan kertas yang dia pegang pada Martin.

__ADS_1


" Perjanjian apa?"


" Baca sendiri, kamu masih bisa baca kan?"


Martin membaca tulisan itu dengan seksama, seketika matanya membulat sempurna.


" Kau mau bawa dia dalam masalah kita?" Tanya Martin dibalas anggukan oleh Devan.


" Karena berita itu, kondisi Opa memburuk." Devan menceritakan semuanya pada Martin.


" Baiklah, tapi kalau dia menolak bagaimana?"


" Semoga saja tidak, aku rasa isi surat perjanjian itu akan menguntungkan dia. Sudahlah lebih baik cepat kau buat perjanjian itu, lebih cepat lebih baik."


Pagi harinya


Surat perjanjian yang diminta Devan sudah jadi, dan kini sudah berada di tangan Devan.


" Apa harus dia Dev?" Tanya Martin.


" Aku tidak ada pilihan lain, kau kan tahu sendiri sejak saat itu, aku tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Hanya dia perempuan yang aku kenal saat ini."


" Itu salahmu sendiri, hanya gara-gara satu wanita kau menutup hati. Menganggap kalau semua wanita sama, dan sekarang apa kita tidak terlalu jahat? Melibatkan orang yang tidak tahu apa-apa dalam masalah ini?"


" Lalu? Menurut mu aku harus bagaimana? Opa hanya memberiku waktu satu bulan."


" Ahhh kau ini, mau enaknya saja. Ingat apa yang aku lakukan ini juga untuk membersihkan namamu!!"


" Ahhhh shiitt, gara-gara si brengsek itu kita jadi seperti ini. Ingin rasanya aku habisi dia," umpat Martin.


" Sudahlah, lebih baik kau suruh dia segera kesini."


Martin mengikuti apa yang diperintahkan Devan, dia segera menghubungi orang yang di maksud. Satu jam kemudian yang di tunggu, akhirnya datang juga.


" Maaf Tuan saya terlambat," ucap Azzura.


" Tidak masalah," balas Devan.


" Ini berkas yang Tuan minta," Azzura menyerahkan beberapa berkas kepada Devan. Devan segera memeriksa dan menandatangani berkas yang di berikan Azzura.


" Zura bisa ikut ke ruang kerja saya sebentar, ada yang perlu saya bicarakan denganmu?" Ucap Devan. Membuat Azzura bertanya tanya. " Kenapa tidak disini saja, memangnya mau bicara apa sih ?"


" Ini menyangkut perpanjangan kontrak kerja mu," ucap Devan sambil berjalan menuju ruang kerjanya, Azzura mengikutinya dari belakang. Sedangkan Martin memilih menunggu nya di ruang tamu, karena Devan tidak mengijinkan nya untuk ikut.


Devan mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya, kemudian dia mengambil sebuah map dan di berikan pada Azzura.

__ADS_1


" Duduklah," ucap Devan, Azzura hanya menurut.


" Bacalah ini, ini kontrak kerjamu yang baru." Ucap Devan.


Azzura perlahan membuka map itu, dan mulai membacanya dengan seksama.


" Apa maksudnya ini, Tuan?" Tanya Azzura.


" Ya seperti yang tertulis di situ. Saya akan memperpanjang kontrak kerja denganmu sampai kamu bosan bekerja dengan saya, asalkan kamu setuju dengan persyaratan yang tertulis di sana," jelas Devan.


" Maaf ya Tuan, saya memang butuh pekerjaan, dan saya berharap kontrak kerja saya Tuan perpanjang. Tapi tidak dengan menikah dengan Tuan. Pernikahan itu bukan permainan Tuan, lagian saya juga sudah punya kekasih, dan sebentar lagi saya akan menikah dengannya," ucap Azzura sambil menahan emosi.


" Jadi kamu lebih memilih tidak ku perpanjang kontrak kerjamu, dari pada menikah denganku?"


" Tentu," balas Azzura penuh keyakinan.


" Apa kamu yakin? Aku bisa memberikan apapun yang kamu mau jika kamu setuju? Ini akan menguntungkan untukmu. Aku memilih mu menjadi istri ku, seorang pengusaha muda yang tampan dan sukses seperti ku, bukankah itu suatu anugerah?"


" Sebelum nya terima kasih telah memilih saya, Tuan. Tapi maaf saya tidak tertarik, ya walaupun Tuan seorang pengusaha muda, tampan dan sukses, saya tetap memilih kekasih saya. Lebih baik Tuan cari wanita lain saja, dengan pesona dan kekayaan yang Tuan miliki pasti banyak perempuan di luar sana yang mau menjadi istri anda, tapi bukan saya. Dan ya satu lagi, bagi saya pernikahan bukan perkara untung dan rugi. Permisi," ucap Azzura kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu.


" Shiitt, sehebat apa sih kekasih mu itu, sampai kau bisa menolak permintaan ku?" Ucap Devan lantang, membuat Azzura berhenti.


" Dari segi kesuksesan dan kekayaan kalau dibandingkan Tuan mungkin dia tidak ada apa-apanya. Tapi kalau masalah sikap, maaf dia lebih baik dari anda, karena dia selalu bisa menjaga perasaan orang lain dan berusaha untuk tidak menyakiti hati orang lain. Permisi," balas Azzura tanpa menoleh ke arah Devan.


Di ruang tamu, Martin sudah tidak sabar menunggu. Apa Azzura menerima tawaran Devan, atau justru menolak nya? Dan kalau menolak pasti Devan tidak akan memperpanjang kontrak kerja Azzura. Dan lagi -lagi dia yang akan direpotkan, karena seluruh pekerjaan pasti akan dilimpahkan kepadanya.


" Nona Zura, sudah?" Tanya Martin saat melihat Azzura keluar dari ruang kerja Devan.


" Apa yang kalian bicarakan?"


" Tanya saja pada bos Anda," balas Azzura ketus, sambil berjalan keluar apartement.


" Gagal," ucap Martin sambil menepuk jidatnya, kemudian memilih menghampiri Devan di ruang kerjanya.


Sedangkan Azzura terus saja mengomel sendiri.


" Memangnya dia pikir siapa? Bisa-bisanya mau mempermainkan pernikahan. Maaf ya Tuan Devan, saya tidak bisa di beli dengan pekerjaan, jabatan ataupun uang. Huufttt.


" Sabar Zura, sabar. Ingat hari ini kamu akan bertemu dengan Harsa, jaga emosi mu, jangan sampai karena Tuan Devan, pertemuan mu dengan Harsa kacau nanti," Azzura berusaha menenangkan diri, ya memang pagi tadi Harsa menghubungi nya dan meminta untuk bertemu.


Drrttt drrttt


Ponsel Azzura bergetar, Azzura segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Ternyata pesan dari Harsa, yang mengabarkan kalau hari ini Harsa belum bisa bertemu dengan Azzura. Hal ini membuat Azzura kecewa, dia langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas nya lagi. Tanpa sengaja dia memegang sebuah kartu undangan yang seharusnya dia berikan pada Devan.


" Ahhh kenapa harus lupa dengan undangan ini?" Mau tidak mau Azzura kembali ke apartement Devan untuk memberikan kartu undangan itu.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2