
Devan dan Azzura keluar dari kamar untuk menuju ruang makan. Mama Annete, Celine dan Papa Angga ternyata sudah menunggu mereka berdua.
" Kalian ngapain aja sih di kamar, lama sekali?"gerutu Celine.
" Celine!" Ucap Papa Angga.
" Tapi kan Celine udah lapar, Pa," balas Celine.
" Biasanya juga makan duluan, bawel banget sih," balas Devan sambil duduk di kursi ruang makan, di ikuti dengan Azzura.
" Papa kapan sampai?" Tanya Devan pada Papa Angga.
" Udah dari tadi, kakak sih di kamar terus jadi nggak tahu kalau Papa udah datang," balas Celine.
" Aku nggak nanya sama kamu, bocah," ucap Devan.
" Sudah-sudah, jangan ribut terus. Kalian ini kalau bersama kaya' kucing dan tikus," ucap Mama Annete menengahi. Sedangkan Papa Angga hanya tersenyum melihat kelakuan kedua kakak beradik itu, ya mereka berdua memang selalu seperti itu saat bersama. Sedang Azzura merasa kaget dengan sikap Devan, dia baru tahu sisi lain Devan. Devan banyak tersenyum dan bicara saat bersama keluarganya, berbeda sekali dengan Devan yang selama ini dia kenal, cuek, dingin, nyebelin,tapi juga ngangenin, hehehe.
" Jangan kaget ya nak Zura, Devan dan Celine memang seperti itu kalau bersama," ucap Papa Angga.
" Tidak sama sekali, Pa. Malah Zura senang melihatnya, mengingat kan Zura sama adik-adik Zura. Kami kalau berkumpul juga seperti itu," balas Azzura sambil tersenyum.
" Ini belum kalau Carissa ada, tambah rame," sambung Mama Annete, Carissa adalah anak pertama Mama Annete dan Papa Angga. Dia sekarang menetap di luar negeri, bersama anak dan suaminya. Carissa sebelumnya juga merupakan atasan dari Azzura. Dialah yang merekomendasikan Azzura menjadi sekretaris Devan, jadi Azzura juga mengenal wanita yang sekarang menjadi kakak iparnya itu.
" Jadi kangen sama Kak Risa," ucap Celine.
" Sabar, lusa Kak Risa akan pulang," ucap sang Papa.
" Benarkah?" Ucap Celine bahagia.
" Ya tentu, memangnya kau lupa lusa itu hari apa?" Devan ikut bicara.
" Ehhmmm hari Senin," balas Celine santai kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Kalau itu semua orang juga tahu, dasar bocah," ucap Devan lagi.
" Laahhh emang bener kan, emangnya itu hari spesial?" ucap Celine.
__ADS_1
" Bukan harinya Celine, tapi tanggal nya. Lusa itu tanggal berapa? Dan itu..." Mama Annete ikut bicara namun langsung di potong oleh Celine.
" OMG, aku ingat, hari ulang tahun Opa," ucap Celine.
" Awas aja aku bilangin ke Opa biar kau di pecat jadi cucunya," ucap Devan.
" Janganlah Kak, kalau dipecat jadi cucu Oma sih nggak masalah. Kalau Opa ya jangan," balas Celine.
" Sudah-sudah ayo buruan di habiskan makanan nya. Setelah ini ada yang ingin Papa sampaikan pada kalian," ucap Papa Angga. Mereka semua kemudian kembali fokus pada makanan mereka masing-masing, tidak ada pembicaraan lagi, hanya bunyi piring dan sendok beradu yang terdengar.
Setelah makan malam, semua anggota keluarga itu berkumpul di ruang keluarga. Saling bergurau untuk melepas kerinduan, ya momen seperti ini bagi mereka sangat lah berarti. Karena mereka jarang sekali berkumpul, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Azzura merasa bahagia bisa berada di tengah keluarga ini, awalnya dia takut dan minder karena dia hanyalah orang kelas bawah berbeda dengan mereka. Namun ternyata keluarga itu sangat baik, mereka bisa menerima Azzura tanpa melihat status sosial Azzura.
" Oh ya Pa, katanya ada yang ingin Papa sampaikan?" Tanya Devan.
" Oh iya, begini sekarang kondisi HW sudah membaik, bahkan bisa di bilang sangat baik. Jadi Papa pikir, Papa akan melepaskan posisi Papa di HW, dan akan mengembalikan nya pada Opa. Papa pikir ini yang terbaik untuk kita semua, agar tidak ada lagi konflik di keluarga Hadiwinata. Papa kasihan sama Opa kalian,di hari tuanya beliau harus melihat anak cucunya berseteru hanya karena harta. Ya walaupun sebenarnya Papa juga tidak menginginkan harta Opa, hanya saja kalian tahu sendiri kan bagaimana Om dan Tante kalian. Mereka terus saja menganggap Papa sebagai ancaman mereka. Papa harap dengan Papa mengembalikan HW, mereka tidak akan cari masalah lagi dengan kita, jujur Papa sudah lelah."
" Mama dan Carissa sudah setuju, lalu bagaimana menurut kalian?" Ucap Papa Angga.
" Kalau itu yang terbaik kenapa nggak Pa, lagian kita juga tidak perlu warisan Opa. Hasil dari perusahaan kita sendiri sudah lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan kita," balas Devan.
" Ya sudah kalau begitu, nanti pada saat acara ulang tahun Opa, Papa akan membicarakan ini pada mereka. Mumpung semua berkumpul." Ucap Papa Angga.
" Kalau begitu Papa akan kembali ke perusahaan dong?" Tanya Devan.
" Tentu.."
" Syukurlah, Devan sangat senang," ucap Devan.
" Tentu tidak maksudnya," ucap Papa Angga sambil tertawa.
" Lho kok tidak, memang kenapa?"
" Ya masa' iya kamu suruh Papamu ini untuk terus bekerja. Papa sama Mama sudah menghabiskan masa muda kami untuk membangun perusahaan ini, jadi sekarang tugas kalian untuk mengembangkan perusahaan," balas Papa Angga.
" Sudah waktunya kami pensiun," Mama Annete ikut bicara.
" Mama benar, biarkan kami menikmati hari tua kami, tanpa harus memikirkan cari uang lagi," ucap Papa Angga.
__ADS_1
" Ckckck kalian sok tua, masih segar bugar gitu. Tua itu kalau udah kaya' Opa," balas Devan.
" Hahahaha, ya kalau gitu menikmati masa setengah tua kami. Papa kan juga ingin membahagiakan Mama, ya bisa di bilang Papa mau pacaran lagi sama Mama kalian," ucap sang Papa sambil melihat istrinya kemudian mengedipkan satu matanya, membuat Mama Annete malu.
" Ahhh Papa sama ini membuat jiwa jomblo ku menangis,"ucap Celine.
" Sepertinya udah pengen di nikahin itu, Pa," sahut Devan.
" Ya kalau udah ada calonnya, sekarang pun Papa siap menikah kan Celine. Dengan begitu kan Papa bisa tenang kalau honeymoon sama Mama," ucap Papa Angga.
" Honeymoon macam pengantin baru aja, yang pengantin baru aja sibuk kerja. Ini yang tua malah pengennya honeymoon terus," ledek Celine.
" Oh iya untung Celine bilang, kalian kapan mau honeymoon? Jangan kerja terus," ucap Mama Annete.
" Nantilah Ma, pekerjaan kami masih banyak. Kan Mama dengar sendiri apa yang Papa bicarakan tadi, Papa ingin pensiun, jadi siapa yang akan ganti Devan kalau Devan dan Zura pergi," balas Devan.
" Kan ada Celine," balas Celine.
" Aku nggak percaya kalau melepas perusahaan hanya sama kamu, lagian kamu juga masih kuliah," balas Devan.
" Meragukan kemampuan Celine ni Kak Devan. Kakak lupa Celine ini juga titisan Mama, Papa, jadi kalau masalah perusahaan mahh, kecil," ucap Celine.
" Ya sudah kalau begitu kami akan mengalah, sebagai pasangan yang sudah pernah honeymoon, kami akan menunda honeymoon kami. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kalian, so secepatnya kalian harus pergi honeymoon," ucap sang Papa.
" Tapi Pa," ucap Devan.
" Tidak ada tapi-tapian Devan, kami kan juga ingin cepat menimang cucu dari kalian. Kalau kalian kerja terus, bagaimana itu bisa terjadi. Lagian kamu apa tidak kasihan sama Zura, dia juga pasti pengen honeymoon. Ya kan Zura?" Mama Annete ikut bicara.
" Ohhh nggak kok, Ma. Honeymoon tidak begitu penting bagi Zura. Lagian benar kata Devan, saat ini pekerjaan kantor juga sedang banyak-banyaknya. Kami tidak ingin merepotkan Papa, hanya karena honeymoon," balas Azzura.
" Pokoknya kalian berdua harus tetap berangkat, nanti Mama siapkan semuanya. Nggak ada tawar menawar lagi," ucap Mama Annete.
" Ini semua gara-gara kamu Celine," batin Devan sambil menatap tajam Celine.
***
Bersambung
__ADS_1