
" Udah nggak usah ngambek, ni aku ada sesuatu buat kalian," ucap Arga sambil menyerahkan dua paper bag kepada Azzura dan Naina.
" Apa ni?" Tanya Naina sambil membuka paper bag itu dan isinya ternyata adalah sebuah parfum.
" Makasih. Kamu dapat apa Ra?" ucap Naina.
" Ehmmmm ini," ucap Azzura sambil menunjukkan sebuah novel berjudul Dream of The Red Chamber pada Naina.
" Semoga kalian suka," ucap Arga.
" Tentu kami sangat menyukainya, makasih Arga, kamu memang selalu tahu apa yang kami mau," balas Azzura.
" Ya karena aku adalah sahabat terbaik kalian," ucap Arga sambil memeluk kedua sahabatnya itu, dan tiba-tiba.
" Jauhkan tubuhmu dari istriku!" Ucap Devan yang baru datang bersama Martin, sontak membuat ketiga sahabat itu kaget.
" Istri?"
" Ya, Zura adalah istriku, jadi jangan sembarangan peluk dia," ucap Devan dengan wajah tidak bersahabat, sambil menarik Azzura agar mendekat padanya.
" Ohh jadi ini suami kamu, Ra? Sepertinya dia sangat posesif?" Balas Arga.
" Perkenalkan saya Arga, sahabat Zura dan Naina. Dan sebentar lagi saya akan menjadi adik ipar Zura dan anda, tuan...." Ucap Arga lagi sambil mengulurkan tangannya. Devan tampak kaget saat mengetahui kalau dia adalah calon adik ipar Azzura.
" Devan," balas Devan singkat.
" Aku menyuruhmu untuk istirahat di rumah, kenapa kamu malah kesini?" Tanya Devan pada Azzura.
" Aku bosan dirumah," balas Azzura.
" Kenapa tidak menghubungi ku kalau bosan?" Tanya Devan membuat Azzura heran.
" Untuk apa?" Tanya Azzura.
" Ya kalau Nona menghubungi Devan, dia kan bisa mengajak anda Nona jalan-jalan. Untuk mengurangi rasa bosan, bukan begitu, Dev?" Ucap Martin.
" Ehhmmm ya.. Martin benar," ucap Devan.
" Kalau begitu ayo kita jalan sekarang," ucap Devan lagi.
" Bukan nya kamu sibuk hari ini?" Balas Azzura.
" Tenang Nona Zura, semua biar saya yang handle. Kalian nikmati saja hari ini," balas Martin.
__ADS_1
" Tapi...." Azzura sebenarnya enggan pergi bersama Devan. Dia ingin menjaga jarak dari Devan.
" Sudahlah, ayo kita jalan. Aku yakin kedua sahabatmu ini tidak keberatan jika kamu meninggalkan mereka," ucap Devan.
" Tentu kami tidak keberatan, bukan begitu Ga?"
" Ya Naina benar, sudah sana bersenang-senang lah," ucap Arga.
Mendengar semua itu Azzura mau tidak mau mengikuti perkataan Devan, untuk jalan bersama nya. Karena jika menolak pasti akan membuat kedua sahabatnya itu curiga, kalau hubungan mereka saat ini tidak baik-baik saja.
" Kalau begitu kami permisi," ucap Devan sesaat sebelum meninggalkan tempat itu bersama Azzura.
" Sepertinya suami Zura sangat mencintai Zura," ucap Arga.
" Ya kalau dilihat-lihat memang seperti itu. Setelah apa yang Zura lalui selama ini, aku hanya berharap kali ini Zura bisa benar-benar bahagia bersama suaminya," balas Naina.
" Kamu benar, dia sudah banyak menderita," ucap Arga .
" Oh ya, Tuan Martin mau pesan apa?" Tanya Naina saat menyadari kalau Martin masih ada di situ.
" Seperti biasa saja, Nona," balas Martin.
" Baiklah tunggu sebentar," ucap Naina kemudian meninggalkan Martin bersama Arga.
" Martin, asisten Devan dan juga teman satu kantor Nona Zura. Sekaligus pelanggan tetap cafe ini," balas Martin. Mereka berdua kemudian larut dalam obrolan bersama.
Sedangkan di dalam mobil, Azzura dan Devan sama-sama memilih bungkam. Azzura yang masih kesal dan heran dengan sikap Devan. Sedangkan Devan bingung mau memulai bicara dari mana dengan Azzura.
" Jangan dekat-dekat dengan pria itu, aku tidak suka," ucap Devan pada akhirnya.
" Pria itu? Arga maksud nya?"
" Ya siapa lagi."
" Kenapa?"
" Ya karena kamu itu istri ku, jadi tidak boleh dekat dekat dengan Arga atau pria manapun selain aku," ucap Devan.
" Istri? Istri yang seperti apa? Sudahlah Dev, jangan sok menganggap ku istri yang sesungguhnya karena pernikahan kita ini hanya permainan. Dalam hitungan bulan juga akan berakhir," balas Azzura sambil tersenyum.
" Pernikahan kita tidak akan berakhir sampai kapanpun," balas Devan.
" Maksudmu, kamu akan memperpanjang kontrak pernikahan kita? Maaf aku tidak bisa, aku juga ingin hidup normal. Ingin pernikahan yang sesungguhnya, ingin punya keluarga, ingin punya suami yang mencintai ku, bukan hanya sebatas istri di atas kertas," balas Azzura.
__ADS_1
" Kalau begitu mari kita buat pernikahan kita ini menjadi pernikahan yang sesungguhnya, lupakan kontrak itu," balas Devan.
" Maaf aku tidak bisa," ucap Azzura.
" Kenapa?"
" Karena masih ada wanita lain di hatimu, mustahil jika kita akan bisa membina hubungan rumah tangga yang baik," balas Azzura sambil memalingkan wajahnya. Devan memilih untuk menepikan mobilnya, dia ingin bicara serius dengan Azzura.
" Kalau wanita yang kamu maksud itu adalah Naila, kamu salah. Dia sudah tidak ada di hatiku saat ini, dan hanya kamu satu-satunya wanita yang mengisi hatiku. Entah sejak kapan, aku sendiri juga tidak tahu, yang jelas aku sudah jatuh cinta padamu Azzura," ucap Devan sambil menggenggam tangan Azzura.
" Jika kamu mengira alasanku tidak ingin bicara dengan Naila karena aku masih mencintainya itu salah. Aku sangat kecewa padanya, dulu aku memang mencintainya tapi setelah dia mengkhianati ku, rasa cinta itu berubah menjadi benci. Kami menjalin hubungan sudah cukup lama, dan berencana untuk menikah. Tapi ternyata dia bukan wanita yang baik untukku, dia selingkuh dengan sepupuku sendiri, Riko. Padahal dia tahu kalau hubungan ku dengan Riko tidak pernah baik, bahkan kami sudah seperti musuh."
" Bukan hanya itu saja, Naila juga hampir menghancurkan perusahaan ku. Dia mencuri data-data penting perusahaan dan diberikan kepada Riko. Untung saja Kak Carissa bisa menyelesaikan dengan baik. Itulah sebabnya aku membencinya karena dia tidak hanya menghancurkanku tapi juga keluarga ku," jelas Devan, membuat Azzura sekarang mengerti kenapa sampai saat ini Devan tidak mau bertemu atau berbicara dengan Naila.
" Maafkan aku, aku sudah salah paham padamu," ucap Azzura.
" Kamu tidak salah, andai aku menceritakan semua ini dari awal pasti kamu tidak akan cemburu," balas Devan.
" Siapa yang cemburu?"
" Seseorang yang semalam bilang kalau dia mengharapkan hatiku," ucap Devan sontak membuat Azzura malu.
" Jadi apakah sekarang kamu mau membangun rumah tangga dan menjadi istri ku yang sesungguhnya, Nona Azzura?" Tanya Devan dibalas anggukan oleh Azzura.
" Terima kasih," ucap Devan kemudian memeluk Azzura.
" Maaf jika aku terlalu lama menyadari perasaan ku padamu, maaf sudah membuat mu menunggu," ucap Devan.
" Perasaan yang mana?"
" Perasaan yang ada di sini," ucap Devan sambil meletakkan tangan Azzura di dadanya.
" Kamu tahu saat tadi melihat kedekatan mu bersama pria tadi, rasanya saat itu aku ingin menguburnya hidup-hidup," ucap Devan membuat Azzura tertawa.
" Kenapa kamu sadis sekali. Dia itu calon suami Manda, adikku. Kalau kamu menguburnya hidup-hidup, bagaimana dengan nasib pernikahan adikku nantinya. Percuma dong aku menikah denganmu kalau pernikahan mereka gagal," balas Azzura.
" Aku tidak peduli, mau dia iparmu, sahabatmu, atau apapun itu, yang jelas aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain. Kamu hanya milikku jadi hanya boleh dekat dengan ku saja," ucap Devan.
" Posesif," balas Azzura.
" Because I Love you," ucap Devan sambil menggenggam tangan Azzura dan menciumnya. Membuat Azzura tersenyum bahagia, ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
***
__ADS_1
Bersambung