
Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melirik Azzura. Devan masih tidak menyangka wanita cantik disebelahnya itu adalah Azzura, sekretaris yang biasanya tampil sederhana.
" Apa keputusan mu sudah bulat, tidak bisakah kau pikirkan lagi?" Devan membuka pembicaraan, membuat Azzura menoleh ke arahnya.
" Kalau yang Tuan tanyakan ini tentang keputusan saya yang menolak untuk menikah dengan Tuan, maka jawabannya saya ya keputusan itu sudah bulat, saya menolak," balas Azzura.
" Aku akan berikan apa saja yang kau mau, jika kau setuju."
" Maaf Tuan tawarkan saja itu pada wanita lain, karena saya tidak berminat. Dan jika Tuan mau saya tetap menemani anda menghadiri pesta itu, stop bicara tentang itu lagi." Ucap Azzura.
" Shiitt, berani sekali dia berkata seperti itu padaku. Kalau bukan karena pesta ini sudah ku turunkan dia dijalan,"batin Devan.
Suasana kembali hening, Devan memilih diam, begitupun dengan Azzura.
Sesaat kemudian mereka sudah sampai di tempat acara. Suasana sangat ramai, banyak tamu undangan dan juga wartawan yang datang. Azzura tampak ragu saat akan turun dari mobil.
" Tenang, anggap saja mereka tidak ada. Kau cukup berpura-pura kalau aku ini kekasih mu," ucap Devan.
" Kekasih?"
" Hanya di pesta ini," balas Devan.
" Tapi aku takut Tuan, aku tidak pernah menghadiri pesta sebesar ini sebelumnya," ucap Azzura.
" Sekarang rileks, ambil napas pelan-pelan, hembuskan, lagi..." Devan memberikan contoh pada Azzura, Azzura mengikutinya.
" Bagaimana, sudah siap? Kita bisa turun sekarang?" Tanya Devan , dibalas anggukan oleh Azzura.
Devan keluar terlebih dahulu dari mobilnya, kemudian dia memutari mobilnya dan membuka kan pintu untuk Azzura. Perlahan Azzura keluar, Devan menggandeng tangan Azzura. Semua mata tertuju pada mereka berdua, tak ketinggalan para wartawan langsung mengambil potret mereka berdua, hal ini membuat Azzura risih.
" Anggap mereka tidak ada," bisik Devan di telinga Azzura sambil terus berjalan ke dalam tempat pesta.
Mereka berdua baru saja masuk, di saat yang bersamaan Devan harus menerima panggilan dari rekan bisnisnya yang lain. Dia menyuruh Azzura untuk masuk terlebih dahulu. Azzura hanya bisa menuruti apa yang di katakan Devan. Perlahan dia melangkah kan kakinya ke dalam, sepertinya acara sudah di mulai beberapa menit yang lalu. Terdengar Tuan Wijaya beserta istrinya sedang memberika sambutan dan juga ucap terima kasih kepada para tamu yang datang.
' Terima kasih untuk para hadirin semua yang sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke acara ini. Dan di hari yang bahagia ini , kami juga akan menyelenggarakan pertunangan anak perempuan kami satu-satunya Anandita Wijaya dengan Harsa Maulana.' Ucap Tuan Wijaya.
__ADS_1
Deg
Azzura tampak kaget mendengar nama kekasih nya di panggil. Untuk memastikan nya, Azzura memilih untuk lebih ke dapan lagi. Dan betapa terkejutnya dia dengan apa yang dia liha saat itu.
" Harsa?" Ucap Azzura lirih.
" Azzura?" Ucap seorang pria lirih, saat dia melihat wanita yang dia kenal berada ditempat itu.
Sedangkan, Azzura hanya bergeming mendapati kekasihnya kini bersiap memasangkan sebuah cincin di jari manis perempuan lain, bukan dirinya.
Ingin rasanya Azzura menghampiri pria tersebut untuk meminta penjelasan. Namun pada akhirnya dia memilih pergi. Dengan setengah berlari Azzura meninggalkan tempat itu. Dan tiba-tiba brugh, Azzura menabrak seseorang.
" Azzura, kau mau kemana? Bukankah aku menyuruhmu menunggu didalam?" Tanya orang yang bertabrakan dengan Azzura. Orang itu adalah Devan, bos Azzura.
" Eh,, Tuan maaf. Tapi saya rasa, saya tidak bisa di tempat ini. Saya mohon bawa saya pergi dari sini," ucap Azzura sambil menoleh kebelakang. Tampak kekasihnya berusaha mengejarnya.
" Saya mohon," ucap Azzura penuh permohonan sambil menarik lengan Devan.
" Sebenarnya ada apa?"
" Apa ini berhubungan dengan pria itu, apa kau mengenalnya?" Tanya Devan sambil matanya mengarah ke kekasih Azzura.
" Kenapa Anda banyak bertanya, bukankah sudah saya katakan nanti akan saya jelaskan. Ahh sudahlah lebih baik saya pergi sendiri," ucap Azzura kesal.
" Shiitt, sekarang kau berani membentak ku? Apa kau lupa siapa aku?" Bukannya menjawab Azzura justru pergi begitu saja, karena saat ini kekasihnya itu semakin mendekat.
" Azzura tunggu!" Ucap Devan sambil mengejar Azzura.
***
Di dalam mobil Devan
Kini Azzura bisa bernapas lega, akhirnya dia bisa meninggalkan tempat itu.
" Sekarang jelaskan padaku," ucap Devan membuyarkan lamunan Azzura.
__ADS_1
" Kau kenal dengan pria tadi?" Tanya Devan lagi, karena Azzura tak kunjung menjawab.
Hening
" Dia kekasihku, Tuan." Ucap Azzura sambil menunduk.
" Kekasih? Maksudmu dia kekasih yang kemarin kau banggakan itu? Dan sekarang dia bertunangan dengan wanita lain?" Tanya Devan, Azzura hanya mengangguk.
" Hahahaha," Devan tidak bisa menahan tawanya.
" Baru kemarin kau banggakan dia, dan sekarang dia...dia ...hahaha," Devan kembali tertawa.
" Apa ini lucu menurut anda, tidak bisakah anda bersimpati sedikit saja? Ohh mana bisa anda bersimpati, anda kan tidak punya hati," ucap Azzura kesal. Seketika Devan menghentikan tawanya.
" Sorry," ucap Devan pada akhirnya, seharusnya dia tidak menertawakan Azzura.
Azzura hanya diam saja, hatinya benar-benar sakit. Dia tidak menyangka kalau Harsa mengkhianati nya. Janji setia yang dulu pernah dia ucapkan ternyata hanya omong kosong. Harsa yang selalu meminta nya untuk bersabar, memintanya untuk bertahan, meminta nya untuk setia, nyatanya dia sendiri yang berkhianat.
" Lalu bagaimana aku harus menjelaskan pada Ayah dan Ibu, kalau pria yang mereka harapkan dan mereka tunggu untuk melamar puterinya, kini malah bertunangan dengan wanita lain,"batin Azzura. Pikiran Azzura benar-benar kacau kali ini.
Sesekali Devan melirik Azzura, tanpa berani untuk bertanya apapun. Dia membiarkan Azzura larut dalam pikirannya sendiri. Dalam hatinya salut melihat ketegaran Azzura, di saat seperti ini wanita itu bisa untuk tidak menangis, padahal dia tahu pasti sakit rasanya di khianati oleh orang yang kita cintai, karena Devan pun pernah mengalaminya.
" Kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang?" Tanya Azzura saat sadar itu bukan jalan yang seharusnya mereka lewati.
" Kau sudah membuatku meninggalkan pesta itu tanpa bertemu yang punya pesta, jadi kau harus tanggung jawab. Kau harus menemani ku ke suatu tempat," balas Devan.
" Seharusnya anda membiarkan saya pulang sendiri tadi," ucap Devan.
" Aku hanya menuruti mu, bukankah kau tadi meminta ku untuk membawamu pergi dari tempat itu?" Ucap Devan, Azzura hanya diam saja, dia malas untuk berdebat. Lagi pula memang benar apa yang barusan Devan katakan.
Pikiran Azzura kembali berkelana, mengingat kembali janji-janji manis yang pernah Harsa katakan kepadanya.
" Ternyata benar, setia itu tentang siapa yang bertahan, bukan siapa yang berjanji," ucap Azzura lirih, membuat Devan yang sedang fokus mengemudikan mobilnya, menoleh kearah Azzura.
***
__ADS_1
Bersambung