Secretary For Life

Secretary For Life
Terhipnotis


__ADS_3

Azzura sudah sampai di depan pintu apartement Devan lagi. Sebenarnya dia malas bertemu dengan bos nya itu, mengingat apa yang telah terjadi tadi. Tapi dia berusaha bersikap profesional, karena saat ini status nya masih karyawan Devan.


Ting tong


Ting tong


Azzura menekan bel, Azzura berdoa semoga yang membukakan pintu Martin. Dengan begitu dia tidak harus bertemu dengan Devan. Namun sayangnya doanya tidak dikabulkan.


" Azzura kau kembali? Sudah ku duga, kau pasti berubah pikiran kan?" Ucap Devan dengan PD nya.


" Maaf Tuan, saya hanya ingin menyerahkan kartu undangan ini. Malam ini, anda mendapat undangan untuk menghadiri acara ulang tahun pernikahan Tuan Wijaya, partner bisnis anda," jelas Azzura sambil menyerahkan kartu undangan yang dia bawa kepada Devan.


" Kalau begitu saya permisi," pamit Azzura. Azzura bersiap meninggalkan tempat itu, sampai sebuah panggilan menghentikan nya.


" Nona Zura , tunggu!" Ucap Martin.


" Bisakah kau menemani Devan untuk pergi ke acara itu?" Tanya Martin dengan hati-hati.


" Maaf Tuan, tidak bisa, lagian biasanya juga anda yang menemani Tuan Devan," balas Azzura.


" Kali ini aku tidak bisa. Aku mohon, Nona. Setidaknya lakukan ini demi kemanusiaan," ucap Martin.


" Kemanusiaan? Itu undangan pesta Tuan, bukan undangan mengunjungi korban bencana alam," balas Azzura.


" Ikutlah denganku, akan aku jelaskan," ucap Martin sambil menarik tangan Azzura agar ikut masuk ke dalam apartement, Devan hanya diam saja.


" Tuan apa-apaan ini," Azzura berusaha memberontak.


" Maaf, duduklah akan aku jelaskan," pinta Martin.


" Begini, publik pasti akan membenarkan berita yang saat ini beredar kalau aku dan Devan pergi bersama. Jadi aku mohon, kali ini Nona Zura ke pesta itu dengan Devan, please. Aku sudah tahu apa yang menyebabkan Nona kesal, permintaan Devan kan? Aku juga menyayangkan sikap Devan itu, kalau aku jadi Nona, aku juga pasti akan marah. Tapi aku mohon lupakan ini sejenak, tolong lakukan ini demi aku, demi perusahaan," ucap Martin berusaha meyakinkan Azzura, namun langsung mendapatkan tatapan tajam dari Devan. Devan kesal karena Martin pura-pura tidak tahu dengan rencananya itu.


" Nona tahu, gara-gara berita yang tidak benar itu, nama baikku juga ikut hancur. Nona bisa bayangkan bagaimana perasaan orang tua ku saat mendengar pemberitaan ini? Jadi aku mohon Nona mau ya?" Ucap Martin lagi.


" Kalau Devan pergi ke pesta itu dengan Nona, itu akan membuktikan kalau berita yang beredar itu tidak benar. Pekerjaan Nona akan aman tanpa harus menikah dengan Devan, dan nama baik kami bisa pulih kembali," Martin tidak menyerah untuk meyakinkan Azzura.


Azzura tampak berpikir.


" Bagaimana Nona?"


" Maaf saya tidak bisa, silahkan cari saja wanita lain, saya punya kekasih. Bagaimana kalau dia tahu saya pergi ke pesta dengan lelaki lain?" tolak Azzura.

__ADS_1


" Dia pasti akan mengerti Nona, kalau dia tidak percaya nanti biar saya jelaskan. Kalau ini semata-mata hanya profesional kerja saja." Ucap Martin lagi.


" Maaf saya tetap tidak bisa, permisi." Azzura bangkit dari tempat duduknya.


" Please, Nona," Martin memohon.


" Cukup Tin, percuma dia tidak akan mengerti. Yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri, dia tidak memikirkan bagaimana kalau para partner kerja perusahaan menghentikan kerjasama dengan perusahaan kita. Perusahaan bangkrut dan para pegawai dirumahkan." Devan akhirnya ikut bicara, membuat Azzura mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu.


Sejenak tampak berpikir.


" Huuhhhh, baiklah. Saya akan menemani anda menghadiri pesta itu. Ini semata-mata saya lakukan demi perusahaan," ucap Azzura pada akhirnya.


" Terima kasih, Nona," Martin tampak bahagia, tidak sia-sia usahanya memohon pada Azzura.


" Ckckck, kalian yang punya masalah, kenapa aku yang repot," gumam Azzura.


***


Devan, Martin dan Azzura kini sudah berada di depan salah satu butik yang merangkap salon kecantikan ternama, yang merupakan langganan keluarga Devan. Suasana tampak sepi, karena memang Devan meminta agar butik itu di kosongkan, dan hanya menerima dia sebagai tamu nya.


" Selamat datang Tuan Tuan ganteng," ucap Mince, laki-laki kemayu yang merupakan pemilik dari butik itu.


" Hemmm," balas Devan.


" Siapkan baju pesta yang cocok untuk Tuan Devan dan juga Nona ini," jelas Martin pada Mince.


" Ok, siaapppp," balas Mince.


" Mari Nona, ikut dengan eike," ucap Mince, Azzura tampak ragu untuk mengikuti laki-laki kemayu itu.


" Nggak usah takut Nona, dia sudah jinak, " ucap Martin seakan tahu apa yang di takut kan Azzura. Azzura akhirnya mengikuti Mince.


" Di make over sekalian ya Min," teriak Martin.


" Beres Tuan ganteng," balas Mince.


Satu jam kemudian, Devan sudah siap dan memilih menunggu di ruang tunggu. Pria berdarah Jawa Jerman itu terlihat sangat tampan dan gagah dengan setelan jas yang ia kenakan. Ya memang dari sananya sudah tampan, mau di apakan pun akan tetap tampan.


Begitu pun dengan Azzura sudah selesai di make over. Azzura terpana melihat dirinya sendiri, dia tidak percaya kalau yang dia lihat di depan cermin itu adalah dirinya.


" Ayo Nona kita keluar, sepertinya Tuan Devan sudah tidak sabar menunggu anda,"ucap Mince.

__ADS_1


Azzura keluar


" Taraaaaaa, inilah hasil make over Mince, bagaimana apa ada yang kurang?" Ucap Mince bersamaan dengan keluarnya Azzura.


Membuat Devan dan Martin langsung menoleh seketika.


" Shiitt, kenapa dia jadi secantik ini?" Batin Devan.


Devan masih saja bergeming, seakan terhipnotis dengan kecantikan Azzura. Dia tidak menyangka Azzura bisa berubah secantik ini, hanya dalam sekejap.


" Itu benar Nona Zura?" Bisik Martin pad Devan, dan seketika mengembalikan kesadaran Devan.


" Kenapa dia bisa jadi secantik ini? Bahkan aku tadi tidak mengenalinya." Ucap Martin lagi, Devan hanya diam saja.


" Kalau sudah siap, ayo berangkat," ucap Devan dingin.


Azzura perlahan berjalan ke arah Devan.


" Ok makasih Mince, sudah saya transfer," ucap Martin sebelum pergi dari tempat itu.


" Ok Tuan ganteng sama-sama, sering sering mampir ya,"balas Mince.


" Ok, selamat bersenang-senang," ucap Martin pada Devan dan juga Azzura sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Azzura mencebik mendengar perkataan Martin.


Setelah mobil yang di kendarai Devan sudah tidak nampak lagi, Martin segera masuk ke dalam mobilnya.


" Tuan, tunggu!" Teriak Mince sambil berlari ke arah Martin.


" Ada apa?" Tanya Martin setelah membuka kaca mobilnya.


" Ini, barang-barang Tuan Devan dan Nona tadi ketinggalan," jelas Mince sambil menyerahkan sebuah paper bag kepada Martin.


" Oh ok, makasih Ce," balas Martin, kemudian segera menutup kaca mobil dan melajukan nya.


Kira-kira seperti inilah penampilan Azzura malam itu.



Kalau yang ini si Tuan handsome, Devan.


__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2