
Tahun 991 dari Kalender Suci.Benua Yufilia, Kerajaan Beltram.Di sudut daerah kumuh Ibukota, dengan dadanya yang sangat kesakitan, seorang anak laki-laki berbaring di tanah.
“Ha~, ha~...”
Bahkan setelah membuka matanya, kesedihan yang ia rasakan tidak bisa hilang, juga ia tidak
bisa terhindar dari rasa sakit itu. Mengetahui itu, anak laki-laki itu menggenggam dadanya
kuat-kuat.
Sebelum ia menyadarinya, tubuhnya penuh dengan keringat. Seluruh tubuhnya terasa panas. Rasanya seperti badannya terbakar. Tiba-tiba, seperti sebuah keajaiban,
penderitaan yang ia rasakan perlahan-lahan menghilang, dan kehangatan mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
(Apa itu tadi...?)
Anak laki-laki itu tidak bisa mengerti apa yang telah terjadi, hanya saja perasaan yang menyakitkan perlahan-lahan mulai menghilang.
Ketika ia kembali tenang, ia melihat ke
sekelilingnya. Itu adalah gang gelap dan kotor yang dipenuhi dengan rumah kayu sederhana.
Bau yang tidak menyenangkan masuk ke hidungnya. Dia mengerutkan dahinya pada bau itu, namun berkat bau itu kepalanya terasa sedikit lebih baik.
Dia tidak ingat apapun yang telah terjadi selama dia tertidur. Pada saat itu, anak laki-laki itu menyadari bahwa ia telah tertidur di tanah.
Dia memakai pakaian kotor. Dia merasa perlu untuk melakukan sesuatu tentang pakaiannya, tapi ia rasa bahwa itu masih bisa bertahan. Mengangkat wajahnya, langit biru yang cerah terpantul pada matanya.
(Perasaan tidak nyaman apa ini? dan mengapa aku berbaring di jalan?) Setelah bangun, ia masih tidak bisa berpikir dengan jernih meskipun ingat ia tidak pernah meminum sake.
Dia melihat rumah-rumah di sekitarnya yang tampak tidak biasa sebelum menyadari bahwa arsitekturnya sangat berbeda dari rumah kayu bergaya Jepang yang ia ketahui.
Selain itu, tubuhnya tidak dalam kondisi yang begitu baik. Mungkin itu karena tertidur di jalan dengan cuaca yang dingin. Sendi-sendinya juga sakit.
(!?)
Mencoba menggerakan tubuhnya lagi, ia menyadari sesuatu. Teriakan bisa terdengar di
dalam kepalanya.
Apa yang dia lihat adalah tubuh seorang anak kecil. Aku seharusnya seorang mahasiswa. Tidak, aku seharusnya adalah yatim piatu.
(Apa maksudnya ini?)
Anak laki-laki itu bingung pada ingatannya yang tumpang tindih. Berpikir pelan-pelan
tentang masalah ini, dan mengarahkan pandangannya ke arah tangan dan kakinya sendiri.
Itu bukan kulit yang sehat dari seseorang yang hidup di negara yang kaya seperti Jepang.
Terlebih lagi, kulitnya kering dan tubuhnya kurus dikarenakan kekurangan gizi serta dipenuhi dengan kotoran.
Anak itu mencoba untuk berpikir kembali dengan tenang, tidak ada ingatan tentang ia pernah mandi.
(Yang benar saja...)
Dia tidak sengaja mengeluarkan tsukkomi pada dirinya sendiri setelah melihat dirinya yang
kotor. Pakaian yang dikenakannya terbuat dari kain yang lusuh.
Tentu saja, ia tidak memiliki sepasang sepatu. Namun, ia masih merasa bersyukur bahwa ia setidaknya memiliki sesuatu untuk dipakai.
Dia tidak tahu bagaiamana tampang wajahnya, tapi dari poni panjangnya, ia melihat rambutnya yang sedikit kotor berwarna hitam.
Anggota tubuhnya berada dalam keadaan yang mirip dengan pakaiannya, tapi pikirannya
tidak.
Menenangkan pikirannya, ia mencoba untuk menilai situasinya. Nama anak itu adalah
Rio, dan juga Amakawa Haruto.
Mengingat kembali ingatannya, itu merupakan anak yang berusia 7 tahun di dunia ini, serta seorang pria Jepang yang berusia 20 tahun.
Rasa pusing menyerangnya karena rasa lapar yang luar biasa. Setelah memastikan situasinya, ia duduk di tanah dan mulai berpikir. Dia, sebagai Amakawa haruto yang masih memiliki
ingatan sebelum ia mati. Dia juga memiliki ingatan tentang kehidupan Rio sampai sekarang.
Dia tidak tahu alasan kenapa ia tidak sadarkan diri di pinggir jalan beberapa waktu yang lalu,
tapi untuk saat ini, itu tidak penting.
Mempunyai pengetahuan Amakawa Haruto bersama dengan ingatan Rio, ia menyimpulkan
bahwa pada saat ini, ia tidak berada di Bumi. Rio adalah seorang anak yatim piatu tanpa
pendidikan, tapi ia tahu nama negara yang ia tempati.
Dilihat dari tingkat peradaban dan mempertimbangkan keadaan serta faktor-faktor yang lain membuatnya sampai pada kesimuplan bahwa negara ini tidak terletak di Bumi yang Amakawa Haruto ketahui.
Mungkin, ia telah bereinkarnasi.
(Tapi itu benar-benar sulit untuk dipercaya... tidak, mungkin masih ada beberapa
kemungkinan bahwa ini adalah mimpi?)
Tapi ketika Rio berpikir lebih keras mengenai situasinya, kemungkinan bahwa ini adalah
mimpi sangat kecil.
Pikirannya terlalu jelas untuk menyatakan bahwa itu mimpi. Menenangkan dirinya, ia berusaha, tapi gagal untuk menemukan keanehan pada dirinya.
Kemungkinan besar, itu adalah gejala seperti influenza yang menyebabkan sendi-sendinya
terasa sakit. Ini adalah kenyataan dan dia sudah meyakinkan dirinya sendiri.
Rio tidak pernah mendengar tentang keberadaan negara ini sebelumnya di Bumi. Hal-hal seperti raja dan bangsawan, ada begitu banyak yatim piatu yang menjadi budak, tidak adanya listrik dan juga beberapa produk yang dihasilkan dari ilmu pengetahuan.
Selain itu, ada monster di dunia ini.
Ini bukan mimpi dan juga bukan Bumi.
Saat ini, Rio berada di distrik kumuh Ibukota Kerajaan Beltram.
Tidak akan berlebihan untuk mengatakan bahwa kondisinya akan sangat memburuk dan jika terus seperti itu, tidak lama lagi ia akan mati. Sepertinya Rio bisa bertahan sampai sekarang ini berkat keberuntungan.
Hanya anak yatim piatu yang paling beruntung bisa tinggal di panti asuhan. Bagi mereka
yang tinggal di daerah kumuh, mereka harus terus berjuang untuk bertahan hidup mencari
sisa-sisa makanan dan juga mencopet.
Jika keberuntungannya sedang bagus, ia akan bisa membeli beberapa roti keras yang murah dengan uang yang ia dapat.
Bukan hal yang mengejutkan bahwa ia kekurangan nutrisi. Itulah apa yang Rio lakukan setiap harinya untuk bertahan hidup. Dalam kondisi seperti ini, sejujurnya, itu tidak akan aneh jika ia pingsan dan mati di jalanan.
Untuk sementara waktu, ia harus mendapatkan beberapa makanan, tapi dilihat dari situasi
saat ini sepertinya masih bisa bertahan.
Bukan hal yang biasa bagi anak yatim piatu yang lemah untuk membuat kelompok, namun karena rambut hitamnya yang tak biasa, Rio
dikucilkan oleh kelompok-kelompok anak yatim piatu lainnya.
Akibatnya, sangat sulit baginya untuk bekerja sama dengan anak yatim piatu lainnya. Ia berhasil bertahan sampai sekarang juga berkat usahanya sendiri.
(Sekarang aku harus mencari pekerjaan dan tempat tinggal, tapi...)
Sulit untuk menemukan tempat kerja yang akan mempekerjakan seorang anak yatim piatu.
Kebanyakan dari mereka memperlakukan anak yatim piatu seolah-olah mereka tidak pernah
ada. Bahkan jika ia bisa menemukan pekerjaan secara kebetulan, itu hanya akan menjadi
sebuah kerja keras dengan upah yang kecil.
Dengan begitu, Rio mulai memikirkan keuntungan apa yang ia miliki di dunia ini.
kemampuan yang ia punya sebelumnya mungkin berguna.
Sebagian besar kemampuan yang
dimilikinya adalah kemampuan dari kehidupan sebelumnya. Dia bisa menghitung, yang
berarti ia memiliki keuntungan yang besar.
Untungnya, negara ini sudah menggunakan sistem desimal. Kemampuan lain yang sepertinya berguna, yaitu seni bela diri, memasak, dan berbagai macam kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Dia sudah mengingat cara melakukan semua itu. Tapi saat ini, dia tidak memiliki status sosial sehingga ia tidak akan bisa memanfaatkan kemampuannya. Dan bagaimanapun juga, dia
tidak akan bisa memecahkan masalah jika ia terus berdiam diri di sini.
Merasa perlu untuk mengurangi rasa laparnya, Rio mulai berjalan di sekitar kota. Dan
kemudian, Rio melihat perubahan lain yang terjadi sejak ingatannya terbangun. Dia melihat
cahaya redup sedang dipancarkan dari tubuh orang-orang.
__ADS_1
Pada awalnya ia pikir itu hanya khayalannya saja, tapi itu tidak hilang bahkan setelah ia
mencoba memfokuskan kembali matanya.
Jumlah cahaya yang dipancarkan berbeda-beda dari setiap orangnya, dan kebanyakan hanya
memancarkan sejumlah cahaya yang kecil.
Dia telah melihat banyak orang sejak ingatannya terbangun, sehingga ia yakin bahwa kemampuannya untuk mengukur jumlah cahaya yang dipancarkan itu akurat.
Tiba-tiba, Rio menyadari bahwa tubuhnya sendiri memancarkan cahaya yang sama. Tapi
jumlahnya lebih besar dari orang lain.
Tidak, mungkin dia masih belum terlalu mengetahui tentang masalah ini. Melihat orang lain, tidak mungkin pancaran cahaya akan menjadi tak terbatas.
Sama seperti uap yang naik dari air mendidih dan larut ke udara, cahaya juga keluar dari
tubuh Rio. Selain itu, jumlah cahaya yang dipancarkan perlahan-lahan mulai meningkat.
Pada saat yang sama, ia menjadi sangat sensitif terhadap cahaya itu, seolah-olah ia bisa merasakan keadaan disekitarnya melalui kelima inderanya.
Melalui matanya sendiri, ia bisa melihat apapun di dunia ini yang berhubungan dengan
cahaya, seolah-olah itu adalah matanya sendiri.
Dia mampu memahami salah satu sifat dari
cahaya misterius itu. Dia bisa memperluasnya sehingga dia bisa melihat banyak hal yang
tidak bisa dilihat oleh orang pada umumnya.
(Aku memiliki perasaan yang tidak menyenangkan pada fungsi cahaya yang barusaja bisa meningkatkan penglihatanku...)
Memperluas inderanya memberikan perasaan yang mirip dengan jiwanya keluar dari
tubuhnya. Dengan tiba-tiba bisa meningkatkan penglihatanya seperti itu, pertanyaan muncul
di dalam pikirannya.
Apakah hanya dia satu-satunya orang yang bisa melihat cahaya itu?
Karena jumlah cahaya yang dipancarkan dari tubuhnya tidak normal, Rio mengerti bahwa dia mungkin saja berada dalam keadaan yang berbahaya.
Sekarang, ia harus mencari tempat yang jauh dari orang-orang. Rio segera meninggalkan
jalan utama dan pergi ke gang yang gelap dan duduk sendirian di tanah yang dingin.
Jumlah cahaya yang dipancarkan dari tubuhnya terus meningkat, tapi tidak ada perubahan
dalam kondisi fisiknya. Ia harus sabar.
Dia berpikir begitu dengan pikiran yang tenang.
Rio mulai bermeditasi, ia menyatukan pikiran dan tubuhnya menjadi satu. Dia tidak
menyangka seni bela diri yang ia pelajari dari kakeknya akan menjadi berguna di saat-saat
seperti ini.
Dia masih bisa mendegar keramaian di jalanan, dia sudah membuang banyak waktu. Tidak ada yang tahu sudah berapa lama ia bermeditasi? Pikirannya sudah melampui batasnya.
Setelah menyatukan pikiran dan tubuhnya, Rio merasakan sejumlah tenaga yang luar biasa
mengalir ke seluruh tubuhnya.
Kekuatan itu seperti darah yang mengalir pada tubuhnya. Pancaran cahaya itu sebenarnya
adalah sihir. Kekuatan sihir yang memancar keluar dari tubuhnya tidak bisa dirasakan oleh
mata telanjang.
Oleh karena itu, Rio secara insting memahami bahwa ia membutuhkan imajinasi yang kuat untuk mengendalikan kekuatan sihir.
(Baiklah...)
Merasa yakin dengan spekulasinya, Rio secara perlahan dan hati-hati mulai mengurangi
jumlah kekuatan sihir yang keluar dari tubuhnya. Itu adalah perasaan yang sama dengan menghapus hawa keberadaan seseorang.
Tidak benar-benar sama, tapi mirip. Memahami cara kerjanya, Rio dengan cepat bisa mengendalikan kekuatan sihirnya.
Sekarang, semua kekuatan sihirnya yang tersegel dalam tubuhnya tanpa meninggalkan sedikit pun mengalir keluar. Perasaan yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata, tapi entah bagaimana ia bisa memahami intinya.
Sebuah senyuman kecil muncul di wajah Rio.
Cahaya apa itu?
Sekarang satu-satunya perubahan yang ia rasakan adalah inderanya semakin tajam.
Dan kebanyakan orang hanya melepaskan sedikit kekuatan sihir dari tubuh mereka. Rio ingin tahu, apakah ada juga orang lain yang bisa menggunakan sihir.
Kuantitas melawan kualitas berarti bahwa ia masih harus berhati-hati saat menggunakannya.
Untuk sekarang, ia harus menahan pertanyaan-pertanyaan yang terus bermunculan dalam
kepalanya dan mencoba menyerap kembali semua kekuatan sihir yang berada di sekitarnya.
Dengan itu, ia telah memastikan berbagai hal. Dia mengerti bahwa kekuatan sihirnya bisa
dikendalikan sesuai dengan imajinasi dan memusatkannya pada satu titik.
Namun ia masih tidak tahu di mana harus menyimpan semua itu. Pengetahuannya masih
sangat terbatas. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, Rio melepaskan kekuatan sihir
di atas tubuhnya untuk mengujinya.
Tiba-tiba, dalam sekejap, ia merasakan kekuatan mengalir melalui tubuhnya. Rasanya seperti sebuah kekuatan untuk memperkuat tubuh. Menilai dari berbagai macam perubahan yang ia amati pada tubuhnya, ia menyimpulkan bahwa itu semacam sihir penguatan tubuh.
(... Tubuhku terasa ringan.)
Dia merasa seolah-olah bagian dalam tubuhnya penuh dengan kekuatan. Rio mencoba untuk
menguji kekuatan barunya itu dengan sebuah lompatan biasa.
Meskipun memiliki tubuh seorang anak kecil, lompatannya setara dengan rata-rata pemain basket profesional. Secara kebetulan ia bisa menemukan kekuatan untuk memperkuat tubuh.
Sebelumnya dia hanya memahami cara kerjanya secara samar-samar, tapi sekarang dia bisa dengan jelas membayangkan kemampuan untuk memperkuat tubuh.
Dengan menghilangkan batasan pada otaknya, ia mampu mendapatkan kemampuan untuk
memperkuat tubuhnya lebih besar lagi dengan membayangkan tubuhnya diselimuti dengan
kekuatan sihir.
Seperti yang diharapkan, sepertinya itu adalah ide yang bagus. Rio membayangkan untuk memperkuat tubuhnya sambil berjalan. Dia melakukan beberapa gerakan ringan untuk memastikan efeknya.
Hasilnya, dia bisa melakuan gerakan yang
mustahil bagi seorang anak dalam kondisi buruk seperti itu bisa melakukannya.
(Ini, sepertinya menggunakan kekuatan untuk memperkuat tubuh secara terus menerus dapat dilakukan...)
Namun untuk melakukannya, ia diharuskan untuk mengeluarkan kekuatan sihir yang lebih
dari biasanya. Tiba-tiba tubuhnya mulai terasa sakit. Itu jelas bahwa setiap penggunaan yang
berlebihan akan melukai tubuhnya.
Dengan tubuhnya saat ini, tidak akan bisa
mempertahankan kemampuan untuk memperkuat tubuh dalam waktu yang lama.
Sebuah ide muncul di kepalanya. Kalau begitu, ia akan mencoba dan memperkuat setiap
bagian dari masing-masing tubuhnya. Dia membayangkan untuk memperkuat daya tahan pada tubuhnya dan fokus pada setiap serat otot dan tulangnya.
Beban pada tubuhnya telah berkurang. Sepertinya apa yang dilakukannya itu berhasil. Untuk saat ini, Rio merasa puas dengan hasil percobaannya.
Tapi tidak peduli seberapa kuat kemampuan atau penguatan pada tubuhnya, itu tidak akan
bisa melakukan apa-apa untuk menghilangkan rasa laparnya. Perutnya bergemuruh.
Meskipun percobaan yang sedang dilakukannya itu menarik, ia tidak dapat melanjutkannya kecuali dia mendapatkan makanan.
Melihat ke langit, itu sudah sore.
Malam akan segera tiba. Sejujurnya, ia tidak mempunyai uang atau cara mendapatkan makanan melalui cara-cara yang layak.
Dalam kasus terburuk, dia telah siap untuk tidak makan pada hari ini. Tapi setidaknya,
ia ingin memiliki semacam tujuan. Untuk saat ini dan demi hidupnya, dia harus mencari
petunjuk untuk mendapatkan uang. Rio meninggalkan tempat itu.
Berjalan dengan langkah yang goyah menuju pasar, sebuah bangunan besar tiba-tiba terlihat.
__ADS_1
Dia tidak bisa membaca apa yang tertulis di papan itu, tapi dia tahu bahwa bangunan itu milik Guild Petualang. Dia bisa mendapatkan uang dengan menjadi seorang petualang.
Tapi Rio segera menghilangkan ide itu karena ia masih di bawah umur. Salah satu aturan
Guild Petualang adalah bahwa mereka akan mempekerjakan orang yang berusia 12 tahun
lebih.
Rio pernah mendengar itu dari anak yatim piatu lain yang membicarakan tentang petualang bersamaan dengan informasi tentang batas usia .
Di Jepang juga sama bahwa batas minimal kerja adalah 12 tahun, tapi kebanyakan di tempat ini tidak memiliki batas usia. Karena mempekerjakan anak-anak bisa berguna saat perang.
Namun dalam kasus petualang, ada banyak kasus di mana petualang tidak bisa mendapatkan pencapaian karena batas usia.
Rio masih mempertimbangkannya.
Berbicara tentang petualang, pekerjaan mereka tidak jelas. Rio membayangkan mereka hanya
mempertaruhkan nyawa mereka hanya untuk memperoleh beberapa bahan untuk dijual.
Dalam hal ini, tidak ada aturan yang melarang dia untuk mengumpulkan bahan dan
menjualnya sendiri. Hanya saja, pelanggannya bukan Guild Petualang.
Mungkin para pedagang.
Rio memutuskan untuk menyelidiki barang yang kemungkinan besar akan dibeli oleh para
pedagang. Dia segera menjalankan ide itu dan menuju ke pasar sesuai dengan peta ibukota
yang ada dalam pikirannya.
“Oi bocah nakal! Apa yang kau lihat? Pergi sana!”
Namun, ketika Rio melihat-lihat barang dagangan di pasar, mata tajam dari seorang penjaga toko melihat dia dan berteriak mengancam padanya.
Para pedagang waspada terhadap anak
yatim piatu karena mereka biasanya berusaha untuk mencuri barang dagangan mereka. Anak
yatim piatu diperlakukan buruk di pasar.
Semenjak beberapa anak yatim piatu memiliki sedikit uang, mereka tidak langsung diusir,
tapi para pedagang akan mengawasi dan berhati-hati agar tidak dicuri.
Seorang yatim piatu yang hanya melihat barang dagangan di pasar memang akan mencurigkan. Berkat itu, Rio bahkan tidak bisa dengan bebas menelusuri pasar.
Jika terus seperti ini, ia tidak punya pilihan selain untuk mencari cara lain untuk mendapatkan uang. Karena sekarang ia tidak memiliki makanan untuk dirinya, ia hanya bisa mencari sisa makanan.
Rio terpaksa untuk mencari apapun yang bisa ia makan untuk mengisi perutnya, tapi sebagai Amakawa Haruto, ia menentangnya.
Rio memutuskan untuk memanfaatkan kemampuan seni bela diri kuno yang ia pelajari di kehidupan sebelumnya. Dia menghapus hawa keberadaannya dan bercampur dengan daerah di sekitarnya.
Karena keberadaan Rio memudar dalam sekejap, para pedagang tidak terlalu
mengawasinya dan berhenti memperhatikannya.
(Bagus...!)
Dengan hawa keberadaannya yang terhapus, Rio bisa melihat barang dagangan yang
ditampilkan di pasar.
Apa yang harus dijual? Ke mana harus
menjualnya?
Rio dengan santai berjalan sambil bertanya-tanya tentang hal itu.
Kemampuan ini memberinya kesempatan untuk mencuri barang secara aman dengan risiko
yang kecil. Tapi dia telah memilih untuk tidak melakukannya.
Moralnya sebagai Amakawa Haruto, warga negara Jepang yang baik telah mencegahnya. Rio hanya berjalan di tengah-tengah pasar dan tidak menyentuh apapun.
Dia sangat tertarik pada tanaman obat, tanaman, dan sayuran. Dengan sopan, ia menanyakan itu kepada penjual toko.
Sementara penjual tetap waspada terhadap Rio, ia menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan kepadanya setelah dipaksa oleh Rio. Berbagai tanaman berhasil dibudidayakan di lahan pertanian di sekitar ibukota tetapi beberapa hanya bisa tumbuh di alam liar.
Untuk tanaman tertentu, mereka harus menanamnya di luar perbatasan ibukota. Saat
dibutuhkan, petualang biasanya dipekerjakan untuk memanennya. Beberapa petualang akan
membeli tanaman yang mereka panen dengan uang mereka sendiri.
Namun bagi anak seperti Rio untuk mencoba dan memanen tanaman itu sendiri akan sama
saja dengan bunuh diri. Penjual hanya bisa memberikan Rio rasa simpati bersama dengan
beberapa saran. Menerima saran penjual, Rio hanya bisa tersenyum pahit dan mengucapkan
terima kasih.
Itu memang berbahaya, tapi itu masih lebih baik daripada harus duduk dengan perut yang
lapar.
Dia bisa memperkuat tubuhnya.
Ada juga seni bela diri kuno dari kehidupan sebelumnya sehingga ia bisa bertarung.
Pokoknya, dia tidak memiliki pilihan lain selain untuk pergi.
Tapi hari hampir malam.
Sebelum malam, ia harus menemukan sesuatu untuk menghilangkan rasa laparnya sehingga
ia berhenti memikirkan masalah itu untuk saat ini.
Tanpa mencari sisa makanan di tempat
pembuangan sampah seperti biasanya, Rio kembali kerumahnya di daerah kumuh.
Untuk mengalihkan perhatian dari rasa laparnya, ia mengingat berbagai kejadian
mengejutkan yang terjadi hari ini. Kejadian yang pertama adalah bangkitnya ingatan tentang
kehidupan sebelumnya.
Ingatan Amakawa Haruto dan ia mengambil alih sebagai kepribadian utama, tapi ingatan dan kesadaran Rio juga masih ada, yang menghasilkan dua kepribadian yang digabungkan menjadi satu. Kedua sisi itu telah menjadi kepribadian utama, menyatu
dengan baik tanpa masalah.
Dia sebagai Amakawa Haruto menerima Rio.
Dan Rio, seorang anak yatim piatu, juga menerima Haruto.
Dalam kehidupan sebelumnya, tujuan hidup Amakawa Haruto adalah untuk menemukan
teman masa kecilnya. Terlepas dari tujuan itu, mengingat situasi saat ini, ia tidak punya
tujuan lain, selain untuk hidup sebagai Rio.
Rio juga memiliki sesuatu yang harus dilakukannya di dunia ini.
Pada awalnya, Rio tidak tinggal di daerah kumuh dalam kemiskinan.
Ayah dan ibunya adalah seorang petualang. Mereka berdua membentuk party dan melakukan perjalanan ke negara asing bersama-sama. Ketika ibu Rio mengandung Rio, dia berhenti dari pekerjaannya untuk sementara.
Tentu saja, ayahnya tetap bekerja meski sendirian. Sampai saat itu, mereka berdua selalu menyelesaikan quest bersama-sama. Lalu ayah Rio melakukan kesalahan saat menjalankan quest bersama dengan petualang lain. Dan sebagai hasilnya, ia mati.
Dengan kematian suaminya, ibu Rio membesarkan Rio sendirian. Menggunakan uang yang telah ditabung ketika mereka masih sebagai petualang, dia entah bagaimana dapat
membesarkan Rio dengan aman. Tapi itu hanya berlanjut sampai Rio bersusia 5 tahun.
Ibu Rio adalah seorang wanita cantik yang menggoda. Dia sudah punya anak, tapi masih cukup muda untuk orang-orang di sekitar yang menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan nafsu.
Menjadikan Rio sebagai sandera, seorang pria yang mengenal ibunya selama masih sebagai
petualang memperkosa dan membunuhnya. Rio menyaksikan dengan jelas ibunya yang
diperkosa di depannya. Pada saat itu, ia memastikan untuk mengingat nama dan wajah orang itu.
Rio tidak menyerah dan terus berusaha untuk tetap hidup. Bahkan jika ia terpaksa harus
memakan sisa-sisa makanan untuk bertahan hidup, ia bersumpah untuk membalaskan
dendamnya suatu hari nanti. Keinginan itu tersimpan di dalam hatinya bahkan sampai hari ini.
Tapi di sisi lain, Amakawa Haruto merasa tidak nyaman dengan perasaan balas
dendamnya.
Tiba-tiba ingatan yang mengerikan pada hari itu terulang di kepalanya. Rio yang sedih, mengerutkan dahinya. Dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran itu
dan mempercepat langkahnya.
__ADS_1
^^^~End Vol 1 Chapter 2 : Kebangkitan~^^^