
Meski salah seorang bisa saja ada yang mati jika terkena pada bagian vital, tapi saat ini mereka hanya mengalami luka ringan. Namun, sebagian besar siswa yang ada disini tidak pernah mengalami rasa sakit atau luka sebelumnya. Oleh karena itu, mereka panik ketika terkena tombak.
“Cabut itu!! CAABUUUUTTTTTT!!!” Stead berteriak dengan gila tanpa memikirkan rasa malu dan martabatnya.
“Uwa! Hentikan!”
“O-----Oi, menjauhlah!” dia mencoba mendekat ke para siswa lain agar mereka menarik tombak itu keluar, tapi hanya berhasil membuat seluruh siswa menjadi tambah panik.
“Eeeeemaaakkkkk! Baaapaak!” dengan tubuhnya yang tertusuk tombak, Stead meronta-ronta dengan keras, bertabrakan pada siswa-siswa disekitarnya. Dia akhirnya menabrak Flora dan membuatnya jatuh.
“Kyaa!” Flora, yang berdiri didekat tebing. Terjatuh ketepi tebing.
“Flora!” melihat Flora yang akan jatuh dari tebing, Christina berteriak dengan keras. Suara tanag yang bergeser bisa terdengar diikuti oleh tanah yang berada di bawah Flora yang membuatnya jatuh.
“Hii!” merasakan sensasi tanpa adanya berat, Flora tenggelam dalam keputusasaan.
“A--!” melihat kejadian yang berada didepan matanya, tubuh Rio bergerak dengan sendirinya. Sebelum dia menyadarinya, dia telah membuang barang bawaan yang ada dipunggungnya dan berlari kedepan, mengaktifkan penguatan fisik dan penguatan tubuh.
Pada saat ini, Flora meraih tangannya keatas dan Rio meraihnya. Seandainya dia terlambat bahkan satu detik pun, Rio pasti tidak bisa meraih tangan Flora. Mata mereka saling bertemu. Dia bisa tahu dari ekspresinya bahwa Flora terkejut. Dia dengan cepat telah menyelamatkannya tanpa mempertimbangkan
konsekuensinya. Sesaat kemudian, dia mulai menyesali keputusannya yang tergesa-gesa itu. Tidak ada hal baik yang datang dengan tindakan heroiknya.
Dia sudah mengalaminya dari peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu. Meski begitu, entah bagaimana dia berhasil mengulangi kesalahan yang sama. Apakah dia sekali lagi belum menyerah pada kemunafikannya yang bodoh? Atau apakah dia bertindak sesuai dorongan hatinya? Jika dia tidak mempertimbangkan
untuk menyelamatkannya, dia ingin tahu kenapa tubuhnya bergerak sendiri.
Apapun alasannya, dia sudah melakukannya dan hanya bisa menindak lanjuti tindakan itu. Meraih tangan Flora, Rio memutar tubuhnya untuk menariknya keatas. Dengan memanfaatkan momentum tubuh yang telah diperkuatnya, ia melemparkan Flora ke belakang.
“Kyaa!”
*Buk* Flora terjatuh kearah belakang. Memastikan keselamatannya\, pikiran yang tak penting memasuki pikiran Rio. Dia ingin tahu apakah ia akan memaafkannya karena membuatnya menderita beberapa goresan dari pendaratan yang kasar. Dan sekarang\, dia telah membayar harga untuk menyelamatkannya. Tubuh Rio
jatuh ke dasar jurang.
~ End Vol 1 Chapter 10 : Lapangan Latihan #1
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Chapter 11 : Lapangan Latihan #2
Semua orang yang berada di dalam kelompok terkejut melihat Rio yang telah terjatuh dari tebing.
“Sekarang adalah kesempatan kita untuk memusnahkan mereka! Alphonse! Sadarlah! Kita bisa menggunakan sihir kita secara bersamaan untuk mengalahkan goblin! Cepat!” Roana adalah orang pertama yang kembali sadar dan berteriak pada Alphonse, pemimpin kelompok tersebut.
“L-----Lindungi mereka! Semuanya, membentuk temboklah disekitar Christina-sama dan Flora-sama! Yang berada digaris belakang, gunakan sihir serangan. Perbaiki barisan! Cobalah untuk menghindari menggunakan sihir api, gunakan sihir es jika bisa. Gunakan angin atau air sebagai gantinya jika kalian tidak bisa menggunakan sihir es. Serang saat aku memberikan tanda! Yang bisa menggunakan sihir penyembuh tolong untuk merawat yang terluka!”
Terbangun oleh kata-kata, Roana, para siswa merasa tenang saat Alphonse akhirnya bisa mengeluarkan perintah yang agak baik.
“Serang!!!!”
Alphonse menunggu waktu yang tepat dan memberikan perintah untuk menyerang, pada tanda yang diberikan olehnya, para siswa mengarahkannya pada segerombolan goblin yang mendekat dan melepaskan sejumlah sihir serangan secara bersamaan. Sihir golongan yang dilepaskan oleh para siswa menimbulkan suara gemuruh yang menulikan telinga saat bertabrakan dengan pepohonan dan goblin sambil menerbangkan kepulan debu.
“Kita Berhasil!”
“Ha! Setelah semuanya, mereka hanyalah monster tingkat rendah!”
“Goblin hanyalah sekedar makanan hewan dihadapan sihir manusia!”
Melihat kejadian didepan mereka, para siswa meneriakkan teriakan kegembiraan karena telah yakin mereka menang.
“Gugyaa!!” namun, tiba-tiba ada suara yang terdengar dari dalam kelompok mereka. Dalam kepulan debu, beberapa tombak kayu dilemparkan oleh Ogre, yang terbang ke arah para siswa.
“T----Tidak mungkin....”
“Jangan panik! Yang bisa menggunakan sihir penyembung akan mengobati yang terluka. Itu hanya satu serangan saja! Sekali lagi, serang!”
Dengan arahan yang baik, para siswa dapat bekerja secara efisien sebagai kelompok yang kuat. Mereka yang bisa menggunakan sihir berdiri dipuncak kekuatan manusia, dan semua siswa dalam kelompok tersebut dapat menggunakan sihir sampai batas tertentu. Dalam rentang waktu sepuluh detik atau lebih, aliran dari puluhan serangan sihir menghujani para goblin. Pasukan depan dari para siswa memperkuat tubuh mereka menggunakan sihir dan menebus para goblin yang berlari ke arah mereka. Para goblin dan Ogre yang tersisa tidak berdaya dibawah serangan sihir yang dilakukan secara terus-menerus. Melanjutkannya lagi sampai
beberapa menit, para siswa secara sepihak menyerang goblin dengan menggunakan sihir jarak jauh dan akhirnya memberantas semuanya.
“Sembilan orang yang terluka. Untungnya, tidak ada yang mati. Yang terluka parah juga telah disembuhkan oleh Christina-sama dan Flora-sama. Tapi, kita kehilangan seorang.”
Roana memastikan kondisi kelompok tersebut dan melapor kepada Alphonse dengan ekspresi yang murung. Tidak ada orang diantara siswa yang tidak tahu tentang orang yang hilang. Kesanggupan perlahan mulai menyebar ke seluruh kelompok.
“U---Untuk saat ini, mari kita dengarkan laporan semuanya! Adakah orang yang bisa memberikan pendapat kepada kita dengan apa yang telah terjadi! Bagaimana Flora bisa terjatuh?”
Alphonse berbicara dengan tergesa-gesa. Darah mengalir ke kepalanya saat ia mencoba menyelesaikan masalah yang terjadi dibawah kepemimpinannya. Alphonse menatap Flora untuk meminta penjelasan.
“Uh—Uhmm, seseorang menabrakku dari belakang... orang yang menabrakku itu....” Flora berbicara dengan agak bingung.
Karena Stead menabraknya dari belakang, Flora hanya tahu bahwa dia telah terjatuh dan tidak tahu siapa pelakunya. Tiba-tiba, seorang siswa dengan takut mengangkat tangannya dan berbicara dengan ragu-ragu.
“Uhm... tuan putri jatuh karena Stead menabraknya...
Banyak siswa langsung berbalik dan menatap pada orang yang berbicara. Dia baru saja mengatakan sesuatu yang amat buruk. Namun, apakah dia takut atau tidak pada Stead, siswa tersebut berbicara dengan suara tegas. Stead memelototi murid itu dengan wajah yang menakutkan.
__ADS_1
“Apakah kau bilang bahwa itu salahku!? Aku juga terdorong! Aku juga korban di sini!” Menjadi sasarng kecurigaan, Stead berusaha membela diri.
“T---Tidak, aku tidak bilang itu salah Stead.” Murid itu menghindari tatapan Stead.
“Lalu siapa yang bilang kalau itu salahku!?”
“T-Tidak ada, ada..... seseorang yang menabrak Stead, kan?”
“Itu benar! Aku terdorong! Itu salah mereka! Banyak orang yang telah mendorongku!”
“Semua orang panik saat itu, jadi mereka saling menabrak satu sama lain yang tidak dapat dihindari. Kita semua fokus saat monster. Dengan situasi tersebut, tidak ada pilihan lain sehingga kita tidak sadar dengan keadaan disekitar kita. Sekarang bagaimana kau akan menemukan yang salah?”
Setelah muak dengan kurangnya kemajuan ini, Roana mengambil alih pembicaraan. Stead melirik pada Roana dengan jengkel.
“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?” Alphonse meminta penjelasan.
“Haruskah kita menolong dia atau meninggalkan dihutan ini?” Seakan jawabannya sudah jelas, Roana berbicara dengan Ekspresi tidak senang.
“I----Itu biar aku yang memutuskan....” Roana terkejut mendengar tanggapan Alphonse, tidak cocok untuk seorang pemimpin.
“Apa yang kau katakan kali ini tidak cocok untuk seorang pemimpin....”
“Ka—Kalau begitu aku juga ingin mendengar pendapat kalian semua. Apa yang kalian pikirkan?”
“Lagian, apakah dia masih hidup?”
“adakah orang yang bisa menyelamatkannya dari ketinggian ini?”
“Kita harus keluar dari sini dengan cepat. Monster mungkin akan muncul
lagi.”
“Ya, hidup Flora-sama telha diselamatkan sebagai pengganti kehidupan orang
biasa”
“Itu benar, sebuah kehormatan baginya untuk memberikan hidupnya pada
Flora-sama”
Author : ( sebuah kehormatan? )
Kelompok tersebut hanya mengatakan keengganannya untuk menyelamatkan Rio
“Baiklah, kita akan memutuskan bahwa dia adalah orang yang mendorongku dan aku adalah satu-satunya saksi?” Stead berbicara dengan suara pelan yang hanya bisa terdengar oleh Alphonse.
“Rio si orang miskin itu adalah pelakunya. Selama pertempuran, pengecut itu ketakutan dan berlari ke arahku yang diserang tombak. Akibatnya, aku tidak bisa menghindari Flora-sama dan bertabrakan dengannya. Pengecut itu, takut tuduh membunuh bangsawan, dengan putus asa mencoba menyelamatkan Flora sama. Dia kemudian jatuh dari tebing karena kecelakaan. Bukankah itu masalahnya?” sebagian besar siswa mengangguk setuju.
‘H-----Hal semacam ini!” Flora yang merasa ragu berteriak..
__ADS_1
bersambung.....