
Rio berjalan di sepanjang jalan berliku sebelum berubah menjadi jalan yang tersembuyi.
Jalan itu langsung mengarah ke distrik lampu merah (kawasan pelacur). Mengikuti jalan
utama di distrik lampu merah, ia melihat banyak prajurit yang sangat sibuk mencari seseorang.
Jalan utama di distrik lampu merah terletak di dekat daerah kumuh dari pasar dan jalan utama distrik biasa. Ketika malam, jalan-jalan menjadi penuh dengan para pelacur dan pria yang
mencoba untuk membeli tubuh mereka.
Suara manis yang memanggil dan negoisasi yang dibuat bisa terdengar di sepanjang jalan.
Ketertiban umum di distrik lampu merah secara mengejutkan baik karena di antaranya banyak bangsawan yang menjadi pelanggan di dearah itu.
Hanya pelacur terhormat yang diizinkan untuk beroperasi di sebagian besar Kerajaan. Beberapa pelacur yang beroperasi secara ilegal menempatkan bisnis mereka di dekat daerah kumuh.
Rio sedang menuju ke bagian kota. Setelah tiba, suara pertengkaran antara pelacur seketika
berhenti, dan berubah menjadi sunyi. Tidak ada satu orang pun yang bisa dilihat. Itu di suatu
tempat yang sedang dilewati Rio. Tidak ada perasaan baik yang berhubungan dengan tempat itu. Butuh waktu kurang dari satu menit untuk sampai di daerah kumuh.
“Lepaskan!”
Kemudian, Rio menemui masalah.
Berada sedikit jauh darinya, ada empat pria kasar yang terlihat mengenakan armor kulit
dengan pedang murahan yang terikat pada pinggang mereka.
Keempat orang itu memberikan perasaan seperti seorang berandalan. Banyak sekali suara yang berasal dari arah berandalan
itu. Dua orang membawa karung besar di pundak mereka. Satu karung bergerak seperti ada hewan besar di dalamnya.
“Apa yang kau lakukan!? Kemana kau akan membawaku!? Siapa kau!? Lepaskan aku! Jangan pikir semuanya akan berakhir seperti ini! Ayah tidak akan memaafkanmu!”
Melirik pada karung yang berisik dan penampilan dari orang-orang yang kasar itu,
kecurigaan muncul dalam pikiran Rio. Suara seorang gadis kecil bisa terdengar dari karung
yang berisik itu.
“Tch—dia sudah kembali sadar. Diamlah! Berhenti bergerak-gerak seperti itu!”
Suara keras terdengar dari keempat orang yang mencurigakan itu. Karung itu langsung
sedikit bergetar.
“Bodoh! Pelankan suaramu!”
“Y-Ya. Maaf aniki”
Pria yang mengeluarkan suara keras meminta maaf pada pria yang dipanggil aniki. Sepertinya orang yang di panggil aniki itu adalah pemimpin dari kelompok itu.
“Tch—untuk 10 koin emas, karung ini sangat mencurigakan, tapi pekerjaan ini sangat
menguntungkan”
Salah seorang yang dipanggil aniki mengerutkan dahinya saat menjentikan lidahnya. Dilihat dari ekspresinya, karung yang ia bawa itu sepertinya sangat menyusahkan.
“Hehe, tapi 10 koin emas benar-benar bayaran yang luar biasa. Hanya dengan ini, kita bisa menghabiskan 10 bulan untuk minum-minum dan bermain-main dengan perempuan”
Semua bawahannya tersenyum, wajah mereka dipenuhi dengan nafsu. Si pemimpin tidak
terganggu sama sekali. Di negara ini, satu koin emas sudah cukup untuk memberi makan keluarga biasa untuk dua bulan.
Ngomong-ngomong, kalau dia tidak salah, nilai tukar uang adalah 100 koin perunggu untuk 1 koin perak, 50 koin perak untuk 1 koin emas, dan 25 koin emas untuk 1 koin mistik.
“Orang seperti apa yang berada di dalamnya? Dilihat dari ukuran dan beratnya, aku rasa itu seorang gadis?”
Tidak dapat menahan rasa ingin tahunya, salah satu orang yang membawa karung bertanya
pada pemimpin untuk memeriksa apa yang ada di dalamnya.
“Mungkin itu adalah anak dari pedagang atau bangsawan... Oi, buka karungnya!”
Sama seperti bawahannya yang penasaran, si pemimpin menampilkan senyuman vulgar dan
memerintahkan untuk membuka karungnya.
“Apa kau yakin?”
“Hmph, orang itu tidak pernah bilang kalau kita tidak boleh membuka karungnya. Dan kita juga perlu tahu apakah isinya lebih bernilai dari apa yang kita dapatkan. Kita akan meminta bayaran lebih saat menyerahkannya”
Para bawahannya bersorak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh pemimpinnya.
__ADS_1
“Kalian, awasi keadaan sekitar dan jangan biarkan siapapun mendekat. Yah, meskipun aku rasa tidak akan ada seseorang yang akan datang ke tempat ini”
Si pemimpin memerintahkan salah satu bawahannya untuk meletakan karung itu ke bawah. Pria yang diperintahkan sebelumnya memiliki ‘Biarkan aku melihat wajahnya juga’ eskpresi di wajahnya.
Tapi di mata Rio, kewaspadaan salah satu bawahannya yang sedang berjaga sangat ceroboh.
“Kalau begitu.....”
Setelah memastikan keadaan di sekitar mereka, orang itu menempatkan karung di tanah dan membukanya dengan kasar.
“Kya!”
Dengan bunyi *buk* tubuh lembutnya yang langsing terlihat, bersamaan dengan teriakan yang keluar dari seorang gadis kecil yang berada dalam karung.
“Hehe, sekarang kita bisa menikmati gadis ini untuk diri kita sendiri”
Senyuman menjalar pada wajah keempat orang itu setelah mendengar teriakan gadis kecil.
Mereka melepaskan tali yang mengikat karung. Hanya 10 detik yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Setelah melihat yang muncul dari karung di sebelahnya, keempat orang itu mengeluarkan suara kekaguman.
Apa yang mereka lihat adalah seorang gadis kecil yang usianya sama seperti Rio. Rambut ungu seperti sutra, dan iris mata yang juga berwarna ungu, seorang gadis mempesona yang memiliki penampilan seperti malaikat.
Karena wajah dan pakaiannya, dia memancarkan suasana seseorang dari kelas tinggi.
Mungkin dia adalah putri dari seorang bangsawan. Kecantikannya yang luar biasa membuat Rio terpesona. Tidak salah lagi, seorang putri bangsawan ini baru saja diculik.
Tapi untuk alasan apa? Untuk orang sepenting itu, mereka tidak akan menyuruh orang-orang berandalan
seperti itu untuk mengantarkannya.
Rio terdiam dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka seharusnya menerima bantuan dari penjaga keluarga bangsawan.
“Ah—rasa ingin tahu kita telah membunuh kucing, ya? Ini gawat... kita mungkin telah melampaui batas kita”
TL Note : sebuah pribahasa yang maknanya mungkin seperti ini; rasa keingin tahuan yang tinggi akan membuatmu menyesal.
“Tapi kita sudah membawanya sejauh ini. Setelah sampai di tempat tujuan, mari kita meminta bayaran tamabahan. Ayo, kita pergi! Kita harus segera menyelesaikan ini dengan cepat”
Para berandalan itu berencana untuk terus pergi bersama dengan gadis yang malang itu. Di pelototi oleh orang jahat, gadis kecil itu menutup matanya rapat-rapat.
“Diam, dan masuk lagi ke dalam karung!”
“TIDAK! [Flame Shot]?!”
Gadis kecil itu mengangkat tangannya dan mengucapkan sesuatu. Dan kemudian dari telapak tangannya keluar sesuatu. Namun sebelum fenomena kekuatan sihir bisa dikonversi menjadi
“Agh—gah ho.....”
Rio terkejut melihat gadis yang telah terlempar. Pada saat yang sama, ia juga kagum oleh sihir yang dilepaskannya. Rio hanya bisa menggunakan kekuatan sihir untuk memperkuat tubuh sementara gadis itu melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda, menggunakan teknik
yang tidak diketahui olehnya. Sebelum sihir dilepaskan, sesuatu yang mirip dengan pola geometris melayang di depannya.
“Tch, hampir saja. Aku lengah. Untuk berpikir dia seorang pengguna sihir, seperti yang diharapkan dari seorang putri bangsawan” Kata asing ‘Sihir’ terdengar oleh Rio.
“Uu~”
Melihat seorang gadis kecil memegangi perutnya yang kesakitan, salah satu pria bicara.
“E~tto, dia belum mati, ‘kan?”
“Tidak apa-apa. Dia masih mengerang kesakitan”
“Kita tidak tahu apakah mereka akan memberi kita bayaran jika barangnya rusak...”
“Ah? Ah, kita akan tahu pada saat waktunya tiba, ‘kan?”
Perilaku kasar si pemimpin membuat bawahannya gemetar ketakutan. Mereka
menanggapinya dengan memberinya senyuman bermasalah. Dari pembicaraan mereka, sepertinya mereka adalah sekelompok orang yang tidak berguna.
(Apa yang harus aku lakukan...?)
Sementara menekan ketidak sabarannya, Rio merenungkan pertanyaan itu. Seorang gadis kecil tidak akan mati hanya dari tendangan seperti itu. Tapi jika terus seperti ini, dia akan mati.
Atau ia bisa pergi dan membantunya. Tapi mudah untuk mengatakannya daripada
melakukannya.
Ada empat musuh, berdasarkan perkiraan Rio, mereka bukanlah ancaman untuknya. Namun, bahkan dengan kemampuannya, ia ragu bahwa dia bisa mengalahkan mereka semua.
Selain itu, mereka semua bersenjata sementara ia tidak. Lawan-lawannya tidak akan ragu untuk membunuhnya. Meskipun Rio berlatih seni bela diri kuno di kehidupan yang sebelumnya, ia
tidak pernah membunuh seseorang.
Dengan kata lain, Rio harus bertarung dengan tangan kosong melawan keempat orang yang bersenjata, yang memiliki pengalaman dalam melakukan pembunuhan.
__ADS_1
Selain itu, jika ia terluka oleh salah satu pisau murahan itu, lukanya itu kemungkinan besar akan mengalami
infeksi. Rio sangat menentang kuat untuk membunuh manusia. Dia teringat pada kata-kata kakeknya yang juga merupakan gurunya.
Jika ia tetap seperti ini, kejadian yang berada di depannya akan segera menghilang. Tapi insiden tersebut tidak akan berkahir begitu saja, gadis kecil itu akan di bawa ke suatu tempat.
Rio mendengar dari rumor bahwa beberapa pelacur di daerahnya terkadang mengadakan acara yang kejam di mana orang-orang berkumpul dan menyiksa gadis-gadis kecil.
Ada kemungkinan bahwa gadis yang berada di depannya akan dibawa ke salah satu tempat seperti itu. Namun, insiden yang berlangsung di hadapannya tidak ada hubungannya dengan dia.
Bersembunyi dan melihat keempat orang itu pergi dan meninggalkan tempat itu, tapi tidak perlu baginya untuk mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Benarkah? Apakah itu benar tidak apa-apa?Sementara Rio merenungkan hal itu, secara kebetulan, itu benar-benar sebuah kebetulan, gadis itu melihat Rio. Melihat dia, wajahnya dipenuhi dengan rasa ketakutan dan kemarahan.
Melihat itu, Rio merasa ia tidak bisa lagi melarikan diri. Salah satu pria datang dengan membawa karung. Pria itu tiba-tiba mulai bergerak, dia memusatkan pandangannya pada gadis kecil dan melepaskan karung.
“Ah!”
Dengan bunyi *buk* dengan sebuah suara lemah yang terdengar dari dalam karung.
“Kya~”
Dari dalam karung, seorang gadis kecil yang usianya sama, ditendang dan mengeluarkan suara yang sama.
“Tch—Oi, dia tidak terluka, ‘kan?”
Dengan suara membosankan, si pempimpin bertanya pada orang yang membawa karung untuk memastikan keselamatan isinya.
Dengan senyuman yang jahat, bawahannya membuka karung untuk memastikannya. Mereka sedang teralihkan, sekarang atau tidak sama sekali.
(Sialan kalian semua!)
Rio menyelimuti tubuhnya dengan kekuatan sihir dalam sekejap dan meluncurkan dirinya seperti peluru. Tidak ada manusia lain yang usianya sama bisa mencapai kekuatan yang sama.
Dia terkejut pada kecepatan dan daya tahan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya.
Bahkan dengan tubuhnya yang telah diperkuat, tubuhnya masihlah tubuh seorang anak kecil dan seharusnya tidak dapat menghasilkan kekuatan sejauh ini. Berhasil atau gagal akan diputuskan dalam sekejap sehingga Rio segera mengambil inisiatif.
“Na?”
Yang pertama menyadari Rio adalah si pemimpin, dan dia segera menarik pedangnya. Tapi di saat yang singkat itu, Rio sudah berada di depannya.
“Gu ha”
Tanpa membiarkan kesempatan lewat, ia memutar siku si pemimpin untuk membuatnya terkilir sebelum melemparkannya.
Dia dengan sempurna menggunakan teknik yang ia pelajari dari seni bela diri kuno yang ia latih di kehidupan sebelumnya. Dengan memperkuat
tubuhnya, ia mampu melemparkan pria dewasa yang ukurannya dua kali lebih besar dari tubuhnya.
Si pemimpin tidak mengetahui apa-apa tentang ukemi dan terbentur pada tanah
dengan suara yang keras.
TL Note : Ukemi, sebuah teknik menjatuhkan diri untuk menyelamatkan diri.
(Berikutnya!)
Rio sudah menggerakan
tubuhnya.
“Eh?”
Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya dan melancarkan sebuah tendangan ke perut pria yang berada di sampingnya.
Menggunakan kekuatan dan berat dari lawannya sendiri, Rio membantingkan pria itu ke tanah.
“GAH!”
Memastikan lawannya tidak sadarkan diri, ia bersiap-siap untuk menghadapi berandalan yang tersisa.
“Dasar bocah sialan!”
Marah karena teman-temannya telah kalah, kedua orang yang tersisa memilih untuk menghadapai Rio bersama-sama. Jika mereka menjadikan gadis itu sebagai sandera, maka situasinya tidak akan ada harapan. Lawannya lebih dari satu, berarti mereka memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan dengan Rio.
Rio takut. Namun, orang-orang itu terbawa emosi sehingga mereka lupa untuk mengambil cara yang paling efektif.
“Matilah kau brengsek!”
Mengacungkan pedang yang panjangnya 50 cm, salah satu berandalan bergegas dan menyerang Rio. Dia menghindari pedang dengan melompat ke sisi dan melancarkan serangan balik dengan telapak tangannya yang mengincar dagu lawannya. Serangan balik itu berhasil
mengenai dagu berandalan itu dan langsung roboh.
“B-Bajingan kau!”
__ADS_1
Bersambung....
12:44 (;