
Berandalan yang terakhir mengacungkan pedangnya dengan putus asa, tapi ia bahkan tidak bisa mendaratkan serangannya pada Rio.
Menghindari pedangnya, Rio bergerak ke dada pria itu, meraih tangan berandalan itu dan memutarnya dengan seluruh kekuatan, melucuti senjata dan membuat dia tidak bisa memegang senjata.
Dia kemudian menghajar berandalan itu
dengan sebuah lemparan.
“Haa... Haa...”
Aku akhirnya melakukannya.
Sebelum menyadari hal itu, tubuhnya bergerak sendiri. Aneh baginya untuk mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkan seorang gadis kecil yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Rio tidak bergerak seinci pun dari tempatnya berdiri, karena dia kehabisan napas. Dia merasa suhu tubuhnya meningkat dan jantungnya berdebar dengan sangat kencang sampai ia bisa
mendengar suara debaran pada seluruh tubuhnya.
DIAM, dia hampir meneriakkan kata-kata
itu. Dia tidak mampu memberikan serangan terkahir pada para berandalan itu. Dia tidak bisa memaksakan dirinya untuk membunuh mereka.
Tapi dia masih memiliki kekuatan untuk
mengalahkan mereka dan melukai organ dalam mereka. Luka itu hanya sebatas di mana mereka kehilangan kesadaran mereka.
Mengingat situasi saat ini, itu tidak akan aneh jika mereka terluka parah dan mati. Semua hasil yang mengerikan itu meluap dalam pikiran Rio.
Jika secara kebetulan para berandalan itu mati disebabkan oleh luka mereka, Rio tidak akan mampu untuk mengatasi rasa bersalahnya.
Dia saat ini tidak memiliki tekad untuk membunuh manusia. Tidak akan ada masalah jika dia dapat membunuh seseorang dengan tenang. Tapi ia bukan tipe orang seperi itu.
Dan secara pasti bahwa para berandalan itu tidak ada yang mati. Jadi ia masih belum membunuh siapapun.
Berbagai macam alasan untuk membunuh mereka muncul dalam pikirannya. Menyadari apa yang ada dipikirannya membuat dia merasa jijik.
Apa yang terjadi sudah terjadi Setidaknya ia tidak akan disalahkan karena telah membantu kedua gadis kecil. Rio berusaha untuk menenangkan emosinya.
Dia tiba-tiba teringat keberadaan dua gadis itu dan menyadari salah satu dari mereka melihatnya dengan kagum.
Penampilan dari kedua gadis itu begitu mirip antara satu sama lain. Salah satu dari mereka masih berusaha untuk keluar dari karung, sementara yang satunya lagi, yang telah ditendang sudah bebas.
Dari rambut dan wajahnya mereka benar-benar mirip, Rio menyimpulkan bahwa mereka saudara kembar. Orang yang menyebabkan keributan sebelumnya adalah kakaknya, sementara yang masih berusaha untuk memebaskan dirinya dari karung adalah adiknya.
“Apa.... kau tidak apa-apa?”
Masih sulit untuk bernapas, Rio dengan takut bertanya pada salah satu gadis kembar itu. Si kakak menatap tajam pada Rio.
Dari pandangannya, Rio tidak percaya bahwa mereka seumuran. Pemikiran Rio terhenti untuk kedua kalinya. Melihat pola geometri yang sama bersinar, membuat dia teringat saat gadis itu ditendang.
(Apakah itu... sihir?)
“Uhuk uhuk. Apa yang kau tunggu? Cepat tolong aku!”
“O-Onee-sama , aku baru saja memberikan [Heal] jadi tolong jangan terlalu banyak bergerak. Jangan memaksakan diri terlalu keras.....”
__ADS_1
Mengabaikan permintaan adiknya, si kakak mendekati Rio dan menampar pipinya.
“Eh?”
*Pan* sebuah suara tamparan bergema di sekitar mereka. Untuk kejadian yang tiba-tiba ini, Rio tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi.
Kenapa gadis ini marah kepadanya?
Kenapa dia malah menampar orang yang telah menyelamatkannya? Dia bingung, dan pipinya terasa sakit.
“Kau mengamati kami sepanjang waktu, ‘kan? Jika itu yang terjadi, seharusnya kau menolong kami lebih cepat!”
Rio hampir membuat dirinya di tampar untuk kedua kalinya. Namun kali ini ia
mengharapakannya, dan kemudian memegang lengan gadis itu.
Wajahnya berubah menjadi frustasi dan dia mencoba menggunakan tangannya yang bebas untuk menamparnya.
“...”
Gadis muda itu menjadi histeris dan mulai berteriak keras. Rio mulai menjadi marah setelah mengalami perlakuan yang tidak masuk akal seperti itu, tapi ia tidak bisa memperlakukan seorang gadis kecil seperti dia dengan buruk.
“Lepaskan tanganku! Kotor! Bau!”
“O-Onee-sama, dia telah menyelamatkan kita jadi bukankah salah untuk
memarahinya?”
Si adik berusaha untuk menenangkan kemarahan si kakak.
Si kakak bisa mencium bau busuk yang berasal dari Rio dan itu jelas tercermin di wajahnya.
Bahkan jika pihak lain masih kecil, tindakannya tidak masuk akal dan kemarahan Rio telah mencapai puncaknya.
Dia sudah membuat dirinya sendiri masuk ke dalam situasi yang mengganggu orang lain. Si kakak menatap tajam pada rambut Rio yang kotor.
“A-Aah. Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan kami” Merasakan ketidaksenangan Rio, si adik maju dan menundukkan kepalanya.
“Tidak, tidak apa-apa kok”
Seperti yang diharapkan, Rio tidak bisa mengabaikan seorang gadis kecil yang
mengungkapkan rasa terima kasih kepadanya sehingga ia memberikan jawaban yang singkat.
“Apa? Sikap macam apa itu?” Rio memutuskan untuk mengabaikan si kakak.
“O-Onee- sama!” Suasana yang berbahaya telah hilang lagi karena si adik menegur kakaknya.
“Hmph, aku akan memaafkanmu untuk Flora”
Ternyata nama si adik itu adalah Flora.
Melihat kakanya dengan tenang, Flora menarik napas dengan lega. Tapi setelah itu, kata-kata si kakak seperti menuangkan minyak pada api yang akan padam.
“Oi, orang miskin, antarkan kami ke distrik bangsawan. Dan untuk orang-orang yang
ada di sana.... bawa dua dari mereka bersama kita”
__ADS_1
Rio heran padanya yang memerintahnya begitu mudah.
“Kau bisa melemparkan mereka jadi seharusnya itu mudah, ‘kan?” Rio tidak senang pada sikapnya.
Selain itu, nada suaranya hampir histeris. Dia mungkin panik karena baru saja berhasil selamat dari situasi yang mengerikan, tapi Rio saat ini sangat
jengkel melihat hal-hal seperti itu.
“.... Apakah seperti itu sikapmu ketika meminta tolong?”
Rio mengerti bahwa dia adalah seorang putri dari bangsawan. Tapi sikap sombong gadis ini benar-benar menjengkelkan. Rio ingin dia untuk setidaknya mempertimbangkan perasaannya sedikit.
“A-Ah tidak, aku minta maaf! Aku juga ingin meminta tolong padamu. Jika bisa, aku akan meminta ayah untuk memberimu hadiah!”
Kesan Rio terhadap bangsawan telah memburuk. Namun berkat Flora menjadi tidak terlalu buruk. Tentunya kedua gadis itu tidak mempunyai pengalaman hidup yang kesulitan sampai sejauh ini.
Mereka mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Mereka begitu mempesona bagi seseorang seperti Rio yang mengalami kesulitan dalam hidupnya selama ini. Bagi Haruto, dia
tidak bisa mengabaikan keterusterangan Flora.
“.... Baiklah” Rio dengan enggan menyetujui permintaan Flora.
“Terima kasih banyak!”
Kedua gadis kecil itu memotong tali pada karung yang sebelumnya digunakan untuk membawa mereka, dan Rio mengikat para pria dengan tali itu.
Dia juga mengambil senjata
mereka bersama dengan barang-barang berharga yang bisa ditemukan. Itu tidak banyak tapi apa boleh buat, dia sangat membutuhkan uang.
Sejak beberapa waktu yang lalu tindakannya sudah bisa digolongkan sebagai kejahatan sehingga dia tidak perlu repot-repot membenarkan alasan atas tindakannya.
Rio tidak tahu hukum mengenai cara untuk memperlakukan harta para penjahat, tidak ada yang salah untuk membawa beberapa barang-barang berharga milik mereka.
“Hmph, serakah...”
Melihat perilakunya, Christina mengucapkan kata-kata itu sambil melihat ke bawah pada Rio.
Mendengar itu, Rio merasakan beberapa penentangan, tapi pura-pura tidak mendengar apa-apa dan melanjutkan pekerjaannya.
Menyelesaikan pekerjaannya, Rio dan kedua gadis kembar itu meninggalkan distrik lampu merah dan menuju pasar.
Sepanjang jalan, orang-orang di distrik lampu merah melihat Rio dan gadis kembar dengan penuh rasa ingin tahu yang besar.
Namun tidak ada yang memanggil mereka karena bau busuk yang dikeluarkan Rio. Setelah tiba di pasar, prajurit segera berlari pada Rio dan gadis kembar itu.
Christina dan Flora ditempatkan di bawah perlindungan mereka setelah itu.
.
.
.
.
~ End Vol 1 Chapter 3 : Penculikan ~
__ADS_1
Publish ;)